
Ita menelpon balik ke nomor ponsel Arjuna ia ingin memastikan jika apa yang ada di benaknya benar. Jika nomor ponsel yang barusan menghubunginya adalah nomor ponsel dari bos besarnya di tempat kerja.
Dan benar, baru saja ia memanggil nomor itu foto profil dengan wajah tampan itu terpampang nyata di layar ponsel android milik Ita. Wanita berststus Janda itu bahkan mengusap dadanya beberapa kali kali kali.
"Ada apa?" terdengar suara datar dari sana. Dan itu jelas suara dari bosnya Arjuna. Terdengar pula suara pekikan seorang wanita sebrang sana dan Ita yakin jika suara itu adalah suara milik Elis temannya.
"Be-benar ini dengan pak Arjuna?" tanya Ita terbata. Ia seakan tak percaya jika suara yang ia dengar adalah suara bosnya.
"Hm. Memangnya ada apa?" sahut Arjuna dingin.
"Ti-tidak Pak saya hanya memastikan." Ita buru buru menutup panggilannya dengan dua buah jemari di mulutnya yang ia gigit. Benarkah yang Elis katakan saat itu jika0Arjuna ayah dari anak anak Elis. Berarti besar kemungkinan jika Elis adalah istri atau mantan istri dari Arjuna.
.
"Kenapa kau mengangkat panggilannya Arjuna?" Elis berujar sewot. Ia amat kesal terhadap Arjuna yang menurutnya bertindak sesukanya.
"Karna aku ingin mengangkatnya." jawab Arjuna tak acuh.
"Suka sekali kau mengurusi urusanku." Elis masih di buat kesal oleh pria di hadapannya.
"El."
Arjuna memanggil lembut wanita yang terbaring di depannya dengan selang inpus di pergelangan tangan kananya.
Elis masih diam. Ia mengacuhkan panggilan Arjuna, matanya pokus menatap tetesan air inpus di depannya.
"El. Mengingat reaksimu semalam," Arjuna menanyakan prihal reaksi Elis yang ia anggap berlebihan. "Apa yang kau rasakan setelah semalam kita-" Arjuna kesulitan melanjutkan kalimatnya, tenggorokannya merasa tercekat apa lagi saat menyadari mata gelisah di pandangan mata Elis. Jari jemarinya juga saling bertautan satu dan yang lainnya.
"Aku. Aku merasa, aku merasa gila, geli, jijik dan tetap membayangkan jika kau pernah menghabiskan malam dengannya. Bayangan itu tak bisa ku enyahkan dari otakku. Semua perlakuanmu padaku seakan aku tengah menonton live streaming antara kau dan dia. Aku, aku tak mengerti dengan diriku sendiri." Elis mengatakan apa yang ia rasa saat semalam Arjuna mendatanginya.
Arjuna diam. Dengan seribu perasangka di benaknya.
"El, aku tak pernah mengkhianatimu! Tidak sama sekali. Aku bersumpah, hanya dirimu yang pernah ku datangi." Arjuna berujar bersungguh-sungguh.
Elis hanya mengatup rapat tak sekalipun mulutnya terbuka, bukan ia tak percaya dengan apa yang Arjuna katakan. Ia hanya tengah berperang dengan batinnya sendiri yang selalu menyangkal apa yang Arjuna ucapkan.
__ADS_1
"Mau berobat denganku? Kita akan mencari psikiater yang terbaik. Kau bisa berkonsultasi dan mungkin akan mendapatkan penyembuhnya. Tidak usah khawatir aku akan mendampingimu." Arjuna meraih tangan istrinya. Namun Elis menariknya dengan kasar.
"Lukaku masih berwujud dirimu Arjuna. Rasanya aku muak dengan apa yang kita lalui. Bukankah kau juga begitu? Jika kau lelah kau tak usah menungguku Arjuna. Kau berhak untuk bahagia dengan wanita lain." ucap Elis seraya memalingkan wajah, niat hati Elis ingin sedikit jual mahal namun tanpa di kira Arjuna mengangguk setuju.
"Jangan menyesal jika aku bahagia dengan wanita lain!" Sarkas Arjuna. Ada rencana besar yang mulai Arjuna rancang.
"Tadinya aku selalu mengandalkan hatiku Arjuna, sehingga aku kerap kali terluka. Namun saat aku menggunakan logikaku aku juga tetap terluka. Lantas pikiranku yang mana yang harus ku turuti?" Elis terlihat putus asa begitu juga dengan Arjuna. Bukankah setiap hal memiliki batasnya sendiri. Arjuna juga lelah meyakinkan Elis yang terlalu bebal dengan asumsinya sendiri.
"Ya mungkin itu lebih baik." Elis tersenyum kecut.
"Tapi aku ingin terus berkomitmen denganmu El. Sekalipun di masa depan kita tidak berjodoh, jangan pernah membatasi aku untuk bertemu dengan putri putriku. Kita memiliki kewajiban untuk membesarkan dan mendidik mereka bersama."
"Ya. Semua demi anak anak." Sahut Elis.
"Aku lelah Elis! Sangat lelah. Sekarang terserah kau saja. Kau mau dekat dengan siapapun terserah. Aku membebaskanmu, jika itu memang keinginanmu." Arjuna menjauh dari tempat Elis. Ia duduk di atas kursi sopa miliknya.
Ponselnya ia mainkan dan ia tekan nomor Asisten Jo. Ia ingin melihat sejauh mana Elis menghabiskan cinta untuknya.
"Jo. Carikan aku sekertaris yang cantik dan seksi, dan pastikan masih masih lajang." ujar Arjuna, suaranya seakan sengaja ia kencangkan.
"Sudah waktunya aku move on Jo. Carikan saja, lagi pula aku kasihan terhadapmu yang terlalu banyak mengemban tugas."
Beberapa saat Arjuna berbincang hingga Elis memiringkan tubuhnya membelakangi Arjuna. Tiba-tiba saja rongga dadanya terasa terbakar. Ada percikan api yang sepertinya secara perlahan mulai memanaskan hatinya.
Setelah beberapa menit. Arjuna memanggil Elis dengan telepon yang masih tersambung dengan asisten Jo. Arjuna memang sengaja memancing rasa sakit Elis untuk menumbuhkan kembali perasaan wanita itu. Namun jika ia tidak beruntung mungkin Arjuna akan membuka hatinya untuk cinta yang baru sesuai saran dari Elis.
"El kau tidur?"
Hening tak ada jawaban. Meski Elis hanya diam, tapi Arjuna yakin jika Elis tidak tidur.
"Ya, jika sesuai seleraku. Bukan tak mungkin aku menjadikan sekertarisku nanti sebagai ibu sambung untuk ke tiga bungaku. Ibu mereka sudah membebaskan aku mencari ibu untuk mereka. Sepertinya memang hubunganku dengan ibu mereka tidak bisa di selamatkan lagi." ujar Arjuna, semoga ini tidak terjadi batin Arjuna mengelak keras.
Inikah akhirnya? Bathin Elis. Tapi mau bagai mana lagi, ia pun tak bisa terus terusan Egois membiarkan Arjuna terus berjuang sendiri sedangkan dirinya seakan menutup mata akan apa yang terjadi. Bukankah Elis pernah merasakan sekali di tinggal menikah oleh Arjuna? Dan rasa sakitnya masih terasa dan berbekas hingga hari ini. Mungkin pernikahan Arjuna yang selanjutnya tak akan berpengaruh apapun untuknya.
Baiklah Elis akan membiarkan Arjuna dengan apapun keinginannya.
__ADS_1
Yang akan pertama kali Elis lakukan setelah ini, ia akan berkonsultasi dengan dokter. Ia ingin sembuh meskipun Arjuna bisa saja sudah benar benar ingin melepaskannya.
Tapi bagai mana dengan ita yang mungkin mencurigai jika dia memiliki hubungan dengan Arjuna. Ah ya bisa saja Elis mengatakan jika ia meminjam ponsel Arjuna kan? Atau apapun lah terserah nanti.
.
Di tempat lain.
Aida berjalan dengan terburu buru saat memasuki basmant rumah sakit yang mana tempat mobilnya terparkir. Ia berjalan dengan sangat cepat, ada seseorang yang tengah mengintai dirinya. Bahkan seseorang tengah meneror dirinya dengan beberapa pesan singkat yang merupakan sebuah ancaman untuknya.
"Siapa yang mengintaiku? Apa mau orang itu dariku?" Aida berkali kali bertanya pada dirinya sendiri. "Aku harus bagai mana siapa yang akan melindungiku?" Aida terus membatin. Hingga ia hampir tiba di mobilnya seseorang tiba tiba membekap mulut dan hidungnya. Aida sempat melihat dua orang pria mengenakan penutup kepala yang menyeretnya dengan mulut terbekap hingga sesaat kemudian Aida tak sadarkan diri.
Aida berada di suatu tempat, tempat berdebu dengan berbagai macam dus bekas juga barang barang rongsokan. Baru Aida sadari jika dirinya benar benar telah di culik dan mungkin sekarang dirinya tengah di sekap.
"Ha ha ha ha ..." Terdengar tawa yang menggelegar di antara kerjapan mata Aida yang mulai terbuka. Tawa seorang pria yang saat Aida terbangun pria itu langsung menyiramkan seember air terhadapnya.
"Dasar limbah. Perusak! penghancur! Pembunuh!" Maki pria itu.
"Menyesal. Aku tak melenyapkanmu bersama anak haram yang kau kandung itu." ujar pria itu di antara kilatan matanya yang memerah. Tawa yang semula menggelegar kini berubah menjadi cekikikan mengerikan di pendengaran Aida.
Aida menangkap satu tebakan, jika pria di hadapannya adalah pelaku utama penyerangan terhadapnya empat tahun yang lalu.
"Siapa kau?" Aida berteriak lantang di hadapan orang itu. Penutup kepalanya yang lepek karna terkena siraman air dari pria itu turut bergoyang senada dengan teriakan Aida.
"Kau bertanya siapa aku? Aku mantan iparmu Aida. Aku saudara seayah Arjuna, Aida. Aku Yudhistira. Aku adalah seorang anak yang di katakan anak haram oleh ibu mertuamu.Jika kau bertanya-tanya siapa aku? Akulah seseorang yang sudah membayar orang untuk melenyapkan putramu itu. Hahaha ..." Suara tawa kembali menggelegar.
Yudhistira mengangap jika Arjuna adalah saudara seayahnya, itulah yang ia ketahui. Ia menginginkan hak yang sama dengan Arjuna karna sama sama anak dari ayah Wisnu. Namun Mama Srikandi tak ingin membagi harta peninggalan suaminya dengan Yudhistira. Sehingga Yudhistira sangatlah dendam kepada Srikandi dan Arjuna.
"Kau dendam kepada Arjuna dan Mama Srikandi?" sentai Aida.
"Ya, Ya kau benar Aida. Aku sangat dendam dengan kedua orang itu juga terhadapmu. Itulah mengapa aku melenyapkan pewaris yang berada di rahimmu. Hehehe ..." gelak tawa itu menggema bahkan memantul di tempat kumuh itu.
"Jika kau dendam kepada Arjuna kenapa kau malah membalaskannya ke padaku? Aku bisa memberitahu cara untuk menghancurkan Arjuna." meski Aida gentar ia tetap mengajukan negosiasi.
"Aku punya caraku sendiri. Aku sangat adil dalam menghakimi." Yudhistira mencengkram kerudung serta rambut Aida hingga wanita itu mendongak dengan jeritan kecil, karna jambakan Yudhistira tidak main main.
__ADS_1
"Cepat atau lambat kau akan mati di tanganku Aida." Bisiknya pelan di sertai desisan penuh kebencian.