
"Tidak, ini tidak mungkin."
Wanita yang merupakan pekerja di rumah Arjuna memekik, stetelahnya wanita itu tumbang tak sadarkan diri.
Arjuna dan Yudhistira mengabaikan asisten rumah tangga Juna yang pingsan di tepi kolam. Juna lebih tertarik untuk segera melihat jasad yang terapung di atas kolam.
Arjuna tak habis pikir mengapa bisa orang dewasa mati mengambang di kolam renang yang ukuran kedalamannya hanya satu meter, sedangkan tubuh itu mampu berdiri, ini janggal dan dudah pasti di sengaja.
"Wira ..."
Arjuna memanggil salah satu dari orang suruhannya, dengan cepat pria masih berumur 20 tahun itu mendekat kearah Tuannya.
Arjuna menunjuk jenajah yang berada di atas kolam menggunakan dagunya, dengan sigap pemuda itu langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Untuk menepikan sesosok jasad yang mengambang itu.
Pemuda bernama Wira itu membawa jenazah wanita berpakaian setelan itu ke tepi kolang dan meletakan di hadapan tuannya.
"Bibi Dora. Malang sekali nasibmu." Arjuna berujar pelan dengan tatapan yang masih meneliti pekerjanya yang sudah mengambdi padanya sejak ia masih tinggal di rumah ibunya sdrulu.
Yudhistira berjongkok di hadapan wanita yang terbujur kaku itu, dengan keadaan yang basah kuyup.
"Meski dia di temukan mati di atas kolam tapi penyebab kematiannya bukan tenggelam." Papar Yudhistira sembari meneliti jasad Bibi Dora, benar tebakan Arjuna mana mungkin seorang dewasa tenggelam di kolam kedalaman satu meter.
"Penyebab kematiannya adalah racun. Aku mengenali racun apa yang membuatnya mati."
"Arjuna. Aku yakin orang yang melakukan penculikan terhadap Lisa adalah orang yang kau kenali, atau kurang lebih mengenal seluk beluk rumah ini ataupun kerabat atau para pekerjamu. Ketatkan penjagaan di dermaga, bandara, stasiun serta terminal. Jangan sampai orang itu berhasil membawa Lisa."
Asisten Jo datang menghampiri Tuannya, ia sudah mendapatkan kabar sebelumnya tentang kehilangan Nyonyanya.
"Tuan. Sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan." Arjuna belum bertanya apapun tapi Asisten Jo berinisiatif menceritakan apa yang terjadi padanya sebelum kematian dari ibu Srikandi di keesokan harinya.
"Ada apa Jo? Apa ada yang kau tutupi dariku?" sungguh Arjuna tak akan mengampuni jika Asisten kepercayaannya berkhianat terhadapnya.
"Begini Tuan, sehari sebelum ibu Tuan meninggal, ada seseorang yang menemui aku dan mantan istriku di rumah sakit, dia menawarkan kerja sama terhadapku asalkan aku mau menuruti keinginannya. Pria itu mengenakan masker serta topi hitam seakan ia sama sekali tak ingin kami kenali, pria itu menawarkan sebuah misi kepadaku untuk melenyapkan Nyonya besar, dengan imbalan aku akan mendapatkan cangkok ginjal untuk putraku, juga menawariku sejumlah uang agar aku menuruti keinginanya."
Arjuna terlihat berang akan pengakuan Asisten Jo, meski ia tau jika Asistennya belum selesai bercerita. Bahkan kepalan tangan Arjuna sudah terbentuk dengan sempurna.
"Aku menolak permintaan pria yang tidak kuketahui siapa, dan hal itu yang membuat mantan istriku semakin membenciku. Sungguh aku tidak bisa mengkhianati Tuan sekalipun dia menjamin kerahasiahan dan keamananku, aku sudah di sumpah untuk mengabdi padamu." Asiten Jo menunduk dalam, ia takut akan mata tajam yang di tampilkan tuanya terhadapnya.
"Bagus. Jika aku tau kau berkhianat aku padtikan kau akan mati di tanganku!" tegas Arjuna.
__ADS_1
Yudhistira memuji ketegasan asisten adik iparnya.
"Jo apa kau mengenali ciri ciri pria itu?" Yudhistira bertanya.
"Yidak dia menjaga jarak dariku, hanya baunya saja yang dapat ku ingat. Aku seperti pernah mencium bau itu pada tubuh seseorang."
"Dasar bodoh, mana bisa aroma seseorang dapat di jadikan tolak ukur untuk menemukan pelaku dari kejahan. Harusnya kau membuka masker yang menutupi wajah itu Jo. Apa tempurung kepalamu sudah tak memiliki isi?" Arjuna terlihat marah karna ketidak sigapan asistennya.
"Maaf Tuan, saya tidak terpikir kearah sana. Saya benar benar kacau waktu itu." Asisten Jo menunduk.
.
Di sebuah kamar berukuran besar, Elis terbaring di sebuah ranjang yang sangat luas dengan kaki dan tangan terikat.
"Egghhh ..."
Elis melenguh dan membuka kelopak matanya secara perlahan, ia mengerjap beberapa kali untuk menetralkan bias cahaya yang terasa menusuk di indra penglihatannya.
"Dimana aku?" gunam Elis pelan, ia memejamkan matanya untuk beberapa saat, ketika rasa pusing kembali menghantam kepalanya.
Mulut serta kerongkongannya terasa kering ia haus dan benar benar dahaga. Samar samar Elis mengingat apa yang terjadi kepadanya sebelum ia berada di tempat ini, seseorang membekap hidung dan mulutnya hingga ia tak sadarkan diri.
"Arjuna tolong aku, aku tak mau disini." Sekuat mencoba menahan air matanya agar tak membasahi pipinya. Namun tiba tiba suara derap langkah seseorang dari luar mendekat kearah kamar itu.
Dengan segera Elis kembali menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas ranjang dan menyembunyikan wajahnya di dekat bantal, Elis berpura pura memejamkan matanya dan bersiap memasang telinganya, ia ingin tau apa alasan seseorang yang menyekapnya di tempat itu.
Sura derap langkah itu terdengar lebih dari satu orang mungkin dua orang pikir Elis, atau mukin lebih.
"Tuan, dia dalam keadaan baik. Saya undur diri, terimakasih atas bayarannya." ucap salah seorang pria setelah pintu kamar yang Elis tempati terbuka. Elis mengenali suara itu, seperti supir yang bekerja di rumah Arjuna.
"Hem."
Terdengar pria lainnya berdehem pelan, Elis belum mengenali siapa suara orang itu.
"Pergilah sejauh mungkin dengan uang yag ku berikan."
Tegh,
Elis gapal betul suara pria itu.
__ADS_1
"Papa, ayo kita lihat mama Elis." bahkan suara seorang anak kecil itu Elis mengenalnya dengan jelas.
Elis masih berpura pura tertidur untuk meyakinkan juga memastikan sesuatu.
"Apa Mama Elis baik baik saja?" tanya bocah itu yang kini sudah menaiki tempat tidur.
Elis yakin jika bocah itu adalah Rain juga seorang pria di sana adalah Yudha, lalu apa maksudnya dari ini semua? Elis kehilangan pemikirannya, untuk sesaat ia merasa bodoh tidak bisa menyimpulkan apa yang terjadi.
"Iya Mama Elis baik baik saja." Yudha mendekat dan menyelipkan anak rambut istri dari mantan keponakannya ke telinga wanita itu.
"Jangan bilang siapapun jika Mama Elis di sini?"
"Iya Pa, mana Elis akan menjadi Mamaku sesuai pemintaan Mama Soraya kan?" tanya Rain dengan penuh harap.
"Ya, sekarang Rain mandi dulu ya. Agar jika Mama Elis bangun Rain sudah wangi." Yudha mengajak putranya untuk mandi terlebih dulu.
Meski Elis tak mengerti situasinya, ia berusaha untuk membuka ikatan yang membelenggunya, ia harus segera pergi dari tempat itu, Elis harus pulang pada suami dan putri putrinya.
Saat Elis tengah berusaha membuka ikatannya, tiba tiba pintu terbuka dengan menampilkan sosok Yudha yang tengah berjalan kearahnya.
"El, kau sudah bangun?"
"Lepaskan aku Yudha!"
"Melepaskanmu? Itu tidak mungkin! Aku sudah menunggu lama untuk hal ini."
"Kau gila Yudha! Kau gila! Dasar tidak waras!" Elis memaki pria yang ia anggap baik selama ini.
"Ya Elis aku gila, aku memang gila karnamu Elis, kau tak pernah menatapku walau sebentar. Apa kurangnya aku? Aku sudah melakukan banyak pengorbanan untukmu meski tanpa kau sadari."
"Kau pikir aku sangat dermawan mendonorkan darahku pada putrimu lima tahun lalu? Apa kau kira aku cuma cuma meminjamkan modal untuk Arjuna saat melarikan diri dari ibunya? Tidak sama sekali Elis, aku sengaja melakukan itu untuk mengalihkan fokusnya, tapi dia kembali menemukanmu. Padahal aku sudah menyembunyikanmu darinya. Aku mencintaimu Elis, aku menyukaimu dari dulu, tapi apa begitu sulit untukmu menatap ke arahku?" Ada nada marah, kebencian, juga rasa putus asa yang tergambar jelas di mata itu.
"Padahal aku pernah memintamu secara baik baik untuk menjadi istriku, tapi kau tak pernah menanggapinya." Yudha membentak Elis hingga wanita itu beringsut mundur seakan Yudha memukulnya.
"Mafkan aku! Maafkan aku El, aku tak berniat sedikitpun untuk membentakmu." Yuda mendekat dan mengangsur tubuhnya untuk merengkuh tubuh Elis.
"Kau gila Yudha!" desis Elis, "Aku ingin pulang."
"Suttt, jangan minta pulang Sayang! Ini rumahmu kau lihat ini rumah baru kita, tak ada seorangpun yang akan menemukan keluarga kita di sini, kita akan menikah." Yudha menyunggingkan senyuman puas penuh kemenangan.
__ADS_1
"Tolong pulangkan aku Yudha! Pulangkan aku!"