Kisah Cinta Syakila

Kisah Cinta Syakila
part 53


__ADS_3

Adel dan Amira kini telah pergi pulang. Niya dan Yohan pun kembali menemani Syakila.


"Pusing?" tanya Yohan.


"Enggak kok Yah, tadi Adel sama Amira ngasih taunya pelan-pelan," sahut Syakila.


"Syukurlah," aahut Yohan. "Jangan terlalu di paksain, kalau udah pusing dan sakit ya," pesannya dan di angguki Syakila.


"Aku mau temuin Farel Mah, Yah," pinta Syakila.


"Nanti siang aja ya sayang, Farel baru dalam pemeriksaan," ucap Niya memberitau.


"Oke Mah," sahut Syakila.


"Nggak sabar ya, pingin deket-deket sama Farel," goda Yohan.


"Apaan sih Yah," ucap Syakila malu-malu. "Ohh iya, kata Adel sama Amira tadi, hubunganku sama Farel itu ternyata temen bukan pacar ya?" tanyanya memastikan.


"Iya, kemarin Mamah bingung mau jawab apa, waktu kamu tanya Farel pacar kamu atau bukan," sahut Niya.


"Ayah nggak ijinin kalian pacaran," sahut Yohan.


"Ohh gitu," aahut Syakila paham.


"Kamu nggak tanya alasanya?" ucap Niya.


"Nggak, Adel sama Amira udah jelasin kok, aku tadi cuman mastiin aja," sahut Syakila memberitahu dan Niya mengangguk paham.


Tak lama seorang pemuda tampan dan wanita cantik datang berdua dengan tangan yang saling bergandengan. Terlihat pemuda tampan itu tersenyum senang, sedangkan cewek di sampingnya tersenyum malu. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Syakila dan menyalami Niya serta Yohan.


"Menantuku cantik banget," puji Niya ke Bunga sembari mencubit pelan pipinya.


"Aduhhh, jangan di cubitin Mah," ucap Kelvin sembari menjauhkan tangan Niya dari wajah Bunga.


"Pelan doang Vin," sahut Niya.


"Bunga mau nikah sama Kelvin? kalau nggak mau, Om bisa cariin yang lebih baik dan nggak protektif," seru Yohan.


"Dia tuh kan protektif, pasti kamu nggak kuat," tambah Niya.


"Enggak perlu repot-repot kok Om, Tante. Saya masih bisa nahan diri," sahut Bunga membuat Kelvin kesal.


"Kok nahan diri yank?" kesal Kelvin dan Bungan hanya membalas dengan senyum.


"Yank? Ayah nggak salah dengerkan," tanya Yohan.


"Kalau di larang tapi porsi sama kayak pacaran, buat apa temenan, mending juga langsung jadian," sahut Kelvin.


"Kakak itu mau nyair atau pantun, belakangnya n semua," ucap Syakila.


"Mau nyanyi," ketus Kelvin membuat Syakila manyun.


"Aku sayang Kak Rey doang," ucap Syakila ngambek.


"Kak Rey punya Mbk Klara," sahut Kelvin membuat Syakila kesal.


"Aku punya Farel wlekkk," sahut Syakila.


"Lahhh, dah inget sama Farel aja," ucap Kelvin.


"Kemarin mereka bicara berdua," sahut Niya.


"Ohh gitu," sahut Kelvin. "Ya udahlah Mah, aku sama Bunga mau kuliah dulu," pamitnya.


"Oke," sahut Niya dan Yohan.


"Syakila, cepet sembuh ya," ucap Bunga dan mereka berdua saling berpelukan.


"Iya Kak, makasih udah njengukin aku ya," ucap Syakila.


"Iya sama-sama," sahut Bunga.


"Assalammualaikum," salam mereka berdua.


"Waalaikumsalam," sahut Syakila, Yohan dan Niya. Kelvin dan Bunga pun pergi meninggalkan tempat.


"Kamu tau Kak Bunga?" tanya Niya.


"Nggak," sahut Syakila.


"Tadi?" tanya Yohan.


"Biar Kak Bunga nggak khawatir, kayaknya orang baik dia," ucap Syakila.


"Iya, dia anak baik, tapi...," ucap Niya menggantung.


"Tapi kenapa?" tanya Syakila.


"Anaknya masih sulit nerima kenyataan," sahut Niya.


"Suatu hal yang tak terduga Mah, mangkanya dia masih kurang pede," ucap Yohan.


"Hah?" Bingung Syakila.


"Bunga dari keluarga biasa sayang, mangkanya dia nggak menduga, kalau bisa kenal keluarga kita," ucap Niya menjelaskan.


"Ohhh gitu, bakalan sulit nih, kalau mau di ajak nikah," seru Syakila di angguki Niya.


"Kakakmu udah urus itu, dia udah bujuk dan rayu calon mertuanya," sahut Yohan.


"Wihhhh, gercep ya," ucap Syakila.

__ADS_1


"Anak siapa dulu," ucap Niya.


"Anak Mamah lah," sahut Syakila dan mereka bertiga pun tertawa bersamaan.


...🌸...


Reza, David, Adel dan Amira kini berada di Kantin. Terlijat mereka berempat saling mengobrol dan meminum pesanan mereka. Suasa kantin sangatlah penuh dan ramai, karena saat ini adalah waktu istirahat.


"Syakila akhirnya inget gue juga hiks," ucap Amira senang.


"Semalem gue chatan sama dia dong," kata Adel membuat Amira melotot.


"Curang." Amira kesal dan Adel hanya tersenyum.


"Gue belum jengukin dua-duanya," ucap Reza.


"Parah," ucap David.


"Jenguk aja nanti, selepas pulang sekolah," saran Adel dan di angguki Reza.


Amira menyeder di tubuh samping David. "Perasaan lulus maaih satu tahun lagi, ngapa aku ngerasa kangen banget ya," ucapnya.


David mengecup kening Amira dan menidurkan kepalanya di atas puncak kepala sang Pacar. "Nanti malam kamu pasti tau jawabannya," ucapnya membuat Amira bingung.


"Ngapa harus malem?" tanya Amira.


"Adadehhh," sahut David dengan senyum, membuat Amira manyun.


"Emang, David mau kemana?" tanya Adel.


"Enggak tau," sahut Reza. Tak lama seseorang dari belakang datang menghampiri mereka berempat.


"Re! di panggil Pak Handoko tuh," ucap Siswa itu yang merupakan anggota Osis.


"Oke," sahut Reza dan Siswa itupun pergi.


"Yahhhh, di tinggal lagi nih," keluh Adel.


"Maaf ya," ucap Reza dan berdiri dari tempat. Ia mencium pipi Adel dari belakang, sebelum pergi meninggalkan tempat.


"Uwuuuuu, pipinya merona," seru Amira.


"Foto Mir, kirim ke Reza," ucap David.


"Aaa-apaan sih lo berdua," ucap Adel dan pergi meninggalkan tempat.


"Ngambek ya?" tanya David.


"Aku kejar dulu deh," ucap Amira dan pergi meninggalkan tempat.


David melihat kepergian Amira sembari minum esnya. Tak lama notif masuk di handphonnya, ia pun langsung membuka dan membacanya. Wajahnya berubah, ia terkejut dan tak percaya dengan apa yang telah di lihatnya. Ia terlihat langsung menelpon seseorang dan pergi ke suatu tempat.


Bel masuk berbunyi, Amira dan Adel terlihat kebingungan. David dan Reza sedari tadi belum masuk ke Kelas. Tak lama guru pun datang dan mereka berdua masih tidak kelihatan batang hidungnya.


"Mereka berdua kemana sih," kesal Amira.


"Ngapa David tadi kamu tinggal?" tanya Adel.


"Kan gue ngejar elo mamang," sahut Amira, membuat Adel hanya bisa membalas dengan senyum. Tak lama Reza pun datang.


"Huffff, akhirnya dateng juga," ucap Adel lega.


Reza menghampiri Bu Guru sembari memberikan surat kecil dari BK. "Ini Bu, surat ijinnya David."


Guru itu menerimanya dan mulai membaca. Selesai membaca, ia pun menulis sesuatu di bukunya. "Kamu ngapain masih di sini?" tanyanya.


"Saya juga ijin dulu Bu, mau bantu Pak Kepala Sekolah soalnya," ucap Reza.


"Ohhh iya, nggak papa," sahut Bu Guru dan Reza pun menundukkan kepala sebentar, setelah itu pergi meninggalkan tempat.


"Ehhh, kok pergi lagi," ucap Adel melihat kepergian Reza.


"Alhamdulillah, nggak jadi nyamuk," sahut Amira membuat Adel manyun.


"Ngapa David ijin ya?" tanya Adel.


"Dihh, ngapa lo kepo?" ketus Amira.


"Penasaran aja, emang elo nggak?" sahut Adel.


"Hmzzz, penasaran sih," sahut Amira. "Gue tunggu entar malem ajalah." Adel mengangguk.


...🌸...


Arah jarum jam telah menunjukkan waktu 14.55. Terlihat Syakila tengah berada di kamar Farel berdua saja, karena Mila, Ardi, Yohan dan Niya di minta untuk pergi meninggalkan tempat. Wajahnya terlukis senyum nakal, ia mendekati Farel yang tengah tertidur di atas ranjangnya.


Syakila menengok ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan kondisi ruangan aman. Ia mendekati wajahnya ke arah wajah Farel. Ia hendak mencium Farel namun terhenti.


"Mau ngapain?" tanya Farel sembari mendorong jauh bibir Syakila dengan jari telunjuknya.


Syakila tersenyum kikuk. "Hheheheee, mau ngapain ya tadi, aku lupa," ucapnya berbohong.


"Walaupun aku nggak bisa lihat, aku masih bisa ngerasain napas sama gerakkanmu tadi," ucap Farel sembari mendudukan dirinya dia atas ranjang.


"Huh, aku tadi cuman mau nyapa tau."


"Nyapa kok deket banget, hidung aja sampek nempel."


"Belumm ya, jangan ngarang deh."


"Jujur aja, tadi mau cium kan?"

__ADS_1


"Enggak."


"Kalau bohong nggak jodoh," ucap Farel membuat Syakila tertegun.


"Iya deh iya, aku mau cium," sahut Syakila.


"Cium kemana?"


"Cium ke Hongkong," sahut Syakila kesal. "Ngasih pertanyaannya kok aneh banget dah."


"Kening atau ini," ucap Farel sembari menunjuk bibirnya sendiri, membuat Syakila malu merona.


"Ishhhh, keninglah," sahut Syakila berbohong.


"Bohong," ucap Farel.


"Enggak."


"Aku nggak suka sama cewek pembohong," ucap Farel.


"Aku juga," sahut Syakila.


"Mau janji nggak?" tawar Farel.


"Janji apa?" tanya Syakila.


"Janji buat saling terbuka dan nggak berbohong ataupun nyembunyiin rahasia."


"Emmm, itu berat," sahut Syakila.


"Kalau kamu nggak mau, kita sahabatan aja," ucao Fatel. Ia terlihat serius dan tak main-main.


"Apa Farel mau bawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius ya?" Batin Syakila bertanya-tanya. "Kamu mau serius sama aku?" tanyanya.


"Iya," sahut Farel serius.


"Tapi...., kitakan masih SMA, gimana kalau kamu lupain janjimu ini dan berpaling ke cewek lain?" tanya Syakila khawatir.


"Soal jodoh dan tidaknya itu urusan yang di atas, aku di sini cuman berusaha mempertahankan apa yang ku pegang sekarang aja," sahut Farel.


"Hmmm, baiklah," aahut Syakila. "Aku berjanji tidak akan berbohong dan menyimpan rahasia apapun itu dari kamu." Syakila dan Farel pun saling mengaitkan kelingkingnya.


"Kamu akan selalu di sampingku kan Rel?" tanya Syakila.


"Aku akan selalu berada di sampingmu, walaupun kita nggak berada di satu tempat yang sama," ucap Farel membuat Syakila sedih.


Entah mengapa Syakila merasa, Farel akan pergi jauh meninggalkannya. Ia memeluk Farel dengan erat, seakan tidak ingin melepasnya. Ia menangis di dada bidang Farel, hingga membasahi bajunya. Farel yang merasakannya pun ikut sedih dan mengecup kening Syakila dengan lembut.


Niya, Yohan, Ardi dan Mila terlihat mengintip dari celah pintu. Niya dan Mila terharu melihat ke romantisan anaknya, sedangkan Yohan serta Ardi terlijat mengepalkan tangan. Bagaimana mereka tidak kesal, Syakila duduk di pangkuan Farel dan saling berpelukan seperti itu.


"Sialan anaknya Ardi, awas aja tuh tangan kalau meleset ke tempat lain," batin Yohan kesal.


"Duhh, mereka berdua bahaya juga kalau di tinggal bedua gini," Batin Ardi.


"Adududuhhhh, calon matuku so sweet banget sih," batin Niya.


"Anakku udah gede ternyata," Batin Mila.


Reyhan dan Klara yang berada di depan ruang Syakila terlihat kebingungan, melihat ke empat orang tua itu.


"Mereka lagi ngitipin siapa?" tanya Klara.


"Farel," sahut Reyhan.


"Ohhh, ngapa di intipin ya?" tanya Klara penasaran.


"Entahlah, kita samperin aja," sahut Reyhan dan mereka berdua pun pergi menghampiri mereka berempat.


Niya yang mendengar suara sepatu mendekat ke arahnya pun langsung menoleh. Ia terkejut melihat Reyhan lah yang datang menghampirinya. "Waduhh, Reyhan, kalau dia tau bisa habis Farel," Batinnya. Ia pun pergi menghampiri Reyhan dan Klara.


"Wahhhh, pas banget ada kamu Rey," seru Niya.


"Ada apa Mah?" tanya Reyhan.


"Tolong beliin Mamah buah mangga ya, Syakila tadi ke pingin banget makan mangga soalnya."


"Ohhh, iya Mah," sahut Reyhan. "Klar, aku tinggal dulu ya," pamitnya dan di angguki Klara.


Klara menyalami tangan Reyhan. "Hati-hati Rey," pesanya dan di angguki Reyhan. Ia pun pergi meninggalkan tempat.


"Akhirnya, kok nggak ngabari Klar?" tanya Niya.


"Ehhh, biasanyakan juga gini Mah," sahut Klara.


"Ohhh iya, mulai sekarang kamu kabari Mamah ya," pinta Niya. "Soalnya, kalau kamu nggak kabari Mamah, bisa gawat."


"Gawat kenapa?" tanya Klara.


"Syakila sama Farel berduaan, kalau Reyhan tau bisa ngamuk dianya," sahut Niya.


"Ohhh gitu," ucap Klara paham.


"Kamu masuk aja dulu, Mamah mau manggil Syakila dulu," ucap Niya dan di angguki Klara. Ia pun pergi ke arah ruangan Farel dan Klara pergi masuk ke dalam ruangan Syakila.


...🌸...


...Maaf ya guys aku upnya lama😭....


...Semoga kalian suka dengan jalan ceritanya ya guys😉☺️😚. Nantikan kisah lanjutan Syakila dan Farel, jangan berhenti baca ya😭...


...Semoga kalian semua di berikan kesehatan ya guys, see you😚❤️...

__ADS_1


__ADS_2