
Arjuna melangkahkan kakinya semakin jauh dari ruang inap Aida, sekarang sudah hampir pukul tiga pagi tapi Arjuna belum memejamkan matanya sedikitpun. Luka di tubuh juga di hatinya sama sama menganga belum terobati.
"Tuan mari obati luka anda. Selagi masih di rumah sakit." Asisten Jo menyarankan, ia sendiri sudah mengobati lukanya di bantu oleh petugas medis.
"Tidak usah Jo, seiring berjalannya waktu luka luka ku akan sembuh dengan sendirinya, ini hanya mengenai waktu saja." Arjuna menunduk menyembunyikain Air mata yang beberapa waktu lalu membanjiri wajahnya.
"Tidak Tuan, maaf kali ini saya tak sependapat, luka di tubuh Tuan harus di obati. Jika tidak Nyonya akan mengetahui apa yang Tuan lakukan malam ini. Bukankah misi kita tadi merupakan rahasia?" sebisanya Asisten Jo membujuk Tuannya agar bersedia mengobati lukanya, jika terus di biarkan Arjuna bisa kehabisan darah.
Benar juga. Oleh karna itu Arjuna menurut saat di bawa ke ruangan salah satu dokter.
Sebelum pulang kerumah sederhananya Arjuna mangganti pakaian di toilet umum, pakaian yang ia kenakan tadi sudah tak beraturan dengan noda darah di beberapa bagian. Jika saja Arjuna pulang dalam keadaan kacau seperti itu, ia berani bertaruh jika Elis akan langsung mencekiknya dengan berbagai pertanyaan.
Luka yang ia alami mendapatkan beberapa jahitan, meski tidak dalam lukanya cukup lebar dan menyakitkan.
Arjuna pulang setelah menyelesaikan urusannya, sekitar pukul enam pagi Arjuna sudah tiba di rumahnya. Elis terlihat tengah menyiapkan sarapan untuk mereka.
"El." Arjuna langsung mendekat ke arah istinya menghadiahkan satu kecupan lembut di pipi Elis.
"Sudah pulang? Mau makan sekarang?" Elis menatap dan meneliti wajah Arjuna, semalaman ia tak nyenyak tidur saat tak ada Arjuna di rumahnya, ia sudah mulai terbiasa akan ke hadiran Arjuna sejak beberapa waktu lalu.
"Nanti saja, bersama anak anak. Oh ya, dimana mereka?"
Elis mengabaikan pertanyaan Arjuna, sorot matanya mencoba meneliti wajah Arjuna yang terlihat pucat, mata suaminya juga terlihat sembab seperti selesai menangis.
"Wajahmu pucat. Apa kau baik baik saja?" Elis menyentuh wajah serta rahang tegas suaminya. Arjuna seketika memejamkan mata sebelum menjawab, jika ia menjawab dengan mata terbuka sudah di pastikan Elis akan membaca kebohongan di matanya.
__ADS_1
"Aku baik baik saja. Aku hanya lelah, pulang pergi keluar kota dalam waktu semalam." Arjuna melengos, ia harus segera pergi. Dirinya tak pandai berbohong apa lagi mengarang cerita, bisa bisa Elis mengetahui rahasianya jika ia tetap berada di sana.
"Tidak usah kekantor atau kemanapun hari ini. Kau istirahat saja aku akan menemani."
"Aku harus ke kantor ada beberapa jal yang harus ku selesaikan. Jika kau mau istirahat, diam saja di rumah, tak perlu ijin siapapun." Arjuna meminum teh hangat yang sudah Elis siapkan. Sebenarnya ia sangat ingin beristirahat di rumah apa lagi dengan di temani istri cantiknya, namun Arjuna Elis menanyakan mengenai luka di pinggangnya, ia belum menemui alasan yang tepat untuk mengatakan pinggangnya yang terluka. Elis akan sangat murka jika ia terluka karna menyalamatkan Aida. Ya hal itu yang akan di garis bawahi Elis, wanita itu akan menolak penjelasannya mengenai bakti terakhirnya kepada sang ibu.
Arjuna juga meraih buah naga yang sudah di potong potong kecil dan memakannya dengan cepat untuk mengalihkan ke gugupannya.
Elis menyipitkan mata, Elis tau siapa suaminya? Elis mengenal Arjuna bukan dengan hitungan hari. Melainkan belasan tahun, ia tau ada yang Arjuna sembunyikan darinya. Tapi apa? Itu lah pertanyaannya.
"Ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Elis, seketika membuat Arjuna terkesiap akan todongan pertanyaan dari istrinya. Sebenarnya ini adalah hal yang tepat untuk Arjuna jujur. Tapi Arjuna takut jika Elis akan kembali marah terhadapnya karna sudah mengabaikan peringatan Elis tentang Mama Sri.
"Ti-tidak a-ada." tuh kan, sudah Arjuna katakan jika ia tak pandai berbohong. Ia bahkan berkeringat dingin saat mengatakan hal itu. Apa lagi dengan tatapan Elis yang seakan seperti laser yang menguliti tubuhnya.
"Benarkah?" Elis meragu.
Kesialan untuk Arjuna sendiri karna baju gantinya yang tersedia di mobilnya tinggal warna putih sehingga saat lukanya merembeskan noda merah darah dari celah jaitan juga kain kasa, otomatis langsung mengotori kemeja dan langsung terlihat. Jika saja warna hitam atau navy noda itu akan tersamarkan. Arjuna juga sudah mencari toko baju sembari pulang namun semuanya masih tutup karna hari masih pagi.
"Noda apa ini?" Elis mendekat, namun panggilan seseorang dari depan rumah terus memanggil Elis.
"Neng Elis, Neng Elis." Akhirnya Elis memilih untuk menemui orang itu, dan akan bertanya pada Arjuna nanti saja.
Arjuna mengambil kotak p3k yang sudah ia beli beberapa waktu lalu. Selama Elis menemui tamunya di depan rumah, Arjuna segera mengganti perban juga mengobati lukanya sendiri. Arjuna juga meminum obat pereda nyeri juga pengering luka, yang ia letakan di tas kerjanya. Dalam hati Arjuna terus berdoa semoga Elis tak mendapatinya tengah mengobati lukanya.
Arjuna melupakan kotak obat di meja, karna ia buru buru mencucu bajunya untuk menghilangkan jejak noda darah di bajunya agar Els tak bertanya lagi.
__ADS_1
Elis baru selesai menemui tamunya, yang merupakan pemilik kontrakan, sebelum kembali Elis menemui ketiga anaknya yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
Saat ia dan anak anak kembali, Elis heran saat mendapati kotak p3k diatas meja makan, padahal sebelumnya Elis meletakkan kotak itu di dalam lemari yang ada di dapur.
Arjuna keluar dari dalam kamar mandi, pria itu sudah berganti dengan kemeja berwarna hitam. Di tangannya terdapat sebuah kemeja putih yang ia kenakan tadi namun dalam keadaan basah karna sudah di cuci.
"Kau mencuci?" Elis heran tak biasanya Arjuna seperti ini, mencurigakan.
"Ya, aku mencuci. Tadi bajuku terkena noda buah naga merah, aku takut jika tidak langsung mencucinya nodanya tak akan hilang." Arjuna beralasan. Benar kata orang bijak sekali seseorang berbohong maka selanjutnya orang itu akan terus kembali berbohong untuk menutupi kebohongan yang selanjutnya. Seorang pembohong juga pengingat yang handal, karna ia mampu mengingat ingat kebohongannya hingga bila bila.
"Takut tak bisa menghilangkan noda? Kau seperti si miskin yang bermasah dengan uang sampai takut bajumu tak bersih, padahal kau bisa membelinya lagi." Jawaban Elis begitu menohok membungkan Arjuna untuk beberapa waktu.
Jawaban Arjuna terlihat meyakinkan, tapi entah mengapa Elis merasa janggal dan tidak percaya. Mungkin benar apa yang di katakan Arjuna, jika noda merah di bagian pinggang kiri Arjuna adalah noda dari buah naga yang ia potong, tapi noda merah buah naga dengan noda di pakaian Arjuna terlihat berbeda atau hanya perasaannya saja.
"Juna, apa kotak obat ini bekas kau pergunakan? Apa kau terluka atas sakit?"
"Emm, tadi aku habis meminum paracetamol. Kepalaku sedikit pusing." Arjuna berbohong kembali, pagi ini ia tak menghitungberapa kebohongan yang ia katakan kepada istrinya.
"Oh." Elis mengangguk. Tapi hatinya tetap menolak, karna tau Arjuna berbohong, Elis melihat paracetamol di kotak obat itu masih utuh. Namun Elis membiarkan Arjuna melanjutkan sandiwaranya, lagi pula Elis tidak tau alasan di balik kebohongan Arjuna.
Sebenarnya Elis typikal si ingin tahu yang kuat, tapi kali ini ia tak ingin mengetahui apapun. Ia tak ingin kecewa seandainya Arjuna benar benar menyembunyikan sesuatu, untuk itu Elis hanya akan diam tanpa menyelidiki apapun.
"Mama kapar?" Valery merengek minta makan.
Elis melayani Arjuna dan ketiga putrinya, namun pikirannya berlarian tak tentu arah, biasanya feelingnya kuat, namun kali ini Elis berharap jika feelingnya salah. Hubungannya dengan Arjuna baru saja membaik, rasanya tak rela sesuatu akan kembali mengecewakan hatinya yang sempat hancur.
__ADS_1
"Semoga saja perasaanku kali ini salah. Arjuna tolong jangan mengecewakanku lagi." Elis menjerit jalam hati, maniknya menatap lekat wajah Arjuna dengan beberapa prasangka. Mungkinkah Arjuna mengkhianatinya? Atau melakukan sesuatu di belakangnya?
Namun saat Arjuna balik menatap Elis, wanita itu segera membuang pandangan.