
"Terimakasih." Arjuna mengecup punggung telanjang Elis yang kini berada di bawah guyuran air hangat yang bersumber dari shower yang berada di atas kepalanya.
"Apa ada rasa mual atau eneg di perutmu?" Arjuna kini menggosok punggung istrinya menggunakan telapak tangannya.
"Hanya sedikit. Tapi aku tak ingin muntah kok." Elis tersenyum lembut agar Arjuna tidak mengkhawatirkannya.
"Ya ampun. Aku tak ingat berapa banyak menciptakan tanda kepemilikkan, ternyata sebanyak ini." Arjuna meneliti bagian depan tubuh istrinya yang terdapat beberapa bercak merah keunguan.
"Dari dulu kau memang sangat liar." Cebik Elis.
Keduanya mengenakan pakaian yang sebelumnya mereka lepaskan tadi.
"Kemari biar ku keringkan rambutmu!" Arjuna meraih pengering rambut miliknya.
"Tapi aku sudah terlalu lama berada di dini bagaimana jika ada yang curiga terhadapku?" Elis merasa tak enak, takutnya ada seseorang yang mencurigainya.
"Siapa yang berani mencurigai istri dari pemilik perusahaan ini?" Arjuna berujar sombong dengan aura kepemimpinan yang menguar nyata di balik wajah tegasnya. Arjuna seakan sudah terlatih menjadi pemimpin di manapun ia berpijak.
"Aku di sini sudah hampir dua jam Arjuna. Bagaimana jika karyawanmu mencariku?"
"Ita mengetahui kau di sini, pasti temanmu membari tau mereka jika kau tengah bersamaku."
Arjuna meraih pengering rambut miliknya kemudian menggunakannya di kepala Elis.
"Tapi-"
"Justru jika kau keluar dalam keadaan rambut basah orang orang malah semakin curiga. Jika mereka bertanya tentang apa yang kau lakukan di ruanganku tak mungkin juga kan kau menjawab memandikanku." Rambut Elis kini tengah di keringkan oleh Arjuna.
Setelah di rasa cukup kering Arjuna menyuruh Elis untuk makan lebih dulu sebelum meninggalkan ruangannya.
Arjuna pun sudah membuka tirai serta kunci ruangannya, asisten Jo bahkan sudah menyerahkan beberapa dokumen ke ruangan Arjuna.
Selesai makan Elis pamit undur diri, namun Arjuna menghentikan langkahnya di ambang pintu padahal pintu ruangannya sudah di buka lebih dulu oleh Elis.
Cup.
Satu ciuman Arjuna benamkan di antara belahan bibir istrinya, namun hal itu juga di saksikan Naina. Hal itu tentu saja membuat wanita muda berumur 25 tahun itu menggeram marah. Bahkan sebuah dokumen yang ia bawa menjadi pelampiasan amarahnya.
"Buruk sekali selera pak Arjuna!" gunam wanita itu. Bagaimana bisa di antara banyaknya karyawati yang cantik juga menarik di kantor tempatnya bekerja, tak jarang juga umur rekan kerjanya masih muda, namun Arjuna memilih cemceman seperti Elis yang umurnya sudah menginjak lebih dari 30 tahun.
Jangan lupakan pula penampilan Elis yang menurut Naina sangatlah kuno. Wajah tanpa make up hanya sesekali terdapat lip glos di bibir sensualnya. Manik Elis juga tidak pernah di tambah softlens atau riasan lain hanya ada bulu mata lentik sebagai hiasaannya. Beruntung kulit Elis sedikit putih sehingga wajahnya tidak terlalu buruk menurut Naina.
"Lihat saja aku akan mempermalukanmu Elis! Riska saja pernah di buat malu oleh Pak Juna. Aku yakin Pak Juna tak akan membelamu. Karna hubungan kalian merupakan aib, ya hubungan kalian terlarang. Karna pak Juna sudah memiliki istri." ujar Naina penuh tekad.
Naina memang mengetahui jika Elis di panggil Arjuna beberapa waktu lalu. Ia juga melihat pintu dan tirai ruangan pemilik perusahaan itu tertutup rapat saat dengan sengaja dirinya beberapa kali menyerahkan dokumen kepada Asisten Jo.
Awalnya Naina menampik pemikirannya tentang hubungan dekat antara bosnya dan Elis yang bekerja sebagai Office girl, namun ia melihat dengan matanya sendiri jika bosnya mencium mesra bibir Office girl itu. Ini tidak bisa di percaya, tapi ini nyata.
Naina segera berlalu dari sana untuk menemui rekan rekannya. Karna sebentar lagi makan siang akan di mulai. Naina sudah berniat akan membuat huru hara saat istirahat nanti.
.
__ADS_1
"Guys jangan tertipu dengan penampilannya yang sederhana, jika sebenarnya ada lon tee kelas kakap di kantor kita! Penampilannya yang dekil dan pekerjaannya yang kotor hanya untuk menutupi pekerjaannya sebagai pela cur." Ujar Naina dengan sengaja saat Elis memasuki pantry kantor.
Elis yang tidak merasa tersindir sama sekali terlihat biasa saja ia kini tengah sibuk membuang air pelan di tempat pembuangan. Sedikitpun Elis tak merasa tersinggung atas perkataan Naina, karna memang dirinya tak merasa melakukan hal itu.
"Pantas saja si Romi anak devisi di tolak mentah mentah olehnya, rupanya dia tengah memancing ikan yang lebih besar. Pria kaya raya meski sudah beristri dan mempunyai anak." Naina terus berkoar koar, memancing Elis agar wanita itu membalas ucapannya kemudian dia akan mempermalukan Elis selanjutnya.
Namun seberapa banyak Naina berbicara Elis sama sekali tidak terpancing, ia terus saja mengerjakan pekerjaannya sembari menunggu jam istirahat.
Keributan yang di lakukan Naina membuat beberapa orang terpancing untuk mendekat, terutama para rekannya yang hobi bergibah.
"Sebenarnya siapa yang kau bicarakan Naina? Riska tak masuk hari ini." ujar salah satu rekannya yang berambut pirang. Seraya memberikan cappucino dingin kepada Naina, yang sejak tadi mengoceh.
"Siapa lagi jika bukan janda gatal dengan tiga orang anak. Dia seorang wanita tidak benar." Elis menghentikan kegiatannya mendengar kalimat janda dengan tiga orang anak. Karna di tempat kerjanya hanya ia yang di kenal orang lain dengan janda tiga anak.
"Apa maksudmu Naina?"
"Alah. Tidak usah sok suci deh! Aku tau belangmu Elis. Kau simpanan Pak Juna kan? Aku tau apa yang kau lakukan di ruangan pak Juna beberapa waktu lalu. Kau bahkan berciuman dengannya di ambang pintu." Sekak Naina.
Elis bungkam.
"Kenapa? Kau mati kutu? Tidak memiliki alasan untuk menyangkal tuduhanku begitu? Hehe ..." Naina tertawa meledek.
"Dasar murahaan!"
Byuuur ...
Satu cup es cappucino di tangannya Naina siramkan ke kepala Elis, hingga membasahi rambut juga wajahnya.
"Ada dua tanda kepemilikan di lehernya. Kalian tau yang menciptakan ini pak Arjuna sendiri."
Plak ..
Ita tiba tiba datang dan menampar Naina, tindakan wanita muda itu benar benar keterlaluan, padahal umur Elis beberapa tahun lebih tua di atasnya.
"Jangan lancang kau! Jika kau tau kebenarannya kau akan menyesal." Ita mengacungkan satu telunjuknya di depan wajah Naina.
"Huh, takut sekali aku." Naina terkekeh. Tamparan ita tak berpengaruh sama sekali di wajahnya yang tebal.
"Temanmu yang akan mendapat masalah karna sudah berani menggoda pak Arjuna. Lihat saja aku akan melapor pada istri pak Juna, agar si kumal itu di hancurkan hingga ke dasar." ujar Naina. "Aku memiliki bukti tentang hubungan terlarang mereka." sambung Naina kembali.
Elis tidak bereaksi apapun ia terlihat santai mengambil tissue dan membersihkan wajahnya.
"Ku kira cupu ternyata suhu. Dasar munafik, wanita murahan, menjijikan, penggoda dan perebut suami orang." maki Naina penuh kesal.
Beberapa orang semakin berkumpul menciptakan kerumunan.
Ita juga jika tidak mengetahui Elis istri Arjuna tak akan berani menampar mulut lancang Naina, namun karna ia sudah tau kebenarannya ia yakin Elis akan menyelamatkannya jika ia dalam masalah karna menampar Naina.
"El lakukan sesuatu. Jangan diam saja! Dia menghinamu juga merendahkanmu."
"Ita menurutmu Aku harus melakukan apa jika ucapannya benar? Apa harus aku memanggil suamiku untuk memecatnya? Atau menghancurkannya?" Seringaian sinis tergelincir di sudut bibir Elis.
__ADS_1
"Jika kemarin kemarin kau hanya melihat Elis yang pendiam dan penurut, maka tidak kali ini!"
"Awww ..."
Naina terpekik sakit saat rambut bergelombangnya di jambak dan di dongakan Elis dengan sangat kasar.
"Kau bilang kau tau apa yang ku lakukan di ruuangan Arjuna?" Elis menyebut nama suaminya tanpa embel embel pak. " Benar begitu?"
"Ya aku tau Elis. Dan kau adalah wanita penggoda yang sudah menggoda pria beristri." Naina tak berkutik karna rambutnya di cengkram oleh Elis.
Semua orang terkejut akan keberanian Elis, padahal Naina merupakan karyawan kesayangan manager di kantor mereka.
"Apa ada masalah jika aku menggoda suamiku sendiri?"
"Hahaha ..."
Meski Naina tengah kesakitan tapi mulutnya meletupkan tawa nyaring, merasa lucu akan candaan Elis yang terdengar mustahil. Bahkan beberapa orang menertawakan Elis.
"Yo kalo mimpi ya jangan ketinghian."
"Biasanya orang mimpi tidur dulu, lah ini abis kelihatan belangnya malah mimpi tinggi banget."
"Ngayalnya jangan tinggi tinggi nanti jatuh sakit. Nangess." ujar beberapa orang yang tak menyukai Elis.
"Wah. Kalian sepertinya tidak percaya." Elis terkekeh, bukan salah mereka jika teman teman Elis tak mempercai ucapannya karna hubungan mereka memang di rahasiahkan.
Elis meraih ponselnya dan menghubungi suaminya. Dan melepaskan jambakannya dari rambut Naina.
"Arjuna, ke pantry kantor sekarang. Aku berubah pikiran! Aku ingin hubungan kita di umumkan sekarang juga."
"Arjuna mana yang kau hubungi? Apakah Arjuna tukang parkir kantor sebelah?" ujar wanita berpakaian seksi.
"Kita lihat siapa yang nanti akan malu." Elis duduk di atas sebuah kursi.
Beberapa waktu berlalu, namun Arjuna tak kunjung datang hal itu membuat Naina dan teman temannya tertawa meledek ke arah Elis.
"Jika aku jadi Elis akan lansung bunuh diri karna terlalu malu, ngaku ngaku sebagai istri pak Juna."
"Ada apa ini?"
Sebuah suara terdengar dalam, Arjuna mendekat dan meneliti wajah Elis juga rambutnya yang menguarkan aroma cappucino.
"El. Apa yang terjadi? Kenapa rambut dan tubuhmu basah?" Arjuna bahkam menyentuh pipi Elis yang terasa sedikit lengket.
"Sayang. Apa yang akan kau lakukan jika istrimu di hina dan di permalukan?"
"Sayaaaaang?" ujar semua orang kecuali Ita.
Tiba tiba Aura gelap melingkupi ruangan itu. Arjunga memandangi setiap orang yang berada di sana.
"Katakan siapa yang berani mempermalukan istriku?" tegas Arjuna membuat semua orang bergetar ketakutan.
__ADS_1