
Arjuna tak ingin menyia nyiakan kesempatan, entah akan seperti apa pengakuan dokter Arief terhadapnya, yang terpenting ia harus mengabadikan momen ini, terserah ini akan menguntungkan untuknya atau hanya akan membuatnya kecewa. Tapi Arjuna akan tetap merekam hal ini. Tanpa di sadari dokter Arief Arjuna sudah menekan rekam suara di ponsel pintarnya.
"Apa yan kau ketahui tentang ke hamilan Aida waktu itu?"
Sejenak dokter Arief diam untuk mengumpulkan keberaniannya, bukan hal mudah untuk mengakui dosanya saat ini.
"Aku mohon maaf terhadapmu Pak Juna, saya bersalah dan berdosa atas apa yang saya lakukan terhadap Bapak. Sungguh saya menyesal! Saya sudah menyalahi kode etik dan sumpah saya sebagai seorang tenaga medis." ucap dokter Arief parau.
"Katakan dengan jelas jangan berbelit belit Dokter Arief. Saya bukan type pria penyabar." Arjuna bahkan menggebrak meja di hadapannya, bahkan cangkir kosong di depannya beserta pas bunga itu bergetar karna hentakan yang di lakukan oleh Arjuna secara tiba tiba.
Tangan kiri Arjuna ia letakan di bawah meja dengan ponsel yang sudah merekam sejak beberapa saat lalu.
"Kehamilan dokter Aida kala itu ada hubungannya dengan saya. Sayalah yang menaruh embrio yang berasal dari benih anda ke rahim doter Aida maaf kan saya." Dokter Arief berujar tegas di sertai rasa bersalah.
Untuk beberapa saat Arjuna mematung mencerna kalimat dokter Arief. Pernah terbesit di benak Arjuna jika pasti ada orang lain yang membatu Aida, karna tak mungkin Aida menaruh benihnya di rahim miliknya sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun yang membuat Arjuna kecewa adalah orang yang membantu Aida merupakan dokter kepercayaannya. Dokter yang sudah lama mengenalnya. Lantas harus berapa banyak orang yang mengkhianatinya?
Meski kesal Arjuna masih mengigat rekaman ponselnya, sehingga Arjuna meletakan ponselnyalebih dulu di dekat pot bunga di meja, dengan cara menengkurapkan ponsel miliknya, hanya agar tidak ketahuan. Setelah memastikan ponselnya aman Arjuna berdiri dan mengeser kursinya dengan kasar, hingga kursi miliknya terjungkal.
Arjuna menarik kerah kemeja dokter Arief dan menyeret pria bertubuh tambun itu.
"Sialan kau!"
Bugh,,, bugh,,,
Dua bogeman mentah Arjuna hadiahkan ke wajah dokter Arief hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Arjuna juga meraih kerah kemeja dokter Arif, dan ingin menghajar kembali dokter bodoh itu. Tapi ia segera menguadai dirinya sendiri.
"Taukah dirimu? karna kedermawanan dirimu yang membatu wanita ular itu aku nyaris kehilangan istri dan ketiga putriku." Mata Arjuna kini memanas, sudut matanya bahkan mulai basah.
"Karna dirimu pula aku di tinggalkan istri dan putri putriku. Kau sudah turut menjadi monstrer yang melukai perasaan istriku. Aku percaya terhadapmu, tetapi kau malah berkhianat." Arjuna terlihat sangat frustasi dengan kenyataan yang baru ia ketahui.
"Imbalan apa yang kau dapatkan dari iblis betina itu!" Arjuna membetak kemvali dokter Arief yang masih tersungkur di atas lantai.
"Tubuhnya atau sejumlah uang?"
__ADS_1
Dokter Arief diam, memang itu yang ia dapatkan karna sudah membantu dokter Aida.
"Jangan diam sialan!"
Duak, Arjuna menendang punggung dokter Arief.
Dokter Arief tak melawan sama sekali, lagi pula ia bersalah. Jika pun ia melawan dokter Arief masih akan kalah telak, ia sudah berumur di samping tubuhnya yang tambun usianya juga tak muda lagi.
"Maafkan aku."
"Katakan imbalan apa yang di berikan Aida kepadamu? Jangan berani menguji kesabaranku!" Arjuna mengangkat tubuh dokter Arief sampai berdiri.
"Semua yang kau katakan benar Pak, dokter Aida memberikan tubuh dan sejumlah uang untukku."
"Dasar brengsek. Hanya karna seongok tubuh yang kotor kau menghianati istri dan sumpahmu! Apa kau sangat miskin sehingga menerima sejumlah uang yang dia tawarkan kepadamu? Dimana otakmu itu Arief?"
Bug bug ...
Beberapapa pukulan Arjuna layangkan ke tubuh dokter yang menkhianati dirinya.
"Maafkan aku Pak Arjuna. Aku juga selama itu di hantui rasa bersalah, sekalipun kalian sudah menikah."
"Tapi kau tetap bungkam sialan, seakan yang terjadi adalah normal."
"Maafkan aku!"
"Karna campur tanganmu juga Elis istriku sudah menghabiskan cintanya untukku. Kau tak paham Arief seberapa menderitanya aku atas kepergiannya selama empat tahun."
"Selama bertahun tahun kau bungkam Arief!"
"Saya bungkam karna saya juga melindungi keluarga saya Pak Juna. Terlalu banyak tipuan dokter Aida terhadap saya, bahkan sampai di ruang rapatpun tadi dia masih mengancamku." Dokter Arief meraih ponselnya dan menunjukan pesan yang di kirim kan kepada dokter Arief.
Arjuna membaca serentetan pesan yang merupakan ancaman. Dimana dalam pesan itu di katakan jika dokter Arief berniat membongkar kebusukannya, maka Aida akan membongkar kelakuan bejat dokter Arief di hadapan istri beserta putri semata wayangnya.
__ADS_1
"Maafkan saya pak. Saya tak berdaya."
Arjuna tetap diam, sejauh itu Aida bertindak.
"Saya mencari cara agar bisa keluar dari ruangan tanpa di curigai dokter Aida, sehingga saja menemui asisten anda saat saya berhasil keluar."
"Bukan kali ini saja dokter Aida mengancam saya Pak, bahkan di mana dokter Aida mendapati penyerangan dari orang yang tak di kenalpun dia mengancam saya, bahkan di saat anak Pak Juna tak bisa-"
"Jangan menyebut anak itu sebagai anakku! Aku tak ingin mengakuinya sama sekali. Intinya kau memang bersalah Arief." Arjuna menginjak tangan Arief hingga terdengar bunyi krek. Rasanya Arjuna ingin meremukan jemari pria tambun itu.
"Apa tangan ini yang membatu iblis itu untuk menjalankan aksinya?"
"Ampun Pak!"
"Saya bersalah Pak. Saya bersedia mendapat hukumannya."
"Kau memang harus di hukum Arief! Tapi sebelum itu kau harus mengakui semua dosa dosamu di hadapan istriku."
"Akui semua dosamu dan jawab jujur setiap pertanyaan istriku!"
Arjuna melepaskan Arief, ia rasa sudah cukup bukti rekaman yang ia miliki.
Arjuna menghubungi Asintennya Jo untuk menjalankan arahannya selanjutnya.
"Jo, cari dan bawa nyonyamu je restoran yang berada di dekat kantor. Pastikan tugas ini tak gagal. Atau aku akan memenggal kepalamu!" ancaman Arjuna terdengar nyata di telinga Asisten Jo.
Arjuna tak akan membiarkan dokter Arief pergi sebelum dokter Arief mengakui semuanya.
"Saya bersedia melakukan apapun pak."
Bukankan selama ini yang Elis perlukan adalah bukti dan saksi. Dan Arjuna akan membuktikan semua ucapannya, memberikan buktinya juga membawa tersangkanya. Harusnya dengan ini Elis akan mempercayainya.
Arjuna harap harap cenas menanti kedatangan asistennya. Sungguh ia benar benar berharap jika Elis akan datang.
__ADS_1
Arjuna bahkan mengirim pesan ancaman lain kepada asistennya agar asiten Jo berhasil membawa Elis ke hadapannya.