
"Pergilah! Temui ibumu, sungguh aku tidak papa." Elis berpaling kemudian meninggalkan Arjuna yang masih mematung si dekat jendela.
Arjuna sudah mempelajari beberapa rumus kata dari perempuan, tidak papa artinya wanitanya keberatan. "Sudahlah biarkan saja mama di sana, jika ia pegal juga bakalan pulang sendiri." Arjuna lebih memilih menyusul Elis dari pada harus menemui mama, ia harus belajar tegas jangan sedikit sedikit luluh oleh ibunya itu.
Malam sudah larut, semua orang sudah makan malam. Yudhistira menggaruk tengkuknya beberapa kali, ia gatal ingin menyiksa Srikandi, wanita yang berandil besar dalam kehancuran hidupnya, namun ia masih menghargai Arjuna dan adiknya, sehingga sekuat mungkin Yudhistira menahan diri.
"Kau tak mau pulang?"
Arjuna menghampiri Yudhistira yang masih menatap Srikandi dari balik jendela.
"Wanita sundal itu benar benar gigih ingin menemuimu."
"Biarkan saja. Aku tak akan luluh dengan bujukannya." Arjuna berujar datar, ia tak ingin bertindak bodoh lagi sekarang.
Arjuna dan Yudhistira segera mengumpat saat mendengar seseorang menuruni tangga, mereka yakin jika orang itu adalah Elis, karna ketiga putri Arjuna sudah tidur. Keduanya amat penasaran apa yang akan di lakukan Elis.
"Lisa mau apa? Padahalkan dia sudah makan, apa hormon kehamilannya membuatnya rakus?" Yudhistira bertanya heran, sedangkan Arjuna sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan istrinya.
Elis membawa seporsi makanan di atas nampan juga dengan sebotol air mineral dan buah potong.
Elis membuka pintu utama dan keluar membawa makanan itu, ia tak ingin mengambil resiko dengan membawa ibu mertuanya kedalam rumah, mengingat kakaknya Yudhistira sangat membenci mertuanya, ia tak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada ibu mertunya.
Meski Elis tak menyukai ibu mertuanya di karnakan ibu mertuanya selalu berbuat jahat kepadanya dan ketiga putrinya, namun jauh di lubuk hati Elis ia menyayangi wanita tua itu.
Mama Sri terduduk di dalam mobilnya, dengan pintu mobil yang terbuka lebar.
Elis meminta security di rumahnya membuka pintu gerbang, sedangkan Arjuna dan Yudhistira masih memantau apa yang di lakukan Elis.
"Kau lihat Yudhistira! Kepedulian adikmu dan kasih sayangnya benar tulus, lalu bagaimana bisa aku tanpanya." Arjuna berujar serak.
"Dia istriku, ibu dari anak anakku. Aku mencintainya melebihi diri ini, aku sempat terpisah dengannya selama empat tahun dan itu adalah penderitaan terhebatku."
"Kau pernah berpisah dengan Elis? Apa yang terjadi? Apa ada hubungannya dengan Aida?" Yudhistira berdiri dari tempatnya berjongkok di bawah kursi bersama Arjuna.
"Ya, dia mengira aku berkhianat. Tapi yang lebih ku percaya adalah Tuhan sang penciptaku tengah cemburu terhadapku karna aku terlalu mencintai makhluknya dengan amat sangat sehingga Tuhan memisahkan kami selama empat tahun, tapi setelah ku bujuk Tuhanku, akhirnya beliau mengembalikan Elis dan ketiga putriku dalam pelukanku." Arjuna berkaca kaca saat mengingat hal itu, hidungnya bahkan memerah menahan tangis, sungguh itu masa tersulit sepanjang hidupnya.
"Terimakasih sudah mencintai adikku dengan sangat sempurna. Jujur ku akui kau memang pria hebat." Yudhistira merasa bangga dengan Arjuna, paras tampan serta kekuasaan dan uang yang adik iparnya miliki tak lantas membuat Arjuna berbangga diri, di banyaknya peluang untuk berkhianat Arjuna justru mempertahankan cintanya dengan sangat apik. Yudhistira yakin jika orang tua Arjuna dulunya adalah orang orang baik, karna Yudhistira tak ingin memuji Srikandi yang jahat.
__ADS_1
"Ibuku selalu menutup mata akan kebaikan Elis."
Sungguh kejahatan Srikandi tak dapat mengusik hati tulus serta kesetiaan Arjuna.
"Juna ikuti istrimu! Perasaanku tak enak, aku mengenal watak luar dalam ibumu itu. Apa lagi jika seandainya dia tau jika Lisa adalah anak suaminya dari wanita lain. Jika aku yang mengikuti Lisa dan mendapati ibumu berniat melukai adikku, aku tak akan memaafkan dan membunuhnya saat itu juga." Yudhistira berlalu meninggalkan Arjuna.
Dan benar saja apa yang di katakan Yudhistira, saat Arjuna keluar rumah mamanya tengah menodongkan pecahan gelas di depan tubuh Elis hingga istrinya mundur beberapa langkah.
"Jangan sok baik di hadapanku anak haram! Aku yakin kau hendak membunuhku dengan memberikan racun pada makanan itu, di makanan itu ada racunnya kan? Aku tau jika kau adiknya Yudhistira! Kenapa kau tak mati saja saat aku menjualmu ke perdagangan anak!" Srikandi terus menodongkan pecahan kaca itu ke tubuh Elis.
Elis yang berusaha melindungi dirinya menepis tangan mertuanya hingga tanpa sengaja pecahan gelas itu menggores lengan Elis.
"Aww ..."
Elis mengaduk kesakitan karna tangannya terluka, sedangkan Srikandi semakin mendekat.
Arjuna semakin berlari kearah keduanya, ia takut jika ibunya melukai istrinya hingga dengan repleks Arjuna melepas sendal yang ia kenakan dan ia lemparkan ke wajah ibunya.
Puk ...
Sandal Arjuna mendarat tepat di wajah Srikandi.
"Beginikah caramu memperlakukan ibumu yang berjasa membesarkanmu?" Srikandi marah luar biasa atas tindakan putranya yang sangat keterlaluan menurutnya.
"Aku bakhan bisa membunuhmu karna membahaykan keluargaku!"
"Kosim! Usir dia dari rumah ini, jika perlu seret wanita tua ini!" Arjuna mendorong ibunya keluar dari gerbang, juga segera menutup gerbang itu dan menguncinya.
Security yang berjaga itu dengan sigap membawa Srikandi pergi, keluar komplek, kebetulan di luar komplek ada orang Arjuna yang berjaga.
"Apapun alasannya jangan biarkan orang tua itu masuk." Arjuna berteriak dan di angguki oleh securitynya.
"El, sayang kau tak apa?" Arjuna meneliti luka di tangan istrinya yang terus mengeluarkan darah.
"Aww shh ..."
Yudhistira memang selalu benar dalam memprediksi sesuatu, untung saja Arjuna cepat keluar jika tidak entah apa yang terjadi.
__ADS_1
"Ayo kita kerumah sakit." Arjuna mengenakan sendal ia gunakan untuk menimpuk ibunya.
"Tidak usah. Ini hanya luka luar saja di kasih obat merah juga sembuh." Elis menolak ajakan Arjuna kerumah sakit.
"Kakakmu akan menyalahkan aku jika dia tau kau terluka karna diriku."
"Kau tak perlu laporan pada kakakku."
"Dia tetap akan tau." Arjuna menuntun Elis ustuk memasuki rumah, serta menyuruh pekerjanya untuk membersihkan kekacauan yang di timbulkan ibunya.
"Mengapa kau malah memberinya makan?"
"Aku takut mamamu lapar, tapi dia malah menyangkaku berniat meracuninya." Adu Elis dengan sedih.
"Tiup Juna, ini sakit loh, perih." Elis menyodorkan tangan kanannya yang terluka.
"Ya Tuhan istri manjaku telah kembali."
.
Srikandi tak kembali kerumah Yudha, ia lebih memilih menginap di salah satu apartemen miliknya yang letaknya tak jauh dari rumah Arjuna, ia sudah merencanakan sesuatu kepada salah satu putri Arjuna, yang tak lain cucunya sendiri.
Besok pagi Srikandi akan melancarkan aksinya, ia akan mengancam Arjuna melalui salah satu putrinya, pasti Arjuna akan menuruti inginnya untuk membatu dirinya mencari Aida.
Namun saat memasuki unit Apartemennya Srikandi merasa mencium aroma yang tak asing di penciumannya, namun ia tak memikirkannya lebih jauh dan lebih mengacuhkannya.
Apartemen ini cukup besar, Juga keamanannya terjamin sebelumnya, ada banyak cctv juga pihak keamanan yang bertugas 24 jam.
Srikandi berniat membuka pakaiannya untuk membersihkan diri, namun tiba tiba dari arah belakang ada seorang pria bertubuh tinggi yang menjerat lehernya dengan seutas tali.
Pria itu mengenakan pakaian serba hitam juga penutup kepala, sayangnya meski beberpa kali mencoba Srikandi tak dapat melawan dan melepaskan jeratan tali itu.
"Le-lepakan!" susah payah Ia berkata demikian namun pria itu tak menggubris permintaan korbannya, pria dengan penutup kepala itu terus menjerat leher Srikandi hingga Srikandi di buat kejang kejang oleh jeratan tali itu.
Adegan mengerikan itu terjadi beberapa waktu, hingga kaki Srikandi yang sedari tadi menendang nendang taktentu arah kini melemah dan tak bergerak lagi. Meski Srikandi sudah tak menunjukan kehidupan lagi, pria itu tetap menjerat leher Srikandi hingga beberapa menit.
Setelah semuanya berjalan sesuai keinginannya, pria itu pergi membawa beberapa barang Srikandi, tentu saja agar pihak berwajib tak mencium jejaknya, dan mengira jika yang terjadi adalah perampokan semata. Padahal ia sudah merencanakan dan mengintai wanita tua itu.
__ADS_1
"Aku hanya mengambil hakku saja." ucap pria misterius itu sembari berlalu di telan keheningan malam.