Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Banyak kemungkinan


__ADS_3

Asiten Jo menjalankan mobil seperti orang kesetanan, ia tengah mencari keberadaan nyonyanya entah di mana sepulang dari kantor. Bahkan saat Jo menghubungi pengasuh yang di tugaskan oleh Arjuna saja mengatakan jika nyonyanya belum pulang.


"Sial, kemana nyonya pergi?" Asinten Jo masih kebingungan. Pasalnya ia juga tak memiliki nomor sang nyonya untuk sekedar menanyakan keberadaan atau melacaknya.


Selain mengirimkan beberapa pesan ancaman Arjuna juga kembali menghubungi Jo. Membuat pria berusia 28 tahun itu memukul setir mobil tuannya berulang ulang kali, untuk mengekpresikan amarah dalam jiwanya.


"Kirimkan nomor ponsel nyonya. Aku kehilangan jejaknya Tuan." ungkap Jo setelah sambungan panggilan Arjuna terhubung ke ponselnya.


"Dasar bodoh. Tidak bisa kah kau bekerja dengan baik? Aku menggaji dirimu dengan harga tinggi, lalu mengapa satu tugas saja kau tak bisa kerjakan." Arjuna marah kepada asistennya itu, menurutnya semakin hari kinerja Asisten Jo menurun.


"Kirimkan sekarang! Jika ingin istrimu ku temukan!" tak ada cara lain selain mengancam bossnya itu, atau sampai esok pagi bosnya hanya akan mengajaknya berdebat.


Dengan berat hati Arjuna mengirimkan nomor ponsel Elis. "Hapus nomornya jika kau sudah menemukan istriku!" titah Arjuna tegas, bukan meksud hati Arjuna berburuk sangka kepada Asistennya, namun ia tak ingin ada penghianat penghinat baru yang akan menambah list orang orang terkutuk menurut Arjuna. Jika seorang istri tak cantik di hadapan suaminya, di luar sana wanita itu sangat cantik di hadapan pria lain. Lalu Arjuna menyimpulkan jika Elis amat sangat cantik di matanya, makan di luar sana Arjuna yakin para pria melihatnya lebih cantik di banding matanya.


Selesai mengirimkan nomor ponsel Elis Arjuna hanya diam, sembari mengawasi pergerakan dokter Arief.


Asisten Jo mulai melacak keberadaan nyonyanyah. Keningnya mengernyit dalam saat alatnya menunjukan keberadaan Elis berada di sebuah rumah sakit. Siapa yang sakit? Elis tadi baik baik saja begitu juga dengan ketiga putri bosnya.


Tak banyak bertanya tanya Asisten Jo segera membawa kendaraannya ketempat di mana Elis berada.


Asisten Jo hanya berpikir untuk segera membawa nyonyanya di hadapan Arjuna. Atau tuannya itu akan benar benar menebas lehernya, asistrn Jo tak ingin menjadi tumbal atas kekejaman Arjuna yang baru ia ketahu baru baru ini menguar kr permukaan. Karna sedari dulu Arjuna adalah sosok yang hangat, lembut serta perduli. Namun sosok itu kini sudah berubah menjadi sosok dingin, kasar dan masa bodo dengan sekitar. Asisten Jo paham, jika banyak luka yang merubah pribadi tuannya menjadi sedingin sekarang.


Asisten Jo dapat melihat jika Elis tengah menyuapi seorang anak laki laki di kursi roda di taman rumah sakit. Tidak hanya itu, di sana juga terdapat seorang pria yang Jo kenal sebagai paman dari Arjuna. Ya pria itu adalah Yudha, ada hubungan apa antara Elis dan Yudha?


Tak ingin menebak atau menuduh asisten Jo langsung menghampiri Elis, tugasnya hanya satu membawa nyonyanya ke hadapan bosnya, di luar itu asisten Jo tak perduli.


"Nyonya mohon ikut dengan saya. Ada keperluan yang mendesak." ucap asisten Jo.


"Ada apa Jo? Nanti saja aku akan menyusul."

__ADS_1


"Ayolah nyonya mohon kerja samanya. Jangan sampai tuan memenggal kepala saya. Saya mohon ikutlah dengan saya. Kali ini saja mengalahlah nyonya." Asisten Jo menampilkan wajah memelas membuat Elis tak tega untuk menolaknya.


"Rain, sama Papa dulu ya. Tante harus pergi sebentar. Semoga Rain cepat sembuh." Elis menatap manik bocah dengan hiasan perban di kepalanya. Entah apa pungsi perban di kening anak itu sungguh asisten Jo tak ingin bertanya.


"Tidak mau Rain ingin dengan tante." ucap Rain manja, bagkan Rain sudah memegangi ujung baju Elis.


"Hey pak tua! Jangan diam saja, putramu menghalangi tugasku! Beri dia pengertian agar jangan menghalangi tugasku membawa nyonyaku." tegas asisten Jo kepada Yudha.


"Berapa Arjuna menggajimu? Aku bisa memberi lebih banyak." tanya Yudha.


"Tugas dan pekerjaanku bukan melulu soal gaji. Ada beberapa kewajiban yang tidak bisa kau mengerti."


Karna Yudha hanya diam, mau tak mau Asisten Jo menepis pelan tangan anak kecil itu. "Maaf jagoan aku harus membawa tantemu pergi."


Rain menangis melepas kepergian Elis. "Tante harus pergi, nanti tante datang lagi." ucap Elis mengusap kepala Rain.


"Jo bagaimana dengan motorku?" Elis berat hati saat akan meninggalkan motornya.


Sepanjang perjalanan Elis bertanya tanya apa yang terjadi, karna biasanya ada hal penting jika sampai Jo mendatanginya secara langsung.


"Sebenarnya ada apa Jo?" tanya Elis penasaran.


"Maaf nyonya, bukan ranah saya menjelaskannya. Nanti nyonya juga tau sendiri." Asisten Jo membawa Elis ke tempat yang di perintahkan oleh Tuannya.


Asiten Jo bahkan mengantarkan langsung Elis ke hadapan tuannya.


"Kau boleh pergi." ucap Arjuna kepada asistennya. Tak ada ucapan terima kasi ataupun basa basi lainnya. Arjuna terlihat kesal terhadap asistennya.


Elis dapat melihat pria paruh baya terduduk lemas, tubuh tambun itu terlihat tak bertenaga dengan beberapa luka di wajah serta telapak tangan yang Arjuna injak.

__ADS_1


"Dokter Arief." Elis mengenali seraut wajah babak belur itu. Meskipun setelah beberapa tahun berlalu Elis tak melupakan dokter yang penah membantunya melakukan bayi tabung demi mendapatkan seorang putra, atas permintaan keluarga Arjuna. Meskipun kegagalan yang harus ia telan.


"Ya Bu Elis ini saya." ujar dokter Arief, ia meringis serta memegangi sudut bibirnya yang terasa perih.


"Ada apa ini sebenarnya?" Elis terlihat bingung dengan apa yang terjadi.


"Katakan yang sebenarnya." titah Arjuna bengis.


Dokter Arief menjelaskan segala sesuatu yang ia ketahui tanpa ia tutup tutupi. Mulai dari penanaman embrio dari benih Arjuna yang terdapat di rumah sakit, serta imbalan yang Ida berikan terhadapnya. Dokter Arief menjelaskan semuanya.


Namun Elis tak bereaksi apapun. Wanita itu hanya membisu di tempatnya, tidak menyangkal atau memberikan respon lain. Ketenangan Elis membuat Arjuna merasa cemas, apa sebenarnya yang Elis pikirkan?


"El, katakan sesuatu! Bukankah kau memerlukan bukti? Aku membawa bukti, saksi bahkan pelakunya untukmu. Ku harap kali ini kau mempercayaiku." tandas Arjuna. Ia bahkan sudah menggenggam jemari istrinya.


"Aku taj pernah berhianat El, aku tak pernah menyentuh wanita manapun selain dirimu."


Elis masih diam tak bereaksi. Ketenangan itu seakan menjadi boomerang untuk Arjuna sendiri.


"Aku harus percaya? Disaat berbagai kemungkinan bisa saja terjadi!" ujar Elis tenang. Tak sedikitpun ada keterkejutan atau kecemasan di diri wanita itu. Padahal yang baru saja ia dengar adalah fakta jika suaminya tidak pernah berkhianat kepadanya.


Dokter Arief bahkan menerangkan prolog kejadian, waktu dan tempat pun tidak di samarkan dokter Arief, dokter Arief sudah benar benar mengakui dosa dosanya.


Arjuna sekarang yang bungkam. Bahkan di saat ia membawa bukti dan saksi Elis masih meragu terhadapnya. Lantas apa pemicu kemarahan Elis sesungguhnya? Yang membuat cinta wanita itu habis.


"Bisa saja kan kau merekayasa semuanya hanya untuk menarik empatiku?" sarkas Elis tanpa aling aling.


Arjuna bahkan tak percaya jika Elis berpikir sejauh itu.


"Bisa saja kau membayar dokter Arief untuk mengakui sesuatu. Banyak kemungkinannya Arjuna." Seulas senyum sinis terpeleset di bibir tipis Elis.

__ADS_1


Arjuna memalingkan wajah. Tidak mudah membuat wanita di hadapannya untuk mempercayai apa yang ia katakan. Ketika bukti dan saksi tidak lagi di percaya, lantas dengan cara apa Arjuna harus membuktikan segalanya?


__ADS_2