Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Kejutan di balik pintu


__ADS_3

"Ahhh Sialan ..."


"Sial ... Sial ..." Yudhistira memaki pada dirinya sendiri, "Mengapa Arjuna tidak terlihat di apartemen wanita itu?"


"Apa pria itu tidak mencintai istrinya? Atau aku yang salah informasi?" Yudhistira menyimpulkan seperti itu karna tak mungkin seorang suami tak merespon saat istrinya di kabarkan meninggal, terlebih sejak awal Yudistira merasa ada kejanggalan saat mendatangi apartemen wanita itu. Yang mana tak ada foto keluarga di ruang utama apartemen, yang ada hanya foto Arjuna saja.


"Dasar Bodoh!"


Yudhistira terlihat emosi saat mengatakan itu. Ia baru saja mendapatkan kabar dari anak buahnya, jika Arjuna sama sekali tak menampakan batang hidungnya maupun di apartemen maupun di rumah sakit, tempat autopsi yang di lakukan pihak keluarga wanita itu.


Dan setelah beberapa orang kepercayaan Yudhistira menyelidikinya, ternyata wanita bernama Riska hanya seorang pegawai Arjuna saja.


"Sungguh sialan! Siapa yang berani menjebakku?" Yudhistira mengepalkan kedua tangannya, hingga urat urat pria itu terlihat di antara kedua tangannya.


Yudhistira melangkahkan kakinya menuju kamar adiknya, meskipun hasil tes DNA belum keluar tapi Yudhistira sangat yakin jika Elis adalah Lisa, adik kecilnya.


Dengan perlahan Yudhistira membuka pintu kamar adiknya, samar samar terdengar di telinganya jika dari balik kamar itu terdengar suara tangisan yang begitu memilukan.


"Hiks ... Hiks ..."


Rupanya Elis tengah menangis di balik ranjangnya dengan wajah yang wanita itu tenggelamkan di balik kedua perpotongan lututnya.


Ikatan bathin keduanya memang terjalin cukup baik, entah itu berpengaruh karna memang simpati Yudhistira terhadap wanita itu sangat tinggi, atau memang mereka benar benar memiliki ikatan.


Yudhistira mendekat seraya tangannya terulur mengelus kepala bagian atas adiknya. Ekor matanya melirik jika makanan yang ia sediakan belum tersentuh dama sekali.


"Lisa ada apa? Kenapa tak menyentuh makananmu? Kau tak suka?" tanya Yudhistira lembut seakan ia tengah berbicara dengan seorang anak kecil, bahkan Yudhistira bisa menjamin ia belum pernah berbicara selembut ini kepada orang lain.


Tangis Elis masih sesegukan, secara perlahan ia angkat kepala, dan netra coklatnya menemui manik yang hampir serupa dengan manik miliknya. "Aku merindukan ketiga putriku. Nyatanya niatku untuk menenangkan diri itu semua tak terjadi. Justru aku malah semakin tersiksa karna merindukan mereka kak." Elis mengungkapkan kerinduannya terhadap ketiga putrinya.


"Kau ingin pulang? dan bertemu anak anakmu?" Yudhistira bertanya dan langsung di angguki oleh Elis.


"Bersihkan dirimu lebih dulu. Aku yang akan mengantarkanmu bertemu mereka! Aku juga ingin menemui keponakanku." Yudhistira bersenyum teduh, memandang lekat wajah kuyu adiknya.


"Tapi suamiku, mengajukan syarat jika aku ingin bersama anak anak. Aku harus memaafkannya dan bersedia kembali kepadanya, tapi rasanya aku tak ingin kembali pada suamiku Kak, cintaku sudah benar benar habis. Aku sama sekali tak ingin melanjutkan rumah tanggaku." Ungkap Elis jujur.


"Tekan egomu Lisa jangan sampai anak anakmu harus menanggung penderitaan karna harus terpisah dari salah satu orang tuanya. Aku paham betul bagai mana rasanya hidup tanpa orang tua. Percaya padaku cinta itu akan tumbuh kembali seiring berjalannya waktu."

__ADS_1


Yudhistira sangat tidak tau jika suami dari Elis adalah musuh bebuyutannya, juga seorang pria yang ia anggap sebagai saudara seayahnya. Jika saja Yudhistira tau jika Arjuna adalah suami adiknya, mungkin pria itu akan pingsan berdiri.


"Aku, aku masih membenci kebohongannya kak."


"Lisa, yang kau benci hanya kebohongannya. Bukan orangnya. Cepat mandilah! Kita akan bertemu dengan ketiga keponakan cantikku, oh ya ihan, aku tidak sabar." Yudhistira sangat denang wajahnya bahkan berbinar ini adalah hari terbaik untuknya.


Elis mengangguk. Ia sudah tau di rumah mana Arjuna tinggal, karna sebelum meninggalkan rumah Elis menghubungi Arjuna terlebih dahulu, menanyakan alamat rumah Arjuna. Yang Arjuna pikir Elis akna pulang.


Saat Yudhistira tengah mempersiapkan keberangkatannya untuk menemui ketiga keponakannya, tiba tiba orangnya mengabarkan jika mereka sudah mengetahui di mana Arjuna tinggal. Mereka bahkan mengirimkan alamat Arjuna ke ponselnya.


"Bos, di sini juga ada ketiga putrinya." lapor anak buas Yudhistira di sebrang sana.


"Jangan lakukan apapun saat ini! Akan ku kabari nanti apa yang harus kalian lakukan. Sekarang aku ada urusan penting, lebih baik kalian bersantai saja untuk hari ini, aku membebaskan kalian sehari ini." Yudhistira berujar di balik gawainya yang ia letakan di balik telinga.


Yudhistira sudah terlanjur bahagia karna akan menemui ketiga putri adiknya, sungguh Yudhistira sangat tak sabar untuk melihat ketiga keponakannya yang pasti akan terlihat menggemaskan.


Yudhistira kini melajukan mobilnya menuju ke salah satu alamat yang di sebutkan oleh Lisa adiknya, namun alamatnya seperti tak asing, rupanya nama jalan yang di sebutkan adiknya sama persis dengan alamat yang di kirimkan anak buahnya. Namun Yudhistira tak ingin pusing, mungkin saja rumah musuhnya dan rumah ketiga keponakannya berdekatan.


"El berapa tahun kau berumah tangga?" tanya Yudhistira.


"Semoga kalian selalu bahagia, dan semoga pernikahan kalian baik baik saja." ujar Yudhistira tulus.


Elis hanya diam, ia tak memberi respon apapun, pikirannya terlalu sibuk memikirkan ketiga putrinya, ia nyaris gila saat tak bertemu maupun mendapatkan kabar dari ketiga putrinya dalam waktu hampir dua hari.


"Siapa nama ketiga putrimu?"


"Rose, Jasmine, dan si bungsu bernama Valery." Elis tersenyum saat membayangkan ketiga putrinya.


"Ya Ampun aku semakin tak sabar untuk melihat ketiganya. Ketiga putrimu bernamakan bunga, pasti sangat cantik cantik, jangan rusak mental mereka dengan egomu." Peringat Yudhistira.


.


Arjuna berhasil menenangkan Rose dan kedua putrinya yang lain, keningnya kini berdenyut denyut akan tingkah ketiga putrinya. Sampai sedari kemarin Arjuna libur bekerja.


"Tuan."


Asisten Jo menemui Tuannya.

__ADS_1


"Ada kabar penting."


"Katakan! Apa ini menyangkut istriku?"


"Maaf mengecewakan Tuan, ini memang bukan tentang Nyonya tapi ini juga terbilang penting. Dan jika ini benar Tuan bisa memanfaatkan ini." Asiten Jo mulai berbicara."


"Katakan."


"Yang pertama, menurut autopsi Riska mati karna ada sesuatu dzat di tubuhnya yang beracun dan mematikan semua pungsi syaraf dan aliran darahnya hingga wanita itu meregang nyawa, dan racun itu tidak di ketahui namanya. Saya yakin Tuan pasti tau siapa pelakunya." AsistenJo memaparkan.


Arjuna mengangguk, dan yang ia ketahui akhli racun dan tanpa jejak pasti itu Yudhistira.


" Ini kabar baiknya! Ternyata Yudhistira berada di hotel pertama dan hotel kedua yang kita perkirakan sama dengan nyonya Elis, rupanya Yudhistira tengah mengawasi kematian Riska, yang pria itu tau Riska adalah istri Tuan sehingga Yudhistira mengirimkan pesan berupa ucapan selamat kepada Tuan atas kematian wanita itu. Berarti artinya Yudhistira tidak tau tentang setatus nyonya Elis adalah istri Tuan." Julas Asisten Jo kembali.


"Besar kemungkinan Nyonya Elis memang melarikan diri setelah berhasil melepas alat itu."


"Tapi mengenai kesaksian anak buahku tentang suara wanita, juga mana mungkin Elis bisa melepaskan alat itu sendiri." Sangkal Arjuna.


"Itupun aku sudah mendapatkan jawabannya Tuan. Menurut mata mataku Yudhistira sudah menemukan adik perempuannya adik kandungnya, yang ia cari setelah puluhan tahun lamanya, sehingga mungkin saja Yudhistira mengira ke hadiran anak buah kita ke kamarnya untuk menangkap adiknya sehingga pria itu melumpuhkan si botak."


Sampai di sini Arjuna mengerti jika Yudhistira salah sangka terhadapnya.


"Namun Tuan bisa memanfaatkan adik pria itu, untuk menyudahi segala bentuk dendam pria itu."


"Aku bukan orang yang seperti itu Jo. Urusanku hanya dengan Yudhistira, sedangkan adiknya aku tak ingin melibatkannya."


Ting ...


Nong ...


Suara bel rumahnya berbunyi, membuat Arjuna terpaksa menyudahi perbincangannya.


"Rose, Jasmine, Valery mama pulang!"


Arjuna mengenali suara itu, sehingga ia langsung berlari untuk membuka pintu, tak satupun di antara mereka yang menyadari kejutan di balik pintu.


Dan ...

__ADS_1


__ADS_2