
Ting ...
Satu gambar masuk kembali.
Membuat Arjuna juga Asisten Jo memaku di tempatnya berdiri.
"Ini bukan Elisku! Jo wanita ini bukan Elisku." Arjuna tersenyum lebar, ia bahkan tertawa dengan rasa bahagia. Untuk pertama kalinya Arjuna sangat bergembira atas kematian seseorang.
"Dia bukan Elisku Jo!" Arjuna bahkan memeluk asistannya untuk mengungkapkan rasa bahagianya.
Arjuna tak lagi memperhatikan ponsel dalam genggamannya, hatinya di liputi rasa lega yang luar biasa. Berbeda dengan Asisten Jo yang terus memperhatikan orang tersebut.
"Tuan, sepertinya orang ini adalah salah satu karyawan Tuan." ucap Asisten Jo seraya menunjukan ponsel miliknya ke hadapan bosnya.
"Aku tak perduli siapa dia, yang terpenting Elisku baik baik saja. Tetap lakukan pencarian jangan sampai istriku terluka." Arjuna mengayunkan langkahnya meninggalkan parkiran. Ia harus pulang sekarang jika tidak ketiga putrinya akan mencarinya.
Sebelum benar benar menghilang dari sana Arjuna berpesan untuk mengurus salah satu karyawannya yang mati. Jangan sampai pihak kepolisian maupun pihak lain menghubunginya untuk di mintai keterangan.
Arjuna sudah cukup terpuruk akan kepergian Elis tanpa pamit, ia tak ingin ada hal lain lagi yang akan menambah beban pikirannya.
Sepanjang perjalanan Arjuna terus berpikir, bagai mana caranya ia menjelaskan tentang keberadaan Elis kepada ketiga putrinya, yang pasti Rose, Jasmine dan Valery akan menodongnya dengan banyak pertanyaan tentang mengapa dirinya tak mampu membawa ibu mereka pulang.
Sampai di rumah, ketiga putrinya berlarian menghampiri sang ayah dengan mata sembap mereka masing masing.
"Papa, mana Mama?" ketiganya serempak menanyakan sang ibu yang tak terlihat di sana. Belum ada yang mandi di antara mereka bertiga. Apa lagi si kecil Valery yang masih sesegukan menyisakan tangis kecilnya.
"Mamaku kemana Pa?" suara Valery terdengar pelan, tangan mungilnya mengusap matanya yang berair beberapa kali.
Berderit ngilu hati Arjuna saat mendengarkan pertanyaan putri bungsunya. Ia bahkan berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan ssng putri.
__ADS_1
"Mama kelelahan karna mengurus kita semua, Mama hanya beristirahat sebentar. Mama pergi liburan untuk menghibur diri, setelah rasa lelah Mama berkurang, pasti Mama akan pulang ke sini untuk menemui kalian. Mana bisa mama lama lama jauh dari kalian." Arjuna mengusap wajah putri bungsunya yang dembab. Selembut mungkin Arjuna menjelaskan.
Penyesalan Arjuna kian menggulung, terkumpul dan terus menyesakan dadanya setiap waktu.
Seandainya saja ia tak terlibat dengan penyelamatan Aida, juga tentang beberapa kebohongan yang ia ucapkan kepada Elis tentu saja Elis tak akan meninggalkannya juga ketiga putri mereka, tapi ia justru semakin melukai wanita itu, hingga Elis pergi meninggalkannya.
Jika saja Arjuna mampu bertindak tegas dengan menolak keinginan ibunya, juga mengabaikan mengenai bakti terakhir, mungkin ketiga putrinya tak akan mengalami hal mengerikan yang seperti ini. Ya Arjuna rasa ini seperti mimpi buruk yang mengerikan.
Elis pergi saja ketiga putrinya amat kehilangan, bagai mana jika Tuhan mengambil Elis seperti yang sempat Arjuna pikirkan beberapa saat lalu saat ia mendapati pesan dari seseorang.
"Papa yakin Mama akan pulang?" Jasmine mendekat ke arah Papanya dengan tatapan meragu. Sedangkan si sulung Rose hanya memincingkan mata, sepertinya Rose tak mudah untuk Arjuna kelabuhi, otak gadis itu sangat cerdas untuk mememahami beberapa hal di sekitarnya.
"Ya, Mama pasti pulang."
Arjuna membawa ketiga pitrinya untuk ke meja makan, sudah banyak makanan yang terhidang di atas meja, termasuk pasta yang menjadi salah satu makanan favorite ketiganya. Namun ketiga gadis itu hanya menatap makanan itu dengan enggan.
"Cobain dulu, ini pasta kesukaan kalian." Arjuna menyodorkan pasta itu ke masing masing putrinya.
"Coba ya, koki di rumah ini jago memasak. Kalian pasti akan menyukainya." bujuk Arjuna lembut, meskipun isi kepalanya sudah hendak meledak karna rasa jengkel, ketiga putrinya selalu membantah ucapannya. Apa selama empat tahun kemarin Elis mengalami hal yang sama dengannya tentang tingkah ketiga putrinya.
"Aku tak ingin pasta. Aku hanya ingin Mama." Valery memberenggut, hidungnya bahkan kembang kempis mencoba menahan amarahnya.
"Rose tolong bujuk adik adikmu. Agar makan, agar kalian tak sakit. Biar Mama cepat pulang." Arjuna menatap putri sulungnya dengan tatapan memohon.
"Bagai mana bisa Rose membujuk mereka? Sedangkan Rose sendiri mempunyai ingin yang sama." Gadis sepuluh tahun itu menunduk dengan air mata yang berderai.
Sekali lagi Arjuna merasa tersakiti akan kepergian istrinya. Air mata mengembun, ini salahnya! Jika saja Arjuna tidak egois dan merampas anak anak dari dekapan Elis mungkin semua ini tak akan terjadi, salahnya karna berpikir Elis akan meluluh katna anak anak berada di tangan Arjuna, namun tebakan Arjuna kali ini salah. Elis justru meninggalkannya tanpa memikirkan anak anak mereka.
"Ayo makan. Kita harus tetap kuat agar Mama tidak khawatir." Rose membujuk kedua adiknya.
__ADS_1
"Biar Papa suapi." Arjuna menyuapi kedua putrinya, karna si sulung Rose menolak di suapi olehnya.
"Aaa ..."
"Rasa pastanya hambar. Tak enak" komentar Jasmine, sembari melepehkan makananya ke tangannya sendiri dan meraih tissue untuk ia pergunakan sebagai alas pasta yang ia lepehkan di atas meja.
"Iya kak, lebih enak mie instan bikinan Mama, meskipun kadang banyak airnya dan di beri garam lagi." ujar Valery polos, yang mana hal itu mengundang kemarahan Arjuna kepada pekerja di rumahnya.
"Doraaa ... Doraaa ..."
Panggil Arjuna kepada asisten rumah tangganya.
"Ada apa Tuan?" seorang wanita berumur 50 tahun mendekat dengan tergopoh gopoh.
"Kenapa masakanmu tak enak Hah? Putriku tidak menyukainya!!!" Kemarahan Arjuna menggelegar memekan telinga siapa saja. Valery dan Jasmine bahkan sampai ketakutan melihat kemarahan ayahnya, mereka juga merasa bersalah karna sudah menjadi penyebab kemarahan ayahnya kepada bibi Dora.
Sedangkan Rose sudah menghampiri kedua adiknya. Juga memeluk keduanya.
"Jangan membuat adik adikku takut!" Rose menatap mata Papanya dengan lantang. "Kesalahannya bukan ada pada bibi Dora, tapi lidah dan jiwa kami memang tengah tak sehat saat tak ada Mama di samping kami. Katakan bagai mana bisa kami terlihat baik baik saja? dan menikmati makanan, sedangkan Mama kami di luar sana? Yang kami butuhkan hanya Mama!" Gadis itu bahkan menjerit, meninggikan suaranya di hadapan sang ayah.
Arjuna menatap lekat wajah putri sulungnya, gadis itu selalu mengekpresikan apa yang ia rasakan.
"Maafkan Papa." lirih Arjuna pelan.
"Tolong temukan dan bawa pulang Mama kami." Rose melepaskan kedua tangan dari bahu kedua adiknya, tangannya mengatup membentuk permohonan. "Kami tak bisa dan tak terbiasa jauh darinya. Jika Mama lelah katakan padanya untuk beristirahat di rumah. Kami janji tak akan nakal."
Arjuna merasa jika jiwa yang terperangkap di tubuh putri sulungnya adalah jiwa seseorang yang telah dewasa. Tentang bagai mana anak itu memohon mengalahkan keahlian seorang manusia dewasa. "Aku sudah memohon kepada Tuhanku, agar beliau memulangkan Mama kami." Isakan Rose semakin pilu.
Semakin Terluka saja diri Arjuna saat mendengar permohonan putri sulungnya. Seandainya bisa Arjuna akan melakukan permintaan Rose sekalipun harus merangkak mendatangi istrinya untuk memohon maaf.
__ADS_1
"Maafkan Papa Sayang."