Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Jenazah dalam kolam


__ADS_3

 "Yudhis, aku ingin menitipkan Elis dan anak anak padamu untuk beberapa hari saja, ada sesuatu yang harus ku urus lebih dulu." Arjuna berujar sembari menyendok makanan yang tersaji di atas meja makan, di sana juga ada beberapa kerabat Mama Sri termasuk Yudha dan Rain.


"Oke," Yudhistira menghentikan kunyahannya kemudian beranjak dan membawa Arjuna keruangan lain, membiarkan ketiga keponakannya memakan makanannya dengan tenang. Yudhidtira seakan tak ingin perbincangannya di dengar oleh orang lain.


"Kau sudah membicarakan hal ini sebelumnya dengan Lisa?" Yudhistira menanyakan hal tersebut karna tak ingin jika jika kembali terlibat kesalah pahaman lagi antara adiknya dan Arjuna.


"Aku hanya tak ingin kalian hubungan kalian memburuk lagi, semoga kau tak lupa jika Elis tengah hamil, tau sendiri hormon wanita hamil bagai mana."


"Sudah, dan Elis setuju untuk ikut denganmu. Aku akan menjemputnya setelah urusanku selesai." Arjuna membuka pintu ruangan setelah sebelumnya sempat tertutup, ia kembali menghampiri meja makan untuk mengambil makanan yang sudah ia ambil kedalam piring sebelumnya.


"Kalian lanjutkan makan malamnya, aku akan makan malam di kamar." Arjuna pamit undur diri pada beberapa kerabatnya.


Yudhistira sesekali menatap kearah Yudha yang terlihat tengah menatap layar ponselnya.


"El, sayang mari kita makan malam bersama." Arjuna membawa nampan, ia juga meletakan nampan miliknya di damping nampan milik sang istri di atas nakas di samping tempat tidurnya.


Arjuna mencari keberadaan istrinya ke kamar mandi, namun istrinya tak kunjung ia temukan, balkon kamarnyapun tak luput dari penggelahannya tapi hasilnya nihil, Elis masih belum di temukan.


Hingga beberapa waktu berlalu Arjuna sudah kembali keluar dari dalam kamarnya karna tak mendapati kehadiran Elis di kamarnya, entah kemana perginya istrinya itu.


"Elis ... Elis ..." beberapa kali Arjuna memanggil nama istrinya, dan mencari keberadaan wanitanya di beberapa sudut rumah. Hingga ke halaman belakang rumah, bukan hanya Arjuna yang mencari Elis bahkan beberapa kerabat Arjuna turut mencari Elis begitu juga dengan Yudha.


"Mama kemana Pa?" si bungsu Valery sudah menangis karna ibunya tak ada.


"Aku tak ingin Mama pergi lagi." Jasmine sudah henfmdak menangis juga, hanya Rose yang terlihat tenang, atau justru gadis kecil itu sama kacaunya dengan ketiga adiknya, ya Yudhistira menebak demikian keponakannya itu terlihat baik baik saja hanya untuk menenangkan adik adiknya.


Arjuna bahkan tak mengijinkan beberapa orang yang merupakan kerabat dari ibunya untuk pulang sebelum istrinya di temukan, Arjuna semakin kebingungan saat keberadaan Elis tak juga di temukan sampai satu jam pencarian.


Hingga hari begitu larut, namun Elis tak kunjung di temukan hingga akhirnya Arjuna mengijinkan kerabatnya untuk pulang, lagi pula ia memerlukan berdiskusi dengan kakak iparnya.

__ADS_1


"Mama ... Mama ..."


Kedua putri Atjuna menangis, Rose bahkan kesulitan menenangkan kedua adiknya.


"Juna apa Elis marah saat kau mengatakan akan menitipkan Elis kepadaku?" Yudhistira sama paniknya dengan Arjuna, ia takut jika adiknya di culik dan di jadikan sandra ataupun di celakai oleh seseorang. Atau bisa jadi Elis justru melarikan dirinya lagi karna merasa di buang oleh Arjuna, tapi alasan terakhir benar benar tak masuk akal setelah Arjuna menjawab pertanyaannya.


"Tidak, Yudhis dia tak marah, dia hanya sedikit sedih, tapi aku berhasil membujuknya sehingga Elis bersedia untuk tinggal bersamamu selama beberapa waktu." ujar Arjuna terus terang.


"Juna ijinkan aku untuk mengamankan anak anak lebih dulu, bisa jadi anak anak juga dalam bahaya, kita tak pernah tau siapa pelakunya, bisa juga orang yang dekat denganmu atau seseorang yang memiliki dendam kepadamu sehingga menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkanmu." Yudhis tak ingin menggadaikan keamanan ketiga keponakannya.


Arjuna mengangguk mengijinkan Yudhistira mengamankan ketiga putrinya juga dengan pengasuh mereka. Yudhistira mengantarkan langsung ketiga putri Arjuna ke suatu tempat yang sudah di pastikan keamannya.


"Kalian tinggalah sebentar, Om dan Papa mau mencari Mama kalian, menurutlah pada bibi dan Kak Rose, jangan nakal agar Mama kalian cepat di temukan." Yudhistira menasehati kegiga putrinya.


"Om Kudhis berjanji akan membawa Mama kami pulang?" Si bungsu Valery memegangi kaki Omnya.


Yudhistira berjongkok untuk menyamakan tingginya di depan putri bungsu yang akan menjadi kakak sebentar lagi, "Om janji akan membawa Mama kalian pulang dalam keadaan baik baik saja. Om menyayangi kalian." Yudhistira memeluk dan mencium kepala keponakannya bergantian, termasuk Rose yang menurut untuk kali ini.


"Arjuna bagai mana? Apa Lisa sudah ketemu?" sebenarnya meski Arjuna belum menjawab Yudhistira dapat menebak jawabannya dari seraut wajah yang Arjuna tampilkan padanya.


"Belum." ucapnya prustasi. Semua orang Arjuna sudah ia kerahkan untuk mencari Elis namun sialnya cctv di rumah Arjuna di rusak paksa hingga ia tak dapat melacak keberadaan istrinya.


"Sepertinya hal ini sudah di rencanakan." Yudhistira menganguki ucapan adik iparnya.


"Ini semua karna dirimu Yudhis! Jika saja kau tidak menlepaskan alat penditeksi di tubuh istriku aku bisa mengetahui keberadaannya." Arjuna menyalahkan kakak iparnya yang melepaskan alat yang ia pasang di tengkuk istrinya waktu di parkiran hotel kala itu.


"Alat? Asthagha aku sudah memasang alat lain di tubuh adikku, kita akan segera mengetahui keberadaan Lisa." Yudhistira memasuki rumah adik iparnya untuk mengambil laptop miliknya.


Yudhistira mengotak atik alat itu dalam beberapa waktu. "Sial, orang itu sudah melepaskan alatnya." Yudhistira mengumpat dan umpatan itu terdengar jelas di telinga Arjuna.

__ADS_1


"Lalu kita harus bagai mana?" Arjuna sudah mondar mandir sedari tadi, ia benar benar tak tenang saat Istrinya tak juga di temukan.


"Tenang Juna. Semoga aku masih bisa mengakalinya," Yudhistira terus mengotak atik laptop miliknya.


"Juna segera hubungi Jo, suruh pria itu kemari!"


"Tapi dia tengah berduka Yudhis, aku tak bisa merepotkannya di saat ia tengah kehilangan separuh hidupnya."


"Cepat Juna! waktu kita tak banyak, siapa yang menjamin jika Elis dalam keadaan aman?"


Arjuna tak berkutik lagi, ia segera menghubungi asistennya untuk segera datang kerumahnya, Yudhistira juga menghubungi Asisten Jimy, pria muda itu sangat berkompeten saat melakukan sesuatu.


Mereka terus berpikir siapa kemungkinan yang telah berani menculik Elis, bahkan di rumah Arjuna sendiri.


Arjuna makin terlihat pucat, sejak pagi ia belum makan, seluruh tubuhnya bahkan terasa tak sehat, tapi Arjuna tetap memaksakan diri.


Yushistira pergi sebentar untuk mengambil makanan juga air minum lalu ia berikan air itu kepada Arjuna. "Makanlah lebih dulu."


"Aku tak mau, Yudhis aku tak tenang saat belum menemukan atau mendapatkan kabar dari istriku."


"Jangan keras jepala Juna, sebenarnya aku menginginkan kau mati, tapi karna adik serta para keponakanku aku ingin kau hidup dengan sangat lama untuk menjaga mereka."


Arjuna menurut, benar apa yang di katakan Yudhistira ia memang harus mengisi perutnya supaya ia bisa menhaga keluarganya.


"Aaaaa ..."


Satu teriakan dari arah belakang rumahnya terdengar, Suara perempuan mungkin salah satu pekerja di rumah Arjuna.


Yudhistira dan Arjuna kompak berlari ke sumber suara, benar dugaan Arjuna yang berteriak adalah salah satu pekerjanya, dan alangkah terkejutnya mereka saat mereka melihat tubuh seseorang mengambang di atas kolam renang belakang.

__ADS_1


Seseorang yang mengambang itu tampak tengkurap, dengan wajah dan tubuh depan menghadap he arah dasar dalam kolam sehingga mereka tak dapat melihat wajah seseorang itu. Namun dari rambut panjangnya baik Arjuna dan Yudhistira tau itu seorang jenazah dalam wanita.


"Tidak ini tidak mungkin."


__ADS_2