
Yudhistira langsung kaku dengan dada yang terasa terhimpit. Ia tak mungkin salah mengenai Tanda itu.
Tanda kehijauan dengan bentuk menyerupai bulan sabit itu sangat jelas terlihat di bahu Elis.
"Lisa. Adik kecilku." Yudhistira bergunam pelan, kedua maniknya bahkan di bingkai oleh ccairan bening yang siap tumpah kapan saja.
Elis yang tak mengerti dengan gunaman Yudhistira segera bertanya. "Ada apa?"
Pandangan Yudhistira bahkan kini buram karna ia menahan air matanya supaya tidak tumpah.
Yudhistira tak memperdulikan chip yang terpasang di tubuh Elis, pria itu larut dengan perasaan yang campur aduk, senang, rindu juga tak menyangka kini menggelung menjadi satu.
Ada hal lain yang akan menambah ke yakinannya mengenai wanita di hadapannya. DNA, ya yudhistira harus mengambil sample tubuh Elis untuk ia lakukan tes DNA. Meskipun dirinya sudah sangat yakin jika Elis adalah adik kecilnya yang hilang.
"Lisa."
"Hey! Mengapa kau hanya diam? Apa kau ingin orang orang itu menangkapku?" Elis menarik Yudhistira dalam lamunannya.
"Lisa. Kau Lisa! Kau adikku." Yudhistira memeluk tubuh Elis, sedangkan wanita itu menolaknya dengan terus mendorong dada Yudhistira.
"Hey, namaku Elis! Bukan Lisa! Menjauh dariku!" Elis menjaga jarak setelah pelukan Yudhistira terlepas.
"Tidak, tidak. Kau adikku, adikikku yang hilang. Aku sangat yakin! Tanda di bahumu adalah bukti jika kau adalah adikku."Yudhistira tetap kukuh, dengan asumsinya, ia kemudian merogoh dompet yang ia letakan di kantong celana miliknya.
Yudhistira meraih selembar foto usang, yang bahkan pinggirannya sudah memudar meskipun sudah di laminating.
"Lihat ini!" Arjuna menunjukan sebuah potret seorang bocah laki laki sekitar sepantaran Rain tengah merangkul seorang bocah peremuan sekitar berusia empat atau lima tahun, nampak di potret itu keduanya mengenakan pakaian senada berwarna hitam putih dengan rambut anak itu yang terikat dua.
Secara spontan tangan Elis terulur untuk mengambil foto itu, kemudian menelitinya dengan seksama, meski buram tapi Elis dapat mengenali wajahnya sendiri di masa lalu. Anak perempuan itu adalah dirinya, sedangkan bocah lelaki itu, sungguh Elis tak mengenalnya.
"Da-dari mana kau mendapatkan foto masa kecilku?" Tanya Elis secara langsung.
Hal ini semakin meyakinkan Yudhistira jika ia telah menemukan adiknya.
"Aku memiliki banyak foto anak perempuan itu di rumahku. Kau adikku, Lisa adik yang selama puluhan tahun yang ku cari keberadaanmu. Tuhan mempertemukan kita secara tidak sengaja. Aku bahagia Lisa, sungguh aku bahagia. Aku tidak sebatang kara lagi sekarang." Yudhistira mendekat, dengan air mata yang mulai merembes di kedua sudut matanya.
Elis menjauh, apapun yang di ucapkan Yudhistira tak ia percayai begitu saja. Ia tetap menginginkan buktinya.
__ADS_1
"Apa buktinya jika aku adikmu?"
"Sebelah kuku kelingking kakimu pasti seperti terlihat patah, karna kau pernah terjepit pintu semakti kecil, dan bentuk kuku itu tidak berubah hingga kau berusia beberapa tahun. Aku tak mengingat pastinya kuku sebelah mana yang terlihat patah itu, tapi untuk memastikannya buka sepatumu!"
Elis menurut dan kelepas kedua sepatunya, benar di sana memang terdapat kuku yang terlihat seperti terbelah.
Elis mengatupkan mulutnya rapat, benarkah apa yang di katakan pria di hadapannya jika dirinya adik dari pria itu?
"Kau juga memiliki sedikit bekas luka jahitan di lututmu karna kau terjatuh dari tangga." sambung Yudhistira lagi.
Semua ciri-ciri yang di sebutkan Yudhistira benar adanya. Tapi sungguh Elis tak mengingat apapun. "Kau benar benar kakakku?" tanya Elis parau, suaranya terasa tercekat di tenggorokannya.
"Aku memang kakakmu Lisa. Jika kau masih ragu aku akan melakukan tes DNA." ujar Yudhistira.
"Jika kau kakakku, mengapa kau membiarkan aku hidup sendiri selama puluhan tahun?" Elis menangis dengan berjongkok menutup seluruh permukaan wajahnya menggunakan kedua belah tangannya.
"Maafkan Kakak, Lisa. Kakak mencarimu ke mana mana, tapi tidak bertemu denganmu." Yudhistira mendekat dan membingkai rahang wanita yang ia duga adiknya menggunakan tangannya yang besar. Yudhistira menceritakan soal penculikan Lisa kecil.
"Maaf, kakakmu ini tidak berdaya untuk menahanmu agar tetap tinggal." Yudhistira terisak, matanya dudah memerah.
"Pantas saja aku merasa ada sesuatu yang lain saat kau menolongku di pinggir jalan waktu itu."
"Jika memang aku adikmu kau tidak sendiri! Aku memiliki tiga putri yang sangat cantik."
"Benarkah? Adik kecilku sudah nemiliki tiga orang putri?" Yudhistira berbinar saat mengetahui ia telah memiliki banyak keponakan.
Sempat terpikir di diri Yudhistira jika dia akan mengakhiri semua kejahatan yang ia lakukan, karna ia tau jika pekerjaan juga dendamnya beresiko menyakiti adiknya. Apa lagi ia sidah memiliki tiga keponakan, Yudhistira takut jika dirinya yang selama ini tak memiliki kelemahan justru akan di manfaatkan oleh musuh musuhnya dengan adanya Elis juga para keponakannya.
"Juga seorang suami, namun aku tengah ada sedit masalah dengan suamiku." ujar Elis kembali.
"Setiap rumah tangga memiliki masalah Lisa. Nanti juga akan menemukan jalan keluarnya." ujar Yudhistira bijak, cukup dirinya saja yang hidupnya hancur, jangan sampai hidup adiknya hancur juga, Elis memerlukan keluarga juga seorang suami untuk melindungi Elis dan para putrinya.
"Dia selalu mengecewakanku." Lirih Elis.
"Apa dia pernah betmain perempuan?" Yudhistira kembali bertanya, Elis menggeleng pelan.
"Suamiku setia terhadapku."
__ADS_1
"Apa dia pernah memukul atau melukai tubuhmu?" tanya Yudhistira kembali.
"Tidak pernah sama sekali."
"Lisa, menurutku selain kedua kesalahan itu, semua kesalahan seorang pria bisa di maafkan, semuanya bisa di bicarakan dengan baik baik. Kakakmu ini memang bukan orang bijak apa lagi orang lembut. Tapi satu hal yang kuketahui sebagai seorang pria, kami selalu memiliki alasan jika berbuat sesuatu apa lagi jika membuatmu kecewa."
"Dia juga selalu bilang seperti itu kepadaku." Adu Elis dengan sesegukan. "Dia bilang, apapun yang dia lakukan hanya karna untuk menjaga perasaanku, dia, dia berkali kali membohongiku." Elis terisak kembali mengingat kebohongan Arjuna terhadapnya.
Elis tak pernah membagi masalah keluarganya dengan orang lain, tapi saat ini ia ingin mengadu kepada pria yang mengatakan jika pria itu adalah kakaknya.
Hembusan terdengar kasar di hidung Yudhistira.
Benar atau salah jika Yudhistira adalah kakaknya, yang terpenting Elis butuh membagi sakit hatinya dengan seseorang.
"Apa dia berlaku baik terhadapmu dan para keponakanku? Maksudku dia bertanggung jawab padamu?" Yudhistira menyelipkan rambut Elis di belakang telinga wanita itu.
"Hum,,," Elis mengangguk. "Dia tak pernah meninggikan suaranya di hadapanku kak, sekalipun ia tengah marah, dia kerap kali memohon maaf padaku meski kesalahan kecil ada padaku, tapi dia selalu mengulangi kesalahannya. Aku cape kak, aku ingin menepi dan berpisah darinya." Adu Elis di pelukan Yudhistira.
"Tarik kata-katamu Lisa! Kasihan putri putrimu jika kau berpisah darinya. Jangan egois Lisa! Mengalah lah sedikit demi anak anak kalian. Kau boleh istirahat sebentar, atau memarahi keadaan, tapi jangan berpikir untuk berpisah dengan suamimu. Meski aku tak mengenal atau pernah melihatnya tapi aku yakin suamimu orang yang baik. Setidaknya mengalah lah demi anak anakmu. Belum tentu di luar sana ada yang menyayangi anak anakmu sebaik ayah mereka." Yudhistira memberikan petuah kepada adiknya.
Yudhistira tak ingin nasib ketiga putri adiknya terlunta lunta. Satu hal yang Yudhistira tau, tak akan ada yang mencintai seorang anak sebaik kedua orang tuanya.
"Aku harus memaafkannya lagi?" Elis mendongak menatap wajah kakaknya.
"Ya." ujar Yudhistira. Ia tak ingin menjadi kompor yang akan semakin memanaskan perasaan Elis. Justru Yudhistira ingin Elis hidup bahagia.
Elis juga tak menceritakan keadaan sebenarnya, alasannya tentu saja karna hatinya melarang, aneh padahal Elis sudah muak dengan kelakuan Arjuna, tapi Elis selalu mencari satu alasan untuk tetap memaafkan pria itu.
Meski Yudhistira seorang pria berengsek, tapi ia tetap menginginkan yang terbaik untuk adiknya.
"Berikan suamimu kesempatan." Yudhistira tak tau siapa adik iparnya.
Jika saja Yudhidtira tau jika suami adiknya adalah Arjuna musuh terbesarnya dalam berebut harta peninggalan ayahnya, jseandainya saja Yudhistira tau entah apa yang akan di lakukan pria itu.
Dorr ...
Dorr ...
__ADS_1
Pintu kamar Yudhistira di gedor dari arah luar oleh seseorang.
Siapa itu?