
Farel pergi ke Kantor dan tak lama seorang wanita dari belakang memeluknya. Wanita itu mengikat tanganya di leher Farel. Ia memiliki wajah yang cantik, body seksi, rambut panjang dan lurus dan pakaian sedikit terbuka. Para karyawan yang melihatnya terpesona, membuat Farel kesal dan membawanya pergi ke dalam ruangan.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Farel.
"Mau ketemu kamulah," sahut Wanita itu.
Farel mengusap wajahnya dengan kasar. "Akukan udah bilang, kaau mau ke sini bilang!"
"Udah kok, tapi kamunya yang nggak baca."
Farel tak percaya dan langsung mengambil handphonnya. Terlihat notifikasi masuk dua puluh enam menit yang lalu.
"Benerkan?" tanya Wanita itu sambil duduk di sofa empuk.
Farel menyender di depan mejanya sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Sekarang kamu mau tinggal di mana?"
"Apartemen," sahut Wanita itu.
"Ngapain ke sini?"
"Kangen," sahut Wanita sambil tersenyum senang.
"Ka--" ucap Farel terpotong.
Tok tok tok
Tak lama seseorang mengetuk pintunya. "Farel! Mamah masuk ya!" ucap Mila dan hendak masuk ke dalam.
"BENTAR MAH! BENTARRR!" teriak Farel dari dalam ruangan. Ia menarik Wanita itu dan memintanya bersembunyi di bawah meja kerjanya. Ia pun duduk di kursinya dan mengehela napas. "MASUK MAH!"
Mila masuk ke dalam ruangan sang Anak, sambil membawa paper bag. Ia pergi ke arah meja Farel dan duduk di kursi depan meja. Mereka saling lihat dan tersenyum.
"Kamu kenapa?" tanya Mila curiga.
"Nggak papa," sahut Farel sambil tersenyum.
"Tumben nih anak sering senyum. Apa tadi pagi terjadi sesuatu antara Syakila sama Farel?" batin Mila bertanya-tanya. "Ehem, kayaknya lagi happy. Apakah terjadi sesuatu?" tanya Mila.
"Eng-engga Mah. Farel dari tadi sendiri di sini," sahut Farel gugup. Ia pikir Mila bertanya begitu, karena merasa curiga soal wanita yang ada di bawah mejanya sekarang.
"Pasti udah terjadi sesuatu, jawabnya aja ngaco," batin Mila. Mereka berdua salah paham. "Oke, Mamah nggak akan tanya. Ini kan privasi kamu," ucapnya membuat Farel bingung dan panik.
"Kok Mamah ngomong gitu? Apa jangan-jangan Mamah tau? Ahhh, sial. Semoga aja enggak," batin Farel.
"Nih! Mamah bawain roti bakar." Mila memberikan paper bag ke Farel.
Farel menerimanya dan mengambil kotak bekal itu dari paper bag. "Tadikan udah sarapan Mah," ucapnya sambil membuka bekal.
"Ayah minta roti bakar, jadi Mamah buatin aja sekalian buat kamu. Rotinya juga tinggal dikit."
"Ohhh, makasih Mah," ucap Farel berterimakasih.
"Sama-sama sayang. Mamah ke Kantor Ayah dulu ya," pamit Mila dan hendak pergi.
"Iya Mah," sahut Farel.
"Assalammualaikum," salam Mila dan keluar dari ruangan Farel.
"Waalaikumsalam," sahut Farel dan Mila pun telah pergi meninggalkan tempat. Wanita itu keluar dari persembunyian dengan waja kesal.
__ADS_1
"Pengap tau!" ujar Wanita itu kesal. Farel memberikan bekal yang berisi roti bakar ke wanita itu. Ia pun mengambilnya dan pergi ke arah sofa sambil melahap roti bakarnya.
"Lo dah ada cewek?" tanya Wanita itu.
"Belum," sahut Farel sambil ngetik di laptopnya.
"Bisalahhh, gue masuk," goda Wanita itu.
"Kagak," tolak Farel.
"Ck, kagak seru," ucap Wanita itu sambil melahap rotinya. Farel tidak peduli dan kembali mengetik. Tak lama Mila masuk ke dalam ruangan Farel secara tiba-tiba, hingga membuat Wanita itu panik.
"Aduhhh, Mamah lupa. Paper bagnya dimana Rel?" ucap Mila.
Farel celingak-celinguk mencari Wanita itu dan panik. "Di... di sini!' ucapnya sambil memberikan paper bagnya.
Mila mengambil Paper bagnya dan mencari kunci mobilnya yang tertinggal. "Alhamdulillah, udah ketemu."
Farel tersenyum kikuk. "Alhamdulillah."
Mila melihat ke kanan dan ke kiri. "Mamah tadi nyium parfum cewek, enak banget. Parfumnya siapa ya?" tanyanya sambil menghirup aroma parfum yang masih tertinggal di ruangan.
"Pu-punya Se-seeeketarisku tadi Mah. Dia tadi ke sini ngasih dokumen," sahut Farel berbohong.
"Ohhh, dimana ya orangnya? Mamah mau tanya," tanya Mila.
Farel kaget dan berdeham untuk menetralkan ekspresi. "Ehem, dia tadi setelah ngasih dokumen ijin pulang Mah. Lain kali aku tanyain."
"Oke deh, Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Farel. Mila pun pergi meninggalkan tempat. Farel celingak-celinguk mencari keberadaan Wanita itu. Tak lama, terlihat sofanya bergerak-gerak dan keluar dari bawah sana.
"Hufff, sialan. Untung aja tempatnya bersih," ucap Wanita itu kesal.
"Dihhh, uangnya?"
Farel pun meraih dompetnya dan mengambil semua uang yang ada. Wanita itu langsung berlari mengahampiri Farel dan mengambil uang itu. Ia pergi dari ruangan Farel dengan senang.
"THANKS!" ucapnya sambil berlari ke arah pintu. Setelah Wanita itu pergi meninggalkan tempat, Farel duduk di kursinya sambil memijat pelipisnya.
"Hufff."
...🌸...
Syakila, Adel, Sisil dan Amira berkumpul di halaman Kampus biasa. Mereka berempat terlihat tengah mengobrol sambil mengerjakan tugas. Tak lama Angga dan Reza datang. Reza duduk di samping Adel dan menyenderkan kepalanya ke bahu sang pacar, sedangkan Angga duduk di samping Syakila.
"Wihhh, berasa jadi nyamuk gue," seru Sisil.
"Perasaan pasangannya satu, ngapa berasa dua ya?" komen Amira.
"Ehem," Syakila berdeham. "Maksud lo apa?"
"Hehehee, canda," ucap Amira.
"Lo berdua mending diem deh!" ketus Syakila.
"Lo marah Sya?" tanya Angga.
"Nggak," sahut Syakila.
__ADS_1
"Sya!" panggil Reza.
"Hmm."
"Lo sama Farel kemarin berantem?" tanya Reza sambil menoleh ke arah Syakila.
"Ehhh, beneran Sya?" tanya Adel.
"Bukannya lo berdua baik-baik aja ya kemarin?" seru Sisil.
"Baru beberapa hari ketemu, masa berantem Sya," komen Amira.
"Auahhh," ucap Syakila dan pergi meninggalkan tempat.
"Sya, tunggu!" pinta Angga dan ia pun mengejar Syakila. Reza kembali menyender di bahu Adel dan memejamkan mata.
"Ck, lo ngapa sih dari tadi nemplok mulu sama Adel?" kesal Amira.
"Ngantuk," sahut Reza santuy sambil memejamkan mata.
"Semalem lembur," ucap Adel memeberitau.
"Ohhh," sahut Amira.
"Juna juga gitu, kemarin ngajak ke taman. Gue kira mau pacaran. Ehhh, ternyata dianya malah numpanh tidur di pangkuanku," keluh Sisil.
"Kasihannn," sahut Amira dan Adel bersamaan.
"Ohh iya, Syakila sama Farel berantemnya gimana?" tanya Sisil penasaran.
"Ngantuk gue Sil, tanya aja ke cowok lu!" seru Reza malas.
"Ck, males bener hidup lo. Gue nggak habis pikir sama kalian berdua," ucap Sisil terhenti.
"Kalian berdua yang lo maksud siapa?" tanya Amira.
"Juna sama Reza," sahut Sisil.
"Gue ngapa?" tanya Reza dengan posisi yang masih sama.
"Lo berdua bisa santai gitu megang perusahaan. Padahal David, Farel sama Angga aja sesibuk itu," seru Sisil. "Kalian berdua tuh nggak ada niatan apa ya, buat ngebangin perusahaan."
"Lo pikir ngebangin perusahaan, semudah lo ngebangin adonan!" kesal Reza. "Kalau lo mau, pacarin aja David, Farel sama Angga. Cobain rasanya!"
"Dihhh, ngapa David?" ucap Amira tak terima.
"Maksud lo apa sih Za? Guekan cuman pingin aja, kalau kalian bisa sesukses mereka bertiga. Apa salahnya coba?" ujar Sisil.
Reza berdiri dari duduknya. "Setiap orang punya ujian. Semakin tinggi level lo, semakin tinggi juga ujian lo!" ucapnya dan pergi meninggalkan tempat.
"Ehhh, guys gue duluan ya," pamit Adel mengejar Reza.
Sisil tau hal itu. Ia merasa Reza dan Juna tau sesuatu soal mereka bertiga. Amira juga merasa bingung dan panik. Apa yang di katakan Reza memang benar.
"David akhir-akhir ini nunjukin sikap yang biasa aja sih, tapi ngapa Reza ngomong gitu?" Amira bingung.
"Apa gue salah ngomong ya? Rezakan bukan orang yang emosian," ujar Sisil.
"Tuh anak lagi capek aja. Adelkan udah bilang," sahut Amira.
__ADS_1
"Hmmm, bener sih," ucap Sisil. "Balik yuk!"
"Hayuklah, gue dah ngantuk juga nih," sahut Amira. Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat.