Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Aku memang serakah


__ADS_3

Arjuna sudah kehilangan akal, ia tak lagi memikirkan resiko apa lagi dampak yang ia lakukan kali ini.


Tujuannya selain memuaskan diri, Arjuna ingin membuktikan jika dirinya mampu memberikan Elis seorang bayi laki laki. Ia mengira Elis sangat menginginkan bayi laki laki, padahal yang sebenarnya terjadi Elis sama sekali tak menginginkannya. Baginya ketiga putrinya sudah lebih dari cukup. Di masa lalu juga dirinya mengikuti berbagai banyak program hanya untuk menyenangkan ibu Arjuna saja. Sungguh setelah banyak hak terjadi, Elis tak memperdulikan lagi tentang ada atau tidaknya anak laki laki di hidupnya.


Elis tak dapat mengatakan apapun, mulutnya tersumpal oleh kaus yang tadi Arjuna katakan. Sedangkan Arjuna benar benar memuaskan dahaganya yang tertahan selama lebih dari empat tahun. Baginya dan menurutnya Elis tetao istrinya, ia halal menikmati tubuh Elis dari bagian manapun. Arjuna bahkan terlupa jika Elis petnah mengatakan di dalam suratnya jika wanita itu trauma dan merasa jijik oleh sentuhan Arjuna, yang mengira jika Arjuna melakukan hal yang sama terhadap madunya.


Ternyata trauma Elis belumlah hilang, mungkin di alam bawah sadarnya ia sudah mengklain jija Arjuna seorang cassanova, sehingga ia belum bisa memulihkan rasa jijiknya dari sentuhan pria itu.


Arjunapun mengabaikan Reaksi Elis, ia sama sekali tak menduga jika raksi Elis merupakan penolakan dari tubuh wanita itu. Jika saja Arjuna peka, bahkan di antara percintaan mereka tidak terdapat pelumas alami yang di produksi oleh milik Elis. Sayangnya Arjuna seakan menutup mata, dan menganggap jika kesulitan yang menimbulkan kenikmatan untuknya merupakan hal wajar karna mereka sudah lama tidak melakukan hal itu.


Diri Arjuna menghangat seiring dengan kehangatan yang berhasil Arjuna salurkan ke rahim Elis.


"Aaarghh ..."


Raungan tertahan penuh kepuasan melonglong panjang di atara mendengaran Elis, ini adalah ksli kedua Arjuna melepaskan benihnya sejak percintaannya dua jam lalu. Tubuh Arjuna tak bertenaga terkulai lemad di atas tubuh Elis dengam miliknya yang masih teranam di kehangatan istrinya.


Arjuna melepaskan cekalan cangannya dari pergelanga tangan Elis. Dengan sisa sisa tenaganya Elis melepaskan diri dari Arjuna serta menarik kaus yang menyumpal mulutnya. Seketika cairan dari mulut Elis keluar dengan sangat bangak. Persis seperti air yang baru terbuka dari kran. Dengan terseok Elis memuntahkan seluruh cairan yang ada di perutnya ke atas lantai, juga sebagian meluber ke leher dan dadanya. Cairan serta sisa sisa makanan juga seakan tak puas melalui mulut, hidungnya turut mengeluarkan sesuatu yang menjijikan.


Hoek ... Hoek ... Hoek ...


"El.!"


Suara Arjuna tercekat melihat istrinya muntah dengan hebat. Tubuh wanita yang menjadi tempatnya memuaskan gairah terlihat masih bergetar.

__ADS_1


"Elis." Arjuna mengangsur tubuhnya untuk mendekat.


"Diam!" lirih Elis, tangan kanannya mengacung. Seakan memberi isyarat supaya Arjuna jangan mendekat. Tubuh polosnya ia seret dengan terseok seok menuju kamar mandi sendiri.


"Apa yang terjadi?" Arjuna menjambak rambutnya sendiri. Ia tatap muntahan yang tercecer mengotori lantai rumahnya.


Tok ... Tok ...


Beberapa kali Arjuna mengetuk pintu kamar mandi. Ia khawatir Elis berada di dalam kamar mandi cukup lama


"El. Apa kau baik baik saja?" Arjuna sangat khawatir saat tak mendengar suara gemercik air dari dalam.


Dalam hati Arjuna sudah mulai menghitung, jika di hitungan yang sudah ia tentukan Elis belum keluar Arjuna akan mendobrak pintu kamarmandi itu.


Beberapa saat sudah terlewati, Elis mulai membuka pintu dengan perlahan.


Tampak Elis dengan badan yang terlilit handuk, rambut dan tubuhnya terlihat lembab, dengan kulit telapak tangan yang mulai mengeriput.


Elis memang hampir satu jam berada di balik bilik mandi, entah apa yang wanita itu lakukan. Namun matanya yang sembab seakan mengatakan Elis pasti selesai menangis.


Arjuna dapat melihat jejak percintaannya di bawah dagu, leher serta dada Elis, bahkan di leher dan kedua pergelangan Elis terdapat memar bekas cengkramannya yang ia tancapkan di tubuh wanita itu, agar Elis tidak memberontak.


"El. Kau baik-baik saja?" Arjuna memang bodoh, padahal ia dapat melihat keadaan istrinya yang kacau namun bisa bisanya ia bertanya jika Rlis baik baik saja.

__ADS_1


"Hemm ..." hanya gunaman lemah yang bisa Elis keluarkan. Tubuh ringkih itu berlalu meninggalkan Arjuna yang bergeming menatap kepergiannya. Elis melirik sebentar, bekas muntahnya juga pakaiannya yang dengan kasar Arjuna lepas dan lemparkan ke sembarang arah.


Rasanya Elis tak memiliki tenaga, bahkan hanya untuk memungut pakaian kotornya saja, ia lemas mungkin karna belum makan juga di tambah Arjuna habis menggagahinya tanpa ampun. Elis berlalu mengabaikan kekacauan yang terjadi beberapa waktu lalu.


Elis memakai daster sederhana miliknya, kemudian ikut terbaring di sisi dua kasur busa yang di gabung menjadi satu. Elis mencoba memejamkan matanya yang kini sudah basah kembali. Ia juga memeluk tubuh mungil Valery. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kelainan apa yang ia derita? Haruskah Elis berkonsultasi dengan seorang psikolog agar apa yang ia derita bisa menghilang.


Elis juga tak menyalahkan sepenuhnya diri Arjuna. Mau bagai manapun Arjuna seorang pria normal, sangat wajar jika Arjuna menginginkan penyatuan dan pelepasan. Tapi di sudut hatinya yang lain Elis kecewa terhadap perlakuan Arjuna yang menurutnya seenaknya. Padahal ia sudah meminta untuk berhenti, tapi Arjuna benar benar Egois. Pria itu tak berhenti sampai dirinya merasa puas.


Elis terlelap dengan sendirinya, membawa kelelahan dalam hidupnya. Semoga saja saat ia terbangun subuh nanti semuanya akan membaik.


Arjuna terus mengguyur tubuhnya dari air dalam bak mandi, menggunakan satu buah gayung berbentuk love dengan warna merah jambu yang sudah memudar. Ia mengingat reaksi wajah Elis yang tak henti menangis saat di guncang keras dirinya. Tak sekalipun manik hazel itu menatap ke arahnya. Tatapannya kosong serta sesekali terpejam dengan air mata meluruh.


"Apakah aku sudah kembali melukainya tanpa sengaja?" Arjuna mendongak menatap langit langit kamar mandi.


Setelah selesai mandi besar Arjuna keluar dari kamar mandi. Mencari sebuah kotak obat untuk mencari obat oles, atau sebuah salep untuk ia baluri ke bagian tubuh Elis yang memar oleh perbuatannya.


Sayangnnya Arjuna tak menemukan kotak obat, Arjuna bertanya tanya apa Elis tak memilikinya? Lalu Elis mengobati ia dan anaknya jika terluka atau sakit menggunakan apa?


Tidak tau saja Arjuna jika Elis selalu membeli obat warung jika ia dan anak anaknya sakit. dan jika terluka Elis hanya mengandalkan tanaman betadin yang tumbuh di depan tumahnya. Jika tidak ada yang tau mengenai tanaman betadin, biar othor kasih tau ya, sebuah tanaman berdaun hijau, daunnya menyerupai daum pepaya, jika berbunga warna bunganya berwarna merah, dan yang berkasiat untuk mengeringkan luka adalah getah tanaman itu yan terdapat di tangkai maupun di daun tanaman itu sendiri.


Arjuna melihat sebuah balsem di kusen jendela, balsem itu memiliki kenasan berwarna hujau dengan merek menyerupai gambar burung garuda.


Arjuna meraih balsem yang hanya berisi sebagian kecil. Ia membawa benda itu ke kamar yang di mana Elis tetlelap di sana.

__ADS_1


Dengan telaten Arjuna membaluri pergelangan tangan dan leher Elis menggunakan balsem itu.


"Maaf aku terlalu kasar padamu. Andai kau tau aku sangat cemburu saat kau mementingkan hal lain di bandingkan aku dengan anak anak. Aku memang serakah Elis, aku hanya ingin kau milikku saja!" Arjuna mececup sekilas kening istrinya sebelum berlalu meninggalkan ke empat perempuan yang berharga dalam hidupnya.


__ADS_2