
Sebelum mengatakan apapun Arjuna menatap lekat seraut wajah brngis Elis, tak ada lagi tatapan teduh menrnangkan, atau tatapan memuja yang sejak dulu Elis limpahkan untuk dirinya.
Kemana perginya semua cinta yang wanita itu miliki? Bukankah beberapa saat lalu Arjuna masih dapat melihat kilau tatapan kecemburuan di manik hazel itu. Lalu sekarang manik itu terlihat menantang dengan kobaran kemarahan yang jelas Elis pertontonkan.
"Aku tidak perduli Arjuna! Apapun keberadaan Aida di sini, aku tidak perduli sekalipun kau mendatangkan setiap wanita di negri ini." Elis hendak berlalu tapi Arjuna mencekalnya.
"Sekalipun kau tidsk perduli, kau harus tetap mendengar penjelasanku!" Arjuna tak ingin terlihat tak berdaya di hadapan istrinya. Ia ingin menunjukan kesungguhannya.
"Aida berada di sini karna rumah sakitnya bekerja menugaskan dirinya bersama beberapa dokter lainnya untuk mengecek alat alat baru yang perusahaan ini ciptakan. Tapi sungguh aku tidak tau jika Aida akan berada di sini." Aku Arjuna jujur.
"Kau pikir aku percaya. Aku memang bodoh Arjuna karna tidak tau menau soal bisnis dan pertemuan. Tapi setauku setiap perusahaan atau lembaga pasti menginformasikan terlebih dulu siapa saja yang akan mereka untus untuk di jadikan perwakilan menemui seseorang ataupun perusahaan lain." Sebogoh bodohnya Elis ia juga tau cara main tentang rapat. Apa lagi ini menyangkut alat alat yang di gunakan untuk menyelamatkan banyak orang. Mustahil jika Arjuna tidak tau dokter mana saja yang akan menilai alatnya.
"Memang seperti itu El. Tapi yang mengurus ini bukan aku. Ibu Siska yang mengurus semuanya, dia juga tidak tau kan jika aku dan Aida pernah ada hubungan. Seandainya aku atau Jo tau jika Aida adalah perwakilannya aku hanya akan menugaskan Jo untuk menemui mereka."
"Omong kosong." Elis merasa jika apa yang di katakan Arjuna adalah isapan jempol belaka.
"Dengar ini! Aku tak perduli, sekalipun kau menidurinya di kantor ini! Semua itu tidak akan mempengaruhiku!" Elis membuang pandangan. Takutnya apa yang ia katakan sekarang Arjuna tak mempercayainya.
"Buka pintunya! Aku ingin keluar." Elis menyuruh Arjuna untuk menyingkir dari balik pintu.
"Tidak. Sebelum kau mempercayaiku." ucap Arjuna kekeh.
"Terserah. Sebentar lagi jam pulang. Kau ingin asku terlambat pulang dan mengurus anak anak." Elis melipat tangat di perutnya, ia duduk di antara dus dus yang berisi beberapa Alat.
"Jangan duduk di dus dus itu. Di sana terdapat beberapa alat yang siap kirim. Lrbih baik kau duduk di pangkuanku." Arjuna mepuk pahanya sendiri, sekarang posisinya sudah berselonjor.
Arjuna juga melirik jam tangan yang ia kenakan, dan benar saja ini hampir jam pulang. Jam di tangannya menunjukan pukul setengah tiga sore. Dengan berat hati Arjuna membiarkan Elis pergi, kemudian di susul oleh dirinya yang keluar dari ruangan itu sesaat setelah Elis pergi. Tanpa Arjuna sadari ada sepasang mata yang melihatnya keluar setelah Elis.
Arjuna berjalan ke ruangaannya dengan Aura gelap yang melingkupi dirinya. Ia marah kepada Asistennya yang lalai, membiarkan Elis memasuki ruan pertemuan kliennya.
"Awas saja jika si Jo itu tidak memiliki alasan yang jelas mengabaikan perintahku. Akan ku pecat dia! Lihat saja." belum reda kemarahan Arjuna. Ia kembali di buat tensi menanjak dengan kehadiran Aida di ruangannya.
Arjuna bahkan membanting pintu yang baru saja ia buka. Sehingga pintu itu memantul dan kembali terbuka. Gebrakan dari pintu itu juga menghasilkan getaran yang cukup kuat mengusik dinding di dekatnya.
__ADS_1
"Joooo ..." Arjuna memanggil nama Asistennya dengan sangat kencang. Hingga office boy yang melintas di sana juga di buat merinding oleh panggilan atasannya yang membekukan.
Dengan tergopoh gopoh asisten Jo mendatangi Tuannya.
"Ada apa dengan dirimu hari ini Jo! Kau sudah melakukan tiga ke goblogkan hari ini. Yang pertama kau membiarkan wanita ular itu menginjakan kakinya di kantorku." Arjuna menunjuk diri Aida yang tengah berdiri dan menatap nanar ke arahnya.
"Yang kedua, aku tak perlu mengatakannya. Dan yang ke tiga, mengapa kau membiarkan wanita ular itu memasuki ruanhanku? Hah." Kemarahan Arjuna benar benar ia perlihatkan.
"Tak taukah seberapa dahsyatnya racun yang di bawa wanita itu." Tunjuk Arjuna kembali, membuat Aida tertunduk dalam.
"Profesinya memang seorang dokter Jo. Tapi kau harus ingat hobinya adalah menyakiti orang lain, dan melukai orang lain demi kepentingannya sendiri. Bukankqh kau tau berapa orang yang terluka karna kererakahannyaaa!" Arjuna memaki asistennya, tapi tujuan dari makiannya adalah Aida sendiri.
"Maaf Tuan." Asisten Jo terlihat begitu bersalah atas apa yang terjadi. Ia benar benar lalai.
Ia juga sangat kesal kepada dokter Aida yang memaksa menunggu Arjuna di ruangan pria itu.
"Cukup Juna. Cukup sudah kau menyakitiku dengan cintamu." Aida terisak pelan.
"Kau yang cukup Aidaa!"
"Keluar kau dari ruanganmu. Jika tak ingin ku seret paksa."
"Tidak Juna, aku mencarimu sejak lama, aku tak ingin keluar aku ingin bersamamu. Aku ingin berbicara banyak hal denganmu." Aida mendekat ke arah Arjuna.
"Kau pikir aku main main dengan ucapanku?" Arjuna juga mendekat ia meraih tangan Aida dan menyeret wanita itu dari dalam ruangannya, Arjuna bahkan mendorong tubuh Aida hingga terperosok di depan pintu ruangan.
Beberapa orang melihat cara Arjuna memperlakukan Aida dengan kasar.
Arjuna berbalik setelah membuat Aida keluar dari ruangannya, kemudian berlari dan memeluk Arjuna dari belakang. Membuat Arjuna menghentikan langkahnya.
Tangan Arjuna kini mengepal. Ia tak tersentuh dengan tangisan yang di tunjukan oleh Aida kepadanya.
"Maafkan aku." lirihnya.
__ADS_1
Arjuna melepas tangan Aida dari pinggangnya kemudian berbalik, tanpa di duga
Plakkk ....
Sebuah tamparan kasar melayang di udara dan mendarat tepat di pipi Ida. Wajah wanita berkerudung itu bahkan menoleh dan tersungkur akibat kerasnya tamparan yang Arjuna layangkan.
"Kau adalah wanita pertama yang ku tampar Aida! Itu artinya kau sudah membuatku benar benar marah. Beraninya kau menyentuhku dengan tangan beracunmu itu."
Semua orang terpaku dengan jantung yang di pacu dengan kasar. Mereka sama sama terkejut akan tindakan bos baru mereka. Mereka kira hanya tampilannya saja yang dingin ternyata sikapnya sangat kejam. Mereka menahan diri agar tidak berbisik atau menunjukan ekspresi lain sebagai keterkejutan mereka.
"Ini sebagai contoh untuk kalian! Aku bisa berbuat kasar kepada siapapun yang mengusikku!" tekan Arjuna.
Aida benar benar merasa di permalukan. Ia bangkit dan memaki. "Beginikah perlakuanmu kepada wanita yang pernah kau nikahi." ujar Aida, ia tak ingin malu sendiri.
"Cuih."
Arjuna meludah dengan ekspresi jijik.
"Dasar tidak tau malu. Perusak. Semoga saja di luar sana semua pria merendahkanmu Aida."
"Jo usir dia! Pastikan, kakinya yang kotor jangan sampai menginjak kantorku lagi!" Arjuna memasuki ruangannya. Sedangkan Jo membawa Aida untuk keluar gedung di bantu oleh salah satu pihak ke amanan.
"Arrghhh ... Sial ... Sial ..."
Arjuna berteriak di ruangannya sendiri.
Setelah beberapa waktu berlalu pintu ruangan Arjuna kembali di ketuk, dan yang muncul di balik pintu Adalah Asisten Jo.
"Tuan saya akan membela diri. Atas kelalaian saya atas perintah Tuan." Asosten Jo memberikan kartu nama dokter Arief.
"Dokter Arief berpesan agar Tuan menemuinya di restoran sebrang kantor setelah rapat tadi." papar AsistenJo.
"Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan terkait kehamilan dokter Aida waktu itu." Asisten Jo menerangkan garis besarnya.
__ADS_1
Inikah titik terangnya?
"Kenapa tidak bilang sejak tadi?" Arjuna segera pergi meninggalkan AsistenJo. Berbekal kartu nama di genggamannya.