
Arjuna menjalankan mobilnya menuju alamat yang di kirimkan Yudha padanya.
Entah hati Arjuna terbuat dari apa, yang pasti ia tak bisa membiarkan Yudha dalam kesulitan. Mau bagaimanapun Yudha sudah banyak membantunya.
"Apa yang terjadi? Mengapa bisa kau kehilangan putramu?" Arjuna bertanya dengan raut khawatir.
"Aku juga tidak tau Arjuna. Yang aku tau Rain sedari tadi menangis ingin bersama Elis. Tapi asistenmu menjemputnya tadi." papar Yudha.
"Aku menghubungi ibunya. Mungkin saja Rain merindukan sosok ibunya sehingga ia tak mau jauh dari Elis. Namun saat aku kembali keruangan Rain sudah tidak ada. Entah kemana perginya." Nampak sekali kepanikan di raut wajah Yudha.
"Berapa lama kau membiarkan Rain tanpa pengawasan?" Arjuna bertanya kembali.
"Tak lebih dari setengah jam."
"Kau menghubungi mantan istrimu selama itu?" Arjuna tak habis pikir, Yudha membiarkan anaknya yang tengah bersedih dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Aku tadi sempat berdebat dengan mantan istriku, yang menolak bertemu dengan Rain, katanya dia masih di luar kota. Aku juga sudah mengecek cctv, tapi Rain tidak terlihat keluar dari ruang inapnya."
"Hubungi beberapa orang. Menurutku ini sudah tidak benar Yudha, kerahkan orang orangmu untuk mencari keberadaan Rain." Arjuna juga menghubungi beberapa orang orangnya. Hanya saja asisten Jo tidak bisa ia hubungi. Entah ada masalah apa asistennya itu sehingga sulit untuk ia hubungi.
Waktu sudah menunjukan pukul dua pagi, tapi keberadaan bocah bernama Rain itu belum di ketahui keberadaannya.
"Arjuna apa perlu kita lapor polisi?" Yudha terlihat tak tenang.
"Percuma. Polisi tak akan menindak lanjuti jika kasus hilangnya belum 2x24 jam."
"Sial, mengapa aku bisa lupa hal itu."
Hingga pagi menjelang Arjuna maupun Yudha belum dapat menemukan keberadaan Rain. Yudha pun merasa tak tega melihat Arjuna yang membantunya mencari keberadaan Rain, akhirnya menyuruh Arjuna untuk pulang.
"Arjuna pulanglah lebih dulu. Sepertinya kau membutuhkan istirahat, tapi tolong biarkan orang orangmu tetap mencari keberadaan Rain." ujar Yudha.
"Aku tak bisa pulang Yudha. Bagaimana keadaannya di luar sana? Dia pasti kedinginan juga ketakutan tanpa adanya orang yang ia kenal."
__ADS_1
Yudha diam, benar juga apa yang di katakan oleh Arjuna. "Terimakasih sudah perduli terhadapku Arjuna."
Hingga beberapa waktu berlalu orang orang Arjuna mengatakan jika mereka menemukan keberadaan Rain di suatu tempat.
Setelah memastikan Rain sudah ketemu dan dalam ke adaan baik Arjuna pamit untuk pulang. "Yudha, jaga putramu baik baik, pastikan keamanannya sekalipun kau tak di sampingnya. Kau di beri kesempatan memiliki putra, akupun di beri kesempatan memiliki tiga orang putri. Aku juga berusaha menjajaga mereka dengan sangat baik." Arjuna menepuk pelan pundak Yudha sebelum berlalu.
.
Elis terlihat gelisah karna Arjuna belum juga pulang di rumahnya meskipun jam menunjukan pukul dua pagi. Tidak ada kabar juga dari Arjuna tengah berada di mana.
Namun untuk menghubungi Arjuna lebih dulu pun Elis tak memiliki keberanian. Sehingga ia kini berbaring di kasur yang berada di depan televisi sembari menunggu Arjuna pulang.
Entah pukul berapa Arjuna pulang sungguh Elis tak ingat.
Arjuna menyunghingkan senyumnya saat melihat Elis meringkuk di atas kasur dengan televisi yang menyala. "Bolehkah aku salah paham Elis? Menganggapmu menunghuku." Arjuna membersihkan dirinya lebih dulu kemudian memastikan jika ketiga putrinya sudah terlelap.
Arjuna juga menurunkan suhu ruangan agar Elis kedinginan sehingga ia memiliki kesempatan untuk memeluk wanita yang ia rindukan itu.
"Bahkan di kehidupanku selanjutnya hanya dirimu yang aku inginkan Elis." Arjuna membawa tubuh mungil istrinya kedalam pelukannya. "Maaf jika harus serakah. Tapi kau sungguh tak akan tergantikan oleh siapapun."Arjuna mengecup kening ibu dari anak anaknya.
Hampir saja mereka kesiangan mengerjakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, jika saja Alarm di ponsel Arjuna tidak berbunyi.
Elis terbangun lebih dulu, dan pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah wajah Arjuna. "Ini masih mimpi atau bagai mana?" Elis mengerutkan kening, ia mencoba berpikir bulak balik. Bahkan Elis mencubit pipinya sendiri.
"Sakit." pekik Elis pelan itu tandanya ia tak bermimpi.
Elis tak ingin berpaling. Ada amarah, benci juga rindu yang menggulung di hati Elis menjadi satu. Tentang pria yang sudah berhasil memporak porandakan hatinya sebanyak berkali kali. Nyatanya Arjuna masih memiliki tempat di antara relung hatinya. Padahal Elis menghitung berapa banyak kesalahan pria itu. Tapi mengapa Elis masih memiliki alasan untuk tetap membiarkan pria itu berada di sekitarnya. Nyatanya banyaknya waktu yang terlalui tak bisa menghapuskan perasaan yang terlanjur terukir di hatinya.
Antara cinta dan benci manakah yang lebih besar?
"Apa kau belum selesai menikmati wajah tampan suamimu?" Arjuna berujar serak. Tangannya bahkan merenggang.
Elis beranjak duduk. "Bangun! waktu subuh hampir habis!" Elis berubah menjadi ketus kembali, ia ingin melihat sejauh mana Arjuna memperjuangkannya.
__ADS_1
Keduanya melaksanakan shalat subuh berjamaah.
"Sarapannya biar aku yang cari saja. Kau pasti lelah tak usah memasak." Arjuna hendak beranjak tapi Elis menghentikan langkahnya.
"Bagaimana kau sudah melaporkan dokter Arief dan Aida ke kantor polosi?" tanya Elis tiba tiba.
Arjuna diam sebentar. "Belum El, semalam aku mencari keberadaan Rain, aku belum sempat menindak lanjuti kasus mereka, asisten Jo tidak bisa di hubungi. jadi aku kesulitan mengatur segala sesuatunya sendiri." Papar Arjuna.
"Apa kau ingin melindungi Aida karna dia pernah menjadi istrimu?"
"Bukan begitu El. Tapi memang semalam belum sempat, rencananya hari ini aku akan melaporkan mereka ke pihak berwajib. Jika Dokter Arief aku pastikan akan mendekam di balik jeruji karna buktinya mengarah padanya. Namun soal Aida aku tak bisa menjanjikan apapun. Kau tau sendiri begitu berpengaruh keluarganya, hukum juga bisa berkelit bukan?"
Elis diam benar juga apa yang di katakan Arjuna. Apa lagi jika ibu Srikandi turun tangan untuk membela Aida sudah di pastikan jika Aida akan lolos dari jerat hukum.
"Terserah kau saja. Aku pusing menghadapi pemasalahan para orang kaya seperti kalian." Elis memijat pangkal hidungnya yang berdenyut.
"Tidak usah pikirkan apapun. Kau cukup menjaga kewarasan dan kesehatanmu dan anak anak sisanya biar aku yang menyurusnya." Arjuna melabuhkan satu kecupan di kening istrinya.
"Jika kau tidak menerima masa laluku. Ijinkan aku memperkenalkan diri sebagai orang baru."
"Namaku Arjuna, aku pria sederhana, sebatang kara dengan tiga orang putri." Arjuna mengulurkan tangannya, menjabat tangan Elis yang ia letakan di atas meja.
Elis menghembuskan nafas ada ada saja kelakuan Arjuna yang di luar nalar, mana ada sebatang kara dengan tiga orang putri.
"Aku cari sarapan dulu. Kau bangunkan anak anak." Arjuna beranjak.
"El dimana kunci motornya?"
"Diatas meja." teriak Elis kemudian.
Elis kemudian berlari takut jika Arjuna tak bisa mengendarai motor di gang sempit.
"Arjuna kau yakin busa mengendarai motor di gang?"
__ADS_1
"Jangankan menunggangi motor, aku bahkan pandai menunggangimu." Arjuna segera menghidupkan motornya dan berlalu meninggalkan Elis yang menganga di tempatnya.