Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Lancang sekali kau!


__ADS_3

Elis terbangun setengah lima pagi. Kepalanya terasa berat, itulah efek yang selalu ia rasakan setiap kali menangis menjelang tidur.


Kepalanya kini terasa berputar, namun ia tetap harus bangun ada kewajiban yang harus ia tunaikan. Selain sebagai hamba Elis juga sebagai seorang ibu yang harus menyiapkan keperluan ketiga putrinya sebelum memulai hari.


Elis berjalan dengan tangan yang berpegangan ke dinding rumahnya, beberapa kali Elis memejamkan mata untuk menjernihkan penglihatannya yang sedikit mengabur. Elis memijat pelipisnya namun dari pergelangan tangannya ia mencium aroma misak angin atau sebuah balsem pikir Elis. Padahal sebelumnya Elis tidak merasa menggunakan itu.


Pintu kamar ia buka, saat pintu itu terbuka ia melihat Arjuna tengah bersujud menghadap Tuhannya di ruang tengah sekaligus tempat Arjuna tidur. Elis diam sejenak memperhatikan bagai mana ayah dari anaknya beribadah, seingatnya selama pernikahan Arjuna tak pernah lalai akan kewajibannya kepada sang pencipta. Sekalipun ada udzur Arjuna pasti mengkodhonya.


Arjuna pernah mengatakan sebejad dan seburuk apapun hidup kita sebagai manusia agar tidak meninggalkan shalat. Terserah Tuhan menerima atau tidak ibadah kita, yang terpenting kita mengerjakan kewajiban.


Elis pergi di saat Arjuna tengah beratahiat akhir, karna sebentar lagi pria itu akan selesai dan mengucap salam.


Elis mencuci beras dan memasaknya menggunakan rice cooker, setelahnya iapun mengambil air wudhu. Aneh biasanya setelah berwuduh matanya yang berkunang akan menghilang setelah tersiram air, namun lain halnya kali ini, Elis merasa jika dirinya sangat dingin. Sehingga cepat ia mengerjakan shalat dan kembali merebahkan tubuhnya di kasur.


Arjuna yang tadi sempat melihat keberadaan Elis merasa heran saat Elis tidak keluar kamar kembali untuk memasak. Sehingga Arjuna memutuskan untuk memasuki kamar istri serta anaknya.


Dapat Arjuna lihat jika mukena yang sempat ia belikan tengongok di atas lantai bertikarkan sejadah. Sepertinya Elis terburu buru sehingga tidak melipat kembali mukena miliknya.


Arjuna melipat terlebih dahulu mukena milik Elis dan ia letakan di atas meja yang berada di kamar itu. Elis menggulung tubuhnya dengan selimut hanya sejumput rambutnya saja yang terlihat dari balik selimut. Arjuna tak ingin mengganggu Elis, mungkin saja Elis tengah kelelahan mengingat semalam dirinya memaksa Elis untuk melayaninya.


Langkahnya Arjuna bawa keluar, aroma nasi tercium di rumah yang sederhana itu. Rupanya Elis sudah menanak nasi. Memang beras yang Arjuna beli merupakan pandan wangi dengan kualitas terbaik sehingga aromanya sangat menusuk penciuman seisi rumah.


Arjuna memutuskan untuk memesan laukan di ponsel miliknya, waktunya cukup untuk menunggu sarapan.


"Papa Mama sakit." Valery berlari keluar dengan masih mengucak matanya, tapi tangannya meraih remote televisi dan menyalakannya.


Valery memang sangat polos, saat Jasmine kakaknya membangunkannya untuk memberi tau sang ayah, Valery menurut saja dan sepertinya ia akan melanjutkan tidur di depan televisi dengan televisi menyala sebagai temannya.


"Sakit?" Arjuna segera meletakan ponselnya dan segera memasuki kamar Elis.

__ADS_1


Saat ia mendatangi kamar, Arjuna melihat Rose dan Jasmine sudah terbangun. Rose tengah membereskan tempat tidur, sedangkan Jasmine tengah memijat kaki Elis yang tertutup selimut.


"Pa, badan Mama panas sekali, sepertinya Mama sakit. Mine takut Mama seperti Mamanya Miky temannya Mine. Mamanya meninggal karna sakit panas." Jasmine menangis, jelas terlihat jika dirinya takut kehilangan. Ia juga memiliki teman yang merupakan yatim piatu. Hal itu membuatnya sangat takut kehilangan.


Arjuna menyingkap selimut yang di kenakan Elis kemudian meletakan punggung tangannya di kening istrinya, dan benar saja. Suhu tubuh Elis sangatlah panas.


"Mama hanya demam biasa. Setelah Papa bawa kedikter pasti akan sembuh. Mine jangan takut dan berpikir macam macam ya." Arjuna mengusap rambut kusut putri keduanya. Tapi tetap saja tenggorokannya merasa tercekat, saat terlintas di pikirannya jika Elis tiada.


"Iya Dek. Mama kan kuat Dek. Mama kan juga kadang kelelahan tapi pasti sembuh ko." Rose berusaha menenangkan adiknya, padahal dirinya sendiri juga takut akan terjadi sesuatu kepada Mamanya. Matanya juga berkaca kaca, karna sekuat mungkin ia tahan agar tak jatuh.


"El. bangun dulu yuk, kita ke dokter." Arjuna mengguncang bahu Elis, jelas sekali ia menyalahkan dirinya sendiri akan kondisi yang di alami Elis sekarang.


Elis hanya menggeliat dan membenarkan selimutnya. Rintihan kecil terdengar di mulutnya, ia juga merasa sekujur tubuhnya tak bertenaga.


"Aku tidak papa. Aku hanya butuh istirahat." sahut Elis sembari menyelimuti tubuhnya.


"El. Minum obat dulu ya. Kau harus segera pulih." Arjuna mengusap rambut Elis yang lembab karna keringat.


"Kami tidak memiliki syok obat Pa. Biar Rose saja yang membelikan kewarung." Rose menadahkan tangannya meminta sebuah uang kepada ayahnya untuk membelikan obat.


Obat warung? Tanpa resep dokter? Jelas Atjuna tak ingin mengambil resiko. Biar saja Arjuna akan memanggil dokter saja atau membawa Elis kerumah sakit.


"Tidak usah Rose. Nati Papa yang akan membawa Mamamu ke rumah sakit."


"Berikan saja uangnya. Biarkan Tose membeli obat warungnya." ujar Elis di balik selimut. Lagi pula ia sudah terbiasa meminum obat warung, nyatanya ia tidak papa. Bahkan nyawa dan kesengsaraannya masih betah di tubuhnya.


Arjuna menurut dan memberikan sejumlah uang kepada anak sulungnya.


Setelah memberikan Elis sarapan dan meminumkannya Obat, Arjuna bersiap dan memakaikan Valery pakaian seragamnya, karna Rose dan Jasmine sudah bisa memakai seragamnya sendiri.

__ADS_1


"El. Aku mengantar anak anak dulu ya." pamit Arjuna kepada Elis yang masih tertidur, ia kemudian membalutkan satu selimut lagi ke tubuh Elis.


Arjuna tau betapa repotnya mengurus dan mempersiapkan kebutuhuan anak anaknya seorang diri. Elis benar benar luar biasa selama empat tahun wanita itu merawat dan menafkahi anaknya se orang diri.


Saat Arjuna kembali, suhu tubuh Elis belum juga turun sehingga ia memutuskan untuk membawa istrinya kerumah sakit.


Arjuna menyelipkan tangan di sela ketiak juga perpotongan lutut Elis dan bersiap membawa Elis kerumah sakit.


"Mau kau bawa kemana aku?" Elis setengah sadar, namun ia terlelap kembali.


Arjuna menggendong Elis menuju ketempat mobilnya berada dan mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


"Sial." umpat Arjuna, baru saja Arjuna keluar dan membawa Elis dalam brankar sosok yang membuatnya cemburu malah hadir di hadapannya.


"Ada apa dengan Elis?" Yudha bertanya panik. Dia bahkan melupakan niatnya yang hendak pergi ke suatu tempat.


Yudha turut mengikuti Arjuna menuju ke ruang pemeriksaan.


Kedua pria yang berjarak usia lima tahun itu, menunggu di depan ruang pemeriksaan, yang mana di dalamnya terdapat Elis yang tengah di periksa dokter.


"Apa yang terjadi dengannya Arjuna?" Yudha pun turut merasa bersalah melihat Elis berada di rumah sakit itu dengan status seorang pasien. Bukankan kemarin Elis baik baik saja, bahkan semalam sampai pukul delapan malam Elis menemani dan menyuapi putranya.


"Ini semua karna dirimu dan putramu Yudha! Elis kelelahan karna harus mengurus putramu. Sadar diri Yudha! Elis memiliki tiga orang anak yang harus di urus juga. Beritahu putramu supaya jangan mengusik Elis lagi. Repotkan saja ibunya!" Arjuna benar benar marah terhadap Yudha yang seakan lebih berani bertingkah sekarang.


Yudha diam sejenak. Tapi mau bagaimana lagi? Yudha memang merasa jika Elis merupakan sosok yang tepat untuk ibu sambung putranya.


"Mengapa kau tidak mengalah saja Arjuna. Sepertinya Elis tidak menginginkanmu lagi. Tapi jika aku jadi suaminya Elis aku akan menyayangi ketiga putrimu layaknya putri kandungku. Ceraikan saja Elis, aku akan menikahinya." Yudha memunculkan aura permusuhan, dan itu sukses membuat Arjuna meradang.


Bugh !!!

__ADS_1


"Lancang sekali kau! meminta seorang istri dari suaminya."


__ADS_2