
"Dari mana saja kau?" Yudhistira bertanya kepada istrinya yang baru saja datang setelah sejak kemarin istrinya menghilang dan yang Yudhistira ketahui Soraya habis bersenang senang.
"Aku cemburu terhadapmu saat kau menyekap seorang wanita berkerudung itu di gudang rongsok." ujar Soraya mengerucutkan bibirnya, sebisanya ia berakting senatural mungkin. menghindari kecurigaan yang mugkin saja Yudhistira rasakan terhadapnya.
"Benarkah begitu? Kau tak berbuat hal macam macam di belakangku kan?" Tanya Yudhistira penuh selidik.
"Tentu saja tidak." Soraya membuang semua jenis ke takutannya.
"Istirahatlah! Aku akan menemui wanita sundal itu." Perintah Yudhistira kepada istrinya. "Berikan aku seorang pewaris Soraya! Atau aku akan menghabisimu dalam waktu dekat." Sejak awal Yudhistira menikahi Soraya memang demi seorang anak, itu akan memperkuat posisinya saat tiba saatnya nanti untuk mengeruk seluruh kekayaan peninggalan ayahnya.
"Iya, iya aku akan melakukan program hamil kembali." Soraya juga merasa nyapnyap saat dirinya tak kunjung hamil padahal saat pernikahannya yang terdahulu dengan Yudha ia tidak lama segera mendapatkan Rain. Namun saat dengan Yudhistira sudah lebih dari tiga tahun ia menikah tapi tak kunjung mendapatkan seorang anak juga.
"Aku sudah cukup bersabar selama ini. Jika dalam waktu tiga bulan kau tak hamil juga, mau tak mau aku harus melenyapkanmu. Bukankah itu perjanjiannya." Yudhistira berjalan meninggalkan Soraya, tempat yang ia tuju adalah sebuah gudang di belakang rumahnya, yang ia pergunakan untuk menyekap Aida.
Aida terlihat duduk di sebuah sudut ruangan, tatapan matanya terlihat kosong dengan beberapa lebam yang menghiasi wajahnya yang semula ayu. Namun saat Aida menangkap kehadkran Yudhistira Aida berteriak tak terkendali. Terlihat jelas jika wanita itu sangat tertekan atas tindakan pria yang berada di ambang pintu, yang terlihat semacam malaikat pencabut maut dengan cambuk di genggamannya.
"Lepaskan aku! Sialan!" teriak Aida, meski tangan dan kakinya tak terikat tapi Aida tak dapat melakukan apapun, entah mengapa tubuhnya terasa tak memiliki daya bahkan untuk sekedar berdiri saja ia tak mampu.
"Melepaskanmu? Mustahil ku lakukan. Bukankah kau menantu kesayangan Srikandi si wanita serakah itu? Aku penasaran bagai mana reaksi wanita itu melihat menatu kesayangan yang ia tampung di rumahnya setelah di cerai putranya. Ini mencurigakan Aida." Yudhistira sedikit mencium bau bau mencurigakan dari wanita yang ia nilai sangat serakah itu.
"Kau salah sasaran berengsek jika membalas dendam denganku! Di luar sana istri Arjuna yang sesungguhnya tengah berkeliaran dan hidup bahagia bersama ketiga putrinya." Aida terus berbicara.
"Tiga putri, wow! Aku kehilangan banyak informasi, Arjuna bahkan memiliki tiga orang putri. Apakah dia juga memiliki seorang putra?"
"Seandainya saja kau tak melenyapkan bayiku mungkin aku akan hidup bahagia dengan Arjuna. Dan wanita itu akan di buang oleh mertuaku dan Arjuna. Kau mengacaukan semuanya Yudhistira! Kau lebih dari seorang iblis!" Aida kehilangan kendali hingga membuat Yudhistira menatap berang ke arahnya, Yudhistira menyimpulkan jika sejauh ini Arjuna belum memiliki seorang putra, dan pewaris itu berada di anak laki laki jadi ketiga putri Arjuna bukan merupakan batu sandungan untuknya.
Tanpa kata tanpa aba aba, Yudhistira menggunakan v
Cambuk miliknya di tubuh Aida.
Clash ...
Clash ...
Raungan teriakan terdengar menggema di ruangan yang di penuhi barang bekas itu.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin sekali melenyapkanmu Aida. Namun ini bukan saatnya, kau harus menerima hukuman dari dosa dosamu lebih dulu. Sesama iblis sangat di perbolehkan untuk menghabisi iblis lainnya."
Clash ...
Clash ...
"Aaaa ..."
"Aaaa ... Sakit, sakit."
Teriakan demi teriakan Aida tak Yudhistira gubris, pria itu layaknya pria tuna rungu yang tak mendengar jerit kesakitan dari tawanannya.
.
Dua hari Elis di rawat di rumah sakit, dan hari ini Elis di perbolehkan pulang, selama itu pula Arjuna bekerja dari rumah sakit. Hal itu membuat Ita temannya Elis semakin curiga karna bos besarnya tidak masuk kantor sama seperti temannya.
Akhirnya Ita memutuskan untuk menjenguk Elis di hari ketiga temannya yang tak masuk kerja. Tepat pukul setengah empat sore Ita pulang dadi kantor, ia sengaja mampir di tukang buah pinggir jalan untuk membeli beberapa buah yang akan ia bawa untuk berkunjung ke rumah temannya.
Bukan hanya buah saja yang Ita beli, janda tanpa anak itu juga membeli beberapa jajanan linghir jalan untuk anak anak Elis. Sepintas Ita merasa curiga, sudah hampir sebulan Elis tak pernah meminjam uangnya untuk memenuhi kebutuhan ketiga anaknya. Padahal di waktu waktu sebelumnya Elis hampir tiap tanggal 20 pasti akan meminjam uangnya untuk menyambung anak ketiga anaknya. Apakah kehiduapan Elis sudah membaik? Pertanyaan itu muncul di benak Ita, atau memang karna Ayah anak anak Elis sudah kembali. Untuk sejenak Ita tak memikirkan mengenai tempo hari nomor Arjuna yang menghubunginya.
Jikapun membeli ayam Elis hanya akan memakan kepala, leher dan cekernya saja sedangkan dagingnya Elis berikan kepada ketiga putrinya. Sungguh Ita merasa salut akan ketangguhan Elis mdngurus ketiga putrinya. Sekalipun Elis tak pernah absen memberikan uang jajan kepada anaknya, entah ia pinjam maupun kasbon dari managernya. Elis selalu mengatakan tak tega jika seandainya putrinya tak di beri uang jika teman tannya jajan maka putrinya juga harus.
Ita mengendarai motor miliknya ke gang sebuah gang tempat Elis tinggal.
Ita memarkir motornya di parkiran umum yang tak jauh dari rumah kontrakan Elis. Ita sepertinya mdngenali mobil berwarna hitam yang terparkir di tanah lapang dengan beberapa pohon kirsem dan pohon angsana di pinggiran tanah lapang itu.
"Seperti mobil pak Juna." tapi Ita meampik tebakannya, banyak orang di kota ini yang memiliki mobil yang sama dengan bosnya itu.
Elis berjalan dengan beberapa barang bawaannya. Ada buah klengkeng juga buah jeruk yang ia bawa juga beberapa jajanan seperti telur gulung dan pukis yang ia beli di pinggir jalan untuk anak anak Elis.
Rumah Elis terlihat sepi. Mungkin anak anak Elis tengah mengaji karna yang Ita tau jika jadwal mengaji anak anak di tempat Elis tinggal adalah sore hari.
Ita mengucapkan salam dan mengetuk pintu dari luar.
"Assalamualaikum El."
__ADS_1
Tok
Tok ...
Berkali kali Ita mengetuk pintu.
Elis yang tengah di pijat Arjuna langsung beringsut. "Arjuna ada Ita. Sembunyi Arjuna." Elis takut jika Ita melihat kehadiran Arjuna di tempatnya.
"Sembunyi? Biarkan saja El temanmu tau jika aku ayah anak anak." Arjuna berujar santai.
"Aku takut dia pingsan Arjuna. Sembunyilah dulu. Lain kali aku akan memperkenalkanmu dengan Ita."
"Tapi sebagai suamikan?"
"Ya. Nanti aku kenalkan kau sebagai suamiku." Elis mendorong Arjuna memasuki kamar sebelum ia membukakan pintu.
Di luar Ita merasa Aneh, di sana terdapat satu pasang sepatu pantofel juga srpasang sendal pria yang Ita yakin bukan orang sembarangan pemilik dua pasang benda itu. Sebenarnya apa yang Elis rahasiahkan?
Elis membuka pintu.
"Waalaikum salam."
"Ish. Lama kali kau buka pintu." Ita langsung nyelonong masuk. Ia terlihat memperhatikan barang barang di rumah Elis. Di sana juga sudah terpasang ac.
"Aku habis dari belakang."
"El, kau tak melakukan hal macam macam kan?" Ita langsung menodong Elis dengan pertanyaan.
"Macam macam apa maksudmu?"
"Kau tidak open B o kan? untuk membeli barang barang juga menafkahi anak ankmu."
"Astaghfirullah Ita! Hati hati jika berbicara."
"Terus terang aku curiga."
__ADS_1
Ita menatap penuh selidik ke arah Elis. Wajah pucat Elis terlihat terjengkit akan tuduhan temannya.