
Ita menatap penuh selidik ke arah Elis. Wajah pucat Elis terlihat terjengkit akan tuduhan temannya.
"Aku tidak melakukan hal itu Ita."
"El. Kita teman kan? Aku hanya tak ingin kau tersesat di antara himpitan hidup. Meskipun aku bukan orang tunduk tapi aku tak ingin kau menafkahi ketiga putri cantikmu dengan uang yang tak benar." Ita menggenggam tangan Elis, berharap temannya mau terbuka terhadapnya.
"Semua yang ku beli sebenarnya bukan aku yang membelinya, tapi Papa dari anak anakku Ta." Aku Elis jujur.
"Sebenarnya apa pekerjaan ayah anak anakmu El? Aku melihat barang barang di rumahmu dari brand bagus." Ita meneliti televisi juga pendingin ruangan di rumah sederhana itu.
"Intinya ayah anak anakku memiliki beberapa karyawan." Elis mengaku sedikit tentang pekerjaan Arjuna.
"Seorang bos?"
"Ya bisa di katakan seperti itu."
"Wah. Aku menebak jika ayah anak anakmu lumayan tampan El, ketiga putrimu tidak ada yang mirip denganmu selain rambut dan warna mata mereka."
Elis hanya tersenyum sekilas, memang itu kebenarannya ketiga putrinya mewarisi gen sang ayah di diri mereka. Entah, mungkin dulu Elis sangat menggilai Arjuna sehingga ketiga putrinya mewarisi sebagian besar rupa sang ayah.
"Aku penasaran siapa sebenarnya suamimu El."
"Kau akan terkejut jika tau, mungkin bisa pingsan." Elis terkekeh renyah di antara bibirnya yang pecah pecah.
"Benarkah? Uh aku makin penasaran."
"Eh, ngomong ngomong kau menghubungiku waktu itu pake nomor pak Arjunakan?" mata Ita bahkan menyipit, untuk menditeksi kebenaran yang akan kerap terlihat di mata lawan bicaranya.
"Kami waktu itu bertemu di rumah sakit, ponselku tertinggal jadi aku meminjam ponselnya." Sebisa mungkin Elis mengalihkan tatapannya dari Ita, ia tak ingin temannya mampu membaca kebohongan di matanya.
"Aku tak yakin itu El, sempat terpikir jika pak Arjuna ada hubungannya denganmu dan anak anak." Ungkap ita jujur.
"Udah ko malah bahas ayah anakku. Kau mau apa kemari?" Elis mengalihkan pembicaraan.
"Mau ngelayat." Elis memberikan bawaan yang ia cangking sedari tadi. "Pake nanya lagi, aku mau menjengukmu El. Ini ada buah kelengkeng kesukaanmu." Elis menerima dua kantung kresek yang di bawa temannya.
"Ini jajanannya banyak banget."
"Untuk anak anak El. Aku dapat rejeki kemarin."
"Terimakasih ya Ta."
"Sama-Sama."
Keduanya terlibat perbincangan ringan, mulai dari hal hal sepele sampai ke beberapa hal yang bersifat pribadi. Arjuna mampu mendengar dengan jelas omongan apa yang di perbincangkan istri serta temannya itu, hampir satu jam Arjuna berada di kamar, ia merasa jenuh meskipun memainkan ponsel serta mengerjakan beberapa hal di laptopnya.
Beberapa kali Arjuna membatin, kapan pulangnya temannya Elis ia sudah ingin keluar. Matanya juga sulit untuk ia pejamkan.
__ADS_1
Elis sendiri sudah mulai gelisah sebentar lagi ketiga putrinya akan pulang, mereka pasti akan menanyakan keberadaan Papanya, juga akan memasuki kamar untuk berganti baju, pastinya mereka akan menemukan keberadaan Arjuna yang tengah bersembunyi di dalam kamar.
Benar apa yang di pikirkan Elis karna beberapa saat kemudian terdengarlah suara ucapan salam yang saling bersahutan.
"Assalamualaikum ... Assalamualaikum ..." terdengar suara riang ketiga putrinya dari arah luar.
"Waalaikumsalam ..." Elis dan Ita menjawab bersamaan salam ketiganya.
"Tante Ita." Ketiganya menyapa dan bergantian menyalami teman dari ibunya, setelah lebih dulu memasuki rumah.
"Tante Ita pasti jenguk Mama ya?" Rose lah yang bertanya.
"Ya sayang kau benar."
Valery dan Mine membuka kerudungnya dan menyerahkannya kepada Elis.
"Ma kemana Papa? Mine ingin mengenalkannya pada tante Ita?" belum sempat Elis menjawab, ponsel Ita yang berada di atas meja terlihat berkelip kelip menampilkan wallpapper ponsel Ita yang menunjukan gambar Arjuna yang Ita ambil dari profile foto whatsapp bosnya itu.
Ita ngefens banget terhadap Arjuna yang menurutnya mirip oppa oppa korea, sehingga ia menscreen shoot foto Arjuna dan membuatnya sebagai wallpapper ponselnya.
Rose secara tak sengaja melihat potret Papanya di ponsel teman ibunya tentu saja langsung berujar antusias.
"Papa. Kenapa ada gambar Papaku di ponsel tante Ita?" Rose bahkan merebut ponsel dari genggaman teman ibunya dan meneliti dengan seksama potret papanya yang ada di ponsel itu.
"Papamu?"
"Iya ini foto Papaku. Iyakan Mine?" Rose meminta persetujuan adiknya.
"Iya itu foto Papa kami." Valery menyaut juga.
Mati aku! Ujar Elis dalam hati.
"Papaaa ..." tiba tiba saja Jasmine berteriak memanggil nama Papanya, dan tanpa di duga Arjuna menyaut dari dalam kamar.
"Iya Sayang Papa di sini." Arjuna keluar kamar dengan mata yang sedikit menyipit, ia hampir terlelap tadi jika saja Jasmine tak memanggilnya, Arjuna lupa jika dirinya tengah bersembunyi. Ia hanya bisa mematung di depan pintu dengan tatapan tak enak kepada Elis, istrinya itu bahkan menatapnya dengan tajam. Sedangkan Ita, wanita itu ternganga dengan mulut yang terbuka lebar. Ini sulit di percaya Arjuna benar benar ayah dari anak anak Elis.
"Ya Tuhan."
Bukk.
Ita terkulai lemas di atas kursi sofa yang tadi ia duduki. Ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang.
Elis sudah menduga akan hal itu.
"Ta, Ita." Elis mengguncang pelan tubuh temannya yang terkulai. Beberapa kali Elis menepuk pipi temannya.
"Kamu sih pake acara nyaut dan keluar kamar segala." Elis sangat kesal akan kecerobohan Arjuna. Pria itu mendekat ke arah ketiga putrinya yang terlihat bingung.
__ADS_1
"Ya maaf Yang. Aku repleks tadi di panggil Mine." Arjuna mengajak ketiga putrinya untuk berganti pakaian terlebih dahulu.
"Perlu ngehubungin dokter gak?" tanya Arjuna sebelum berlalu.
"Jangan dulu. Tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar!" pinta Elis kepada Arjuna.
"Ita. Ita ..."
Berkali kali Elis mencoba membangunkan temannya hingga secara perlahan mata Ita mengerjap secara perlahan.
"El. Aku bermimpi tadi ada Pak Arjuna di sini." ungkap Ita setelah sadar dari pingsannya.
"Kau tak bermimpi aku memang di sini." Arjuna menghampiri Ita dan mengulurkan minyak kayu putih ke tangan Elis yang menatapnya dengan kesal, Arjuna hanya mengedikan bahu sejenak.
"Terlanjur ketahuan Yang."
Arjuna menyuruh anak anaknya untuk tetap berada di kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka, sedangkan dirinya keluar untuk menemui teman Elis.
Arjuna berjalan kearah lemari pendingin mengambil beberapa minuman juga makanan yang sama dengan yang Elis suguhkan tadi untuk Ita. Sedangkan wanita itu terlihat linglung dan masih mengucek matanya beberapa kali, seakan memastikan jika penglihatannya tak terganggu.
"Apa yang kau lihat?" tanya Arjuna datar.
"Anda benar benar Pak Arjuna?" Ita menunjuk ke arah Arjuna dengan tatapan tak percaya.
"Menurutmu?"
"El?" Ita menatap ke arah temannya yang sejak tadi diam. Ita meminta jawaban.
"Ya Arjuna suamiku, ayah dari putri putriku." ucap Elis pada Akhirnya. Kadung terbongkar Elispun berkata kebenarannya.
"Ya Tuhan. Mujur sekali nasibmu El." Ita menggelengkan kepalanya. Mimpi ratusan karyawati di kantornya ternyata di menangkan oleh Elis seorang office girl di kantor mereka.
Boleh tukar posisi gak sih? Bathin Ita meraung, jika saja ia tidak melihatnya langsung mungkin ia tak akan percaya.
Di saat seperti ini Ita ingin pamer kepada Naina dan Riska yang kerap kali merundung Elis dan menghina Elis, rupanya orang yang kerap kali mereka rendahkan adalah istri pemilik dari kantor tempat mereka bekerja.
Ita yakin jika semua orang akan bungkam atau sebaliknya, mereka akan menganga jika tau kebenarannya.
Mereka berbincang beberapa hal. Elis menceritakan beberapa alasan ia menyembunyikan hubungan mereka, namun di tengah asik mereka berbincang tiba-tiba.
"Arjunaaa ..."
"Arjunaaa ..."
Sebuah lengkingan suara memanggil Arjuna dari arah luar. Terdengar nada panik dan penuh ke khawatiran dari nada suara itu dan Arjuna hapal benar siapa pemilik suara itu.
"Arjunaaa ..."
__ADS_1
Sekali lagi suara itu terdengar dengan jarak yang sangat dekat. Hingga Arjuna dan Elis dapat melihat pemilik suara itu di ambang pintu.
"Mama."