
"Kenapa?" tanya Nayla dan Sisil bersamaan.
"Karena, Juna bisa saja ngasih tau hal ini ke Farel," sahut Syakila dan diangguki Desy.
"Ohh gitu," sahut Sisil.
"Hmm, tapi ini bisa jadi kesempatan bagus buat Kita," ucap Nayla.
"Iya, tapi gimana kalau Kita udah sampek titik finish ada kubangan?" tanya Desy.
"Ya loncatlah," sahut Nayla.
"kalau tuh kubangan besar?" tanya Desy.
"Cari cara lain lah," sahut Nayla.
"Nah itu, dari pada Kita ikutin jalur finish yang nggak meyakinkan, mending juga ikut jalur finish yang udah pasti," sahut Desy memberitahu dan diangguki Syakila serta Nayla.
"Kenapa bahas jalur finish? emang mau ada lomba ya?" tanya Sisil sembari memakan cakenya.
"Hedehh, goblok banget dah temen Gue," sahut Desy sembari memijat pelipisnya.
"Maksud Desy dar---" ucap Nayla terhenti karena dibungkam oleh Desy.
"Stststt diem, nggak usah dijelesasin, cuman bikin kita pusing," seru Desy dan melepas bungkamanya.
"Terus gimana tuh sama temen kamu Sya?" tanya Nayla.
"Emm, kita bius dulu gimana? kalau bisa dia beberapa hari disini dulu, Gue takut dia bongkar rencana Kita," sahut Syakila.
"Boleh sih, tapi Orang Tuanya gimana?" tanya Nayla.
"Bukan cuman orang tuanya, sekolahnya dia gimana?" tanya Desy.
"Hmm bentar," ucap Syakila sembari mencari ide, "Untuk orang tuanya, gue bisa minta tolong orang, buat bilang ke Orang Tua Reza kalau dia lagi main, kalau urusan sekolah lebih baik ijin sakit gimana?" tanyanya meminta saran.
"Untuk yang orang tua kayaknya beres, cuman Gue agak ragu sama yang ijin sekolah," ucap Desy.
"Aku juga, Takutnya kalau Wali Kelas kalian nelpon Orang Tuanya Reza buat nanyain kabarnya bisa gawat," pendapat Nayla.
"Gimana kalau ijin pergi keluar negeri, Wali Kelas nggak mungkin nanyain," saran Sisil.
"Bagus juga, tapi masih beresiko," sahut Desy.
"Semua recana buruk pasti ada resikonya," ucap Syakila jengah.
"Hehehee, iya juga ya," sahut Desy sembari terkekeh kecil.
"Ada ide lain?" tanya Nayla.
Mereka berempat pun berfikir dan tak lama.......
"AHAA, Aku tau," seru Sisil mengejutkan Syakila, Nayla dan Desy.
"Apa?" tanya mereka bertiga secara bersamaan.
"Sisil lupa," sahut Sisil.
Plakk
Desy melempar bantal sofa ke arah Sisil, "LO BISA SERIUS KAGAK HAH!" emosinya dan hendak menghampiri Sisil, namun tubuhnya ditahan oleh Nayla.
Sisil yang mengetahui Desy hendak memberinya pelajaran, langsung berlari dan bersembunyi dibelakang Syakila.
"SINI LO!" pinta Desy dengan nada tinggi.
"Udah Des, entar Reza bangun loh," sahut Syakila dan Nayla pun melonggarkan pelukannya.
"Ahh, Sisil sekarang inget," sahut Sisil tiba-tiba.
"Kalau Lo bilang lupa atau ide yang nggak masuk akal, Lo bakalan tau akibatnya!" ancam Desy sembari menunjukan tangannya yang siap meninju orang.
"Iii-iya, gimana kalau kita buka handphonnya dan dari situ kita cari tau informasi yang dapat Kita jadikan senjata buat Reza tutup mulut?" pendapat Sisil.
"Ide bagus, boleh nih Kita coba," sahut Syakila setuju.
"Aku juga," sahut Nayla.
"Hmm Gue juga setuju, Kalian langsung aja ke kamar dan gledah handphonnya, Gue siapin laptop buat jaga-jaga," ucap Desy memberitahu dan diangguki ketiganya.
Syakila, Nayla, dan Sisil pergi ke kamar Reza, sedangkan Desy pergi ke kamar lain mengambil laptopnya.
...🌸...
Syakila mengambil handphone Reza dari kantong celanya dan mulai mengledahnya. Layar handphone itu dikunci, membuat Nayla harus mengotak atiknya selama tujuh menit dan akhirnya terbuka.
"Hmm, enaknya mulai dari mana ya?" ucap Syakila menanyakan pendapat Sisil dan Nayla.
"Emm, chat dulu aja baru galeri," saran Nayla dan diangguki Sisil.
Syakila pun mematikan data handphone itu dan membuka chat, supaya tidak terlihat sedang online. Terlihat disana ada beberapa grup sekolah dan juga grup lain.
Nayla berada disamping kanan Syakila dan Sisil berada disamping kiri. Saat Syakila hendak menggeser layarnya ke atas, tangannya ditahan oleh Nayla.
"Sebentar, grup tiger kayaknya menarik," ucap Nayla.
"Tiger? kayaknya Juna pernah cerita juga tentang Tiger," sahut Sisil sembari berfikir.
__ADS_1
"Kamu inget-inget dulu Sil, kalik aja penting," saran Syakila dan diangguki Sisil.
Syakila mulai membuka grup chat itu dan mulai membacanya dari atas bersama Nayla. Tak lama Sisil pun ingat kembali apa yang dikatakan Juna.
"Aku udah inget," ucap Sisil memberitahu.
"Apa?" tanya Syakila dan Nayla bersamaan.
"Juna pernah bilang, geng Tiger itu sama kayak gengnya Juna, kerjaannya cuman balapan, traveling sama tauran, taurannya pun antar sekolah aja nggak lebih," sahut Sisil memberitau.
"Maksudnya kayak geng montor biasa gitu?" tanya Syakila memastikan.
"Kayaknya iya, intinya sih beda jauh banget sama White Wolf sama BW," sahut Sisil, "Nggak lama ini, sekitar dua bulan yang lalu, Aku tanya....."
...FLESSBACK ON....
Dua bulan yang lalu, disekolahan Sisil terlihat sedang jam istirahat. Para murid berhamburan keluar kelas. Sisil dan Juna kini tengah duduk dibangku yang berada di lapangan basket.
"Kamu kenapa nggak tingkatin geng mu ke level kayak White Wolf dan BW?" tanya Sisil.
"Kenapa tiba-tiba kamu tanya itu?" tanya Juna balik.
"Aku mau tau aja, setauku Deni juga ikutan beginian, tapi kata Desy, walaupun kamu ketuanya dan dia anggota, Dia berada diatas kamu." ucap Sisil memberitau.
"Hmm, kalau dia anggota dari salah satu White Wolf atau BW atau setingkatan dua geng itu, mungkin iya," sahut Juna.
"Pertanyaanku yang pertama belum kamu jawab," kesal Sisil.
"Jangan marah dong," ucap Juna sembari mencubit hidung mancung Sisil dengan gemas, "Aku kasih tau ya, kenapa aku nggak mau ningkatin gengku ke tingkat itu, karena sangat beresiko besar, kalau tujuanku nggak sebanding sama resiko yang dihadapi, itu sama aja aku cari mati dan dosanya juga besar banget, Aku nggak sanggup," sahutnya memberitau.
"Hah, kok bisa?" tanya Sisil.
"Emm," Juna bingung.
Sisil melihat kanan kiri, tempat itu terlihat kosong hanya ada mereka berdua. Ia pun mencekik Juna dan mengunci tangannya kebelakang.
"Awww," keluh Juna kesakitan, karena tangannya ditarik ke atas oleh Sisil.
"Mas Juna harus kasih tau, kalau enggak kita putus ples tangan putus, inget loh Mas! Aku juara dalam bela diri, jangan main-main," seru Sisil mengancam.
"Aww, kamu mau putus cuman karena hal ini?" tanya Juna.
"Mas! pacar Desy itu ikut geng begituan, Aku harus tau, biar bisa bantu Desy, Aku rela putus sama Mas Juna kalau memang ini yang terbaik," sahut Sisil.
"Jadi ini semua demi hubungan temen kamu itu," ucap Juna.
"Iya,"
"Baiklah, Aku akan kasih tau, asalkan Kita nggak jadi putus," ucap Juna, membuat Sisil tersenyum cerita dan memeluknya dari belakang.
"Sini duduk," pinta Juna dan Sisil pun duduk di sampingnya, "Mereka memang memiliki tingkatan yang tinggi dan Kami pun menghormati mereka, namun musuh mereka sangat lah banyak dan berbahaya, kerjaannya juga ngehabisin orang," sahut Juna memberitahu.
"Ngehabisin orang? bisa jelasin secara rinci," pinta Sisil.
"Emm, hampir kayak Mafia, mungkin," sahut Juna bingung.
"Ohh, musuhnya berat ya?" tanya Sisil.
"Iya, senjatanya aja sulit didapetin, kalau pistol geng biasa paling juga bikin sakit sama berdarah aja, kalau pistol mereka bisa nembus sampek berlubang atau nggak, pelurunya beracun dan mematikan," sahut Juna memberitau.
"Uh, ngeri juga ya, apa mereka sejahat yang difilm?" tanya Sisil.
"Hadeh, cewek gue kepo banget," kaluh Juna dalam hati, "Kurang lebih begitu," jawabnya.
"Kamu bisa kasih perbandingan?"
"perbandingan apa?"
"perbandingan geng mu sama geng itu dalam menghabisi musuh," ucap Sisil menjelaskan.
"hmm, kalau kita nggak ngehabisin, cuman bonyokin aja, ka--" sahut Juna terpotong.
"Haissss, Kan ngehabisin sama ngebonyokin sama aja," potong Sisil.
"Mau dijawab nggak?" tanya Juna dan diangguki Sisil, "Kalau mereka, ngehabisin sampek orangnya mati, mayatnya kadang berlumuran darah, tubuhnya juga pasti ada yang pisah atau ada juga yang nggak sama sekali berdarah, karena pakai tenaga dalem atau racun mematikan," sahutnya memberitau.
Sisil menelan salifanya berat, sembari membayangkanya, "Aku paham," sahutnya pelan, namun masih bisa didengar Juna.
"Udah jangan dibayangin, Kita masuk yuk, bentar lagi bel," ajak Juna dan Sisil pun menganggukkan kepala.
Mereka berdua pun pergi masuk ke dalam kelas.
......FLESSBACK OFF.......
"Selesaiiii," ucap Sisil mengakhiri ceritanya, dari belakang Desy langsung memeluk Sisil begitu erat.
"Arghhhhh, nggak nyangka deh, temen Gue yang satu ini ternyata peduli sama Gue," ucap Desy senang.
"Ishh, pastilah Sisil peduli, Kita semua kan sahabat," sahut Sisil.
Syakila tidak menyangka Farel masuk dalam dunia hitam. Ia merasa takut, bingung dan bimbang.
"kenapa Sya?" tanya Nayla.
"nggak, nggak papa," sahut Syakila.
"Ya udah yuk, laptopnya udah siap nih," ajak Desy.
__ADS_1
"Udah selesai, Kita berhenti aja sampek sini," ucap Syakila tiba-tiba, membuat Nayla, Desy dan Sisil bungung.
"Kenapa?" tanya mereka bertiga bersamaan.
"Kita berhenti aja, resikonya besar banget," sahut Syakila.
"Nggak papa, Kita hadepin bareng-bareng aja, lagi pula Deni juga ikut, jadi kamu nggak usah merasa sungkan," sahut Desy.
"Des! Apa kamu yakin mau lanjut," tanya Syakila.
"Iyalah, Aku mau li--" ucap Desy terpotong.
"Kamu mau lihat, sisi gelap Deni? Kamu siap menerima itu nanti?" tanya Syakila, membuat Desy bimbang.
"Baiklah, Kita hentikan ini sementara, ingat ya se-men-ta-ra!" ucap Desy dan menutup kembali laptopnya.
"Yahhh, kok nggak lanjut," ucap Sisil kecewa.
"Okelahh, terus gimana sama tuh anak?" tanya Nayla sembari menunjuk Reza.
"Gue yang urus," sahut Syakila.
"Deal ya, kita hentikan misi ini sementara?" seru Nayla.
"Deal," sahut Sisil, Desy dan Syakila bersamaan.
"Ohh iya, tentang cari info dari temen Kak Kelvin gimana?" tanya Sisil.
"hmm, menurutku ini harud tetep jalan sih, kan misi ini cuman dihentikan sementara," sahut Desy.
"Aku juga setuju," sahut Nayla.
"Hmm, chatmya gimana ya? kan chatku dipantau Kak Kelvin," tanya Syakila.
"Ohh iya ya, pake punyaku aja gimana?" tawar Nayla.
"Pake nih laptop aja lebih aman," sahut Desy.
"Hmm, pake laptop aja deh," jawab Syakila.
Syakila pun menchat Aldi dan Rafi dari laptopmya. Tak lama mereka pun pergi dari kamar itu.
......🌸......
Malam pun tiba, Mereka kini berada di kamar Reza. Terlihat tangan dan kaki Reza ditali, untuk berjaga-jaga, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Tak lama, Reza pun mulai terbangun, "uhmm, Gue dimana nih?" tanyanya bingung, "Ngapa gue ditali begini," protesnya melihat tangan dan kakinya.
"Sorry Za, Gue lakuin ini karena takut Lo brontak," ucap Syakila meminta maaf.
"Sya! lepas nggak!" pinta Reza marah.
"nggak," tolak Syakila.
"Sans aja Bro, Kita bakalan buka itu tali, asalkan Lo jawab pertanyaan Kita," ucap Desy.
Reza menghela napas dengan kasar, "Apa?" tanyanya.
"Kenapa Lo ikutin Gue sama Syakila tadi?" tanya Desy.
Reza melihat ke arah mereka berempat, "Gue ikutin kalian, karena Gue ngrasa kalian pasti bikin ulah kayak dulu," sahutnya.
"Oke, jawaban diterima," sahut Desy.
"Aku jawab ya, Kita kumpul cuman mau rencanain kejutan ulang tahun cowok Sisil," sahut Syakila sembari menunjuk Sisil dan diangguki oleh ketiga temannya.
Mereka berempat sepakat, jika hari ulang tahun Juna untuk bulan depan, mereka jadikan alasan.
"Iya, itu bener, kalau nggak percaya lihat aja ini," Sisil menunjuk rancangan kejutan yang mereka buat tadi ke Reza.
"Kalau Lo masih nggak percaya, nih lihat," seru Desy sembari memperlihatkan handphonnya yang memperlihatkan bukti chatnya dengan IO.
"Hmzz, buktinya jelas, tapi ngapa gue masih ngerasa nggak percaya ya sama mereka," batin Reza bimbang, "Oke, gue minta maaf udah salah paham, bisakan nih tali dibuka?" pintanya.
Mereka berempat pun membuka tali itu dan menaruhnya kemeja.
"Mobil gue?" tanya Reza.
"Di pakiran," sahut Syakila.
"Assalammualaikum," salam Reza dan langsung pergi dari Apartemen itu.
"Waalaikumsalam," sahut mereka berempat bersamaan dan Reza pun telah pergi meninggalkan tempat.
"Hmm, dia percaya?" tanya Nayla ragu.
"kayaknya nggak," sahut Sisil.
"Biarin aja," sahut Desy.
"Udahlah Kita balik yuk," ajak Syakila dan mereka pun pergi dari Apartemen, kembali pulang kerumah masing-masing.
...------------------------------------------------------------------------...
Hallo Guys, semoga kalian suka ya dengan ceritanya, maaf kalau ada typo, maklum pemula + faktor banyak tugas buat persiapan besok PTM.
See you guys😘
__ADS_1