
Aaaa ..."
Teriakan Elis dari kamar mandi mengagetkan keduanya, hingga Arjuna dan Yudhistira berlari ke sumber suara.
"Ada apa?"
"Ada apa?" Keduanya datang bersamaan juga dengan raut khawatir terutama Arjuna, pria dewasa itu meneliti tubuh Elis yang mematung dengan tangan gemetar, kedua pipinya sudah di genangi air mata entah sejak kapan.
"Lisa ada apa?" Yudhistira belum menyadari apa yang di pegang Elis.
"El, ada apa? Tolong jangan membuatku takut." Arjuna sudah menangkup wajah Elis, membingkai raut basah itu menggunakan tangan besarnya.
Elis tak dapat mengatakan apapun, wanita itu malah justru merangsek kepelukan Arjuna, menyembunyikan pipinya yang basah di balik dada pria yang masih berstatus suaminya.
Sekali lagi Tuhan tak menghendaki perpisahan mereka, ada saja cara Tuhan untuk tetap menyatukan sepasang suami istri itu. Sekalipun pernah hilang jika sesuatu itu di takdirkan untukmu dia akan lembali kan?
"Ada apa El?"
Elis tak melepas pelukannya, tangan mungilnya terus membelit pinggang Arjuna dengan sanagt erat, seakan ia tak rela jika pria itu bernafas sekalipun.
Elis juga memikirkan apa yang di katakan Yudhistira terhadapnya, bagaimana jika Arjuna pergi darinya? Ia tak akan bisa mendapatkan sosok seperti Arjuna kembali. Sekalipun ada belum tentu pria itu dapat menerima Elis beserta anak anaknya.
Cinta Elis memang telah habis karna kebohongan kebohongan yang di lakukan Arjuna, tapi apa salahnya Elis mencoba menumbuhkan kembali rasa itu.
"Arjuna aku hamil lagi. Bagai mana ini?" Elis melepas pelukannya, punggung tangannya sibuk menyusut air mata yang sulit ia berhentikan.
Arjuna kehilangan kata kata, inikah cara Tuhan menahan istrinya untuk tetap berada di pelukannya?
"Kau hamil?" ulang Arjuna, tanpa sadar bingkai kristal sudah memenuhi manik Arjuna , satu cairan bening lolos begitu saja dari kelopak matanya yang berkedip. Arjuna benar benar terharu, Tuhannya sekali lagi memberikan kepercayaan terhadapnya berupa seorang bayi lagi.
Air mata Arjuna terus lolos dari tempatnya, membuat Yudhistira turut merasakan kebahagiaan yang sama yang dirasakan musuhnya itu. Sial Yudhistira ikut bahagia karna musuhnya bahagia.
"Kau hamil lagi? Aku sangat senang El."
__ADS_1
"Jangan senang dulu Arjuna, bisa saja bayi di rahim adikku adalah bayi perempuan lagi." Yudhistira ingin merusak moment haru Arjuna.
"Aku tak perduli. Aku tetap bahagia atas kehamilan istriku, pria ataupun wanita, dia tetap bayiku aku menyayanginya." Arjuna mengusap perut Elis dengan perasaan bahagia yang luar biasa, setidaknya Elis tak akan menuntut cerai hingga beberap bulan kedepan.
"Dasar tidak waras, apa kau tak ingin memiliki seorang putra?"
"Putra dan putri bagiku sama saja mereka tetap akan mendapatkan cinta yang sama dariku Yudhistira. Kelak kau akan merasakan cinta seperti ini, yang mana kau tak akan bisa memberi alasan atas apa kau mencintai anak anakmu. Dan lagi Yudhistira, ada beberapa hal yang tidak bisa kita rubah sebagai hamba, kita hanya perlu menerima dan bersyukur atas apa yang kita miliki." Arjuna melutut di hadapan Elis ia kecupi tangan wanita itu bergantian.
"Terimakasih, karna sekali lagi kau bersedia menumbuhkan benihku."
Jika saja Elis bukan Adiknya, Yudhistira akan melenyapkan wanita itu hanya demi melihat kehancuran Arjuna, kelemahan Arjuna terletak pada diri Elis, namun Yudhistira cukup tau diri. Ia memang jahat tapi sungguh ia tak ingin sama sekali mengusik keluarga adiknya, sebisa mungkin Yudhistira akan menjadi perisai sekaligus senjata untuk melindungi keluarga adiknya.
Yudhistira juga mulai sedikit demi sedikit memberikan pengobatan kepada luka hatinya, ia menghibur diri dengan mengatakan jangan pernah melukai Arjuna atau Elis dan ketiga keponakannya akan kehilangan dunianya.
"Demi kalian aku akan mengalah, aku akan terus berusaha memadamkan api dendam yang terus berkobar selama puluhan tahun. Berterima kasihlah kepada adikku Arjuna, aku mengampunimu demi istri juga ketiga putrimu." Lirih Yudhistira dalam hati, kakinya melangkah meninggalkan sepasang suami istri yang tengah di landa kebahagiaan.
"Sehat sehat anak Papa. Jadi anak baik." Arjuna mencium haru perut istrinya yang masih rata, ini adalah kesempatan yang besar untuknya, ia harus membuktikan kepada Elis jika dirinya memang benar benar masih mencintai wanita itu.
.
Rose tengah membenarkan mainannya yang copot, hingga beberapa kali Rose terus mencobanya meski terus gagal karna memang ia belum bisa mengencangkan murnya.
"Rose, jika membutuhkan sesuatu bantuan kau boleh meminta tolong pada orang lain, jangan diam saja." Yudhistira berujar lembut dan meraih mainan Rose serta sebuah obeng.
"Papa pernah bilang kepadaku jika aku masih bisa melakukan apapun sendiri aku harus melakukannya sendiri, jangan kebanyakan meminta tolong kepada orang lain karna permintaan tolongku akan di ungkit secara brutal jika berada di tangan yang salah."
Yudhistira mematung, kecerdasan Rose di luar ekspetasinya gadis kecil itu tangguh, ia bahkan mengambil kembali mainanan serta obengnya Rose memperbaikinya sendiri.
Jika saja boleh, Yudhistira ingin membawa Rose untuk berlatih membidik juga bela diri, ia ingin Rose meneruskan jejaknya sebagai pimpinan klan mafia miliknya, tapi Arjuna tak akan mengijinkan hal itu sepertinya.
"Arjuna ..."
Yudha datang berkunjung kerumah Arjuna membawa Rain, pria itu mengatakan ingin menghibur Rain dan ingin bermain dengan ketiga putri Arjuna, namun Arjuna dan Elis tengah pergi keluar untuk memeriksakan keadaan Elis ke rumah sakit.
__ADS_1
"Ada apa kau ke mari?" Yudhistira bertanya waspada, ketiga keponakannya ia sembunyikan di balik tubuhnya, saat Rain berlari menghampiri ketiga keponakannya ia tak ingin mengambil resiko sekalipun dengan seorang anak kecil.
"Siapa kau berada di rumah keponakanku? Seorang pengasuh?" Yudha meledek Yudhistira yang tampak sigap melindungi ketiga putri Arjuna, padahal ia tak berniat sama sekali untuk berbuat hal buruk kepada mereka begitu juga dengan Rain, bocah itu sangat polos meskipun Yudha penuh dengan muslihat.
"Bukan urusanmu siapa diriku, yang pasti aku harus memastikan ketiga keponakanku selamat."
"Siapa kau?"
"Om Yudha, Nama Om ini Om Kudhis dia kakaknya mama." Valery berujar polos.
"Om Yudhistira Dek bukan Om Kudis!" ralat Jasmine.
"Aku menyukai panggilan Om Kudhis itu lebih menggemaskan." Ujar Valery sembari mencium pipi Omnya.
"Terserah dirimu princess, Om akan menerima pangilan darimu sekalipun kau memanggilku kutil." Yudhistira balik mengecup pipi chabi keponakannya.
Yudha masih berpikir tentang nama Yudhistira, dan di saat ia mengingat jika nama Yudhistira adalah seseorang yang membuat mantan istrinya meninggal dunia. Yudhistira mengepalkan tangannya dengan kuat dan-
Bughh ...
"Kau penyebab putraku menjadi piatu!"
Entah dari mana Yudha sudah memegang senjata api dan ia todongkan langsung di pelipis Yudhistira yang masih tersungkur. "Aku akan melenyapkanmu Yudhistira!"
"Om Yudha lepaskan Om Kudisku." Valery menangis ketakutan, di pelukan Jasmine.
Yudhistira terlihat panik bukan takut mati, ia takut jika Yudha akan melukai salah satu keponakannya. Tapi hal mengejutkan lainnya terjadi.
"Om Yudha, lepaskan Om kami! Atau aku akan melenyapkan Rain tepat di hadapanmu!" Rose menodongkan obeng miliknya di titik mematikan yang terletak di antara leher Rain, Rose menggunakan Rain sebagai sandra, agar Yudha melepaskan Omnya.
Yudhistira di buat bangga oleh ketangkasan juga cara Rose memilih tata letak organ mematikan, dari mana Rose mengetahui itu semua? Ataukah Rose mewarisi bakatnya?
"Papa tolong Rain Pa, Rain takut." bocah itu sudah gemerat. "Kak Rose galak Pa."
__ADS_1
"Diam dan menurut jika kau ingin selamat." Yudha tak percaya ini, gadis kecil berumur hampir sebelas tahun itu benar benar penuh kejutan.