Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Keracunan


__ADS_3

Bruukkk ...


Saat mendengar sesuatu terjatuh dengan segera Arjuna membalikan badannya, alangkah terkejutnya Arjuna saat mendapati Elis tergeletak di atas lantai, puji syukur Elis kepala Elis tidak terhantuk pot besar yang terletak di dekat saja.


"El." suara Arjuna tercekat, bayangan Yudhistira terlibat begitu saja akan racun yang selalu pria itu ciptakan.


"Ya Tuhan."


Arjuna segera meraih tubuh istrinya, ia luar biasa merasa takut jika Yudhistira benar benar meracuni sang istri.


"El sayang." Arjuna segera mengecek denyut nadi wanitanya, setelah memastikan jika sang istri memiliki denyutan yang Normal tubuh kekarnya segera mengangkat tubuh sang istri untuk ia bawa ke dalam kamarnya.


"Papa Mama kenapa?" ketiga putri Arjuna segera menghampirinya dengan seraut wajah khawatir.


"Mama pingsan sayang." Arjuna meletakan tubuh Elis secara perlajan di atas ranjang kamarnya.


"Tolong jaga Mama sebentar!" Perintah Arjuna kepada ketiga putrinya, alih alih membawa Elis kerumah sakit Arjuna lebih memilih membawa Elis kekamarnya, ia akan segera mencari keberadaan Yudhistira cara itu lebih efektif, jika saja seandainya Yudhistira meracuni Elis, pria itu pasti memiliki penawarnya.


"Jo, Jo ..." Arjuna berulang kli memanggil asistennya, yang ia yakini jika pria itu belum pergi dari rumahnya. Mobil asistennya juga masih berada di depan rumahnya.


Bukan hanya mobil asisten Jo yang berada di halaman rumahnya, ada juga satu mobil asinhg yang berada di rumah itu. Baru Arjuna sadari jika Yudhistira masih berada di sekitaran rumahnya, apakah Yudhistira ingin memastikan kematian istrinya lebih dulu? Sepert yang di lakukan pria itu saat memastikan kematian Riska pagawainya yang ia kira sebagai istrinya.


Lalu mengapa Yudhistira terlihat sangat menyayangi putri putrinya juga istrinya?


"Jo! Jo ..." Arjuna berkali kali memanggil asistennya kali ini dengan suara yang memekan telinga.


Asisten Jo berlari dengan sekuat tenaga menghampiri majikannya.


"Ada apa, Tuan?" Asisten Jo mengelap keringat yang mengembun di dahinya. Ia merasa sangat lelah karna baru saja menyelesaikan perintah dari kakak ipar tuannya yang meminta mengganti deprai juga karpet di kamar tamu.


"Di mana pria beracun itu?"

__ADS_1


Arjuna menghunuskan tatapan kepada asisten Jo.


"A-ada di kamar tamu Tuan, maaf dia memintaku menyiapkan kamar untuknya." Asisten Jo ragu-ragu ia takut jika majikannya akan marah karna sudah menyiapkan kamar untuk kakak ipar sekaligus musuh dari sang majikan.


 "Dia mengancam akan meledakan isi kepalaku jika aku menolak." Asisten Jo menunduk ia takut jika Tuannya akan marah besar, namun di luar dugaan tuannya justru malah pergi dari sana menuju kamar gang di sebutkan olehnya.


Yudhistira baru saja hendak merebahkan tubuhnya namun pintu kamar yang ia tempati tiba tiba terbuka dengan sangat lebar, di ambang pintu Arjuna sudah berdiri dengan menjulang, tubuh kekarnya menutupi sebagian besar ambang pintu.


Dengusan kasar terdengar di mulut Yudhistira, decakan lidah pun tak luput dari pria bertato itu.


"Ck, ada apa?" tanyanya malas, ia kini tengah membuka sepatu yang ia kenakan.


"Apa yang kau lakujan dengan istriku?"


Arjuna kini sudah berada di hadapan Yudhistira mengangkat kerah kemeja pria itu tinggi tinggi.


"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun terhadap adikku!" Yudhistira menghempas cekalan Arjuna dari kerah kemeja yang sempat mencekik lehernya.


"Istriku pingsan sialan! Kau pasti sudah meracuninya atau melalukan sesuatu, cepat katakan apa yang kau lakukan kepada istriku?"


Namun di ruang utama dia berhenti, ia tak tau kamar mana yang di tempati Elis, akan sangat tidak mungkin jika Yudhistira membuka dan mengecek kamar satu persatu untuk memastikan keberadaan adiknya.


"Dimana Lisa berada? Maksudku Elis berada?" Yudhistira meralat pertanyaannya.


"Di kamar atas." Arjuna berjalan lebih dulu mendahului Yudhistira untuk memandu jalan, mengabaikan asisten Jo yang masih berdiri di tempatnya sedari Arjuna memanggilnya tadi.


"Awas saja jika terjadi sesuatu dengan istriku! Akan kukuliti tubuhmu yang tak seberapa itu." Arjuna sangat mencurigai jika Yudhistira melakukan sesuatu yang licik terhadap istrinya.


Saat Yudhistira mengikuti langkah Arjuna, dapat dirinya lihat di kamar raksasa itu, seorang wanita terbaring dengan mata terpejam.


Di samping tubuh Elis terdapat tiga gadis kecil yang tengah berusaha membangunkan ibunya, raut kepanikan juga cemas terbingkai jelas di wajah ketiganya. Bahkan si bungsu Valery sudah menangis karna takut terjadi sesuatu dengan ibunya.

__ADS_1


"Om Yudhis Mama pingsan Om." Adu bocah itu kepada Yudhistira, pria yang terkenak kejam itu hanya mengusap sekilas rambut Valery.


"Manamu akan baik baik saja." ucapnya lembut. "Biar Om periksa." Yudhistira sudah hendak meraih tangan adiknya, namun Rose segera menepis tangan yang memperkenalkan diri sebagai kakak dari mamanya.


"Apa kau seorang dokter?" tanya bocah itu dingin, tatapannya lebih tajam dari tatapan seorang gadis kecil pada umumnya.


"Om memang bukan dokter, tapi Om akan tau jika terjadi sesuatu dengan mamamu." suara Yudhistira selembut beledu saat berbicara kepada ketiga keponakannya. Arjuna bahkan merasa heran akan sikap lembut pria kejam itu.


"Apa Om seoranng dukun?" Kali ini Valery yang bertanya, "Atau mungkin seorang jin, mengingat tubuh Om sangat aneh." Jika sa timenya tepat mungkin Yudhistira akan kembali meledakkan tawanya atas pertanyaan demi pertanyaan yang di tangakan putri bungsu dari adiknya.


"Bukan keduanya sayang, Om hanya akan memastikan keadaan Mama kalian sebentar." saat tangan Yudhistira ingin meraih tangan Elis, kembali Rose menepisnya dengan kasar.


"El biarkan, Om Yudhistira memeriksa Mama." Perintah Arjuna yang jengkel juga atas sikap kewaspadaan sang putri yang menurutnya keterlaluan.


"Papa yakin, dia aman?"


"Memangnya Om terlihat membahayakan?" tanya Yudhistira kepada Rose.


"Aku hampir tidak mempercayai orng lain selain Mama Papa, serta kedua adikku. Menurutku hampir setiap orang berpotensi akan menyakititi keluargaku." Terlihat jelas di mata Yudhistira jika Rose merupakan seorang anak yang sangat hati hati. Gadis itu sangat cerdas menurut Yudhistira, aura kepemimpinan Rose sepertinya di warisi dari sang ayah.


Yudhistira memang bukan akhli medis yang menempuh pendidikan tinggi, tapiengenal racun, obat obatan, bedah membedah serta analisa penyakit, Yudhistira memiliki kemampuan akan hal itu. Maka ia akan bisa menyimpulkan seseorang terkena sakit atau sesuatu dzat jika dirinya sudah memeriksanya.


Pertama tama Yudhistira menyentuh denyut nadi Elis, kemudian menghitungnya dengan seksama dalam kurun waktu satu menit, setelah menyimpulkan, ia juga beralih membuka kelopak mata Elis bergantian.


Seakan tidak cukup sampai di situ Yudhistira memeriksa dan menepuk perut Elis beberapa kali dan mengangguk mengerti.


"Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Arjuna amat penasaran, rautnya amat tegang saat Elis tak kunjung bangun meskipun ia sudah memberikannya minyak angin.


"Benar dugaanmu adikku keracunan." Hembusan nafas lelah Yudhistira hembuskan. Bahkan jemarinya memijat pangkal hidungnya sendiri. Ini benar benar sialan.


"Racun apa yang kau berikan kepada istriku? Berengsek!"

__ADS_1


"Bugh ..."


Kepalan tangan Arjuna mendarat di wajah kakak iparnya.


__ADS_2