
Semua karyawan menunduk saat Arjuna melewati beberapa kerumunan karyawannya. Mereka berkasak kusuk akan tindakan Arjuna yang menyeret dan menampar seorang dokter yang merupakan perwakilan dari rumah sakit terbesar di kota J.
Setelah yakin Arjuna tak ada di sana, mereka kembali melanjutkan ghibahan mereka menjelang waktu pulang.
"Eh, bukankah wanita berhijab itu tadi mengatakan pernah menjadi istri pak Bos?" ujar wanita berbaju kuning terang.
"Iya juga ya. Tapi kan tadi pak Juna mengatakan jika istrinya cemburu karna kelakuan Bu Riska, lalu ada berapa istri yang Pak juna miliki." Kekepoan terjadi di antara para mereka yang gemar berghibah.
"Ga tau lah namanya orang kaya. Sudah menjadi skandal umum jika para orang kaya memiliki lebih dari satu pasangan. Apalagi pak Juna masih muda dan sangat tampan. Pantas jika dokter itu tak rela jika Pak Juna mencapakannya." seorang berkacamata turut menyauti omongan rekannya.
Ita terburu buru memasuki pantry kantor. Bukan tanpa alasan ia bertingkah begitu, ia kaget sekaligus syok jika pria seperti bosnya bukan hanya tegas melainkan juga kejam. Ia melihat langsung ketika Arjuna menyeret serta mendorong dokter wanita hingga terperosok di lantai kantor yang dingin, seakan tak cukup sampai di sutu kedua matanya juga menyaksikan dengan jelas bagai mana seorang Arjuna menampar kencang seorang dokter itu hanya karna sebuah omongan. Kejam sekali bukan.
Napas Ita bahkan tersenggal-senggal, saat tiba di Pantry. Elis tengah mencuci beberapa gelas di depan wastafel, Ita yang melihat kehadiran temannya segera mendekat.
Hah ... Hah ...
"Kau kenapa?"
"Aku, aku melihat-" nafas Ita masih berlarian tak tentu Arah, ia di buat sangat terkejut akan perbuatan Arjuna, yang menurutnya kejam.
"Melihat Apa?" Elis membereskan gelas gelas yang sudah selesai ia bersihkan di atas rak rak yang tersedia di sana.
"Kau tau, wajahmu pucat Ta, seperti melihat hantu saja." Elis mrnyerahkan cermin kecil dihadapan Ita.
"Gawat El, kau tau kan aku trauma dengan kekerasan seorang pria?" nafas Ita belum tenang. Ia benar benar trauma pasalnya mantan suaminya memperlakukan kasar dirinya sejak awal menikah.
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku akan menghapus Pak Juna dari daftar pria idamanku! Setampan dan sekaya apapun dirinya tak dapat menutupi kekejamannya. Kau tau? Barusan aku melihatnya berbuat kasar kepada seorang wanita. Bukan aku saja yang melihatnya El, beberapa orang juga melihat perlakuan Pak Juna, pria itu menyeret, mendorong dan menampar wanita berprofesi dokter, wanita berhijab yang menjadi perwakilan rumah sakit dari kota J." Ita menjelaskan sekilas apa yang ia ketahui tentang wanita itu.
Elis terdiam sejenak, seluruh tubuhnya menjadi kaku. Bagaimana mungkin pria selembut Juna memperlakukan wanita seperti itu. Pasalnya selama Elis mengenal Arjuna sejak bertahun tahun lalu pria itu sangat hati hati dalam bertindak terhadap makhluk yang bernama perempuan. Terutama ibu Sri juga dirinya, Arjuna kerap kali merendahkan intonasi suaranya saat berbicara dengan mereka. Sulit untuk Elis percaya jika Arjuna bertondak sejauh itu.
Arjuna memang tegas terhadap beberapa orang atau saingan bisnisnya, tapi tidak dengan wanita. Tapi sekarang Elis mendengar jika Arjuna berbuat kasar. Apa yang melatar belakangi itu semua?
Elis masih terdiam di tempatnya, dengan beberapa pertanyaan yang berputar di antara tengkorak kepalanya. Haruskan ia mencari tau kebenarannya, atau justru menunggu si waktu yang mengungkap segalanya.
"Mungkit kau salah lihat Ita, tak mungkin Pak Juna melakukan hal demikian apalagi di depan umum." sangkal Elis, ia mencoba mengingatkan temannya, takutnya apa yang di lihat ita memang salah.
"Tidak mungkin salah liat El, bukan hanya aku yang berada di sana. Beberapa orang juga menyaksikan perbuatan Pak Juna. Bahkan ini juga sudah menjadi perbincangan, bos baru kita di penuhi banyak skandal sepertinya." ujar Ita, ia tak tau kan jika Elis adalah istri dari bosnya.
"Bu Riska, bahkan gemetar saat mengetahui hal itu. Jika saja Riska yang mengalami hal ini aku akan sangat senang." ujar ita kembali.
.
Sudah hampir setengah jam dokter Arief menunggu kehadiran Arjuna di restoran yang ia janjikan kepada Asisten Jo. Tidak ada telepon atau sebuah pesan yang seseorang kirimkan terhadapnya. Dokter Arief mulai meragu akan ke hadiran Arjuna yang tidak kunjung tiba di hadapannya.
"Sial. Harusnya aku meminta nomor ponsel pak Juna kepada asistennya." Dokter Arief merasa dirinya sangat bodoh, pelipisnya hakan ia pijat berulang ulang.
Dua cangkir kopi sudah dokter Arief habiskan, namun sampai kini keberadaan Arjuna masih di pertanyakan.
Hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya, tepat saat ia hendak pergi dan ber lalu, setelah sebelumnya membayar bill yang ia pesan.
__ADS_1
'Dokter Arief, saya Arjuna. Mohon tunggu beberapa menit lagi saya akan segera sampai.'
Dokter Arief duduk kembali. Baiklah demi kebenaran ia akan menunggu kliennya yang pernah ia khianati. Bahkan dokter Arief juga tau imbas dari apa yang sudah ia lakukan berakibat fatal terhadap rumah tangga Arjuna. Di sanalah penyesalan dokter Arief selama bertahun tahun. Bafsu dunia menutup matanya sejenak hingga kemudian mengurungnya dalam rasa bersalah yang tak bertepikan.
Arjuna berjalan, bahkan sesekali berlari untuk menuju restoran yang di maksud dokter Arief. Ia menyayangkan tindakan asistennya yang tidak memberitahunya sejak tadi. Justru malah menunggu beberapa drama yang ia buat terlebih dahulu bersama dokter betina yang kuran satu ons itu.
"Semoga saja dokter Arief mau menunggu." Arjuna melangkahkan kakinya lebih cepat dari sebelumnya.
Arjuna benar benar berjalan kaki menuju restoran. Dengan tanpa membawa kendaraan takutnya malah memangkas waktu lebih banyak.
Tak Arjuna perdulikan terik matahari yang membakar tubuhnya yang tengah berlari. Tubuh kekar itu bahkan kini sudah di mandikan banyaknya keringat. Hingga kemeja putih yang ia kenakan terlihat basah oleh keringatnya sendiri. Bau mata hari juga mulai mengelilingi tubuhnya.
Nafas Arjuna bahkan tersenggal. Ia membuka pintu restoran dan mengedarkan sudut matanya je arah seluruh restoran yang terlihat melenggang karna memang waktu makan siang telah habis.
Arjuna tak menemui dokter Arief di sana, sehingga ia meraih ponselnya dan menghubungi dokter Arief.
Dokter Arief mengatakan jika dirinya berada di ruang vip di restoran itu. Arjuna mengerti jika sesuatu yang akan di sampaikan dokter Arief bersifat rahasia sepertinya, sehingga dokter itu memilih tempat private.
Arjuna bertanya kepada pelayan restoran tentang ruangan yang berada di tempat itu, hingga pelayan wanita mengantarkan Arjuna ke ruangan yang di maksud dokter Arief.
Saat pintu ruang vip itu terbuka, Dokter Arief berdiri dari duduknya untuk menyambut kehadiran Arjuna yang berjalan dengan tegap. Nemun nafasnya masih belum teratur.
"Pak Arjuna." Dokter Arief menyalami Arjuna, terlihat tangan Arjuna di hiasi dengan keringat yang mengembun.
"Tidak usah basa basi dokter Arief. Apa yang anda ketahui tentang kehamilan Aida waktu itu?"
__ADS_1
Dokter Arief sudah menduga hal ini. Arjuna pasti langsung pada intinya, mengingat Arjuna bukanlah pria yang welcome, untuk sebagian orang.