Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Sependapat


__ADS_3

Dorr ...


"Aaaa ..."


Yudha berteriak saat peluru nyasar di tangannya yang sempat memegang senjata, sampai senjata itu terjatuh kembali.


Arjuna tak sempat terluka karna lebih dulu Asisten Jo membidikkan senjata kearah tangan pria itu, Asisten Jo tak ingin membiarkan tuannya terluka, sehingga ia membidikan senjatanya kearah tangan Yudha yang mengacungkan senjata ke arah Arjuna. Sebenarnya Asisten Jo bisa saja membidik Organ fatal Yudha, namun ia tak ingin gegabah mengambil tindakan jika tak ada arahan dan perintah dari Tuannya.


"Tuan tak papa?"


"Aku tak apa. Keluar istriku tidak berpakaian." Arjuna menyembunyikan istrinya yang hanya berbalut selimut menggunakan tubuhnya sendiri.


"Aaaa ..."


Yudha terus mengerang merasakan timah panas yang bersarang di tangan kanannya, darahnya sudah mengotori lantai, kesadarannya nyaris hilang.


Sebelum keluar ruangan Asisten Jo mengambil senjata yang di jatuhkan Yudha, ia tak ingin mengambil resiko dengan meninggalkan Yudha dengan senjata di sekitarnya.


"Terima kasih Jo." Arjuna mengucapkan hal itu dengan tulus, seandainya saja Jo tak datang tepat waktu, mungkin kepala atau punggungnya akan menjadi tempat mendaratnya peluru yang Yudha bidikkan padanya.


"Sama sama Tuan."


"Apa saya perlu melenyapkannya?"


"Tidak usah Jo, Rain sudah kehilangan ibunya, jangan kita turut andil membuatnya menjadi yatim piatu. Biarkan Yudha merenungi kesalahannya."


Dasarnya Arjuna terlalu baik dan berperasangkan kepada orang lain, Arjuna juga orang yang kerap kali berpikir resiko setiap sesuatu yang ia lakukan.


"Yudha bukanlah seseorang yang berpikir sederhana Arjuna. Kita perlu jaminan untuk itu." Yudhistira muncul di balik pintu, proa itu mendekati Yuda dengan jarum suntik berisi cairan di dalamnya.


Yudhistira secara perlahan menyuntikan cairan itu di tengkuk Yudha yang tak sadarkan diri, sedangkan Jo sudah keluar ruangan sedari tadi.


"Apa yang kau suntikan?" Arjuna masih mendekap tubuh Elis, ia seakan tak reka seinci tubuh istrinya terlihat oleh pria lain sekalipun oleh kakak istrinya sendiri. Cukup hanya Yudha saja yang lancang berani menjamah tubuh istrinya.

__ADS_1


"Pulanglah lebih dulu, bawa adikku! Aku tau ketiga keponakanku sudah merindukan ibunya. Biar Yudha menjadi urusanku." Yudhistira berujar dengan datar, ia masih menatap Yudha yang kehilangan kesadaran.


"Kumohon jangan lenyapkan Yudha, kasihani putranya." Arjuna sampai memohon demi keselamatan seseorang yang hampir saja mencelaikai istrinya.


Arjuna terlalu baik atau terlalu bodoh?


"Kau waras? Memohon keselamatan untuk seseorang yang menjatuhkan harga dirimu."


"Yudha hanya khilaf Yudhis, dia tidak bermaksud menyakituku maupun Elis, mungkin saja dia tengah mabuk." untuk kali ini kesabaran Yudhistira habis, ia tidak sebaik hati Arjuna.


"Sebenarnya aku ingin melenyapkan pria ini. Tapi setelah ku pikir pikir, aku bisa sedikit memberinya pengampunan. Aku juga tak ingin Rain dendam di masa depan. Untuk itu aku memberikan Yudha racun berkala, setiap satu tahun sekali dia harus nenemuiku untuk meminta penawarnya tapi jika dia kembali berulah dengan mengusik keluarga kalian aku tak akan memberikan penawar berkala itu, hingga jika Yudha tak mengindahkan perkataanku maka tiga hari dafi batas waktu yang ku tentukan Yudha akan meregang nyawa. Dan hanya aku yang mengetahui penawarnya untuk itu aku perlu memastikan haminan untuk keselamatan keluargaku."


"Entahlah aku merasa kau telah mengakui jika aku keluargamu." Arjuna terkekeh dengan kikuk.


"Pulanglah lebih dulu. Aku akan menunggu Yudha dan putranya sadar terlebih dahulu." Yudhistira meminta untuk keduanya pulang lebih dulu, ia juga memberikan alamat di mana ketiga keponakannya berada.


.


Rose, Jasmine juga Valery berlari menghampiri Papa dan Mamanya yang menjemput mereka.


"Oh putri putriku."


Arjuna melebarkan kedua tangannya untuk menyambut ketiga pelukan putri cantiknya.


"Rose merindukan kalian."


"Kami juga," Jasmine dan Valery berujar serempak.


Kelimanya larut dalam rasa bahagia yang membuncah, Arjuna melupakan apa ynag sempat menimpa istrinya beberapa waktu lalu.


"Kita akan pindah rumah lagi." Arjuna menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ucapan Elisembuatnya salah tingkah, ayolah ia sudah bosan tinggal di rumah petak itu. Ia juga akan menikmati harta yang ia peroleh dari kerja kerasnya selama ini.


"Kami tak mau, kami suka rumah Papa yang kemarin." jawab ketiganya mengembangkan senyuman Arjuna, sepertinya kali ini ia akan menang Elis pasti mengalah kepadanya.

__ADS_1


...****************...


Kehidupan keluarga Arjuna dan Elis kini berjalan dengan tenang, setelah banyak hal yang terjadi kini kebahagian mereka terlihat jelas karna kelahiran anak bungsu mereka yang bernama Abimanyu.


Waktu terus berlalu, ketiga gadis Arjuna kini tumbuh menjadi menjadi gadis gadis cantik yang tersohor sampai ke beberapa negara, paras cantik ketiganya menjadi buah bibir dari berbagai kalangan.


Mereka memiliki kelebihan masing masing, Rose masih dengan ketegasannya juga cerdas dalam menhambil pilihan sekalipun dalam keadaan terdesak, aura kepempinannya menguar dengan sangat kuat kekurangannya Rose sedikit angkuh dan Arogan, hingga ia jarang memperdulikan perasaan orang lain. Rose juga kurang suka berinter aksi selain dengan keluarganya kecuali, orang lain itu menguntungkan untuk dirinya.


Jasmine selalu berpikir sederhana, ia mudah bergaul dan hobi menolong, kebaikannya kerap kali di manfaatkan orang lain. Ia juga tidak bisa mengambil sikaf, kerap kali plin plan dengan keputusannya sendiri, meski demikian bakatnya di bidang fashion patut di acungi jempol.


Valery, si manja ini tak memiliki keahlian apapun selain menghabiskan uang. Impiannya cukup sederhana yaitu menikah dan menjadi seorang istri yang baik dari pria yang mencintainya, yang ia lakukan hanya bermalas malasan sepanjang hari. Valery sedang menanti pangeran berkuda yang akan melamar kemudian menikahinya, sungguh impian yang sangat manis.


"Aku pernah mengatakan kepadamukan, Tuhan akan memiliki 1001 cara untuk tetap mempersatukan kita. Tak perduli jalannya seterjal apa nyatanya kita mampu melewati semuanya." Arjuna memeluk Elis dari arah belakang menyapirkan wajahnya di bahu wanita itu, rasanya ia sudah tua saat melihat anak anak yang tumbuh dewasa.


"Terima kasih karna kau tak menghadirkan cinta lain di rumah tangga kita." Elis membawa tangan suaminya untuk ia kecup berulang ulang.


"Aku percaya saat aku meratukan istriku, putri putri kita akan di ratukan pasangannya."


"Ya semoga ketiga putri kita mendapatkan pasangan yang mencintai mereka sama seperti kau mencintai aku." ucap Elis.


"Jangan El. Aku tak berharap demikian, karna aku pernah menghadirkan pernikahan kepadamu di masa lalu, yang mana hal itu akan melukai putri kita, sama seperti aku melukaimu dulu. Aku berdo'a kepada Tuhan supaya ketiga putri kita bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pada aku, mencintai mereka melebihi cinta seorang ayah, meskipun hal itu sangat mustahil." Arjuna terkekeh.


"Diantara ketiga putrimu mana yang lebih kau khawatirkan?" tanya Elis.


"Valery, bungaku yang satu itu tidak memiliki keahlian apapun. Ya Tuhan, aku bahkan ragu jika dirinya sudah beranjak dewasa, tingkahnya sangat manja melebihi adiknya." Arjuna terkekeh membayangkan wajah putrinya yang manja.


"Aku sama sepertimu Juna, seandainya ada yang melamar ketiga putri kita dalam waktu dekat ingin rasanya aku menikahkan Valery lebih dulu." kelakar Elis.


"Aku sependapat denganmu."


Arjuna semakin erat memelut tubuh istrinya, menghujani rambut itu dengan banyak kecupan.


"Aku bahagia bersamamu."

__ADS_1


__ADS_2