Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Antara tiga orang


__ADS_3

"Kau?"


Arjuna segera menghampiri seseorang yang terlihat tengah berbincang dengan dokter di ruangan jenazah ibunya.


Seseorang yang di panggil Arjuna berbalik menghadap Arjuna dengan raut tak terbaca.


"Jo sedang apa kau di sini?" tanya Arjuna, kerutan di dahinya semakin dalam saat mengetahui asistennya berada di ruang jenazah ibunya.


"Aku memang tengah menunggui putraku yang sakit Tuan." jawaban Jo terdengar meyakinkan.


"Jika kau menunggui putramu lalu mengapa kau berada di ruang jenazah ini?" Arjuna memicingkan mata dengan amat waspada.


"Karna putraku juga berada di sana." tunjuk Asisten Jo kepada jenazah di samping ibunya Arjuna, sebuah brankar tertutup dengan tubuh mungil di balik kain putih yang menutupi tubuh kecil itu.


Terlihat jelas kepedihan di manik asisten Jo, tapi ada juga kobaran api dendam penuh kebencian.


"Aku turut berduka cita Jo." ucap Arjuna pelan, setelahnya Arjuna mengabaikan asistennya, ia lebih tertarik untuk menghampiri jenazah ibunya yang sudah terbuka di bagian wajah hingga ke dadanya. Dapat Arjuna lihat bibir ibunya yang selalu berwarna merah terang kini berubah warna dengan warna biru gelap, mulut ibunya juga terbuka dengan lidah yang sebagian menjulur keluar.


Dengan seksama Arjuna meneliti wajah itu dengan sangat pelan seakan Arjuna tengah mengabadikan moment ini.


"Mama ..." ucap Arjuna parau, berteoatan dengan aur mata yang terjatuh membasahi kedua pipinya.


Arjuna tersungkur, dengan lutut sebagai penahannya, tangan kekarnya terulur meraih tangan ibunya yang terasa sedingin es, pakaian yang di kenakan ibunya masih sama seperti pakaian yang ibunya pakai semalam.


"Maaa ..." Arjuna berdiri kemudian menunduk hingga airmatanya kini melintasi hidung bangir pria itu.

__ADS_1


Sungguh demi apapun rasanya sangat sakit.


"Maafkan Juna! Maaf karna Juna telah mengecewakan Mama, tapi sungguh Juna menyayangi Mama, Arjuna mengecup kening ibunya seraya merapatkan mulut ibunya, ajaib mulut ibunya langsung tertutup, bahkan mata Mama Srikandi yang sedikit terbuka kini sudah terpejam sepenuhnya.


"Juna ikhlas Mama pergi, doa Juna selalu mengiringi Mama sampai akhir hayat Juna. Terimakasih Mama sudah menjaga juga membesarkan Juna, Juna akan bersaksi di hadapan Tuhan jika Mama adalah ibu yang terbaik yang Juna miliki." Elis membiarkan suaminya terus berceloteh untuk mengungkapkan rasa kehilangannya.


Elis juga melirik ke arah Asisten Jo yang juga meratapi kepergian putranya, berbeda dengan Jo, mantan istri Jo justru terlihat lebih datar dengan raut penuh pesakitan, tapi tak sedikitpun sudut mata wanita itu basah.


Elis dan Arjuna mengurus kepulangan ibunya, setelah mengurus autopsi serta biaya rumah sakit.


Dari keterangan autopsi ibu Srikandi dinyatakan mati karna kehabisan nafas yang di sebabkan jeratan tali di lehernya, Arjuna tergerak melihat leher ibunya, dan benar saja di leher ibunya terkalung bekas jeratan tali berwarna merah kehitaman, bahkan ada yang lecet serta mengeluarkan bercak darah saking kerasnya jeratan tali itu.


Arjuna memejamkan matanya saat bayangan tentang bagai mana ibunya meregang nyawa begitu saja terlintas di benaknya, ibunya pasti sangat kesakitan semalam, segenggan rasa sesal menggumpal di hati Arjuna, seandainya ia sendiri yang mengantarkan ibunya pulang serta memastikan keamanan ibunya mungkin ini tak akan terjadi. Tapi semalam ia terlalu panik karna istrinya terluka.


Sembaru menunggu surat keterangan dari rumah sakit keluar, Arjuna meminta Elis menunggu di kursi stainles yang berada di luar rumah sakit. Meski panik dan merasa kehilangan Arjuna tidaklah mengabaikan kewajibannya, ia pergi ke kantin rumah sakit untuk membelikan istrinya makanan, mau bagai manapun istrinya tengah mengandung, wanita hamil itu butuh nutrisi.


"Kau juga makan." Sebelum Elis menyuapkan makanan kemulutnya lebih dulu ia menyuapkan makanan itu kepada mulut Arjuna.


Arjuna menggeleng pelan, dengan bibir yang ia tipiskan sekuat mungkin ia menyamarkan kesedihannya. "Aku belum lapar, kau makanlah lebih dulu kasihan bayi kita." Arjuna mengelus lembut perut istrinya.


"Apa mau kusuapi?" Di tengah kekalutan yang Arjuna rasakan ia masih sempat sempatnya menawarkan diri untuk menyuapi istrinya. Namun Elis cukup tau diri dengan tidak meminta macam macam dalam keadaan genting seperti ini.


"Aku bisa makan sendirin Juna." Elis menyuapkan makanannya, baru saja makanannya mendarat di mulutnya, rasa mual kini menghinggapinya, akan tetapi Elis tak ingin membuat Arjuna khawatir sehingga ia dengan susah payah menelan makanan di mulutnya, sampai sampai matanya berair karna menahan mual.


Pihak kepolisian mengatakan jika apartemen ibu Srikkandi mengalami perampokan dan mengharuskan Mama Srikandi meregang nyawa karna mempertahankan harta bendanya. Hal itu terdengar janggal di telinga Arjuna, ibunya memang gila harta, tapi wanita itu tak mungkin menggadaikan keselamatannya demi sesuatu yang tak begitu berharga, hanya beberapa perhiasan, posel, laptop serta mobilnya.

__ADS_1


Karna yang selalu di pertahankan ibunya adalah saham, serta perusahaan peninggalan ayah serta suaminya. Dan yang membuat kecurigaan Arjuna semakin meruncing adalah dengan adanya bekas tinta yang tertinggal di sebelah ibu jari tangan ibunya. Apa maksud dari ini semua?


Apakah Yudhistira benar benar melenyapkan ibunya, karna sejauh itu Yudhistiralah yang berkoar koar ingin melenyapkan ibunya dengan tangannya sendiri, Arjuna tau betuh sedalam apa luka Yudhistira yang di ciptakan ibunya. Mulai dari penderitan Yudhistira sedari kecil yang tak mendapatkan perhatian ayahnya juga hak haknya sebagai seorang anak, pelenyapan ibu Yudhistira, penculikan Elis serta penderitaan penderitaan lainnya.


Tapi Arjuna meragu, di samping itu Arjuna juga tak ingin membuat hubungannya dengan Elis merenggang. Meski Arjuna tau jika apa yang terjadi adalah takdir sang maha pencipta untuk mengambil ibunya, tapi Arjuna tetap ingin mengungkap siapa dalang dari kematian ibunya, noda tinta biru di tangan ibunya semakin menguatkan dugaannya jika ada seseorang yang melenyapkan ibunya dengan tujuan tertentu.


Jenazah Mama Sri di bawa pulang kerumah Arjuna, dan akan di semayamkan di sebuah pemakanan umum terdekat dari rumah Arjuna.


Arjuna bertambah heran saat mendapati Yudha sudah berada di rumahnya dan menyambut kepulangan Arjuna yang membawa jenazah ibunya, padahal Arjuna sama sekali belum mengabari sanak saudara maupun kerabat ibunya yang tinggalnya cukup jauh dari rumahnya.


"Sedang apa kau disini?" tanya Arjuna sesaat serelah turuh dari mobil ambulance. Arjuna bahkan bekum melihat ketiga putrinya juga kakak iparnya.


"Aku di sini tentu saja untuk menemui kakakku untuk yang terakhitkalinya." ucap Yudha dengan pakaian yang sudah serba hitam, di sana juga terdapat karangan bunga, bertuliskan bela sungkawa. Yang tentu saja Yudha yang membawanya.


Tapi yang di curigai Arjuna sebagai pelaku pembunuhan ibunya justru baru saja sampai dengan menggunakan sepeda, juga di iringi ketiga putri Arjuna yang membawa sepeda masing masing.


"Ada apa Lisa?" Yudhistira bertanya kepada adiknya yang terlihat sembab.


Apa ini hanya kamuplase Yudhistira saja agar ia tak di curigai, tapi Yudha juga sangat terlihat aneh hari ini.


Lalu Jo, pria yang sama tengah berduka itu kini ada dirumahnya, padahal pria itu sama dengan Arjuna tengah berduka karna kehilangan seseorang yang mereka kasihi.


Lantas siapakah orang yang terlibat dari kematian Mama Srikandi?


Yudhistirakah? Atau justru Yudha, atau Jo yang merupakan orang kepercayaannya. Sungguh Arjuna akan menyelidiki ini semua.

__ADS_1


Arjuna mencurigai antara ketiga orang itu.


"Aku hanya ingin tau pelakunya, juga alasan di balik itu." gunam Arjuna dalam hati.


__ADS_2