
"Benarkah? Bagaimana jika aku tak percaya?" Elis benar benar kembali meragukan Arjuna.
Sebenarnya Elis sendirilah yang membuatnya takut untuk mengatakan kebenarannya. Elis tau bagai mana kerasnya kepala Elis saat sudah menyimpulkan apa ada di otaknya sendiri, Elis akan sulit menerima alasan atau masukan dari orang lain. Arjuna bukan tak ingin jujur hanya saja ia memikirkan beberapa resikonya.
"Aku tak memaksamu untuk mempercayaiku." arjuna memakai bajunya di kamar mandi ia keluar sudah dengan pakain lengkap, haduknya ia gunakan untuk menggok rambutnya yang setengah basah. Sebisa mungkin Arjuna bersikap tenang, mencoba meyakinkan Elis.
Sebenarnya Elis mengintrogasi Arjuna karna satu hal. Ia takut Arjuna sakit keras dan menyembunyikan kebenaran hal itu darinya. Ya tentang mama Sri dan obat itu memunculkan satu kemungkinan itu.
"Mama Sri barusan telepon."
"Apa yang Mama katakan?" Arjuna langsung menegakan tubuhnya. Lalu kemudian ia mulai menguasai ke adaan, terlihat tenang meskipun ia takut jika mama Sri membocorkan perjanjian mereka, lebih tepatnya syarat yang Arjuna ajukan.
"Dia menanyakan kabarmu? Apa kau sakit?" Terlihat jelas rasa cemas di raut wajahnya.
"Tidak. Wajarkan jika Mama menanyakan kabarku."
"Hemm. Kata Mama kau juga tak mengangkat teleponnya kenapa?" Elis menyerahkan ponsel milik Elis.
"Apa mama megatakan hal lain lain lagi?" Arjuna menjawab pertanyaan Elis dengan pertanyaan juga.
"Tidak." Elis menggeleng.
Arjuna bisa bernafas dengan lega, semoga saja ibunya menuruti syaratnya.
"Aku bertanya mengapa kau tak mengangkat panggilan mama?" Elis bertanya kembali, karna Arjuna belum menjawab pertanyaan darinya.
"Katamu aku tidak boleh terlibat apapun dengan Mama. Demi kebaikan keluarga kita jadi aku tak mengangkat panggilan Mama." Dusta Arjuna.
"Jika hanya bertukar kabar tidak masalah asalkan jangan biarkan Mama kembali ikut campur urusan kita."
Elis segera meraih ponselnya, ia ingin mencari tau kegunaan obat yang sempat ia baca di kemasannya. Menunjukan jika salah satu obat itu untuk mengobati rasa sakit juga mempercepat keringnya sebuah luka. Luka? Apa Arjuna sempat terluka? Pertanyaan itu memutar di benak Elis.
Semakin curiga saja Elis. Tapi di mana luka Arjuna. Mengapa Arjuna rapih sekali menyembunyikan lukanya. Baiklah Elis akan membiarkan sampai kapan Arjuna akan berbohong. Tapi sejak kapan dan dimana Arjuna terluka?
Rasa penasaran Elis kembali di undang ke permukaan.
"Kenapa akhir akhir ini kau selalu menutup tubuhmu? Ku perhatikan kau jauh lebih tertutup." Elis heran karna Arjuna bertingkah aneh.
__ADS_1
"Anak anak kita sudah besar El. Kita juga harus mempunyai batasan tubuh mana yang boleh di lihat oleh orang lain selain pasangan. Sekalipun oleh anak anak kita sendiri." Meski itu hanya sekedar alasan nyatanya Zayn tatap membatasi putri putrinya tentang bagian tubuh mana yang tidak boleh di perlihatkan kepada orang lain.
"Rumahnya terlalu kecil, untuk kita menghabiskan waktu berdua. Aku ingin kita pindah ke tempat yang lebih besar El pikirkan lagi. Kan enak jika kita memiliki kamar sendiri juga kamar mandi sendiri. Kita memiliki prifasi sekalipun dengan anak anak."
"Nanti aku pikirkan lagi." Elis beranjak ke kamar mandi ia ingin membersihkan diri.
Sebelum memasuki kamar mandi, ekor matanya tak sengaja menangkap sebuah kain kasa bekas pakai, yang ada di tempat sampah di samping pintu kamar mandi. Ada juga bekas darah yang sudah mengering di kain kasa itu.
"Arjunaaa ..." Elis mengambil benda itu memungutnya dari tong sampah, seraya memanggil suaminya.
"Ya, ada apa?"
Arjuna tercekat di tempatnya berdiri. Matanya membola saat melihat kain kasa bekas pakai yang tadi ia pergunakan ada di tangan Elis. Jantungnya bahkan berdetak dengan sangat cepat saat mendapati sesuatu yang hampir dua minggu ia sembunyikan akan terbongkar. Ia tak memiliki alasan lain lagi untuk mengarang cerita.
"Mengapa ada benda ini di sini?"
"Aku, aku." Arjuna kesulitan menjawab pertanyaan dari Elis. Istrinya itu seakan menelanjanginya sekarang.
"Buka pakaianmu!" Elis berujar datar. Melihat kain kasa yang terlihat masih baru ia yakin jika Arjunalah pemilik kain kasa itu.
"Buka! atau aku yang akan mene langangimu!" Elis tak gentar dan terus menyuruh Arjuna.
Arjuna terus bergunam dalam hati dan terus berdo'a semoga salah satu putrinya bangun dan memanggil Elis. Namun sepertinya do'a Arjuna kali ini tak di dengar oleh Tuhannya.
Elis mendekati Arjuna dan dengan sekali tarikan seluruh kancing kemeja yang ia kenakan terurai, karna Elis menariknya dengan kuat.
Elis melepas paksa pakaian atas Arjuna. Matanya tertuju pada pinggang sebelah kiri Arjuna yang terdapat kain kasa.
Tatapan Elis kini arahkan pada wajah Arjuna.
"Buka perbannya! Aku ingin melihat seberapa besar lukanya." ucap Elis, terdengar kemarahan juga bercampur denga rasa kecewa. Baru mengetahui Arjuna berbohong dan menyembunyikan lukanya saja Elis sudah luar biasa kecewa. Apa lagi jika Elis mengetahui alasan sebenarnya Arjuna berbohong. Baru membayangkannya saja Arjuna sudah bergidik ngeri.
"Ha-hanya lu-ka kecil." Arjuna bahkan tergagap saat Elis menyuruhnya membuka perban.
"Aku tak sakit sama sekali."
"Aku tak bertanya besar lukanya. Aku ingin melihatnya langsung."
__ADS_1
Dengan perlahan Arjuna membuka perbannya, menunjukan sebuah luka yang sudah terjahit, dan Elis rasa itu luka yang cukup besar, panjang jahitannya sekitar 4 senti. Lalu mengapa Elis sebodoh ini sampai tak mengetahui suaminya terluka?
"Luka ini kau dapat saat kau keluar kota?"
Arjuna mengangguk.
"Apa ini juga menjadi alasan kau selalu mengenakan baju bahkan saat kita tengah bercinta?"
Arjuna tak menyangkal ia pun kembali mengangguk.
"Siapa yang melukaimu?"
"Salah seorang musuhku." jawab Arjuna jujur tapi ia tak bisa mengatakan orangnya.
"Siapa? Musuhmu pasti memiliki nama."
"Tidak tau! Aku tidak sempat berkenalan." Arjuna sedikit kesal karna Elis terlalu banyak bertanya.
Tiba tiba Elis berjongkok dan menutup seluruh wajahnya menggunakan kedua bilah tangannya. Elis menangis di sana, kecewa, marah, juga merasa di bohongi. Ia juga merasa tak berguna saat ia tak tau apapun di saat suaminya terluka. Arjuna terlalu rapih menyembunyikan lukanya. Namun bak pepatah serapih rapihnya orang menyembunyikan bangkai lama lama baunya akan tercium juga. Termasuk penyebab utama Arjuna terluka lama lama akan ketahuan juga. Kita tunggu saja bom waktunya.
"Kenapa kau menyembunyikan lukamu?" Elis terisak pelan.
"Aku hanya tak ingin kau khawatir." Arjuna memang tak berbohong kali ini. Tapi ia hanya mengatakan sebagian alasannya saja, sedangkan alasan lain hanya mampu ia katakan dalam hati.
"Aku istrimu bukan orang lain, wajar jika aku khawatir." tutur Elis. Tapi yang paling Arjuna takutkan adalah Elis pergi karna ia melanggar perjanjiannya, juga di tambah beberapa kebohongannya.
"Aku merasa tak berguna dan menjadi wanita bodoh saat tak mengetahui apapun tentang lukamu. Bukankah kau mengatakan akan terbuka terhadapku. Tapi mengapa sekarang kau malah berbohong kepadaku?" Elis semakin meraung tertahan, karna takut ketiga putrinya terbangun oleh suaranya.
"Hanya sedikit El." Arjuna bahkan menggigit lidahnya sendiri atas ucapan dustanya.
"Besar ataupun kecil kau tetap berbohong Arjuna!" Elis meninggikan suaranya satu oktaf.
"Ya Tuhan. Ternyata tidak mudah untuk membohongi seorang wanita." lirih Arjuna dalam hati
"Aku baik baik saja El."
"Kau mungkin baik baik saja, tapi aku yang terluka." Elis semakin terisak.
__ADS_1