
"Rose, Jasmine, Valery, Mama pulang!"
Arjuna tak mungkin salah mendengar, seseorang yang memanggil ketiga putrinya adalah Elis istrinya.
Kebahagiaan Arjuna kini hendak meletup saat mendengar istrinya memanggil nama ketiga anak mereka dengan begitu bersemangat, itu artinya istrinya dalam keadaan baik baik saja, dengan langkah kaki yang terburu buru menuju pintu, Arjuna mencubit tangannya sendiri untuk sekedar memperingatonya jika apa yang ia dengar bukanlah mimpi.
Wajah kacau Arjuna berubah berseri saat tangannya terulur hendak membuka pintu, namun saat pintu di buka-
"El, kau pu-" Kalimat Arjuna menghilang begitu saja di udara saat sang istri berdiri bersisian dengan musuh bebuyutannya. Matanya melotot dengan amat tajam menyoroti keduanya.
Dengan gerakan cepat, Arjuna menarik Elis dan menempatkan wanitanya di balik punggung miliknya, Arjuna menyembunyikan wanita yang paling ia cintai di balik tubuhnya. Seakan khawatir jika istrinya berada di dekat Yudhistira maka istrinya akan tetluka.
Arjuna sangat terkejut saat istrinya datang bersama seseorang yang sangat mengerikan, pembunuh berdarah dingin yang dapat melenyapkan seseorang dengan hitungan menit.
Yudhistira yang sama keheranannya sigap mengambil senjata yang ia bawa di balik jasnya, dan ia todongkan tepat di kening Arjuna, yang tak lain adalah adik iparnya sendiri. Yudhistira pikir Arjuna tengah menjadikan adiknya Lisa sebagai sandra, begitupun sebaliknya.
"Lepaskan adikku! Atau kuledakkan kepalamu!" AncamYudhistira, moncong senjata itu kini sudah menempel tepat di dahinya.
"Adik? Siapa yang kau maksud? Elis adalah istriku dia adalah ibu dari ketiga putriku."
Untuk sejenak Yudhistira bergeming dengan rahang terjatuh, sampai sampai Yudhistira membuka rahangnya dengan amat lebar, ia sudah hampir kehilangan kesadaran.
"Benar begitu Lisa." Yudhistira berhasil mengeluarkkan kalimat tanya kepada adiknya.
"Iya Kak, Arjuna suamiku. Dia adalah ayah dari anak anakku, sekaligus adik iparmu."
Saat itu juga tubuh Yudhistira menjadi sekaku batu, bahkan senjata api di genggamannya sudah jatuh keatas lantai. Ia belum pernah seterkejut ini sebelumnya.
Arjuna, adalah adik iparnya? Pria yang sampai tadipun Yudhis bela keberadaannya di depan sang adik, bahkan Yudhistira mati matian membujuk adiknya untuk membatalkan rencana perceraian keduanya, tau begitu Yudhistira yang akan mendukung adiknya di garda terdepan untuk berpisah dengan Arjuna. Agar ia tak merasa berdosa jika ayah dari ketiga keponakannya mati di tangannya.
Ta, tapi yang lebih mengejutkan lagi bagi Yudhistira adalah Elis mengatakan jika Arjuna adalah suami swrta ayah dari ketiga keponakannya. Padahal Arjuna sama sama anak dari mendiang almarhum ayah Wisnu, meski mereka lain ibu, mereka tetap bersaudara, juga darah yang sama mengalir di antara ketinganya.
Saat Yudhistira masih berada di dalam keterkejutannya, secepat kilat Arjuna mengambil senjata yang tergeletak di atas lantai, dan balik menodongkan senjata itu kearah Yudhistira.
Elis yang melihat Yudhistira mematung terlihat sangat khawatir.
"Kak, Kaka."
Beberapa kali Elis memanggil, Yudhistira tak merespon sama sekali. Pria itu terlanjur rumit dengan pikirannta sendiri, kemudian-
Bugh,
Tubuh besar itu tumbang begitu saja di lantai rumah Arjuna.
"Kakak kenapa?" Elis mendekat dan bersimpuh di hadapan kakaknya yang tak sadarkan diri. Melihat hal itu Atjuna segera menarik Elis, khawatir jika ini adalah tipuan Yudhistira saja, dan di saat meleka lemah, siapa yang tau jika Yudhistira akan menyerang mereka.
"El. Menjauh darinya! Dia amat berbahaya." tegas Arjuna, pria itu belum menahami apa yang terjadi.
__ADS_1
"Tolong kakakku Juna. Dia kakak kandungku yang hilang."
"Kakak, mana mungkin kau memiliki saudara semengerikan dia."
"Dia, benar benar kakakku." Elis merogoh secarik jertas, hasil tes DNA di dalam tas kecil miliknya kemudian memberikan hasil tes itu kepada Arjuna.
Reaksi Arjuna tak jauh seperti reaksi Yudhistira sebelumnya, Arjuna juga pingsan. Beruntung Arjuna tak terhantuk ke lantai karna lebih dulu ia mundur ke kursi sofa.
Asisten Jo yang melihat situasi membagongkan ini terlihat mematung dengan keterkejutan yang luar biasa hebat, ia bahkan kehilangaan kata katanya.
Dengan sigap Asisten Jo membawa tuannya memasuki kamar, ia mengabaikan kondisi Yudhistira yang tengah berusaha Elis bangunkan menggunakan minyak kayu putih.
"Lisa." Yudhistira memijat kepalanya yang hendak meledak, pusing, sesak juga jantungnya seakan berhenti berdetak. Adalah raksi yang paling berbahaya, hal itu terjadi bukan jarna racun. Melainkan karna kabar yang mengejutkan.
"Kakak. Bangun! Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kau seperti orang yang syok saat mengetahui Arjuna adalah suamiku? Apa kalian sudah pernah mengenal sebelumnya?"
Yudhistira terdiam untuk beberapa saat, mencoba menghubungkan beberapa pristiwa yang kebetulan terjadi, dan yang paling baru adalah alamat yang di berikan orang orangnya, sama persis dengan alamat yang di sebutkan adiknya. Dan saat ini mereka berada di rumah itu.
"Aku mengenalnya sejak lama. Dia adalah pria yang mengambil hak hak kita Lisa, perhatian ayah serta harta ayah di kuasai oleh pria itu dan ibunya Srikandi. Astagha Lisa kau sudah menikah dengan saudara seayahmu. Kau melakukan pernikahan sedarah? Bagai mana keadaan ketiga putrimu? Apa mereka tidak cacat? Maksudku, yang ku ketahui pernikahan sedarah selalu menghadirkan anak yang cacat."
Elis mengerutkan kening tak mengerti.
"Pernikahan sedar apa maksud kakak?"
"Lisa, Arjuna adalah anak Dari Srikandi, dan ayahnya sama dengan ayah kita yaitu ayah Wisnu, bagai mana mungkin kau menikah dengan Arjuna, itu tidak boleh terjadi! Hal itu salah Lisa. Kau harus mengakhiri pernikahan klaian."
Elis baru tau jika, mertuanya adalah istri lain dari Papanya juga. Jika saja Srikandi tau mengenai hal ini, bisa di pastikan wanita itu akan semakin membenci dirinya.
"Kak, Arjuna bukan saudara kita. Dia bukan anak dari ayah Wisnu. Arjuna adalah anak yatim piatu yang di besarkan dan di angkat anak oleh Mama Sri."
"Ja-jadi? Kau yakin jika Arjuna bukan anak Wisnu?"
"Aku sangat yakin."
"Berarti itu artinya kita hanya dua bersaudara?" tanya Yudhistira memastikan kembali.
"Tidak kak, jika kita benar anak dari Papa Wisnu, itu artinya kita memiliki satu saudara seayah lainnya."
"Siapa?"
"Aida. Mantan istri kedua Arjuna adalah saudara seayah kita, itu lah sebabnya Mama Sri memaksa Arjuna menikahi Aida yang tak lain adalah anak kandung Mama Sri."
"A-Aida." Yudhistira kesulitan menelan kumpulan ludah yang terkumpul di tenggorokannya, ia merasa tercekik saat itu juga.
"Ya Tuhan." Aida adalah wanita yang pernah Yudhistira tawan, ia juga menyuruh anak buahnya untuk melecehkan wanita itu, juga dengan tangannya sendiri Yudhistira memotong tangan Aida. Rupanya wanita itu adalah saudari seayahnya.
"Mama ..."
__ADS_1
"Mama ..."
Teriak ketiga gadis kecil yang berlari mendekati ibunya.
Elis merentankan kedua tangannya bersiap menyambut pelukan ketiganya.
"Kami merindukan Mama."
Saat adik dan para keponakannya berpelukan, Yudhistira merengkuh ke empat wanita yang ia sayangi dan harus ia lindungi sepenuh hati.
Baru beberapa saat saja, Arjuna sudah datang dan melepas pelukan Yudhistira dari ke empatnya. "Menjauh dari keluargaku!"
Sangat jelas terlihat amarah serta rasa takut yang bercampur di mata Arjuna.
"El, jangan percaya begitu saja atas apa yang dia katakan. Dia hanyalah pria licik, kotor, serta beracun. Yudhistira bisa kapan saja mengancam keselamatan kalian."
"Tutup mulutmu Arjuna! Kau tak bisa berkata kotor tentangju di hadapan ketiga keponakan cantikku!"
"Kau memang kotor Yudhistira!"
"Mama siapa pria kotor itu?" tanya Valery dengan polosnya, gadis kecil itu menunjuk tato di lengan Yudhistira. "Apa dia seorang pria ular yang berbisa seperti di film film? itu sebabnya Papa mengatakan dia pria kotor dan beracun."
Bukan tersinggung, Yudhistira malah meletupkan tawanya, hingga suara tertawanya meletup ketup di seluruh penjuru rumah. Yudhistiralupa kapan terakhir kali ia tertawa selepas dan sebebas ini.
"Haha ... Haha ..."
Air matanya bahkan keluar karna tawanya yang terdengar sangat bebas.
"Putriku sedang menghinamu Sialan!" Geram Arjuna, ia jesal melihat tawa bahagia di wajah musuhnya.
"Papa tak boleh mengumpati orang!" ujar Jasmine kembali, sedangkan Rose si sulung itu, tengah mengamati ke adaan.
"Perkenalkan ini adalah Om Yudhistira, dia adalah Om kalian. Kakak Mama." Elis memperkenalkan Yudhistira.
Yudhistira mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan putri putri adiknya, namun si sulung Rose lebih dulu menghalangi kedua adiknya.
"Mine, Vale, berhati hatilah. Kita tak tau maksud dari orang asing ini. Kita tidak bisa membaca pikirannya, setidaknya kita harus memastikan jika dia tak berbahaya."
Yudhistira terkagum kagum atas pernyataan anak sulung dari adiknya, meski seorang anak perempuan, gadis itu terlihat tangguh dan pemberani. Aura pemimpinnya menguar kuat di gadis berambut panjang itu.
Lama mereka terdiam, semuanya memperhatikan Rose. Namun-
"Arjuna ..."
Srikandi mendatangi rumah putranya dengan penampilan yang tampak kacau.
"Arjuna, tolong Mama-"
__ADS_1