Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Ucapan selamat atas ...


__ADS_3

"Siapa itu?"


Elis sudah panik, ia takut jika seseorang yang datang adalah Arjuna atau anak buahnya. Chifs di tubuhnya belum Yudhistira temukan, maka besar kemungkinan orang di luar adalan suaminya bersama beberapa anak buahnya.


"Kau tenang. Aku akan memeriksanya, bisa saja itu petugas hotel atau orang yang suruh untuk ke mari." Meski begitu, Yudhistri menyelipkan senjata di celana di dekat pusarnya, ia tak ingin mengambil resiko apapun apa lagi sampai membahayakan wanita yang tengah bersamanya.


"Tapi-"


"Masuklah lebih dulu ke dalam kamar mandi. Aku janji akan melindungimu!"


Yudhistira segera mengambil obat penengang yang ia bawa di tas kecil miliknya dan mengambil obat itu melalui suntikan.


Dor ...


Dor ...


Kembali gedoran pintu itu terdengar di seluruh sudut kamar.


Yudhistira bersikap tenang, secara perlahan ia membuka pintu. Dapat Yudhistira lihat seorang berkepala plontos menatapnya penuh selidik, sepertinya orang itu tak mengetahui siapa Yudistira.


Pria tanpa rambut itu memang seseorang yang Arjuna tugaskan untuk berpencar dan mencari istri tuannya ke seluruh penjuru kamar hotel. Nasib baik bagi Yudhistira jika yang datang ke kamarnya adalah orang yang tidak mengetahui tentangnya.


"Ada apa?" Yudhistira bertanya dengan amat tenang, ia sangat yakin jika tak jauh dari sana ada rekan rekan pria itu.


"Maaf mengganggu kenyamananmu Tuan! Saya di tugaskan untuk memeriksa kamar anda, untuk mencari seseorang. Dan saya sudah mendapatkan ijin dari manager hotel ini." Pria berkepala pelontos itu berujar sigap, tubuhnya tinggi besar dengan kumis di atas bibirnya.


"Silahkan." Yudistira memberikan jalan untuk pria itu kemudian menutup pintu. Tanpa basa basi Yudhistira menancapkan sebuah suntikan di tengkuk pria itu.


"Apa yang kau?-" tak sempat menyelesaikan ucapannya Pria itu sudah tergeletak di antas lantai.


Yudhistira buru buru menghampiri Elis yang bersembunyi di dalam kamar mandi.


"Ayo cepat kita harus pergi! Orang orang yang mencarimu semakin banyak." Yudhistira menarik pergelangan tangan Elis untuk keluar dati kamar hotel itu.


Elis berhenti, saat melihat ke arah tubuh seseorang yang tergeletak di atas lantai.


"Kau membunuhnya?" Jantung Elis sudah berpacu dengan sangat cepat, ia takut jika kakaknya membunuh seseorang saat bersamanya.


Tidak tau saja Elis jika Yudhistira kerap kali bermain dengan kematian.


"Tidak."


"Lalu mengapa dia memejamkan mata?"


"Dia tak sadarkan diri."


"Aku tau, tapi kenapa?" Elis mencoba mengecek pernapasan orang yang tergeletak itu, nafasnya teratur.


"Aku menyuntikan obat penenang padanya."


"Kau seorang dokter?" Baru Yudhistira tau jika adiknya sangat cerewet.

__ADS_1


"Nanti ku jelaskan. Yang terpenting kita harus pergi." Yudhistira menyelinap, juga beberapa kali bersembunyi saat membawa Elis lari dari hotel itu. Yang ia pikirkan adalah keselamatan Elis, namun yang menjadi pikirannya mengapa Arjuna sampai mengerahkan banyak orang hanya untuk sekedar mencari adiknya.


apa adiknya sebagai pelaku kriminal? mengapa bisa Arjuna sampai segencar itu untuk mencari Elis?


Dengan penuh perjuangan, Elis dan Yudhistira sampai di parkiran, dan segera masuki mobil Yudhistira berada.


Yudhistira mengambil ponsel miliknya dan menyalakan senternya. "Kemari, biar ku buang chips di tubuhmu." Yudhistira mengambil sebuah cuter di dasboart mobil miliknya.


"Jangan menggorok leherku!" Elis menutupi lehernya sendiri.


Lama lama jengkel juga Yudhistira oleh tingkah adiknya itu. Mana mungkin ia berniat menggorok leher adiknya sendiri.


"Tidak Lisa, aku hanya mau mengeluarkan chipsnya. Ini tak akan sakit tapi akan seperti di gigit semut." yudhistira mendekatkan kepala Elis ke arah dadanya.


Elis menjauhkan tangannya, kemudian ia membiarkan Yudhistira mencari dan mengeluarkan benda itu.


"Diam aku menemukannya." secara hati hati Yudhistira goreskan cuter itu di tengkuk Elis.


"Dapat." tak lama Yudhistira berujar bertepatan dengan Elis yang memekik.


"Ya Tuhan."


"Ada apa? Apa sakit?" Yudhisyira bahkan meneliti tengkuk Elis yang barusan ia gores sedikit menggunakan cuter.


"Semua barang ku tertinggal di kamarku. Juga foto ke tiga putriku. Aku ingin mengambilnya."


"Jangan Lisa! Ini sangat berbahaya, kita pulang ke rumahku. Setelah ini beberapa hari, aku sendiri yang akan mengantarkanmu ke rumah suami serta anak anakmu. Ingat semua hal bisa di bicarakan baik baik." Yudhistira membuang alat itu melalu jendela mobilnya.


Tujuan Yudhistira sekarang adalah ke rumahnya yang berada tak jauh dari kota itu, sebuah tempat singgah jika dirinya tengah melakukan perjalanan bisnis di tempat itu.


Arjuna di buat kalang kabut saat tak menemukan istrinya di semua sudut hotel, dari salah satu kamar hotel Arjuna mendapatkan beberapa barang milik istrinya, lengkap dengan potret tiga biah cintaereka.


"El, kemana lagi dirimu?"


Anak buah Arjuna yang lain mendapi rekan kerjanya tengah tak sadarkan diri di salah satu kamar, tak jauh dari sana ada jarum suntik bekas pakai, yang kemungkinan besar isinya adalah sejenis obat tidur. "Apa Yudhistira yang melakukan ini semua?"


Arjuna semakin merasa cemas, takutnya Elis bertemu dengan Yudhistira dan di sekap oleh pria itu. Arjuna sangat takut jika apa yang di lakukan Yudhistira terhadap Aida, terjadi kembali kepada istrinya. Sungguh jika semua itu sampai terjadi, Arjuna tak akan memaafkan dirinya sendiri.


Arjuna mematung beserta beberapa orang orangnya di parkiran hotel, "Terakhir alat itu aktif di sini tuan." Asisten Jo mengatakannya.


"Apa mungkin alatnya rusak atau tak ada jaringan sehingga kita kehilangan jejak istriku?"


"Tak mungkin Tuan. Alat itu secara otomatis bekerja di hawah kulit melalui suhu tubuh. Kecuali-" Asisten Jo menjeda kalimatnya.


"Kecuali apa?" Bentak Arjuna, ia tak ingin jika Asisten Jo mengatakan jika sesuatu hal buruk terjadi kepada istrinya.


"Kecuali orang yang di pasang alat itu tiada atau alat itu di di lepas dari tubuh penggunanya."


"Katakan dengan jelas maksud tiada yang kau katakan?" Arjuna mengangkat kerah kemeja Asisten Jo.


Ini sudah nyaris pagi, tapi sampai saat ini mereka belum mendapati kabar tentang Elis.

__ADS_1


"Itu, hanya perkiraanku saja tuan. Tapi besar kemungkinan benda itu sudah di lepas dari tubuh Nyonya." Susah payah Asisten Jo berkata karna kencangnya tarikan tangan majikannya di kerah kemeja yang ia kenakan.


Arjuna melepaskan tubuh asistennya. Hingga Asistenju meluruh ke bawah dengan terbatuk batuk.


"Menurutmu siapa yang bisa membuang alat itu dari tubuh istriku."


Asisten Jo mengatupkan mulutnya rapat, bukan ia tak tau siapa pelaku yang sudah membuang alat itu, hanya Asisten Jo takut jika Tuannya akan kembali meluapkan amarah pada dirinya jika ia mengatakan besar kemungkinan Yudhistiralah yang bisa melakukan hal itu. Karna tidak semua orang dapat melakukan hal seperti itu.


"Jawab!"


Arjuna membentak, bahkan beberapa orang orang Yudhistira terjengikt kaget karna bentalan Tuan mereka.


"Yudhistira Tuan. Hanya pria itu yang bisa menditeksi juga mengeluarkan benda yang Tuan tanamkan." Ujar Asisten Jo seraya menunduk.


"Apa Yudhistira adalah pria bertato di tangannya?" Tanya pria yang tadi sempat tak sadarkan diri?


"Ya," Jawab Arjuna. Maniknya kini meneliti ke arah pria berkepala plontos.


"Tadi saat saya hampir tak sadarkan diri, samar samar saya mendengar suara Nyonya Elis." Papar pria itu. Dan saat itu juga lutut Arjuna serasa di lolosi satu persatu. Benarkah istrinya tertangkap.


"Apa kau yakin?" Asisten Jo bertanya pada oria itu, ia menyadari ke panikan di wajah Tuannya.


Pria tanpa rambut itu hanya diam, artinya ia tak yakin dengan ucapannya sendiri, karna saat ia mendengar suara seorang wanita tadi, dalam keadaan setengah sadar.


Ting ...


Ting ...


Sebuah pesan, dari nomor yang tidak di kenal, pesan itu masuk ke ponsel miliknya dengan ucapan selamat yang justru seakan menjadi pukulan telak terhadap ulu hati Arjuna.


"SELAMAT ATAS KEMATIAN ISTRIMU." Pesan itu tertulis menggunakan huruf kafital semua, membuat jantung Arjuna semakin bertalu talu.


Seluruh badan Arjuna bahkan bergetar dengan hebat, keringat dingin seakan di siramkan di tubuhnya seketika membasahi setiap inci kulitnya.


"Ini tak mungkin."


Arjuna bergunam pelan. Dengan sigap Asisten Jo menopang tubuh tuannya agar tidak tumbang.


Ponsel Arjuna juga segera di ambil alih oleh Asisten Jo.


"Wanitaku tak mungkin mati!" Arjuna menggeleng dengan ketakutan yang luar biasa.


Tak lama setelah itu.


Ting ...


Notifisi pesan masuk berupa gambar beberapa otmrang serta pihak kepolosian.


"Jika ini benar terjadi, jadilah saksi atas kehancuran hidupku Jo." Suara Arjuna sangat serak dan menggetarkan hati setiap orang yang berada di sana.


Ting ...

__ADS_1


Satu gambar masuk kembali.


Membuat Arjuna juga Asisten Jo memaku di tempatnya berdiri.


__ADS_2