
Aida menatap dirinya di pantulan cermin yang berada di hadapannya. "Aku seperti ini karna dirimu Arjuna. Aku sudah melenyapkan seseorang juga karna dirimu." Aida melirih, ada sebersit penyesalan juga ketakutan yang menggenggam perasaan Aida.
Aida berubah menjadi iblis betina sejak dirinya merasa di campakan oleh Arjuna. Bukankah ada pepatah yang mengatakan jika seorang jahat tercipta karna dulunya ia orang baik yang di sia siakan. Begitulah Aida menganggap dirinya.
"Apa kurangnya diriku jika di bandingkan dengan wanita itu?" Aida meraba wajahnya sendiri. "Hanya karna satu kesalahanku di masa lalu kau tidak memaafkanku Arjuna. Kau bahkan tidak melindungi anakmu yang berada di rahimku kala itu. Karna kelalaianmu aku bahkan kehilangan anak kita." Satu isakan lolos dari muluy Aida. Dirinya belum bisa berdamai dengan keadaan yang mengharuskan dirinya kehilangan seorang anak dari pria yang ia cintai, apa lagi ia mendapatkan bayi itu dengan susah payah.
.
"Papa ayo pergi ke rumah tante Elis!" Rain terus merengek ingin pergi bertemu dengan Elis, padahal sebisa mungkin Yudha tengah menghindar dari perempuan itu, ia sedikit tak enak jika harus bersaing dengan Arjuna. Sedikit demi sedikit Yudha ingin melenyapkan rasa yang sudah terlanjur tumbuh di hatinya.
Elis, wanita sederhana itu sudah berhasil menggeser sebuah nama yang sejak lama bertahta di hatinya sejak beberapa tahun terakhir. Soraya ibunya Rain kini semakin bertingkah setelah berhasil menikahi pria yang ia cintai. Mantan istri Yudha itu bahkan mentelantarkan Rain putra kandungnya sendiri.
"Rain. Tante Elis juga punya kesibukan lain bukan hanya mengurusi Rain saja." papar Yudha. Sebenarnya Yudha ingin egois dan menutup mata akan apa yang terjadi. Padahal jika ingin memanfaatkan keadaan inilah waktunya. Hubungan Elis dan Arjuna belum membaik, Yudha bisa saja menarik perhatian Elis, dan bersaing dengan Arjuna, mereka juga tidak terlibat darah bukan?
"Rain tak mau makan jika bukan tante Elis yang menyuapi Rain." Anak itu merajuk membuat Yudha tak memiliki pilihan selain menghubungi Elis.
Elis awalnya menolak namun saat mendengar lirihan Rain ia merasa tak tega sehingga sepulang kerja ia memilih mampir ke rumah sakit untuk menengok Rain.
Bocah itu bercerita banyak hal, bersama Elis Rain menceritakan peristiwa semalam tantang dirinya di ajak seseorang ke suatu tempat untuk menemui tante Elis, namun beberapa saat ada orang bertubuh tambun menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat yang tidak di ketahui Rain.
"Rain. Dengarkan tante Elis! Jangan pernah mudah mempercayai perkataan orang lain apa lagi orang itu belum Rain kenal. Kita tidak pernah tau isi hati seseorang tapi apa salahnya kita waspada. Rain mengertikan?" Elis menjelaskan beberapa hal penting yang patut di curigai kepada Rain.
Elis juga menyuapi Rain terlebih dahulu sebelum pulang. Yudha mengucapkan terima kasih kepada Elis karna sudah mau membujuk putranya untuk makan.
Rain seakan sengaja menawan Elis untuk tidak cepat pulang. Elis sendiri sudah tidak tahan ia juga memiliki hal lain yang lebih wajib untuk ia urus selain Rain.
"Tante harus pulang sekarang." Pamit Elis, ia tak menengok ke belakang sekalipun Rain menangisi kepulangannya.
Yudhapun tak memiliki hak untuk mencegat Elis lebih lama lagi.
Sungguh sial bagi Elis dirinya tak menjapatkan kendaraan untuk pulang sehingga ia harus menunggu ojek online yang ia pesan dengan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
.
Arjuna tiba lebih dulu di rumah kontrakan di bandingkan Elis. Anak anaknya segera menyambut kepulangannya. Pengasuh yang Arjuna tugaskan untuk menjaga putri putrinya pun pamit untuk pulang. Maya nama pengasuh itu, pengaduh propesional yang Arjuna bayar dengan harga tinggi karna beberapa kemampuan yang Maya miliki. Ya Maya bukan pengasuh biasa, Arjuna mendapatkannya dari sebuah agent terlatih.
"Mama belum pulang?" Tanya Arjuna kepada ketiga putrinya. Meskipun ia tau jika istrinya itu belum pulang dan saat Arjuna mengecek posisi terakhir Elis berada di rumah sakit membuat Arjuna tersenyum kecut.
"Belum Pa. Mungkin sebentar lagi." ujar Jasmine.
"Kalian sudah makan?" Arjuna bertanya kembali, ketiganya menggeleng. Harusnya Elis datang sejak dua jam yang lalu. Namun hingga kini Elis belum menampakan batang hidungnya.
Arjuna menyiapkan makan malam untuk ketiga putrinya. Hanya dengan lauk berupa telur ceplok saja karna Arjuna memang tidak pandai memasak. Sampai ia dan anak anaknyapun selesai makan Elis belum juga pulang, sehingga Arjuna menghubungi Yudha untuk menyuruh Elis agar segera pulang.
"Dimana adabmu Yudha? Elis memiliki kewajibannya yang lain tidak melulu harus mengurus anakmu! Jika kau memerlukan seorang ibu untuk putramu cari lah yang lain jangan mengambil ibu dari anak anakku." Arjuna segera menutup panggilannya sebelum Yudha menyaut dari sebrang sana.
Elis tiba di rumah hampir pukul sepuluh malam. Ia merutuki sepanjang gang menuju rumahnya, karna ojek online yang ia tumpangi harus mogok di tengah jalan.
Jantung Elis merasa berdegub berkali kali kebih cepat saat dari ke jauhan Elis melihat Arjuna tengah duduk di sebuah kursi pelastik di dekat motor miliknya. Asap roko mengepul dari mulutnya, bisa Elis paktikan Arjuna tengah berpikir, karna Arjuna jarang sekali menggisap benda bernikotin yang tengah ia apit dengan kedua jemarinya.
Tak langsung menjawab salam Arjuna malah beranjak berdiri. "Hebat kau pulang sampai selarut ini. Apa karna dirimu terlalu sibuk mengurusi anak orang lain ketiga anakmu sampai kelaparan di rumahnya." Arjuna menatap tak percaya Elis yang menunduk di hadapannya. Nyaris saja ia tak percaya jika Elis tega membuat ketiga putrinya menunggu dengan keadaan perut kosong.
"Maaf." cicit Elis pelan. "Aku akan masak sekarang, di mana anak anak?" Elis merasa bersalah ia menanyakan keberadaan ketiga putrinya.
"Mereka sudah tidur. Karna terlalu lelah menunggumu. Apa kau sangat menginginkan seorang putra hingga mengabaikan anak anakku?" tanya Arjuna.
"Aku bisa memberikanmu seorang putra Elis! Tapi jangan pernah kau mengabaikan ketiga putriku. Apa lagi untuk anak orang lain." Arjuna menarik tangan Elis untuk memasuki rumah. Elis menepis tangan Arjuna dengan kasar.
"Apa kau berencana menjadi ibu sambung dari anaknya Yudha Elis?"
"Bukan seperti itu Arjuna, kasihan Rain dia tengah sakit. Ibunya tak ada." Elis menyangkal tuduhan Arjuna terhadapnya.
"Yakin hanya karna anak itu? Bukan karna bapaknya? Aku curiga kau memang berencana untuk membalas perbuatanku dengan menjalin hubungan dengan Yudha. Benar begitu Elis?" Meski Arjuna tidak berteriak tapi setiap ucapannya penuh penekanan membuat sudut hati Elis tersinggung.
__ADS_1
"Terserah kau saja Arjuna. Aku lelah harus berdebat denganmu."
"Oh, aku tau kau memang sengajakan mendekati Rain? karna kau tau Yudha tertarik padamu. Kau ingin lepas dariku karna ingin mendapatkan Yudha kan? Dia juga pria kaya-"
Elis yang mulai muak dengan celotehan Arjuna mulai angkat suara. Ia sudah terpancing kali ini.
"Jika iya memangnya kenapa? Bukankah kau kemarin sore mengatakan jika akan membiarkanku dengan siapapun. Lalu apa masalahmu sekarang?" Elis hendak beranjak namun Arjuna malah menahan dan mengungkung tubuh Elis di atas kasur di depan televisi.
"Apa yang kau lihat darinya Elis? Lihat aku bahkan jelas lebih baik. Jangan menguji kesabaranku Elis." Arjuna sudah mengungkung tubuh Elis di bawah kuasanya.
"Lepas!" Elis memberontak.
"Lepas Arjuna. Atau aku akan teriak!" Elis semakin memberontak untuk berusaha melepaskan diri.
"Teriak saja. Tak ada larangan untuk aku mendatangimu. Kau masih istriku."
"Aku tidak mau Arjuna. Ini salah!" Elis sudah berkeringat dingin rasa jijik sejak empat tahun lalu kini memeluk Elis kembali. Pengakuan Arjuna dan dokter Arief tak mempengaruhi rasa jijiknya terhadap sentuhan Arjuna.
"Aku lelah terus berjuang. Sedang kau malah membuka hati untuk pria lain." Arjuna mulai membuka pakaiannya.
Elis sudah bergetar, serta berkeringat dingin. Namun Arjuna tidak menyadari reaksi Elis ia terlalu emosi juga merasa jika egonya terluka.
"Kau ingin seorang putrakan? aku akan memberikannya untukmu. Kau tak akan memiliki alasan untuk pergi dariku." Arjuna akan melampiaskan semuanya malam ini. Malam malam yang ia lewati sendiri Arjuna akan lunaskan malam ini.
"Arjuna aku tidak mau!" itu lah kata terakhir yang di dengar Arjuna. Karna selanjutnya mulut Elis Arjuna sumpal menggunakan kaos miliknya.
Wajah Elis sudah di penuhi dengan banyaknya air mata yang sama sekali tidak di perdulikan Arjuna.
Saat ego seorang pria merasa tergores ia akan mengabaikan permohonan berbentuk apapun. Sekalipun Elis berteriak tertahan Arjuna tetap memuaskan dirinya sendiri.
Elis juga tak mengerti dengan reaksi tubuhnya sendiri yang menolak sentuhan dan penyatuan yang Arjuna lakukan.
__ADS_1