Kisah Cinta Syakila

Kisah Cinta Syakila
S2 : Cp 11


__ADS_3

Mentari telah terbit dengan sinarnya yang terang benderang. Senyum bahagia, terlukis indah di wajah cantik Syakila. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena hatinya yang terus berbunga-bunga. Pandangan mata terus ke cincin dan fotonya yang bersama Farel. Sudah sangat lama, mereka berdua tidak foto berdua.


Hari ini Syakila libur. Ia segera bersiap-siap dan berdandan rapi, untuk menemui sang pujaan hati, Farel. Ia ingin memberikan kejutan ke Farel dan memgajaknya bermain bersama. Syakila pun turun ke bawah, sembari mamainkan handphone.


"Syakila, mau kemana?" tanya Niya, setelah Syakila sampai di depannya.


Syakila melihat ke arah Niya dan menaruh handphone ke dalam tas. "Mau ke kantor Farel, Mah."


Niya mengangguk paham. "Hati-hati!"


Syakila mengangguk dan menyalami tangan kanan Niya. "Assalammualaikum, ummah!." ia mencium pipi Niya dengan lembut dan pergi meninggalkan tempat.


"Waalaikumsalam," sahut Niya dan pergi ke arah dapur.


Syakila masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman rumah. Ia berhenti di tengah jalan dan masuk ke dalam toko. Ia memesan beberapa makanan untuk Farel dan Karyawannya. Para pegawai, memasukan pesanan ke mobil Syakila. Ia membayar tagihan itu dan pergi.


Tak perlu waktu lama, Syakila pun sampai di Kantor Farel. Ia memanggil beberapa Satpam, untuk membantunya membawa makanan-makanan itu. Syakila dan Satpam masuk ke dalam Kantor.


Tina, Seketaris Farel, datang menghampiri Syakila. "Apa kabar Bu?" sapanya dengan sopan dan lembut.


Syakila tersenyum dan menjawa, "Baik, Tina! Tolong bagiin ini ke anak-anak yang lain ya!"


Tina melihat kedua kantung plastik yang penuh makanan, di tangan Satpam. "Baik Bu, terimakasih," ucapnya, sembari membungkukkan badan. Syakila tersenyum dan pergi ke ruangan Farel.


°°°°


Farel yang berada di ruangannya. Terlihat tak sendirian, ada Wanita sexy yang menemani. Wanita itu adalah orang yang sama. Ia, orang yang datang ke ruang Farel dalu. Farel dan Wanita itu tengah duduk di sofa. Jarak diantara mereka cukup jauh. Wanita itu terus menggagu Farel, hinggan membuatnya kesal.


"Lo milih diem atau pergi!" Farel menatap dingin Wanita itu, sembari melepas jas.


Wanita itu cekikikan, melihat sikap Farel yang dingin. "Lucu, pantesss, dia suka banget sama lo."


Farel memutar bola matanya, jengah. Ia melepas dasi dengan kasar, membuat Wanita itu gemas. Wanita itu mendekat ke arah Farel, hendak melepaskankan dasi itu. Farel kaget dan mundur.


"Woi! Lu ngapain?" tanya Farel.


Wanita itu semakin mendekat dan meraih kerah Farel. "Stststttt, diem lu!"


Tak lama, Syakila datang dan melihat Wanita itu berada di atas tubuh Farel. Syakila terkejut dan berlari ke arah Wanita itu. Ia tarik baju Wanita itu dan menyingkirkannya jauh-jauh. "Apa-apaan nih!" marah.


Farel terkejut dan langsung membenarkan bajunya. Pikiran Syakila sudah berputar-putar ke hal negatif. Syakila menatap Farel dengan pandangan sendu. Farel memegang ke dua lengan Syakila dan memintanya duduk.


"Dengerin aku! Dia Vita, Kakaknya Tiara," ucap Farel memberitau dan mata Syakila mulai berkaca-kaca. "Aku punya perjanjian sama keluarganya Tiara, untuk ngejaga Kak Vita sampek suaminya balik!"


Syakila hanya diam saja. Ia menetaskan air mata dan langsung menghapusnya. Ia merasa kecewa dan kesal. Vita mendekat dan berkata, "Apa kamu marah? Pacarmu ini akhirnya bisa lihat, karena Adikku loh! Apa salah, kalau keluarga kami minta ini!"

__ADS_1


Syakila melihat ke arah Niya dan Farel dengan bingung. Syakila meminta penjelasan lewat kode mata ke Farel. Vita yang paham pun memutuskan untuk bercerita.


"Jadi begini..."


...Flasback On....


Nisa dan Chika datang ke rumah Tiara, setelah dua minggu, hari penguburan Tiara. Keluarga mulai meikhlaskan kepergian Tiara dan berusaha bahagia. Nisa dan Chika memberitau pesan terakhir Tiara.


"Tante, Om, Kak, aku mau kasih tau sesuatu soal Tiara," ucap Nisa dan Chika memberikan surat ke Tante. "Itu surat terakhir Tiara, yang dia buat sebelum kejadian hari itu."


Om, Tante, Vita bingung. "Bentarrr, maksudnya, Tiara tau, kalai dia akan mati di hati itu?" tebak Vita.


Nisa dan Chika saling melihat. "Baca suratnya dulu aja Kak!" pinta Chika lembut. Tante pun membuka surat itu dan membacanya bersama suami serta Vita.


Surat :


......Mah, Pah, Kak, apa kabar? Maaf, Tiara pergi tanpa pamitan. Mamah, Papah sama Kakak baik-baik ya, jaga kesehatan, shalatnya jangan ditinggal. Kerjaan dikurangi, makan tepat waktu, kurangin mainnya Kak! ......


...Aku pergi, kerena sudah waktunya. Kalian harus janji sama aku, jangan tanya ke Nisa atau Chika, tentang kepergianku ini. Aku harap, kalian bisa tepati janji ini. Tiara sayang kalian, i love you, my family❤...


Keluarga menangis, setelah membaca surat itu. Tante memeluk surat itu dengan tangis yang terus jatuh, membasahai pipi. "Tiara... hiks." Vita memeluk Mamah dengan erat. Mereka berdua menangis, mengingat Tiara.


"Om, Tante, ada sesuatu lagi yang belum Tiara sampekin, di surat itu," ucap Nisa memberitau.


Ayah Tiara menaikkan alis. "Apa?"


"Tapi apa?" tanya Ayah dan Mamah Tiara.


"Om sama Tante, boleh minta sesuatu ke Farel, asalkan, bukan uang ataupun harta!" sambung Nisa.


Vita bingung, "Maksudnya?"


"Farel bukan orang yang mau, nerima bantuan tanpa tangan kosong. Dia pasti kasih apapun itu, yang penting dia tidak terbebani," sahut Nisa dan diangguki Chika.


"Mungkin, Tiara nggak mau, hal ini jadi keributan. Keluarganya Farel pasti, akan melakukan segalanya, untuk membalas budi!" ucap Chika.


Ayah Tiara mengangguk paham, dia tau betul soal Ardi dan keluarganya. Keluarga Tiara dan Farel telah dekat, sejak mereka berdua duduk di bangku SMP. Ayah dan Mamahnya Tiara berunding, untuk memutuskan. Balasan apa, yang akan cocok untuk Farel. Tak lama, mereka pun memutuskan untuk meminta Farel menjaga Vita, hingga bertemu dengan suaminya.


Vita terkejut dan tak terima, "Apa-apaan nih! Nggak ahh,aku nggak mau!"


"Mamah sama Ayah harus ke luar negeri, mengingat kondisimu sekarang, lebih baik kamu ikut Farel!" ucap Mamah Tiara, sembari menggegam lengan Vita.


"Farel anak yang baik, Suamimu pasti paham!" kata Ayah Tiara, membuat Vita kesal.


"Kak, terima aja ya, plisss!" pinta Chika dan Nisa.

__ADS_1


Vita mengehela napas, "Hufff, oke dehh, ini semua demi ketenangan Tiara di surga sana!"


"Yeyyyy!" seru Nisa dan Chika.


...Flesback Off....


"Tamattt," ucap Vita, sambil merentangkan kedua tangan.


Syakila paham, namun sedikit menggajal. "Aku ada beberapa pertanyaan!"


Vita dan Farel saling lihat. "Apa?" tanya mereka ke Syakila.


"Gimana caranya Farel tau? Terus, kalau orang tua Kakak ke luar negeri, apa bedanya sama Farel? Diakan di luar negeri juga!" tanya Syakila bingung.


"Aku jawab!" ucap Farel. "Orang yang bantu aku dapetin donor mata adalah temen Tiara, lewat dia, Tiara beri tau aku semua ini!"


"Tiara kan udah nggak ada!" Syakika menatap dingin Farel.


"Nisa sama Chikakan ada?" sahut Farel.


"Hmmz." Syakila memutar bola matanya, malas.


"Pertanyaan ke dua gimana?" tanya Vita mengingatkan.


Syakila melihat ke arah Vita. "Nggak usah, aku paham kok," sahutnya dan diangguki Vita.


"Aku pergi dulu deh, dadadaaa," pamit Vita dan pergi meninggalkan tempat, sambil melambaikan tangan.


Farel melihat ke arah Syakila. Namun, Syakila membuang muka dan mengambek. Farel yang melihatnya, tersenyum dan mendekat. Dia memeluk Syakila dari belakang dan menaruh dagunya di bahu.


"Marah?" tanya Farel dan Syakila hanya diam. "Hmmm, ternyata kamu masih kecil. Lebih baik aku tunda tiga atau empat tahun saja, buat nikahan kamu!" Farel merenggangkan tanyanya yang melingkar di pingang Syakila.


Syakila terkejut dan membalikkan badan. "Jangannn! Keburu jadi Nenek-nenek dong aku nanti!"


Farel melihat ke arah depan dan melipat ke dua tangan di depan dadanya. "Hmmm, bener juga. Kak Vita dewasa... cocok kayaknya!" ucapnya menggoda, sambil melirik Syakila sekila.


Syakila panik dan langsung memeluk Farel dari samping. "Jangannn! Aku udah dewasa kok, Rel!"


"Bener?"


"Bener!"


Farel melepas ke dua tangan Syakila dari tubuhnya dan melihat ke arah Syakila. "Hatiku, cuman punya kamu! Aku nggak bakal berpaling, karena kamu yang terbaik."


Syakila tersenyum haru dan memeluk Farel dengan erat. "Awas ya, kalau kamu berpaling dari aku! Nanti, ku rebus sampek hangus!"

__ADS_1


Farel tersenyum, mendengar ucapan Syakila. "Nggak akan," ucapnya, sambil mengusap lembut rambut Syakila.


Tak lama, Syakila dan Farel melepas pelukannya. Syakila mengambil makanan untuknya dan Farel. Mereka berdua makan bersama dan sesekali, saling menyuapi. Selesai makan, Farel kembalo kerja dan Syakila membersihkan bekas makanan. Syakila menemani Farel hingga jam istirahat tiba.


__ADS_2