
Farel dan Syakila masuk kemobil mewah berwarna abu-abu kehitaman.
Farel dan Syakila bersamaan memakai sabuk, disaat hendak memasukan sabuknya pandangan mereka saling bertemu.
Syakila langsung membuang muka karena tidak kuat, sedangkan Farel dengan wajah datarnya, namun terlihat cool, menghidupkan mobilnya.
Selama mobil keluar dari rumah, keduanya hanya saling diam tidak ada pembicaraan. Syakila begitu gugup, hal ini baru pertama kali Ia rasakan. Jantungnya terus berdetak dengan kencang seperti orang selesai lari maraton.
Ia berusaha menghapus keheningan ini, namun mulutnya terasa sulit dibuka dan tidak ada suara.
"Gue denger dari Adel elo pinter, kapan-kapan boleh, gue minta lo ajarin?" ucap Farel memecah keheningan dan kecanggungan diantara mereka.
Jeder
Kembang api meletus begitu bebas dihati Syakila ia begitu senang sekali "Iya, boleh kok." dengan senyum yang terus mengembang.
Farel yang melihat permintaanya diterima dengan tulus pun ikut tersenyum,
Senyum Syakila perlahan pudar, ia mengalihkan pandanganya kearah jendela mobil. Ia teringat jika Farel menyukai Adel bukan dirinya. Ia harus menahan perasaan ini dan menghilangkanya secara perlahan.
"Inget Sya, Farel suka sama Adel, sahabat Lo. Kamu nggak boleh egois, banyak cowok diluaran sana, kamu pasti bisa." batinnya menyemangati dirinya sendiri.
Tidak butuh waktu lama mobil pun berhenti.
"Udah sampai ya?" tanya Syakila.
"Belum, kita kesananya lanjut jalan kaki." jawab Farel, setalah itu keluar dari mobilnya dan disusul Syakila.
Mereka pun berjalan berdampingan layaknya orang pacaran.
"Kenapa kita jalan kaki? Emang tempatnya dimana?" tanya Syakila penasaran.
"Itu didepan," tunjuk Farel kearah depan sebrang jalan.
Tempat itu dari kejauhan terlihat, terdapat gerobak dan meja serta beberapa kursi serta pembeli. Sebenernya dilihat-lihat, mobil bisa terparkir disana, karena ada dua mobil.
"Kelihattannya masih bisa buat parkir?" jawab Syakila sembari memerhatikan tempat itu.
"Iyaa, tapi mobil kita terlalu mencolok."
Syakila mengernyitkan keningnya kearah Farel dengan artian bingung.
Farel menoleh kearah Syakila, mata mereka saling bertemu. "Mobilnya terlalu mewah buat ditaroh disana." jelas Farel memalingkan wajah kedepan.
"Sombong," ceplos Syakila tanpa disadari dan
Farel hanya diam tidak menggubris.
Mereka berdua pun sampai ditempat Bu Sri. Farel pun memesan sesuai pesanan Ayahnya.
Syakila setibanya disana langsung duduk dikursi yang masih kosong sembari main hp.
Farel menghampiri Syakila dan duduk disampingnya.
Spontan Syakila kaget, "Kyaaaa."
Farel menaikkan salah satu alisnya "Kenapa?"
Syakila tersenyum kikuk "Eee enggak, nggak papa, cuman kaget aja."
Farel hanya mengangguk pelan dan mengambil handphone dari sakunya.
"Astaga nih anak nggak ngerti apa ya, jantung Gue karaokean terus nih. Bisa-bisa pecah nih jatung gue." batin Syakila menatap kebawah sembari memegangi dadanya.
"Kata Amira lo deket sama cowok yang ngasih surat sama roti kemarin." tanya Farel, namun masih lihat kearah handphonenya.
Syakila kaget, Ia mengangkat pandangnya dan mengarah ke wajah Farel "ehhhh."
Farel berpindah memandangi Syakila
"Kalau nggak mau jawab nggak papa," jawabnya santai
"Emm cuman temen biasa aja sih nggak deket-deket banget."
"Ada rasa?" tanya farel langsung tanpa jeda setelah Syakila selesai menjawab.
"Ahhh ini anak ngapa sih, jangan bikin gue salah paham dong, kalau lo nanya gini kesannya Lo suka Gue." batin Syakila. "Enggak ada," jawabnya singkat.
Ia pun mengangguk paham dan melihat kearah hpnya kembali. Terlihat terukir senyum diwajah tampan Ferel, entah apa maksud senyum itu.
"Siall, saat lo senyum pingin banget gue foto, terus simpen, gue print pasang kedinding, Aaaaa," teriak Syakila dalam hati.
25 menit kemudian pesanan siap. Syakila dan Farel pun pergi menuju kemobil.
"Kenapa banyak banget?" tanya Syakila.
"Buat keluarga tujuh, tambah ART dirumahmu ennam," sahut Farel.
"Ohh."
Mereka pun sampai dimobil. Pesanan tadi mereka taruh dibangku belakang, dan setelah itu mobil pun pergi dari tempat.
"Kalau boleh tau. Apa elo suka sama Adel," tanya Syakila was-was.
"Menurut lo?" jawab Farel lama.
"Emm su-suka," sembari menatap kearah depan.
Hening
Farel tidak menjawab dan Syakila pun tidak menanyakan pertanyaan kembali, hingga mobil sampai dikediaman Yohan.
Mereka turun dan mengambil pesanan tadi.
__ADS_1
"Apa gue salah tanya yah, kayaknya sikap Farel berubah," Syakila melihat punggung Farel dari belakang.
Mereka tiba diruang makan, sebelumnya Ardi sudah men chat Farel, jika semuanya sudah berkumpul disana.
"Wahhh wanginnya enakk bangettt." ucap Niya
"Hiya Ni, kayaknya enak dehh." Mila
"Iya donk siapa dulu yang nyaranin ini semua." ucap Ardi sombong.
"Sayang ini minyaknya banyak, jangan lupa habis makan minum air putih yang banyak." ucap Yohan memberitahu.
"Iya yank." sahut Niya.
Mila manyun mendengar Yohan dan Niya memakai pangilan sayang. Ardi menyenggol istrinya dan memberikan suapan "Aaaaa"
Mila tersenyum malu dan membuka mulutnya, menerima suapan yang Ardi berikan.
Kedua pasangan itu kini bermesra-mesraan tanpa ingat anak dan umur mereka. Farel, Syakila dan Kelvin hanya bisa melihatnya.
"Apakah kita dilupakan?" tanya Syakila ke Farel dan Kelvin.
"Sepertinya iya," jawab Farel.
"Ada ide?" tanya Kelvin, menoleh kearah syakila dan Farel meminta ide.
Mereka bertiga terlihat berfikir dan tiba tiba.
Cling
Ide jail Syakila keluar, Ia pun membisikan rencana ke Kelvin dan Farel.
Farel mengahampiri Mila bersamaan dengan Kelvin menemui Niya.
Farel merangkulkan tangannya melingkar dileher Mila dan mencium salah satu pipinya "Farel juga mau," pintanya.
Mila tersenyum lebar dan mengelus-elus puncak kepala Farel, "sini Mamah suapin," ucap Mila sembari menepuk-nepuk bangku kosong yang ada disampingnya.
Tanpa basa-basi Farel langsung duduk dan disuapi Mila.
Diwaktu yang sama Kelvin dan Niya terlihat saling suap-menyuap.
Sang suami terlihat kesal karena momen romantisnya telah diganggu anak mereka.
"Haisss kalau tau gini gue dulu nggak buat anak" komen Ardi dengan suara pelan.
"Kurang setuju." jawab singkat Yohan.
"Hah ken-"
"Karena mereka adalah bukti cinta kita." satu kalimat yang bermakna banyak hal.
Ardi merasa bersalah, yang dikatakan Yohan memang benar.
Ardi mengingat awal kehadiran Farel membuat hari-hari dirinya dan Mila begitu berwarna, rasa kebahagian mereka tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun dibangdingkan, karena begitu besarnya.
Syakila yang sedang menikmati makanannya dilantai tidak menduga reaksi para lelaki paruh bahya itu seperti ini, tidak sesuai rencana, namun ia puas.
Syakila berencana para suami merebut kembali istrinya dan marah keanak mereka, Setelah itu Farel dan Kelvin akan semakin bermanja ke Niya dan Mila hingga membuat para suami mati cemburu.
🌸
Langit terlihat gelap dan udara semakin dingin, karena sudah larut malam Keluarga Ardi memutuskan pulang ke kediamanya.
Keluarga Ardi berpamitan dan pergi pulang, setelah itu Keluarga Yohan pergi kekamar masing-masing bersiap tidur.
Kamar Syakila.
"Mimpi apa aku semalem bisa berduaan sama Farel." ucapnya sembari memeluk guling.
"Maaf Del, aku sahabat yang buruk, aku tau kalian saling suka tapi jujur aku belum bisa move on." ucapnya parau sembari meneteskan air mata.
"Gue akan berusaha, kalau kalian pacaran gue akan mehilangkan perasaan ini dan juga menjaga jarak."
*****
Kamar Kelvin.
Kelvin menghidupkan hpnya dan menerima notif dari seorang wanita.
Room chat
^^^Kelvin^^^
^^^Vi^^^
^^^Viona^^^
^^^Kok nggak dibales?^^^
^^^Vi lagi apa?^^^
^^^Vi udah makan belum?^^^
^^^Bales donk vi^^^
^^^Vi^^^
^^^Viona^^^
^^^Vi KANGENN^^^
^^^K^^^
__ADS_1
^^^A^^^
^^^N^^^
^^^G^^^
^^^E^^^
^^^N^^^
^^^VI^^^
^^^VIONAAAAA 18.45^^^
Viona.
Maaf vin tadi aku keluar sebentar
Hpnya aku tinggal dirumah
Aku juga kangen kelvin 21.20
^^^Kelvin^^^
^^^Lain kali dibawa donk Vi^^^
^^^Balesnya lama banget^^^
^^^Nanti kalau ada apa-apa gimana?^^^
^^^Aku khawatir 21.22^^^
Viona
Iya maaf
Lain kali aku bawa
Makasih kelvin 21.22
^^^Kelvin^^^
^^^Iya sama-sama Vi^^^
^^^Good nigh viona sayang^^^
Viona
Nigh Vin
^^^Kelvin^^^
^^^😘^^^
Kelvin pun mematikan handphonnya dan pergi tidur.
Hubungan Kelvin dan Viona sudah berjalan dua bulan. Syakila dan keluarga tidak ada yang tau.
Viona memiliki wajah yang cantik, kulit putih, dan rambut hitam panjang sedikit bergelombang dibawah. Ia berbeda sekolah dengan Kelvin.
Viona bukanlah orang yang kaya raya seperti keluarga Kelvin. Keluarga Viona bisa dibilang tidak miskin dan tidak juga kaya, biasa saja.
Fall Back On
5 bulan yang lalu Viona terlihat dikerubungi banya anak cowok. Viona tidak bisa berbuat apa-apa, ia ketakutan dan bingung. "Ya Allah aku takuttt, tolongin hamba ya Allah" ucapnya dalam hati.
Dilain tempat tak jauh dari Viona berada, terlihat pemuda tampan berseragam putih abu-abu turun dari mobil hitamnya. Pemuda itu adalah Kelvin.
Kelvin menghampiri Viona dan menghajar semua pemuda yang mengerubungi wanita itu. Semua pemuda itu pun kalah, babak belur dan pergi ketakutan.
"lo nggak papa?" tanya Kelvin khawatir.
"Iii iya," Viona menjawab dengan rasa sedikit takut.
Kelvin menaikan alisnya "Dia takut sama gue," batin Kelvin, melihat badan Viona gemetar.
"Mau gue anter?" tanya Kelvin lembut.
"Eeee enggak perlu, aku bawa montor kok."
"Beneran?"
"Ii i-iya, makasih udah tolongin g-gue tadi." ucap Viona diakhiri senyum lembut.
Blushh
Kelvin menutupi mulut dan hidungnya dengan telapak tangannya karena salting "I-iya sama-sama."
Viona tersenyum dan pergi meninggalkan Kelvin, namun sesampainya dimontor, Kelvin menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Viona
"Ii itu boleh minta no Wa kamu." Tanya Kelvin malu.
Viona tertawa kecil melihat wajah Kelvin yang malu. Tanpa khawatir dan rasa takut.
Viona langsung menuliskan nomornya dikertas dan memberikannya ke Kelvin "Ini."
"thanks," ucap Kelvin setelah menerimanya dengan senyum yang terukir diwajahnya.
Viona mengangguk dan menaiki montornya, meninggalkan tempat.
Kelvin begitu gembira ,wajahnya terus terukir senyum hingga memasuki mobil dan selama perjalanan.
__ADS_1
Fall Back off