Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Aku tak akan terlibat sama sekali


__ADS_3

Aida meninggalkan tempat di mana ia menghabisi dokter Arief. Aida juga sudah menyuruh beberapa orang untuk membereskan kekacawaan yang ia ciptakan.


Aida layaknya iblis terlatih sehingga tak meninggalkan secuil buktipun terhadap jasad doter Arief, Aida seakan mengatur jika dokter Arief mati karna di rampok di tempatnya menginap.


Perencanaan Aida dapat di acungi jempol. Tentang bangai mana wanita itu mengatur segala sesuatunya supaya tetap apik.


"Aida sayang kau dari mana saja?" Mama Sri menghampiri Aida yang tak pulang kerumahnya sejak dua hari menghilang.


Sejak empat tahun lalu Aida kerap kali menhinap di mantan ibu mertuanya, yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri. Aida tak tau jika Ibu Sri adalah ibu kandungnya, sehingga yang ia ketahui hanya Sri menyayanginya dengan tulus.


"Putramu Arjuna sudah sukses di kota lain Ma. Sedangkan diriku masih terbelenggu oleh perasaan yang tak kunjung terbalaskan." Aida meratapi nasibnya.


"Mama carikan calon lain untukmu ya. Pria yang lebih tampan dan lebih mapan darinya." Mama Sri tak tega melihat putrinya terus menerus mengharapkan Arjuna.


"Yang ku inginkan hanya Putramu Ma bukan yang lain! Apa harus aku mencari dan melenyapkan wanita yang sudah mencuri priaku." Aida mengepalkan erat tangannya.


Bukan tidak terpikir oleh Mama Sri soal menyingkirkan Elis. Namun jika Elis tiada sudah di pastikan Arjunapun akan musnah. Mama Sri tidak ingin itu terjadi, dia menyayangi putra angkatnya, seperti putranya sendiri.


"Jangan gegabah Aida. Jika kau menyentuh wanita itu bukan tidak mungkin jika Arjuna justru akan membunuhmu dengan tangannya sendiri." ucap mama Sri penuh peringatan sebelum berlalu meninggalkan Aida.


Tak bisa Srikandi pungkiri jika rasa sayangnya kepada Arjuna sangat utuh, apa lagi putra angkatnya itu terlihat sangat menyayanginya tak perduli seberapa besar kesalahan yang dirinya perbuat.


Ada ketakutan juga pada diri Srikandi tentang Yudha yang bisa kapan saja mengambil harta peninggalan ayahnya, juga seorang putra lain dari suaminya yang hingga kini belum menampakan atensinya.


.


"Sialan!"


Arjuna membuang kasar ponselnya ke atas kursi sofa di ruangannya. Yudha baru saja mengirimkan berita tentang terbunuhnya nyawa dokter Arief yang di duga keras karna perampokan di salah satu penginapan di kotanya.


Yudha juga mengabarkan jika semalam putranya di sekap seseorang, bukan murni tersesat.


"Sebenarnya berapa orang yang menginginkan kehancuranku?" Arjuna mendongak di atas kursi sofa miliknya. "Tapi jika di ingat ingat sejak aku meninggalkan rumah Mama teror itu berkurang. Siapa dalang dari semua kekacauan yang terjadi ini?" Arjuna bertanya pada dirinya sendiri.


Tok ... Tok ...

__ADS_1


Suara pintu ruangan terketuk dari luar. Setelah Arjuna mempersilahkan masuk barulah Pelaku pengetuk pintu itu masuk. Dapat Arjuna lihat di balik benda persegi itu, wanita yang dengan seragam biru tengah berdiri dengan satu nampan di tangannya. Entah secangkir teh atau secangkir kopi yang ia bawa.


Elis ke ruangan Arjuna memang atas perintah Arjuna sendiri. Namun Arjuna kesulitan untuk menjelaskan bagaimana yang terjadi sebenarnya.


"Kemari!"


Arjuna membuka tangan untuk menyambut Elis, ia juga menepuk pahanya agar memberi Elis isyarat supaya wanita itu mau duduk di atas pangkuannya.


"Kau pikir aku Valery yang harus duduk di pangkuanmu." Elis mendekat dan meletakkan secangkir teh lemon di hadapan Arjuna.


"Kau lebih menggemaskan dari putri kecilku." Arjuna terkekeh dengan ucapan konyolnya sendiri, mana ada ibunya lebih menggemaskan dari putrinya.


Elis menyadari raut Arjuna yang mulai tak nyaman, ia juga bertanya mengenai seseorang yang pengasuh ketiga putrinya katakan. Pengasuh ketiga putrinya mengatakan jika ada seseorang yang kerap kali mengikutinya dan anak anak hari ini.


"Arjuna apa kau menyuruh seseorang untuk mengawasi ketiga putri kita?" tanya Elis hati hati.


Arjuna mengangguk santai mengiyakan pertanyaan wanita di hadapannya. "Tentu saja, aku ingin memastikan ke amanan anak anak kita. Bukan hanya mereka. Tanpa kau ketahui aku juga sudah menaruh seseorang untuk menjagamu."


"Sebenarnya ada apa?"


"Berjanjilah untuk tetap hidup dengan baik apapun yang terjadi." Arjuna bingkai wajah cantik Elis menggunakan telapak tangannya yang lebar. Ia usap wajah itu menggunakan ibu jarinya. "Wajah ini semakin lama semakin cantik saja." Arjuna terkekeh pelan memperhatikan wajah Elis dengan mata melotot ke arahnya.


"Kau sudah makan?" untuk pertama kalinya Elis menanyakan sesuatu yang menurut Arjuna terkesan bentuk perhatian.


Arjuna diam, hanya seulas senyum yang ia tampilkan.


"Telapak tanganmu hangat. Apa kau sakit?" Elis menempelkan punggung jemarinya di kening Arjuna yang tengah menunduk menatapnya.


Arjuna mengulum senyumannya, bolehkah ia berbangga diri dan menganggap jika Elis sedikit melunak?


"Aku hanya sedikit tak enak badan. Mungkin karna semalam tidur larut malam." ujar Arjuna .


"Memang kau tidur jam berapa? Semalam aku melihat jam pukul dua pagi tapi kau belum pulang." Elis berusaha berkata sesantai mungkin menyembunyikan sedikit kekhawatirannya.


"Kau menunggu?"

__ADS_1


"Tidak siapa yang menunggumu?" sangkal Elis.


"Ku kira kau menungguku."


Hening.


Untuk beberapa waktu. Hingga terdengar suara deheman yang berasal dari Arjuna.


"El. Maaf, aku tak bisa memenuhi ucapanku mengenai dokter Arief, aku tak bisa memenjarakannya." ucap Arjuna penuh sesal.


"Kenapa? Apa karna kau tak ingin mantan istri ke duamu terseret kasus dokter Arief?" sebersit senyum sinis tersungging di antara bibir tipis Elis.


"Bukan begitu El. Aku tak bisa memenjarakan orang yang sudah tidak bernyawa." ujar Arjuna tenang. Seakan tidak ada rasa bersalah atau apapun saat mengatakan dokter Arief tidak bernyawa.


"Tidak bernyawa? Maksudmmu dokter Arief sudah meninggal?"


Arjuna mengedikan bahunya.


"Kapan? Bukankah kemarin sore dia terlihat sehat? Hanya ada beberapa memar di wajahnya. Jangan katakan jika kau?-" Elis tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia segera berdiri dan mundur menjauh dari jangkauan Arjuna. Benaknya menuduh jika Arjuna melakukan tindak pembunuhan.


"Aku tidak melakukan apapun El. Selain memukulnya beberapa kali." Arjuna menunjukan sebuah artikel yang di kirimkan Yudha ke ponselnya.


"Astaghfirullah ..." Elis bahkan menutup mulutnya saking terkejut melihat mayat yang mengenaskan di penuhi luka sayatan di beberapa bagian tubuh dokter bertubuh tambun itu.


"Sebuah pisau bedah menancap di dada kiri dokter Arief." Arjuna berujar datar. Ia juga bertanya tanya siapa kiranya pembunuh dokter Arief, rasanya tak mungkin jika Aida pelakunya mengingat wanita itu terlihat anggun dan lembut.


Elis terdiam dengan berbagai perasangka yang berkecamuk di otaknya. Meski di sana terdapat keterangan dokter Arif meninggal karna perampokan Elis masih menyangka jika ini adalah hal yang di sengaja.


"Aku merasa ada seseorang yang sengaja membunuh dokter Arief. Bagai mana perasaan keluarganya mendapati kabar seperti ini?"


"Aku juga berpikir seperti itu El. Tapi sudah lah semua sudah terjadi." Arjuna menyimpan kembali ponselnya.


"Aku takut seseorang menyudutkanmu, aku berpikir takut ada orang yang mengkambing hitamkan dirimu atas kematian dokter Arief. Bagaimana jika dugaanku benar Arjuna?" tersemat ke khawatiran di antara ungkapan Elis.


"Maksudmu kau takut aku di jebak?" terang Arjuna. Dan Elis langsung mengangguk.

__ADS_1


"Kau tenang saja semuanya akan baik baik saja. Asistenku sudah mengurus semuanya. Aku tak akan terlibat sama sekali akan kematian dokter Arief."


__ADS_2