
"Tidak El. Jangan ku mohon!"
Permohonan Arjuna tak lagi berarti apa apa untuk Elis yang terlanjur mati rasa.
"Sudahlah. Sejak empat tahun lalu pernikahan kita memang sudah tak sehat. Kau terlalu pandai berdusta, sedangkan diriku tak pandai melupakan setiap kesalanmu. Aku rasa pernikahan kita memang perlu di akhiri." Elis beranjak.
"Kau seperti ini karna Yudha? Karna Rain memintamu untuk menjadi mamanya. Begitu?"
"Berhenti menyalahkan orang lain! Kesalahan ada pada dirimu sendiri Arjuna!"
"Jika seperti itu pikirkan anak anak Elis. Mereka tak akan mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kita sebagai orang tua." Arjuna takut Elis benar benar hendak berpisah darinya.
"Tidak perlu khawatir mengenai hal itu. Banyak anak anak di luar sana tumbuh dengan baik dan berhasil di kehidupannya meskipun orang tuanya berpisah." Ujar Elis datar.
"Aku tak bisa El. Aku masih mencintaimu, kau jangan egois El!"
"Kau yang egois Arjuna! Sejak awal sudah ku katakan jika cintaku sudah habis untukmu, dan kau berkata akan menunumbuhkan kembali cintaku, kau membujukku, mengiming-iming diriku supaya aku menerimamu kembali. Kau juga berjanji untuk menyembuhkan lukaku, tapi alih alih lukaku sembuh justru aku semakin terluka oleh tindakanmu. Kau tak akan mengerti setiap pesakitanku Arjuna karna kau lah tersangka utama yang selalu melukaiku. Aku lelah Arjuna setiap saat harus meributkan masalah yang tidak menemui titik temunya. Aku ingin menepi darimu." Elis menjambak rambutnya sendiri, tak mengerti dengan jalan pikir Arjuna yang selalu memaksakan kehendak padanya.
"Hanya karna aku menyelamatkan Aida kau ingin berpisah dariku?"
"Hanya? Kau bilang hanya? Aku justru lebih rela kau menyelamatkan anj ing budug dari pada harus menyelamatkannya. Dan kau menyembunyikan kebenarannya dalam waktu yang cukup lama, itu semakin memupuk kebencianku terhadapmu. Dan memantapkan niatku yang sempat kau gagalkan." Tatapan Elis penuh kekecewaan.
"Jika kau berpisah dariku atas keinginamu sendiri kau tak akan mendapatkan apa apa." Arjuna mencoba menggeretak Elis, berharap wanita itu akan membatalkan niatnya.
"Memangnya sejak awal aku mendapatkan apa darimu? Hartamu tetap hartamu aku tak akan memintanya walau hanya satu rupiah." Elis berlalu meninggalkan Arjuna. Namun secepat kilat Arjuna menghadangnya dari sana.
"Aku mohon El. Beri aku satu, hanya satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku akan menuruti apapun keinginanmu aku janji El." Arjuna bahkan berlutut, matanya juga sudah mengembun.
"Sudah ku katakan kesempatanmu sudah habis. Kau terlalu menyepelekan aku, menyianyiakan kesempatan yang pernah ku berikan."
__ADS_1
"El. Jangan sekejam ini terhadapku. El, kita perbaiki semuanya dari awal. Kita pindah kota jika perlu."
"Tidak Arjuna. Sekalipun kita pindah alam tak akan merubah apapun. Aku terlanjur terluka oleh setiap hal yang kau katakan terhadapku, entah berapa banyak kebohongan yang kau ucapkan terhadapku. Setiap orang berhak memilih hidupnya sendiri."
"Aku akan mengurus perpisahan kita segera."
Degh ...
Elis tak sedang bercanda. Pernikahannya dengan Arjunabenar benar berada di ambang ke hancuran, bahkan dengan memohonpun Elis tak merasa iba sama sekali. Elis memang keras kepala. Salah Arjuna sendiri karna terlalu menyepelekan sesuatu, menganggap enteng kebohongannya, dan mengira jika semuanya akan tetap tersimpan rapat sebagai rahasia.
"Aku rasa kau mencintai Aida, Arjuna bukan diriku! Karna demi menyelamatkannya kau terluka cukup besar, kau bahkan menantang maut demi memasuki markas penjahat yang menyekap Aida. Tidak kah kau pertimbangkan kembali siapa wanita yang kau cintai?" Hidung Elis bahkan kembang kempis menahan segenggam kekecewaan di hatinya, sungguh. Elis ingin meraung dan memukuli Arjuna sekarang, namun jika ia berbuat demikian sekarang hanya akan semakin memperlihatkan kelemahannya.
"Aku menolongnya demi Mama, El. Demi baktikuku kepada Mama. Sungguh tak ada satu perasaanpun yang istimewa terhadapnya. Semua rasaku telah ku berikan hanya untukmu." Arjuna menatap lekat manik istinya, namun Elis tak terpengaruh sama sekali.
"Menurutmu apa yang kau lakukan benar mengenai baktimu terhadap Mamamu?"
Arjuna bungkam, tak berani sedikitpun menjawab pertanyaan Elis.
"El. Tolonglah, maafkan aku. Tolong El." Arjuna memohon, riak di wajahnya menunjukan penyesalan mendalam.
"Enggak semua hal yang dulu aku terima dan maklumi, hari ini masih bisa ku terapkan. Apa lagi hal hal yang telah berlalu beberapa tahun, maka, saat aku sudah memaafkan kau berkali kali melakukan kesalahan yang sama, menyepelekan aku juga membohongiku. Maaf tidak selalu berlaku pada kesalahan yang di ulang-ulang." Elis melepas cekalan tangan Arjuna di kakinya.
Sadar permohonannya tak dapat mengubah keputusan Elis, ia mencoba memutar otaknya untu mengancam Elis dan objek yang tepat adalah anak anak mereka.
"Jika kau pergi dan mengajukan surat perpisahan lagi, kau tak akan mendapatkan hak asuh atas ketiga anak kita. Aku akan mengambil hak asuh mereka seluruhnya, sehingga kau tak akan mendapatkan apapun."
Ucapan Arjuna berhasil menghentikan langkah Elis. "Kau mengancamku?"
"Aku tidak suka mengancam. Apa yang ku katakan itulah yang akan terjadi." Arjuna sangat yakin jika Elis akan merubah pikirannya, wanita itu terlihat berpikir.
__ADS_1
Elis juga baru menyadari jika dirinya tak melihat ke hadiran ketiga putrinya.
"Di mana anak anak?"
"Aku sudah mengamankan mereka. Jika kau ingin semuanya berjalan dengan baik, ikut denganku dan batalkan rencana perpisahan yang kau ucapkan tadi."
Elis bergeming. Ini pilihan yang sulit, tapi ia perlu menjaga ke warasaannya, berada bersama Arjuna akan terus mengingatkannya kepada kebohongan pria itu. Lagi pula Arjuna sangat menyayangi ketiga putrinya, Arjuna tak mungkin berbuat sesuatu yang membahayakan anak anaknya sendirikan?
Poin utamanya adalah hidup ketiga putrinya akan terjamin, mereka tak akan hidup terlunta lunta jika bersama Arjuna, tak akan ada lagi telur dadar bantet. Berbeda jika anak anak ikut dengannya. Maka penderitaan selama empat tahun akan terulang kembali. Elis tak ingin menyeret putrinya dalam kesengsaraan yang di sebabkan olehnya.
"Lakukan saja apapun maumu Arjuna! Aku sudah tak perduli lagi. Aku tak akan meributkan sesuatu yang memang ada hak dan kewajibanmu disana." Elis melanjutkan langkahnya, menuju kamar kecil di rumahnya ia akan mengemasi beberapa pakaian miliknya, untuk ia bawa.
Arjuna mematung di tempatnya. Sebegitu besarnya jekecewaan Elis terhadapnya? Sampai anak anaknya pun tak jadi pemberat untuk Elis mengurungkan niatnya.
Lama Arjuna berpikir sembari menyesali perbuatannya.
Elis keluar dengan satu koper pakaian miliknya, juga kunci motor miliknya.
"Aku mengundurkan diri dari apapun yang menyangkut dirimu. Mulai dari menjadi istri maupun pegawaimu. Surat suratnya akan menyusul nanti." Elis berjalan sembari menggeret kopernya, sungguh keputusan Elis tak dapat di ganggu gugat.
Arjuna akan memberikan Elis ruang.
"Tetaplah tinggal di sini. Aku yang akan pergi dari rumah ini. Hubungi aku jika kau berubah pikiran." Arjuna berlalu dari sana, dengan penyesalan yang tak bertepi.
Elis tak merespon. Lidahnya terlalu kelu untuk sekedar merespon ucapan Arjuna.
"Aidaa!" Arjuna mengepalkan tangannya dengan penuh emosi. Karna wanita itu Elis sangat marah dan memilih mengakhiri hubungan mereka. Arjuna menyalahkan wanita ular seperti Aida. Sepertinya akan lebih baik membiarkan Aida mati dan memilih jalan untuk menjadi anak durhaka, dari pada Arjuna harus hidup dalam kematian. Ya hidup tanpa Elis bagaikan berada di antara hidup segan matipun tak mau.
"Kepergianmu memang tak membawa apa-apa Elis. Hal hal juga kenangan yang tertinggal membuatku tertimbun semakin dalam." Sembari melangkahkan kaki buliran air mata Arjuna meluruh begitu saja.
__ADS_1
Sekali lagi Arjuna harus merasa mati tanpa wanita yang ia cintai, waktu empat tahun membuatnya nyaris kehilangan kewarasan, dan hal itu akan terulang kembali di hitung sejak hari ini.