
Syakila pun di buat tidur oleh Dokter dan Mereka berkumpul di luar ruangan. Terlihat di wajah mereka ada rasa khawatir dengan kondisi Syakila. Tak lama Farel, Mila dan Ardi datang.
"Assalammualaikum," salam Farel Family.
"Waalaikumsalam," sahut Reyhan, Kelvin, Aldi dan Rafi. Mereka berempat menyalami Mila dan Ardi satu per satu.
"Yohan sama Niya kemana?" tanya Ardi.
"Ke rumah Om, Mamah sama Ayah dari kemarin belum pulang soalnya," sahut Reyhan.
"Ohh gitu," ucap Ardi.
"Tante sama Om mau jenguk Syakila bisa?" tanya Mila.
"Emm, Syakika baru aja tidur Tan," sahut Reyhan.
"Ohh guty ya," sahut Mila.
"Om sama Tante nggak pulang?" tanya Kelvin.
"Nggak," sahut Mila dan Ardi bersamaan.
"Om sama Tante pulang ke rumah aja dulu, istirahat," ucap Reyhan.
"Iya Om, Tante, kalau kalian sakit kasihan Farel," tambah Kelvin.
"Iya Mah, Yah, kalian pulang duluan aja, istirahat sepuasnya," ucap Farel.
"Tapi....., kamu gimana?" tanya Mila.
"Biar kami berdua aja Tan, yang jaga Farel," tawar Reyhan dan Kelvin pun mengangguk.
Mila melirik sang suami dan Ardi pun menganggukkan kepala. "Baiklah, Tante titip Farel ya, nanti malam kami balik lagi," ucapnya.
"Iya Tante," sahut Reyhan dan Kelvin bersama.
"Mamah sama Ayah pulang dulu ya, nanti malam kita balik lagi kok," pamit Mila ke Farel.
"Iya Mah," sahut Farel. Mila pun mencium kedua pipi Farel.
"Yang nurut sama Reyhan," pesan Ardi dan Farel mengangguk. Mila dan Ardi berpamitan dengan mereka berempat, setelah itu pergi meninggalkan tempat.
"Bentarrr, telinga gue kayaknya salah denger," seru Kelvin.
"Ngapa?" tanya Aldi.
"Om Ardi bilang, suruh nurut sama Reyhan doang?" tanya Kelvin dan mereka bertiga mengangguk. "Wahhh parah, gue kagak di anggep."
"Mungkin, di mata Om Ardi lo masih kecil," ucap Aldi.
"Atau nggak, Om Ardi tau, kalau Kak Rey lebih bisa di andelin ke timbang elo," seru Rafi dan Kelvin berdecak sebal.
"Rel, lo mau temui Syakila?" tanya Reyhan.
"Nggak Kak, biar Syakila tidur dulu aja," tolak Farel.
"Oke," sahut Reyhan.
"Gimana soal transplantasi mata lo, ada perkembangan?" tanya Kelvin.
"Entah," sahut Farel.
"Ck kagak niat sehat lo," seru Kelvin dan Farel hanya diam.
"Udah-udah, inget ini di Rumah Sakit," ucap Reyhan, membuat mereka diam.
...🌸...
Desy dkk kini telah berada di Mall. Mereka bertiga terlihat sibuk memilih makanan dan hadiah buat Syakila. Mereka ingin memberikan semua kesukaan Syakila, karena rasa bahagia sahabatnya telah sadar.
"Kalau kasih nih minum boleh nggak ya?" tanya Sisil.
"Kalau Om sama Tante sih oke aja, kalau Kak Rey kayaknya bakalan ngelarang deh," sahut Desy.
"Kalau Kak Kelvin?" tanya Sisil.
"Tergantung kondisi," sahut Desy.
"Beliin aja nggak papa," kata Nayla.
"Oke deh," sahut Sisil dan pergi begitu saja meninggalkan Desy dan Nayla.
"Soal misi, kita beneran istirahat nih?" tanya Nayla memastikan.
__ADS_1
"Iya, kalau tuh ketua mati, tugas kita selesai," sahut Desy.
"Hah? kan masih ada wakil sama anggotanya," seru Nayla.
"Itu biar jadi urusan mereka," sahut Desy sembari memilih roti.
"Hmm, Baiklah," sahut Nayla. "Aku mau kesana dulu," Ucapnya sembari menunjuk ke arah toko aksesoris dan Desy pun mengangguk.
Mereka berpencar dan kembali berkumpul. Makanan, minuman dan hadiah untuk Syakila pun telah siap. Mereka pun langsung pergi ke Rumah Sakit dengan mobil.
°°°°°
David yang telah berada di markas, terlihat tengah mengotak-ataik laptopnya. Ia tidak sendiri, di sana juga ada Deni yang menemani. Mereka kini tengah berfokus menyelesaikan masalah dan tugas mereka.
Teriring teriring teriring
Handphone David berbunyi. Ia pun mengangkat telponnya.
...CALLING ON....
David : Hallo.
Orang : Saya mau kasih tau, transplantasi mata telah siap, lokasinya di Negara S.
David : Baiklah, saya kasih tau dia dulu.
Orang : Jangan lupa dengan syaratnya.
David : Iya, Terimakasih atas kerja samanya.
Orang : Sama-sama, saya juga senang bekerja sama dengan anda.
David : Assalammualaikum.
Orang : Waalaikumsalam.
...CALLING OFF....
"Dapet?" tanya Deni dan di angguki David.
"Gue serahin kleb ke lo ya Bang," pinta David.
Deni Mengangguk. "Gue doain semoga urusan kalian berdua berjalan dengan lancar," ucapnya.
...🌸...
Desy dkk keluar dari mobil dan masuk ke dalam Rumah Sakit. Ketiga wanita cantik itu masuk dengan gembira sembari membawa beberapa paper bag. Para Pasien, Suster dan juga Dokter terlihat terpesona dengan kecantikan mereka bertiga serta senyum yang terus mengembang di wajahnya. Tak lama mereka pun sampai di ruangan Syakila.
"Assalammualaikum," salam Sisil, Desy dan Nayla bersamaan dengan riang.
"Waalaikumsalam," sahut Reyhan, Kelvin dan Farel. Rafi dan Aldi telah pulang dua puluh menit yang lalu.
"Syakila tidur ya Kak?" tanya Nayla.
"Iya, kalau mau jenguk masuk aja, nggak papa," sahut Kelvin dan di angguki Reyhan.
"Oke," ucap Sisil.
"Kita masuk duluan ya Kak," pamit Desy dan mereka bertiga pun masuk ke dalam.
Mereka bertiga melihat Syakila yang tengah tertidur dengan begitu imut dan cantik. Mereka pun menghampiri Syakila dan membangunkannya secara pelan-pelan. Perlahan Syakila membuka matanya dan tersenyum kecil.
"Akhirnya dateng juga," ucap Syakila dengan suara khas orang yang baru saja bangun tidur.
"Lihat nih kita bawa apa?" ucap Desy sembari menunjukkan paper bag yang ia bawa, di susul Nayla dan Sisil.
Mereka bertiga pun memberikan paper bagnya ke Syakila. Wajah Syakila begitu senang dan bergembira. Ia pun mulai membukanya satu per satu.
"Wahhhh, dah lama banget aku nggak makan ini," ucap Syakila senang.
"Wahhhhh, nggak sabar aku mau makan," seru Syakila.
"Aaaaaa, kalian tau banget sih aku lagi pingin jus alpukat," ucap Syakila.
"Wow, kelihatannya enak banget," ucap Syakila dan menghirup aroma roti itu.
__ADS_1
"Bukan cuman itu yang kita kasih," ucap Desy.
"Ehhh, masih ada lagi?" tanya Syakila dan di angguki ke tiganya. "Apa?"
Nayla dan Desy pun menganbil barang itu dan menunjukkannya ke Syakila. Wajah Syakila sangat senang, saking senengnya sampai meneteskan air mata.
"Aku sengaja cari gelang ini, modelnya simpel, nggak terlalu mewah dan sederhana," ucap Nayla. "Ini aku beli, untuk simbol persahabatan kita berempat, aku udah pakai duluan, heheee," tambahnya.
"Wahhhh, bagus Nay, aku yang putih ya," ucap Desy, sembari mengambil gelang yang berwarna putih.
"Sya, kamu yang apa?" tanya Sisil.
"Emmm, aku maunya yang kuning," sahut Syakila. Sisil pun mengambil gelang itu dan memakaikannya. Ia pun membalas Sisil dengan memakaikan gelang berwarna pink.
"Makasih Nay," sahut ketiganya bersamaan.
"Untuk buketnya Syakila nggak makan banyak ya," ucap Reyhan yang baru saja masuk ke dalam.
"Iya Kak, Syakila tau kok," ucap Syakila.
"Good," sahut Reyhan dan mengambil handphonnya. "Kakak keluar ya," pamitnya dan di angguki mereka berempat. Ia pun pergi meninggalkan tempat.
"Makan bareng-bareng yuk!" ajak Syakila dan mereka menganggukkan kepala.
Mereka pun memakannya bersama-sama. Sesekali mereka isi dengan canda tawa dan bercerita, untuk membantu Syakila mengingat masa lalu.
.......
Terlihat di luar ruangan Syakila Farel tengah berbicara dengan Kelvin dan Reyhan sibuk dengan handphonenya. Tak lama David datang menghampiri mereka bertiga dengan wajah senang. Kelvin yang mengetahuinya pun langsung memberitau Farel.
"David," ucap Kelvin dan di angguki Farel.
"Assalammualikum," salam David dan menyalami Kelvin serta Reyhan.
"Waalaikumsalam," sahut mereka bertiga.
"Widih lagi seneng nih," ucap Kelvin.
"Yoi dong, gimana gue nggak seneng, sahabat gue bentar lagi bisa lihat, " sahut David, membuat Mereka bertiga kaget.
"Maksud lo?" tanya Kelvin.
"Farel udah dapet transplantasi matanya?" tanya Reyhan memastikan.
"Iya Kak," sahut David, membuat Kelvin dan Reyhan senang, kecuali Farel. Ia merasa ada yang menjanggal, namun ia tidak itu apa?
"Selamat Bro, akhirnya lo bakalan bisa lihat lagi," ucap Kelvin.
"Semoga oprasinya berjalan dengan lancar," ucap Reyhan.
Farel mengangguk. "Makasih," sahutnya.
"Kak, gue bawa Farel ke dalam kamarmya ya," ijin David.
"Mau gay lu berdua?" ucap Kelvin.
Plakkk.
Reyhan menjitak belakang kepala Kelvin, membuatnya mengaduh kesakitan. "Bawa aja sekalian istirahat, omongan Kelvin nggak usah di dengerin."
David mengangguk dan membawa pergi Farel ke dalam kamar inap. Ia membantu Farel berdiri dari kursi rodanya dan baring di atas kasurnya. Ia pun memulai pembicaraannya.
"Transplantasi matanya udah ada, kapan lo mau berangkat?" tanya David.
"Dua hari lagi, gue belum ketemu Syakila soalnya," sahut Farel.
"Oke, urusan sekolah udah lo kabari ortulo kan?" tanya David.
"Udah, mereka juga setuju," sahut Farel. "Lo gimana?" tanyanya.
"Gue juga udah, tinggal siap-siap," sahut David. "Ohh iya, soal syarat lo setuju? Gue kurang yakin, " tanyanya.
"Entahlah, gue juga ngerasa gitu, tapi mau gimana lagi?" sahut Farel.
"Ya udah, gue mau balik dulu, jangan lupa kabari ortu lo!" pesan David dan di angguki Farel. "assalammualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Farel. "Besok pagi ajalah gue temuin Syakila," ucapnga pada diri sendiri.
...🌸...
__ADS_1