
Elis sedikit paham mengenai mobil meskipun ia tak bisa berkendara roda empat itu.
Setelah berhasil merusak pintu mobil, wanita itu segera mencari keberadaan obat atau botol kecil yang di maksud pria bertato itu. Setelah beberapa saat berlalu Elis bisa menemukannya, ia mengabaikan tangan kanannya yang terluka. Elis segera berlari menghampiri Yudhistira juga dengan obat penawar serta sebotol air mineral yang ia dapat dari mobil Yudhistira.
Obat di botol kecil itu, berupa cairan bening berwarna kehijau-hijauan.
"Harus aku apakan obatnya?" tanya Elis panik.
"Tu-ang-kan se-mu-a-nya ke-mu-lut-ku." Lirih Yudhistira, ia bahkan sudah memejamkan matanya, tak tahan akan kesakitan yang ia alami.
Pertama-tama Elis membuat tubuh Yudhistira terlentang terlebih dahulu, karna sebelumnya tubuh kekar itu menyamping menghadap mobilnya.
Lalu kemudian Elis membuka tutupnya dan menuangkan cairan kehijawan itu kemulut Yudhistira yang tadi sempat memuntahkan darah.
Selama beberapa waktu Yudhistira terdiam dengan tubuh menggigil juga sedikit kejang, penawar itu sudah bereaksi dengan cepat.
Bagai mana ini? Elis sangat panik takutnya pria itu mati di hadapannya.
"Air." lirih Yudhistira pelan. Elis membangunkan Yudhistira dan memangkunya sebelum membuka tutup botol minum. Elis meminumkan Yudhistira dengan perlahan lahan. Hingga.
Hoekk ...
Hoek ...
Yudhistira memuntahkan banyak cairan dari mulutnya, artinya penawar itu bekerja dengan baik.
"Tolong, bawa aku kerumah sakit. Aku butuh oksigen dadaku masih sesak." lirih Yudhistira pelan. Ia juga harus segera berlalu dari sana. Jika seseorang atau salah satu dari musuhnya menemukan dirinya dalam keadaan yang tak berdaya bisa bisa, ia akan di lenyapkan saat itu juga.
"Oke, oke. Kita akan kerumah sakit sekarang."
Setelah menenggak penawar racunnya, Yudhistira bisa menggerakan anggota tubuhnya yang lain, tangannya terulur mengambil kunci mobil di kantung celananya, dan menyerahkan kunci itu kepada Elis.
"Tapi aku tak bisa mrnyetir mobil. Naik motorku saja bagaimana?" tawar Elis. "Jika kita memesan taksi online juga akan lama datangnya."
__ADS_1
Yudhistira menatap wanita di depannya dengan ragu. Ia tak yakin jika harus di bonceng oleh wanita kurus itu, takutnya wanita itu tak bisa membawa tubuh besarnya.
Menyadari tatapan pria yang hampir mati itu Elis meraih tas kecilnya dan menunjukan surat ijin mengemudinya. "Aku mempunyai Sim kau tidak usah khawatir."
Yudhistira juga melihat sendiri kekuatan Elis saat menghancurkan kaca mobilnya, meski tubuh Elis terbilang mungil di bandingkan tubuh Soraya, tapi Elis mempunyai tenaga ynag cukup kuat.
Yudhistira mengangguk. Elis meraih tissue di dalam tas miliknya dan membersihkan sisa sisa cairan muntah dan darah di sekitar mulut Yudhistira. Pria yang kedua tangannya di hiasi banyak tato itu tertegun untuk sesaat.
"Ayo kita kerumah sakit.!" Ajak Elis.
"Kita orang asing. Kita tak mengenal sama sekali. Lalu bagaimana bisa kau mau menolongku, bagai mana jika aku orang jahat?" ucap Yudhistira membari menatap lekat Elis yang kini tengah mencuci tangannya menggunakan air mineral sisa Yudhistira minum, karna tangannya terkena darah Yudhistira saat membersihkan mulut pria itu.
"Baik buruknya seseorang adalah urusan orang itu sendiri dengan Tuhannya. Kewajibanku hanya memanusiakan manusia, tapi sekalipun hewan, jika memerlukan bantuan, aku di wajibkan untuk membantu. Itulah yang ku tau, aku bukan orang taat apa lagi orang pintar. Namun aku percaya tidak akan rugi seseorang saat memberikan bantuan kepada sesama makhluk." ucapan Elis seakan menikam Yudhistira, ia dapat melihat ketulusan di manik berwarna coklat tua itu. Yudhistira merasa tak asing dengan sosok wanita di hadapannya.
Elis memasukan kembali surat ijin mengemudinya.
"Ayo." Elis membatu Yudistira berdiri dan berjalan ke motor miliknya yang tadi belum sempat ia matikan. Dengan segera Elis mengenakan helmnya.
"Maaf helmnya cuma satu."
"Tolong, lepaskan pelukan tanganmu! Aku wanita bersuami. Priaku tak menyukai ada bau pria lain di tubuhku, bisa jadi aromamu tertinggal. Aku hanya tak ingin membuatnya meragu kepadaku." Elis berujar kencang, hingga dengan segera Yudhistira melepas pelukannya.
"Maaf."
Ternyata masih ada wanita setulus dan sesetia wanita yang tengah mengendarai motor di depannya.
Namun di tengah perjalanan seorang polisi menghentikan laju motor Elis, ia di tilang gara gara penumpangnya tak mengenakan helm.
"Bapak boleh menilangku. Tapi ijinkan saya pergi sekarang. Saya tengah membawa orang sakit." tutur Elis jujur.
"Tidak bisa. Kau harus mematuhi tata tertib lalu lintas!" ujar polisi berperut buncit itu. Seakan mempersulit Elis untuk pergi. Tak ada pilihan Elis mengambil semua uang yang ia miliki kemudian menyerahkannya kepada polisi itu.
"Maaf bukan tidak sopan. Ambil seluruh uangku ini, dan biarkan kami lewat. saya perlu membawa orang ini kerumah sakit." setelah berbelit belit akhirnya Elis dapat melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Yudhistira yang duduk melemas di belakang Elis, merasa takjub akan keberanian wanita itu. Elis terlihat sangat tangguh dari sisi nya.
Yudhistira segera mendapatkan pertolongan berupa beberapa suntikan obat yang Yudhistira minta dan faham pungsinya, juga suntikan antibiotik di tubuhnya. Setelah mendapatkan oksigen juga beberapa obat pendukung Yudhistira mulai pulih.
"Bagai mana keadaanmu? Apa lebih baik? Elis mendekat setelah menyelesaikan adminitrasi."
"Hmm." hanya gunaman yang di berikan Yudhistira sebagai tanggapan.
"Aku harus pulang sekarang. Maaf tak bisa menemanimu lebih lama. Ada nomor keluargamu yang ingin kau hubungi?"
"Tidak."
"Baiklah. Aku sudah mengurus adminitrasinya." Elis mengambil beberapa lebar uang dalam tasnya yan beberapa waktu lalu ia ambil di atm.
"Pegang ini. Kau bisa mempergunakan ini sebagai peganganmu. Aku juga sudah memesankan bubur untukmu. Nanti perawat yang akan menyuapimu. Aku harus pulang, salah satu putriku tengah sakit." Pamit Elis.
"Siapa namamu?" Yidhistira bertanya.
"Namaku Elis."
"Aku anggap semua kebaikanmu sebagai hutang. Kelak aku akan membayar semua kebaikanmu yang sudah menyelamatkan nyawaku." Yudhistira berkata sungguh sungguh,karna ia tak suka jika berhutang budi terhadap orang lain.
"Tidak usah di pikirkan. Aku tak mengharapkan pamrih dari siapapun. Aku pulang, semoga kau lekas sembuh." Elis pamit dari sana hendak meninggallan Yudhistira dengan seribu pemikirannya.
Saat Elis sudah hendak membuka pintu kamar tuangan itu Yudisthira berujar pelan nyaris tak terdengar.
"Terimakasih." untuk pertama kalinya Yudhistira mengucapkan kalimat keramat itu kepada orang yang tidak ia kenal sebelumnya.
"Sama sama." Elis lenyap di telan pintu ruangan yang menjadi pembatas ruangan itu.
"Iblis sepertiku di pertemukan dengan seorang malaikat tak bersayap." Yudhistira melihat uang yang di berikan Elis terhadapnya. Uang ratusan berjumlah empat lembar.
"Motto hidupnya sesuai namanya sangat sederhana."
__ADS_1
"Elis. Sampai kapanpun aku tak akan melupakan kebaikanmu. Dan tetap menganggap pertolonganmu sebagai hutang. Semoga di lain hari kita bisa bertemu lagi, dalam keadaanku yang kuat seperti sebelumnya bukan sebagai pria sekarat yang nyaris mati." Yudhistira merasa sangat berhutang kepada wanita yang bernama Elis.