
Berkeliling di kantor yang cukup besar dan luas ini membuat Shasa sedikit lelah dia sesekali menggerakkan tubuh nya yang sudah tampak tak nyaman lagi berjalan karena betisnya sudah terasa pegal
" Pi, seperti nya Shasa sudah lelah dia harus beristirahat terlebih dahulu" ujar Raihan menatap Shasa
" Tumben dia berbaik hati, pasti ada apa-apa nya" Batin Shasa mulai tidak enak hati menatap tajam pada Raihan
" Jangan berpikir buruk, bagaimana pun gue masih punya hati nurani karena lo perempuan" bisik Raihan yang tau arti tatapan Shasa
Shasa mencoba mengsugesti dirinya untuk berpikir positif, mungkin benar Raihan kasihan pada nya saat ini
" Maaf...Papi terlalu bersemangat mengenalkan Shasa,kalau begitu bawa dia keruangan mu sekarang Rai" ujar Byan tersenyum kecil
Raihan menggenggam tangan Shasa dan menuntun kearah ruangan nya karena terlalu lelah Shasa tidak menolak ajakan Raihan
" Gue masih ada kerjaan lo duduk dulu di sofa, Kalau mau baring silahkan anggap saja ruang kerja mu tidak akan ada yang datang" ucap Raihan tersenyum manis, menurut Shasa selama pernikahan mereka ini senyuman termanis Raihan membuat Shasa merasakan kalau ketampanan Raihan bertambah berkali-kali lipat
__ADS_1
" Makasih" jawab Shasa sambil berjalan ke sofa dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan menghela nafas panjang, kalau tau begini tadi lebih baik dia menolak ajakan Mertua nya, kantor Byan cukup besar membuat pipi Shasa terasa pegal karena tersenyum sok ramah tadi pada semua karyawan
" Satu,, Dua, Tiga-" Raihan mencoba menghitung pelan sambil menahan tawa nya dan hitungan ke sembilan terdengar pekikan kuat dari bibir Shasa
" Aaaaakkkkkk"
" Hahahaha......" Tawa Raihan meledak melihat Shasa yang lari ketakutan dari ruangan nya
Raihan meletakan ular mainan di bawah bantal sofa, Dia meminta di belikan oleh Rendra tadi dan meletakan nya saat Shasa tengah bersama papi nya
" Kenapa Sha????" tanya Byan terkejut mendengar pekikan sang menantu,Jarak ruangan Byan dan Raihan hanya tiga ruangan dan masih di lantai yang sama..
Wajah Shasa berubah pucat karena ketakutan, Byan segera masuk keruang Raihan dan melihat Raihan yang terdiam menahan tawanya, seperti nya ini perbuatan putra nya itu
" Rai...kenapa Shasa?" tanya Byan yang mulai emosi
__ADS_1
" Kenapa apa nya pi" jawab Raihan seolah-olah tidak mengerti
" Shasa ketakutan Rai,,ini bukan lelucon bagaimana jika dia punya Fobia, bagaimana jika Shasa jantung, lelucon mu tidak masuk akal" kesal Byan
" Buktinya Shasa baik-baik saja kan pi,jangan berlebihan begitu lagi pula hanya ular mainan" jawab Raihan pelan
" Kau benar-benar kelewatan Rai" marah Byan segera memeluk sang menantu yang ketakutan dan membawa Shasa pergi
" Lo kelewatan Rai, gue nggak mau ikut campur ya kalau bos marah" ujar Rendra yang ikut khawatir
" Kenapa?? Lo takut di pecat... penjilat lo" marah Raihan lalu mendorong Rendra keluar ruangan nya
Raihan terdiam,tadi dia sempat melihat wajah ketakutan Shasa memang benar perempuan itu gemetar apa dia memang kelewatan membalas perbuatan Shasa tadi pagi Raihan mengeram kesal sambil menarik rambut nya sendiri
" Tolong di antar pulang menantu saya pak" ujar Byan pada sang sopir
__ADS_1
" Sha langsung pulang ya, jangan kemana-mana kamu belum paham Jakarta, katakan pada mami tidak perlu ke kantor siang ini " ucap Byan mengelus lembut lengan sang menantu yang terlihat masih syock
Shasa mengangguk patuh dengan ucapan sang mertua,tubuh nya juga sudah terasa lelah dan merindukan kasur...