Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Karma Aida


__ADS_3

"Bugh ..."


Kepalan tangan Arjuna mendarat di wajah kakak iparnya.


Yudhistira sampai tersungkur dengan sudut bibirnya yang mengeluarkan bercak darah. Sial tonjokan Arjuna terlalu kencang juga secara tiba tiba membuat Yudhistira terkejut juga tak sempat menghindar.


"Aaaa ..." Jasmine dan Valery bahkan menjerit terkejut, hanya Rose yang tetap tak terpengaruh dengan keadaan sekitar, gokusnya masih terhadap Mamanya yang masih setia memejamkan mata.


"Papa ..."


Kedua putri Arjuna segera berlari memeluk pinggang Arjuna dari sisi bersebrangan.


Cuih ...


Arjuna meludah, kesamping karna rasa asin merebat ke mulut serta lidahnya.


"Kenapa kau meninjuku sialan?" jika saja tak ada ketiga keponakannya, ingin rasanya Yudhistira membalas, menonjok dan menghajar balik Arjuna menggunakan tangannya sendiri. Namun Yudhistira takut tindakannya justru akan semakin menakuti ketiga keponakan cantiknya, yang bisa ia lakukan hanya mengepal tangannya dengan erat untuk meluapkan emosinya.


"Kau masih bertanya mengapa aku memukulmu? Harusnya kau ku lenyapkan Yudhistira." Arjuna meninggikan suaranya sampai membuat kedua putrinya gemetar ketakutan, sedangkan satu putrinya yang lain terus meletakan minyak kayu putih di dekat lubang hidung ibunya.


"Racun yang kumaksud benihmu sialan!" Yudhistira mendengus kesal sembari berdiri dari duduknya.


"Be-benihku?"


"Iya, kau terlihat seperti orang dungu sialan! Adikku sedang mengandung. meski aku bukan dokter tapi aku tak akan salah prediksi. kau boleh membeli tast pack untuk menuntarkan rasa penasanmu. Tapi untuk saat ini biarkan istrimu istirahat."


"Kau yakin jika istriku hamil?" Arjuna memastikan kembali.


"Aku sangat yakin."


"Jo ... Jo ..." entah mengapa akhir akhir ini pria dengan tiga orang putri itu begitu hobi berteriak.


"Ada apa Tuan?" Asisten Jo datang dengan wajah lelahnya, baru saja dirinya akan beristirahat tapi Tuannya sudah kembali memanggilnya.


"Belikan Nyonyamu beberapa test pack! Cepat sekarang!" titah Arjuna.


Entah Asisten Jo tengah kehilangan pokus atau benar benar tertekan, hingga pria itu kembali dengan beberapa test pant di tangannya, alat untuk mengecek atau menditeksi listrik di suatu kabel maupun colokan.


Yudhistira tak mampu menahan tawanya, pria itu di buat terpingkal pingkal atas kekonyolan asisten adik iparnya.


"Ha ha haha ..."

__ADS_1


"Kau pikir adikku kilo meter listrik." Ucap Yudhistira sembali mengelap air mata di sudut matanya. Ia bahagia hidupnya yang kelam nan hitam berangsur membaik setelah ia di pertemukan dengan keluarganya.


"Dasar bodoh! Aku menyuruhmu membeli test pack Jo, alat kehamilan bukan alat pengecek listrik." Arjuna juga menahan tawanya atas kelakuan asistennya kali ini, namun ia memaklumi mungkin saja Asisten Jo kelelahan karna terlalu sibuk akhir akhir ini, mengurusi tentangnya.


"Belikan ulang Jo."


.


Di tempat lain.


Mama Srikandi benar benar kepayahan, ia tak mendapatkan bantuan baik dari Arjuna maupun Yudha untuk menyelamatkan putrinya yang tengah di culik entah oleh siapa.


Mama Sri di buat heran karna yang ia ketahui jika putrinya adalah seseorang yang baik serta lemah lembut, tapi mengapa bisa putrinya memiliki banyak musuh di luar sana?


Mama Sri bahkan mengerahkan semua orang orangnya untuk mencari keberadaan Aida, namun hingga dua hari berlalu putrinya tak kunjung ditemukan.


"Lepaskan aku!" Aida berteriak di hadapan seorang pria muda, Aida yakin jika Pemuda itu masih berumur belasan.


"Melepaskanmu? Itu tidak akan terjadi." senyuman miring pemuda itu tergambar jelas di bibir tipisnya.


"Siapa kau sebenarnya?" Aida mencoba memberontak dari ikatan yang kini membelenggu tubuhnya pada satu kursi kayu di sebuah gubuk reot, yang Aida sendiri tak tau jika dirinya berada di daerah mana.


"Aww!" Aida mengaduk kesakitan saat pria muda dengan seragam putih abu itu menjambak rambutnya hingga mendongak.


"Kau sangat jahat, kau sudah membunuh kekasihku."


Plak...


Satu tamparan pemuda itu daratkan di wajah Aida yang sudah di hiasi memar sejak awal.


"Apa maksudmu sialan? aku tak mengerti apa yang kau katakan!" Aida meronta dan berteriak, ia rasa pemuda itu sudah gila menuduhnya yang tidak tidak.


"Kau salah orang brengsek!"


"Aku tak mungkin salah dokter gila! kau yang sudah melenyapkan kekasihku!"


"Kekasih, kekasih, sedari tadi kau membahas seorang kekasih, dan perlu kau ketahui aku tak mengenal kekasihmu!"


"Kekasilku bernama Salsabila, putri dari seorang dokter obgyn yang bernama Arief Rahman. Jika kau lupa, biar aku ingatkan kembali, dokter yang terlibat scandal dengamu yang kau lenyapkan dengan cara mengerikan di sebuah penginapan di kota M, tidak cukup sampai disina kau juga melenyapkan istri dokter Arief serta kekasihku dengan tanganmu yang sangat kotor. Apa kau sudah ingat?" pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajah Aida yang mendongak karna perbuatannya.


Aida tak dapat menyangkal tuduhan pria itu karna memang benar adanya, ia yang sudah membantai keluarga Arief dengan melalui orang orang suruhannya.

__ADS_1


"Aku bahkan menyewa detektif untuk mengungkap kematian kekasihku." Aida yakin pemuda itu bukanlah berasal dari keluarga sembarangan, pasti keluarga pemuda itu adalah salah satu orang berpengaruh di kota itu.


"Kau membakar kekasihku dan ibunya hidup hidup, di rumah mereka. Di mana nuranimumu sialan?"


Terlihat kekecewaan di wajah pemuda yang tidak Aida ketahui namanya itu.


"Kau salah paham."


"Aku tak mungkin salah paham sialan!"


"Dan sialnya di antara banyaknya pihak yang berwajib kau malah bebas begitu saja dan tak terdakwa sama sekali. Tapi tak apa, ini adalah kesempatanku untuk memberikan penghukuman kepada iblis betina sepertimu."


Pemuda itu keluar dari gubuk dan mengambil sesuatu di balik bagasi mobilnya.


"Sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku mengirimkanmu ke neraka. Aku titipkan salam untuk mendiang kekasihku." tatapan pemuda itu amat lah sayu, raut kehilangan tergambar jelas di maniknya.


"Kau jangan macam macam!" Aida memperingati pemuda mengerikan itu.


pemuda itu membuka tutup sebuah jeligen yang ia bawa dari bagasi mobilnya, ia sudah lama merencanakan pembalasan dendam ini.


Dengan sangat berutal pemuda itu memandikan Aida dengan bansin yang ia bawa.


"Tidak jangan, jangan, kumohon!"


Pria muda itu tak mendengarkan permohonan seseorang yang sudah menjadi dalang dari kematian kekasihnya.


Pemuda itu segera menjauh dengan pintu gubuk yang ia buka dengan sangat lebar kemudian ia memastikan sekitar terlebih dahulu, setelah ia yakin jika tak ada seseorang yang melihatnya pemuda itu menyalakan korek api dan mengabaikan permohonan dokter wanita yang tanpa lengan itu.


"Ini adalah DP dari kejahatan yang kau lakukan."


Byur ...


Saat pemuda itu melemparkan korek api kedalam gubuk, si jago merah langsung melahap habis tubuh Aida.


Sayang sekali Aida tak dapat meloloskan diri.


Jeritan demi jeritan terdengar dari dalam gubuk yang sudah mulai terbakar.


"Kau yang sudah mengajariku menjadi seorang pembunuh." ujar pemuda itu sebelum meninggalkan tempat itu.


Istilah tabur tuai benar benar terjadi, jangan tenang tenang saja di saat karma belum datang, karna karma selalu memiliki jalannya sendiri dan tak pernah salah alamat. Semesta akan mengatur alurnya sedemikian rupa agar kita mendapatkan apa yang kita kerjakan sebelumnya. Jadi berhati hatilah dalam melakukan sesuatu!

__ADS_1


__ADS_2