
Setelah beberapa waktu beristirahat dan merasa pulih, Yudhistira segera menghubungi seseorang dan meminta orang itu untuk menjemputnya.
"Sial, aku tak sempat membaca nama perusahaan di mana wanita itu bekerja." wanita yang di maksud Yudhistira adalah Elis. Ia benar benar bodoh mengapa juga ia tak membaca perusahaan yang menaungi Elis, padahal di baju yang Elis kenakan terdapat nama perusahaan itu.
"Aku juga tak melihat plat nomor kendaraan wanita itu." Padahal ia sempat melihat surat ijin mengemudi yang Elis tunjukan padanya.
Hembusan nafas kesal Yudhistira hembuskan, jika tanpa identitas atau potret wanita itu jelas mustahil untuk Yudhistira dapat menyuruh orangnya untuk mencari keberadaan wanita yang menolongnya. Hanya berbekal nama Elis saja akan sangat sulit untuk Yudhistira menemukan wanita itu.
Yudhistira kini dalam perjalanan kerumahnya, selama perjalanan, tak henti hentinya Yudhistira menatap ke luar jendela, ia berharap akan bertemu Elis sebelum meninggalkan kota itu, Yudhistira merasa dia belum berterima kasih dengan cara yang benar terhadap wanita yang sudah menolongnya, beberapa uang Elis juga belum ia kembalikan. Dari mulai menyogok polisi lalu lintas, biaya adminitrasi rumah sakit, juga sejumlah uang yang Elis berikan untuknya.
Ia juga sudah bersumpah akan melenyapkan siapa saja yang terlibat dalam upaya melenyapkan dirinya.
Namun saat Yudhistira tengah melihat lihat jalanan, lebih tepatnya di perbatasan kota, tanpa sengaja ia melihat Soraya istrinya tengah bersama seorang pria juga seorang anak laki laki kecil memasuki sebuah Restoran. Yudhistira meminta satu buah topi juga sebuah masker kepada anak buah yang menyetir mobilnya yang lain. Sedangkan mobilnya yang tadi di rusakkan Elis sudah di bawa orang suruhannya yang lain.
Yudhistira juga sudah mengganti pakaiannya yang tadi sempat terkena noda darah juga muntahannya sendiri. Kali ini Yudhistira mengenakan switer berwarna hitam. Ia menggunakan switer itu untuk menutupi sebahian besar tato yang berada di tangannya. Yudhistira juga memakai kacamata hitam untuk menyempurnakan penampilannya agar tidak di kenali Soraya istrinya.
Yudhistira mencuri dengar apa saja yang di ucapkan Soraya, bersama seorang pria yang bernama Yudha. Juga seorang bocah laki laki yang menyebut Soraya dengan panggilan mama.
Terkejut luar biasa. Saat Yudhistira mendapati kenyataan jika Soraya merupakan mantan istri dari Yudha. Yang mana Yudha merupakan adik seayah dari Srikandi musuh bebuyutannya. Ini benar benar kejutan untuknya. Bahkan mereka mempunyai seorang anak. Ingin rasanya Yudhistira mencekik dan memotong motong tubuh Soraya yang sudah membohonginya dengan begitu lama. Padahal ia sudah memberikan apa yang wanita itu inginkan. Soraya hanya mengaku janda tanpa anak saat Yudhistira menawarkannya sebuah pernikahan kontrak dengan wanita itu.
Saat Yudhistira mulai luluh dan membebaskan Soraya dari kontrak rupanya Soraya menipunya. Wanita itu memanfaatkannya selama ini.
Sekuat mungkin Yudhistira membiarkan Soraya. Ia akan memintai alasan wanita itu membohonginya.
__ADS_1
"Jangan abaikan putramu Soraya!" ujar Yudha terdengar tegas, namun kekecewaan serta kebencian terlihat nyata di sorot pria 36 tahun itu.
"Rain bahkan terus menerus menganggap jika istri Arjuna adalah Mamanya. Arjuna bahkan marah padaku saat putramu kerap kali merecoki istri Arjuna, padahal dia memiliki tiga putri." Yudha berujar kembali.
Satu kebenaran Yudhistira dapatkan dari mulut Yudha, ternyata Arjuna benar benar memiliki istri lain selain Aida. Itu Artinya Aida tidak berbohong. Dan lagi Arjuna memiliki tiga putri, ini adalah kesempatan emas.
Satu kebenaran tentang hidup Arjuna sedikit menghibur Yudhistira yang tengah marah terhadap Soraya istrinya.
"Aku tau jika istri Arjuna wanita yang baik. Ia pasti tak akan tega menolak Rain, wanita itu sangat tulus. Kapan kapan aku ingin bertemu langsung dengannya, menitipkan Rain saat aku tak bisa bersamanya." ucap soraya sendu.
"Kau yang harus mengurus anakmu! Bukan malah mau menitipkannya pada wanita lain. Istri Arjuina memang tak akan bisa menolak Rain tapi Arjuna keberatan saat istrinya selalu di ganggu oleh Rain." Yudha terlihat marah, emosi dengan perkataan mantan istrinya.
"Aku sibuk dengan suami baruku." Aku soraya.
"Dia anakmu Yudha, jika kau keberatan berikan saja pada Arjuna dan istrinya. Bukanlah mereka menginginkan seorang putra?"
"Kau!" Yudha berdiri dan menunjuk wajah Soraya.
Jadi Soraya mengenal Arjuna. Lalu sejauh apa hubungan mereka? Pikir Yudhistira, tapi sesaat kemudian Yudhistira berpikir, wajar jika Soraya mengenal Arjuna mengingat mereka pernah menjadi keluarga.
"Papa kita pulang saja." Ajak Rain pelan, Yudhistira yakin bocah kecil itu kecewa akan ucapan Soraya.
Tanpa mengatakan apapun Yudha membawa putranya pergi dari sana. Meninggalkan Soraya yang mematung memandangi putra serta mantan suaminya pergi.
__ADS_1
Yudha sendiri tidak tau siapa yang menjadi suami dari mantan istrinya, namun menurut pengakuan Soraya mantan istrinya itu begitu mencintai suami barunya. Entahlah Yudhapun tak tau kebenarannya.
"Ku pikir kau tidak sejahat itu terhadap putramu sendiri." lirih Yudhistira di balik maskernya. Ia juga kesal pada orang tua yang menelantarkan anaknya, seakan mengingatkan Yudhistira pada masa lalunya. "Setidaknya bocah itu masih beruntung memiliki ayah yang bertanggung jawab." tapi Yudhistira tetap membenci Yudha karna pria itu memiliki darah yang sama dengan Srikandi.
Soraya berpindah ke ruangan setelah melakukan panggilan membuat Yudhistira tergerak ingin mengikuti kemana langkah istrinya pergi, namun istrinya memesan ruang private. Yudistira rela membayar harga berkali kali lipat demi mendapatkan tempat yang stategis untuk mencuri dengar perbincangan mereka.
Yudhistira semakin membeku di tempatnya duduk saat ia mengenali seseorang yang menemui Soraya. Salah seorang dari musuh Yudhistira, seorang saingan bisnis gelap Yudhistira ada di sana. Mengapa Soraya mengenal orang itu? Yudhistira semakin terheran heran. Meski ia tidak mencintai Soraya tapi melihat dan mendapati kebohongan juga kenyataan tentang Soraya seakan menikam dadanya berkali kali.
"Aku sudah menuruti apa inginmu. Tapi sampai saat ini aku belum mendapati kabar kematian tentang suamiku." Soraya berujar tenang, seakan kabar kematian Yudhistira adalah hal yang paling ia tunggu tunggu.
Yudhistira, merasa tercekik saat itu juga. Dirinya pernah beberapa kali di khianati seseorang atau hendak di lenyapkan seseorang maupun banyak orang. Tapi mendapati istrinya sendiri hendak melenyapkannya, adalah pukulan dan serangan yang paling menyakitkan untuk Yudhistira. Tak tergambar lagi kekecewaan pria berumur 34 tahun itu. Tangannya mengepal erat dengan manik yang di bingkai air mata.
"Wanita asing menyelamatkanku, sedangkan istriku sendiri mencoba melenyapkan aku." lirihnya, seranya memejamkan matanya, sebulir air mata lolos membasahi masker hitam yang ia kenakan.
"Aku sudah mencampurkan racun racikannya di minumannya, dan untuk hasil maksimal auku juga meneteskan beberapa tetes di pengharum mobilnya. Tapi sampai saat ini aku belum mendapatkan kabar apapun tentangnya." dengan gamblang Soraya mengakui apa yang sudah ia lakukan. Tanpa ia ketahui, suami yang gagal ia lenyapkan sudah mendengar apa yang ia katakan.
Ada sesuatu yang melatar belakangi Soraya bertindak demikian, selain harta ia juga memiliki dendam tendam terhadap Yudhistira. Dimasa lalu Yudhistira sudah membunuh kedua orang tuanya, ayah Soraya merupakan salah satu orang Yudhistira yang gagal dalam menjalankan misi sehingga Yudhistira melenyapkan ayah ibunya.
Soraya akui ia mulai mencintai Yudhistira, juga berniat memberikannya seorang putra. Namun demi dendam juga karna kekejaman pria itu Soraya menutup mata akan beberapa kebaikan Yudhistira terhadapnya. Hingga ia bertemu dengan salah satu rival Yudhistira. Dengan sedikit hasutan dan iming iming imbalan besar, Soraya melancarkan aksinya meracuni suaminya sendiri. Ia juga tergiur atas apa yang suaminya miliki.
"Ku pikir kau wanita baik Soraya. Menyesal aku tak menyingkirkanmu sejak awal." desis Yudhistira.
"Lihat saja. Kau akan ku lenyapkan dengan racun yang sama. Aku selalu menghukum para manusia yang berdosa. Sudah ku katakan aku hanya meringankan tugas Tuhan, untung menghukum orang yang tak tau diri sepertimu."
__ADS_1