
Yudhistira turut hadir di acara pemakaman Soraya. Mau bagai manapun ia ingin turut serta menemani wanita yang sudah menjadi istrinya selama tiga tahun.
Meski dendam dan benci terhadap Soraya sudah terbalaskan, namun sebagai manusia biasa, terselip sedikit rasa kehilangan di hati Yudhistira. Mau bagai manapun wanita itu sudah menjadi istrinya, Yudhistira mengenakan masker saat hadir ke upacara pemakaman Soraya.
Pakaian serba hitam ia kenakan seperti pelayat pada umumnya. Dapat Yudhistira lihat jika bocah yang kemarin di temui Soraya menangis di pelukan ayahnya, saat peti mati yang menjadi peristirahatan terakhir Soraya mulai tertimbun tanah.
Ia mengedarkan maniknya, di balik kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. Satu satunya objek yang ia cari adalah seseorang berjenis wanita yang merupakan istri Arjuna. Namun hingga kini Yudhistira tidak menemukan Arjuna maupun seseorang yang di curigai sebagai isrti Arjuna.
Beruntung Arjuna dan Elis pulang lebih dulu, sehingga mereka tidak harus bertemu dengan orang semengerikan Yudhistira.
Yudhistira dapat melihat di sana ada Srikandi juga Aida. Ia mengpal kala tak bisa melakukan apapun, di antara kedua wanita itu ada empat orang pria yang Yudhistira yakini sebagai bodyguard sekaligus snaiper handal. "Sial. Mereka di jaga." gerutu Yudhistira pelan.
Ting ...
Ting ...
Tiba-tiba ada beberapa potret kebersamaan Arjuna bersama seorang wanita, juga tiga orang gadis kecil. Masuk ke ponselnya, Yudhistira gagal melacak email tersebut karna merupakan email fake. Seandainya saja aku itu aku asli, Yudhistira pasti bisa mendapatkan kebenarannya.
Rupanya wanita yang bersama dengan Arjuna itu merupakan Riska. Ya potret Riska yang bertemu dengan tidak sengaja bersama Arjuna dan ketiga putrinya. ya Riska yang sempat mengaku ngaku tengah dekat dengan Arjuna, bahkan wanita itu mengedit potret mereka supaya meyakinkan teman temannya. Bahkan Riska sampai di tegur secara langsung oleh Arjuna karna perbuatannya yang merugikan dan sempat membuat Elis cemburu.
Tanpa memikirkan apapun lagi karna sudah terlanjur termakan oleh potret itu, Yudhistira langsung mencari tempat tinggal wanita itu untuk ia lenyapkan.
Yudhistira tak ingin membuang buang waktu lagi, dengan menculik wanita yang ia kira istri Arjuna. Ia akan langsung bertindak sat set untuk melenyapkan wanita itu. Hal itu akan menjadi ancaman terbesar untuk Arjuna, kemudian Yudhistira berencana untuk menculik salah satu putri Arjuna untuk ia jadikan alat agar dapat menguasai harta Arjuna saat ini.
Ini sangat menguntungkan, dia akan kaya raya. Yudhistira yakin jika Arjuna tak akan seserakah Srikandi yang membiarkan Aida kehilangan sebelah tangannya.
Karna Jujur saja Yudhistira tak tega jika harus melenyapkan seorang anak. Karna menurutnya seorang anak di bawah 15 tahun itu masih suci. Sehingga seseorang yang berdosa besar sepertinya tak layak jika harus mencabut nyawa makhluk suci bernama anak anak. Cukup tuhan sendirilah yang mencabut nyawa mereka.
__ADS_1
Yudhistira menghadiri acara pemakaman Soraya hingga akhir. Lalu setelahnya ia menyiapkan berbagai rencana, kemudian ia bertolak kesebuah apartemen yang di tinggali wanita itu. Matahari sudah terbenam saat Yudhistira memasuki sebuah unit apartemen.
Yudhistira sama sekali tidak membawa senjata, ia datang dengan tangan kosong selain dengan sebuah jarum beracun yang ia bawa, tentu saja kadar racunnya sangat tinggi karna ia susah mempersiapkannya. Bukan tanpa alasan Yudhistira tak membawa senjata, di apartemen yang ia datangi terbilang cukup ketat, ia bahkan di periksa lebih dulu oleh pihak keamanan, padahal Yudhistira menyamar sebagai drever makanan.
Jika Yudhistira kedapatan membawa senjata bisa jadi ia di tangkap sebelum rencananya selesai.
Yudhistira cukup cerdik, jika ia menaruh racun di makanan maka akan dengan mudah terditeksi seandainya hal ini di mencuat pada pihak yang berwajib berbeda dengan racun yang ia simpan di jarum itu. Jarum yang ia buat sedemikian rupa akan melubur dengan daging bagian dalam jika Yudhistira tancapkan.
Racunnya akan bekerja setelah beberapa jam. ia juga membawa penawarnya di mobil miliknya, seandainya jarum itu mengenai dirinya sendiri.
Yudhistira sempat merasa heran mengapa Arjuna tidak meletakan penjagaan di sekitar wanita bernama Riska yang ia kira istri dari Arjuna. Tapi tempat tinggal mahal sekelas apartemen ini menepis kecurigaan Yudhistira. Mungkin saja Arjuna merasa cukup aman karna penjagaan apartemen itu cukup ketat.
Riska memang tinggal di salah satu apartemen mewah di kota itu. Pekerjaan sampingannya yang membuka jasa plus plus menjadikannya banyak uang dan mampu menyewa apartemen itu, juga di tambah dengan gaji dan kariernya yang cemerlang.
Yudhistira menekan bel apartemen, kebetulan Riska tengah berada di unitnya.
"Selamat malam Nona." Sapa Yudhistira ramah, di kepalanya terdapat topi untuk menyamarkan wajahnya. Yudhistira sudah merencanakan hal ini.
"Malam." untuk sesaat Riska mematung, menatap seseorang berpakaian kurir makanan, yang menurutnya sangat tampan. Riska bahkan mempersilahkan Yudhistira untuk masuk lebih dulu.
"Seseorang mengirimkan anda paket makanan." Yudistira menunjukan alamat yang sama dengan apartemen yang tengah ia pijaki saat ini.
"Betul ini atas nama Riska?" tanya Yudhistira kembali, dengan berpura pura."
"Ya saya sendiri." Riska mempersilahkan Yudhistira untuk duduk.
Yudhistira dapat melihat beberapa potret Arjuna di sana. Riska ngefens dengan Arjuna sehingga beberapa potret itu ia pajang di beberapa sudut ruangan apartemennya.
__ADS_1
"Apa dia suamimu?" Yudhistira bertanya, matanya menatap ke arah potret Arjuna di atas dinding. Fiks Riska memang benar benar istrinya, meskkipun ia tak melihat potret ketiga putrinya. Atau kehadiran ketiganya di sana.
"Bu-bukan." Riska tergagap karna malu, jika harus mengajui jika ia fens Arjuna.
Sedangkan Yudhistira menyimpulkan jika Riska tengah berbohong dan menutupi setatusnya sebagai istrinya Arjuna. Tentu saja Arjuna ingin merahasiahkan pernikahannya dengan wanita itu.
Tak ingin membuang buang waktu, karna Yudhistira berpikir jika Arjuna akan pulang sebentar lagi.
"Siapa yang mengirimkan makanan kepadaku?" tanya wanita cantik itu. Seraya mendekat ke arah Yudhistira. Pria itu memundur kubuhnya ke sandaran kursi. "Wanita macam apa yang Arjuna nikahi dan lindungi ini?" bathin Yudhistira dalam hati, ia tau jika gelagat Riska tengah menggodanya.
"Kau sangat tampan." pujian itu mengudara dari mulut Riska. Dengan lancang Riska duduk di pangkuan Yudistira dan mengalungkan tangannya di antara leher dan bahu Yudhistira.
Tak ingin menyia nyia kan kesempatan Yudhstira segera meraih jarum itu dan menancapkan di leher bagian belakang Riska.
"Aww ..." wanita itu terpekik, Yudhistira buru buru mengelus leher itu dengan usapan menggoda, sadar akan situasi Yudhistira segera melepas pelukan Riska dari tubuhnya.
"Nona saya harus pulang." tanpa mengatakan apapun lagi, Yudhistira meninggalkan Riska beserta makanan yang ia bawa tadi. Yudhistira tak menghiraukan panggilan demi panggilan wanita itu.
"Dasar tidak normal!" teriak Riska. Yudhistira dapat mendengar makian wanita itu.
"Ya ampun Arjuna, malang sekali nasibmu. Kedua wanita yang kau nikahi sama jaa langnya." Yudhistira tersenyum senang saat rencananya berhasil. Ia sama sekali tak tau jika wanita yang bernama Riska tak lebih dari sekedar pegawai Arjuna saja.
Kali ini Yudhistira salah sasaran.
Dengan santai Yudhistira menyalakan sebatang rokok sembari meninggalkan apartemen itu. Ia tak menyadari kejanggalan demi kejanggalan yang ia dapati sejak tadi.
Jika saja Yudhistira tau kebenaran tentang Riska, tentu saja pria itu akan menganggap dirinya sendiri sebagai pria paling bodoh yang pernah ada.
__ADS_1