
" Jangan lo kira gue cewek lemah yang bisa lo tindas seenak nya Rai,lo salah besar....!!!" ucap Shasa puas, Shasa tak hentinya menahan tawa jika mengingat Raihan yang akan menggaruk tubuh nya tanpa henti hari ini
Raihan tidak masuk bekerja karena dari tadi tubuh nya terasa panas dan gatal membuat Melinda sendiri khawatir pada anak bungsu nya ini
" Kenapa bisa begini sih Rai,,lihat nih kulit nya sampai ada yang lecet, ke dokter saja ya,mama takut kamu alergi" ucap Melinda saat menggosok tubuh Raihan dengan bedak untuk mengurangi rasa gatal nya
" Nggak ma,minta di belikan pil saja dengan mang Udin" jawab Raihan pelan
Raihan memang tidak memberitahu pada Melinda kalau ini ulah menantu kesayangan nya, Karena dia akan membalas kan dendam nya pada Shasa, menurut nya Shasa sudah menyiksa dirinya secara tidak langsung dia juga akan membuat Shasa demikian
Melinda meminta mang Udin sopir pribadi nya membeli salep dan obat gatal di apotik lalu membantu Raihan meminumnya, lima menit berlalu lelaki tampan itu agak sedikit tenang tapi tubuh nya sudah penuh dengan bekas merah seperti orang alergi bahkan pipinya sedikit membengkak
Shasa sengaja menghabiskan hari nya untuk bekerja dan ke salon agar terhindar dari amukan Raihan, Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam tapi Shasa sudah menghubungi Melinda kalau dia akan pulang telat karena banyaknya pekerjaan
Shasa melihat lampu di ruang tamu sudah mati tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan, Shasa masuk perlahan kedalam rumah dia berharap Raihan sudah tidur agar dirinya aman malam ini
"Clek" pintu kamar terbuka terlihat Raihan sudah terbaring di atas ranjang, Shasa menghela nafas panjang merasa kalau sudah aman
Shasa segera membersihkan diri dan mengganti pakaian nya lalu naik perlahan ke atas ranjang dan bersiap tidur, Sekilas Shasa menatap wajah Raihan yang membengkak oleh ulah nya
__ADS_1
" Astaga....kenapa sampai begini parah" batin Shasa
" Pasti perih,,,gue kelewatan becanda nya" gumam nya pelan menyentuh pelan pipi Raihan yang memerah seperti orang alergi
" Maaf Rai....habis nya lo nyebelin jadi gue balas lah, kirain nggak sampai separah ini efek bubuk nya"oceh Shasa pada dirinya sendiri
Shasa merasa kasihan pada Raihan, pasti Raihan kepanasan karena kulit nya memerah,Shasa menyingkirkan selimut di tubuh Raihan dan berbaring di sebelah nya,malam ini Shasa tidak memberikan pembatasan takut mengganggu tidur Raihan
****
Tangan Raihan sudah menyelinap masuk kedalam baju tidur Shasa, tanpa dia sadari saat ini Shasa sudah ada dalam dekapan nya
Raihan menarik tangan nya cepat, karena takut pekikan Shasa membangun kan seisi rumah
" Sha,lo nggak bisa diem apa, pagi-pagi selalu berisikan malu di dengar mami"
" Mestinya lo yang malu tangan nya maling terus" ketus Shasa
" Maling gimana,jangan Fitnah ya lo" ujar Raihan mulai emosi
__ADS_1
"masuk ke baju gue tanpa permisi apa nama nya kalau nggak maling"
" Kalau permisi emang boleh?" tanya Raihan tak kalah ketus
" Ya nggak lah,gila aja lo....!!! "
" Lagian jangan ada sentuhan fisik deh Rai... keenakan di lo nanti nya kalau kita pisah" ujar Shasa
" deg ..."
Pisah.....!!! kenapa Shasa berpikir untuk pisah sedang kan dirinya tidak pernah memikirkan pisah dari Shasa meskipun Raihan tidak mencintai Shasa tapi dia membutuhkan Shasa untuk hak warisan nya
" Muka lo udah nggak bengkak lagi Rai?" tanya Shasa melihat wajah Raihan yang tidak memerah lagi
" Lo becanda nya kelewatan Sha kalau gue mati gimana? mau jadi janda lo?"
" Minimal janda perawan Rai, jadi masih bisa lah ngecengin brondong" jawab Shasa asal sambil tertawa kecil membuat Raihan jadi mengingat Arif,Apa mungkin kalau dia mati Shasa akan menikah dengan Arif...
Shasa segera beranjak ke kamar mandi karena hari ini masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum pembangunan di mulai
__ADS_1