Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Mati aku!


__ADS_3

Rain mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum dirinya bangun sepenuhnya dari tak sadarkan dirinya.


"Rain. Sayang kau sudah bangun?" Elis yang sedari tadi membalurkan minyak kayu putuh di telapak kaki Rain segera mendekat ke arah Rain berbaring, ia meraih air minum yang tersedia di atas nakas kamar itu.


"Minumlah lebih dulu." Elis memberikan air minumnya kepada Rain, anak itu meneguknya sebanyak dua kali tegukan.


"Rain jangan ngamuk lagi ya! Adek Valery sedang bobo, Adek Valery sedang sakit." Elis menunjuk putrinya yang tertidur di sebelah Rain.


Rain mengangguk dengan wajah berkaca kaca. "Tante Elis. Tuhan jahat padaku, Mamaku- mamaku sudah meninggal." Adu Rain dengan suara tercekat.


Elis Semakin mendekat, dirinya membuka sangat lebar kedua tangannya, bersiap untuk menyambut pelukan bocah lelaki yang selalu membuatnya tak tega itu. "Kemari! Tumpahkan segala bentuk kekecewaanmu padaku. Manangislah sesukamu, sepuasmu, tapi setelah ini jangan lagi menyalahkan Tuhan."


"Ketahuilah Tuhan tak akan melakukan sesuatu yang merugikan makhluknya. Tuhan tak akan mengambil sesuatu jika beliau tidak menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Kau anak yang kuat! Jangan biarkan kesedihanmu merampas moment terakhirmu bersama Mamamu. Berhentilah mengamuk dan menyalahkan ke adaan anak tampan. Bangkitlah dan lakukan kewajiban terakhirmu sebagai anak. Hadirlah di pemakaman Mamamu! Lepaslah kepergiannya dengan ikhlas agar Mamamu tenang di surga Tuhannya." Elis membingkai dan menatap wajah Rain yang berlinangan air mata. Sungguh ia pernah berada di posisi ini saat ibu angkatnya tiada beberapa tahun lalu.


Melihat tangisan Rain seakan mengingatkan Elis akan seseorang, tapi siapa? Dan di mana Elis melihat bocah laki laki menangisi kematian ibunya? Elis mencoba mengingat kejadian itu, namun kepalanya malah semakin berdenyut sehingga Elis menyudahi pikirannya dengan enggan.


"Tante boleh aku memanggil Tante Elis dengan sebutan Mama?" Rain bertanya dengan penuh harap, setidaknya ia butuh pengalihan atas kesedihannya.


Elis terlihat berpikir, apa Arjuna akan marah jika Rain memanggilnya dengan sebutan Mama? Tapi ia tak tega jika harus menolak keinginan sederhana Rain.


"Boleh, asal jangan di depan Om Arjuna." Elis tersenyum kikuk, bingung juga jika Rain bertanya mengapa?


Dan benar perkiraan Elis, bocah itu malah bertanya. "Memangnya kenapa jika aku panggil Mama di depan OmJuna?" Tanyanya polos, memang bocah seumuran Rain selalu di penihi oleh rasa penasaran.


"Karna-"


Elis kesulitan menjawab. Tak mungkin ia mengatakan jika Arjuna akan marah jika bocah itu memanggilnya Mama.


Rain menangis di pelukan Elis, menumpahkan segala kesedihannya. Elis memang selalu menjadi pendengar yang baik di kala seseorang tengah berbicara padanya. Sehingga membuat Rain nyaman saat mencurahkan isi hatinya. Elis selalu menatap mata Rain di kala bocah itu bercerita. Terlihat sangat respect dan seakan merasai setiap kesakitan Rain.

__ADS_1


.


"Sejak kapan kau tau jika Soraya menikah dengan Yudhistira?" Yudha menatap datadr mantan keponakannya.


"Sejak awal."


"Mengapa kau tak bilang kepadaku?" Yudhaddds tampak berang melihat Arjuna, dirinya mengabaikan mengabaikan beberapa orang yang lalu lalang mempersiapkan pemakaman dari mantan istrinya.


"Kau tidak bertanya. Dan sekalipun kau bertanya, aku tak akan memberitaumu, aku sudah terlanjur berjanji kepada Soraya untuk merahasiakan siapa suami barunya." Arjunapun menampilkan wajah datarnta. Sebelum kepanikan mengusai seluruh dirinya saat Mama Srikandi dan Aida datang ke rumah Yudha.


Arjuna benar benar panik. Takutnya Mama Sri maupun Aida bertemu dengan Elis, jika itu terjadi dan jika di antara keduanya bertemu dengan Elis, besar kemungkinan Elis akan mengetahui alasan utamanya terluka.


"Arjuna."


Wajah Mama Sri berbinar saat melihat ke hadiran putranya, ia merindukan Arjuna. Keberadaan Aida tak lantas mengobati rasa rindunya kepada Arjuna.


"Arjuna Mama merindukanmu Nak." Mama Sri melirih dengan mata berkaca kaca, ia mendekat kemudian menyelinapkan tubuhnya di pelukan tubuh kekar putranya. Mama Sri merasa aman saat berada di dekat putranya yang selalu ia manfaatkan selama ini.


"Mama senang melihatmu di sini." Mana Sri melepas pelukannya, kedua telapak tangannya membingkai wajah Arjuna yang mulai berpaling darinya.


"Bukankah kita sudah tidak terlibat hubungan?" Arjuna sengaja berbicara demikian agar Mama Sri menjauh darinya.


"Tidak Nak. Sampai kapanpun kau tetap putraku." ujar mama Sri sedih. Satu senyuman tergelincir di sudut bibir Arjuna, hati kecilnya membenarkan kalimat ibunya.


"Jika berhitung jasa pastilah Jasa Mama lebih banyak."


"Kau ingin mengingkari perjanjian."


"Tidak Juna. Tidak sama sekali, Mama hanya merindukanmu saja." Mama Sri segera menciptakan jarak dengan Arjuna. Takutnya Arjuna benar benar marah dan kembali tak memperdulikannya.

__ADS_1


"Mama hanya menghadiri pemakaman Soraya. Secara kebetulan kita bertemu di sini, Mama tidak berencana untuk membuatmu kesal."


"Baguslah jika Mama tau diri." Sarkas Arjuna.


Aida selalu menatap pria yang selalu ia rindukan. Matanya berbinar dengan rasa yang ia jelaskan. Ketidak sempurnaannya tak menjadi penghambatnya untuk tetap menjadi pemuja Arjuna.


"Bagai mana kabar istri dan anak anakmu?" tanya Mama Sri sekedar berbasa basi.


"Mama bertanya seperti itu seakan memancing kecurigaanku. Seumur hidup baru kali ini mama menanyakan kabar istri dan anak anakku. Tak mungkin kan Mama berubah secepat itu?" Arjuna memincingkan mata. Wajar jika ia tak percaya akan pertanyaan mamanya yang seumur umur baru ia dengar.


"Di mana letak salahnya pertanyaan Mama? Mama bertanya kabar menantu dan cucu mama." Ucap Mama Sri seraya berpaling, ia sangat sadar jika memang bersalah selama ini, tapi rasa bersalahnya tak lantas membuatnya untuk berubah. Sejauh ini Mama Sri masih sangat membenci Elis sebagai menantunya.


"Cih menantu dan cucu. Ketiga putriku tak merasa memiliki nenek sama sekali."


Yudha yang sudah tau akan masalah yang terjadi hanya diam, sembari berpikir banyak hal tentang apa yang terjadi kepada Soraya mantan istrinya.


Aida, wanita tanpa pergelangan tangan kanan itu mendekat ke arah Arjuna, repleks Arjuna menghidar dan menjauh beberapa langkah.


"Menjauh dariku!" Berang Arjuna.


Matanya juga dengan sigap meneliti seisi rumah takutnya Elis melihat ia dan Aida, bisa bisa trauma Elis kambuh kembali. Arjuna takut Elis tiba tiba muncul di depannya, semoga saja Elis tidak keluar dari kamar Rain.


Aida terus memandang wajah Arjuna yang terus berpaling darinya, Arjuna seakan jijik saat melihat dirinya.


"Aku belum sempat mengatakan terimakasih terhadapmu Arjuna. Karna sudah menolongku dari kuasa Yudhistira." Aida seakan sengaja meninggikan suaranya di hadapan Yudhistira.


"Menolong? Apa maksudmu?"


Degh ...

__ADS_1


Elis memang tidak muncul di hadapan Arjuna melainkan dari arah belakangnya. Mata Arjuna membola dengan jantung yang berdetak semakin cepat.


"Mati aku!" lirih Arjuna dalam hati. Kali ini ia tak bisa mengelak lagi.


__ADS_2