
Syakila, Desy, Nayla dan Sisil kini tengah tertawa bersama, menghapus tangis dari wajah mereka. Mereka saling menghibur dan menyemangati. Senyum yang sangat cantik, muncul di wajah mereka.
"Mau di selidiki nggak? Aku rasa njanggal nih," ucap Nayla.
Desy menganggukkan kepala. "Gue setuju!"
"Aku juga ngerasa gitu," sahut Sisil dan Syakila terlihat diam sejenak, memikirkan pendapat teman-temannya.
"Emmm, boleh deh. Aku juga takut, kalau Farel tau ini semua," ucap Syakila setuju. "Apalagi aku duluan yang mulai, Farel pasti makin marah."
Desy menepuk punggung Syakila. "Jangan takut! Kalau jodoh tuh nggak akan kemana!"
"Iya Sya, Rio juga awalnya nggak terima dan urungin niatnya buat nikahin aku," ucap Nayla sambil tersenyum kikuk dan membuat ke tiga temannya terkejut. "Tapi, lihat nih!" ia mengusap perutnya yang mulai buncit. "Pada akhirnya dia nikahin aku dan bentar lagi punya baby."
"Bentarrr, kok kita nggak tau apa-apa?" tanya Desy.
"iya, ngapa Nayla ngak minta bantuan ke kita?" tanya Sisil.
Syakila tersenyum. "Nayla nggak mau terlalu bergantung ke kita, karena selalu bantu dia nyelesein masalahnya," ucapnya memberitahu dan Desy serta Sisil mengangguk paham.
Nayla tersenyum dan berkata, "Kamu emang paling peka Sya."
Syakila tersenyum dan tak lama handphonnya berbunyi. Ia pun mengangkat telpon itu.
...CALLING ON....
Farel : Assalammualaikum.
Syakila : Waalaikumsalam.
Farel : Aku di Kampus, kamu di mana?
Syakila : Ehhh (terkejut.) Aku di Apartemen sama Desy, Sisil sama Nayla.
Farel : Ohh.
Syakila : Mau jemput aku kah?
Farel : Iya, tapi nggak jadi.
Syakila : (tersenyum kikuk dan bingung.) Emmm, mau ngajak aku main?
Farel : Nggak.
"Hufff, jawab apa ya?" batin Syakila sambil berfikir.
Syakila : Terus, kamu mau jemput aku kenapa?
Farel : Nggak boleh?
"Haduh, salah ngomong lagi kan gue," batin Syakila merutuki ke bodohohannya.
Syakila : Bolehlah, malahan boleh banget!
Farel : .....
Syakila : (Bingung.) Kayaknya ada sesuatu ya?
Farel : Iya.
"Astaughfirullah, sulit banget omongan sama nih anak, untung sayang, sabar Sya, sabar," batin Syakila. Desy, Sisil dan Nayla hanya menyimak.
Syakila : Emmm, ke taman aja gimana?
Farel : Nggak.
Syakila : Emm, Restoran?
Farel : Nggak jadi, aku meeting aja. Assalammualaikum.
Syakila : Waalaikumsalam.
...CALLING OFF....
Syakila menaruh handphonnya di sofa dan terbaring lemas. Ia merasa prustasi dan lemah. Otaknya sekarang sedang demo, karena penasaran dengan sesuatu itu.
__ADS_1
"Dia mau ngomong apa? Mau ngasih hadiah kah? Ngasih kejutan? Atau apa?" pikirnya dalam kepala. Desy, Nayla dan Sisil panik. Mereka menanyai Syakila yang hanya diam saja.
Farel yang berada di Kampus terlihat memegang sebuket bunga yang besar dan mahal. Ia berikan pada Mahasiswi lain dan segera pergi ke arah mobilnya. Jadwalnya yang padat, membuatnya harus pergi dan menolak Syakila. Mahasiswi yang di beri bungan oleh Farel, terkihat senang sekali. Para Mahasiswi yang ada di sana merasa iri dan galau.
...🌸...
Langit perlahan mulai gelap, adzan maghrib mulai berkumandang dengan indah. Syakila sekeluarga mulai melakukan kewajibannya sebagai umat muslim, shalat. Yohan terlihat berada di barisan depan sendirian, memimpin jalannya shalat. Suara yang terdengar begitu merdu di telinga, membuat nuansa rumah itu berwarna. Tak lama, mereka selesai shalat dan bersalaman.
Kelvin sekeluarga terpaksa pulang selepas shalat, karena harus ke rumah Bunga. Orang Tua Bungan sangat ingin bertemu dengan cucu pertama mereka. Rumah pun hanya terisi suara birisik dari anak-anak Reyhan dan Klara. Syakila kini tengah bermain handphone sembari menunggu makan malam.
Wajah Syakila seketika berubah, ia mendekatkan matanya ke handphone. Terlihat di layar itu, ada sebuah vidio yang menampakkan wujud Farel dari ujung kaki hingga kepala. Kata-kata bucin dan pujian, mereka lontarkan ke Farel. "What?"
Reyhan yang sedang fokus ke handphonnya, tiba-tiba terkejut karena Syakila. "Ada apa Dek?" tanyanya.
Syakila melihat ke arah Reyhan sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. "Nggak papa kok Kak."
"Hmmm." Reyhan kembali melihat ke arah handphonnya dan Syakila pun mengehela napas pelan.
Syakila kembali melihat vidio ke dua yang menampakan wujud Farel. Terlihat di vidio itu, Farel memberikan buket bunga ke salah satu Mahasiswi. Terdengar suara bising anak-anak Kampusnya yang heboh, karena sikap Farel. Syakila merasa kesal dan membaringkan tubuhnya ke sofa, dengan posisi tengkurup. Ia memukul sofa dengan ke dua kaki dengan posisi yang masih sama.
Reyhan yang melihatnya pun merasa bingung. Ia memiringkan kepalanya untuk mengintip ke handphone Syakila. Reyhan menelusuri vidio itu dan menontonnya. Ia paham dan langsung pergi menjauh. Setelah menjauh, ia mengeluarkan handphone dan menghubungi seseorang.
...CALLING ON....
Reyhan : Hallo, Assalammualaikum Rel.
Farel : Waalaikumsalam Kak, ada apa?
Reyhan : Siang tadi, lo kasih bunga ke cewek lain?
Farel : Iya.
Reyhan : Maksud lo apa? Udah kagak sayang lo sama Adek gue, hah!
Farel : Bukan begitu Kak.
Reyhan :Bukan begitu gimana? Gue lihat sendiri, lo kasih tuh cewek bunga!
Farel : Tad---
Farel : Dengerin gue dulu Kak!
Reyhan : Hmmm.
Farel : Bunga itu sebenernya buat Syakila, tapi dia udah pulang duluan. Mangkanya, gue kasih ke Siswi lain.
Reyhan : Hmm, sekarang Syakila udah lihat, lo mau ngapain?
Farel : (Bepikir.) Gue ajak main boleh?
Reyhan : Sibuk kagak lo? Kalau sibuk kagak usah, dari pada malem-malen bikin mata nggak bisa tidur!
Farel : Enggak Kak.
Reyhan : Hmm, gue kasih lo waktu satu setengah jam, habis itu balik! Kondisi Syakila harus ceria dan kagak lecet sedikit pun! Kalau sampek Syakila kenapa-napa, habis lo di tangan gue!
Farel : Iya.
...CALLING OFF....
Reyhan mematikan telponnya dan pergi ke ruang tamu. Belum sempat duduk, makan malam telah siap. Ia pun pergi ke arah ruang makan dan makan bersama. Terlihat semua keluarga tengah makan dan bercanda tawa.
"Tante!" panggil Darel.
Syakila menoleh ke arah Darel. "Kenapa?"
Darel melahap makanannya dan bertanya sambil mengunyah, "Tante, nyam nyam, senikmat-nikmatnya kita makan di luar, lebih nikmat lagi di?"
"Di rumahkan?" jawab Syakila sambil melahap nasinya.
Derel menggelengkan kepala dengan mulut yang terisi penuh oleh nasi. "Di telan," ucapnya, setelah menelan makanan. Syakila, Niya dan Yohan bingung.
"Kok bisa?" tanya Syakila, sambil menoleh ke arah Derel yang tengah meminum air putih.
"Semua makanan akan terasa nikmat, kalau di telan!" seru Derel dan turun dari bangkunya. "Aku mau ngerjain tugas," ucapnya dan pergi. Tiara pun ikut turun dari bangku dan menyusul Kakaknya.
__ADS_1
"Nanti Mamah susul!" ucap Klara. Ia mengobrol sebentar dengan Reyhan dan pergi menuyul anaknya.
Syakila memikirkan jawaban Derel. Apa yang dibilang Derel memang benar. Makanan akan terasa nikmat jika di telan, kalau di muntahin berarti nggak nikmat. Ia mengangguk-anggukan kepala, paham. Tak lama bel rumah berbunyi. Seorang pemuda tampan pun datang menghampiri mereka dan bersalaman.
"Ehhh, kok Farel ke sini?" batin Syakila bingung.
Farel menyalami Niya. "Apa kabar Tan?" tanyanya sopan.
Niya tersenyum dan menjawabnya, "Baik, mau makan bareng nggak?"
Farel menggelengkan kepala, "Nggak Tante, aku ke sini mau ngajak Syakila pergi boleh?"
"Boleh dong," sahut Niya.
Yohan berdeham, "Ehem, di sini tuan rumahnya siapa?" sindirnya dan Reyhan tertawa dalam batin.
Farel melihat ke arah Yohan dan menyalaminya. "Om, saya boleh ajak Syakila pergi ke luar?"
Yohan menjawab, "Tanyakan kepada yang berwenang."
Farel tersenyum dan bertanya ke Syakila dengan kode mimik wajah. Syakila paham dan menganggukkan kepala. "Aku siap-siap dulu," ucap Syakila dan pergi meninggalkan tempat. Farel pun mengobrol dengan Yohan, Niya dan Reyhan, sembari menunggu Syakila.
Tak lama, Syakila datang dan menghampiri mereka berempat. Syakila dan Farel berpamitan dengan Yohan, Niya serta Reyhan. Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat dan menuju ke arah mobil. Dua puluh lima menit kemudian, mereka berdua sampai di tempat tujuan.
Syakila dan Farel duduk di tempat yang kosong. Tak lama pelayan pun datang dan memberikan buku menu. Mereka berdua membacanya dan memesan makanan. Pelayan itu mencatat pesanan keduanya dan pergi.
Farel mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikan ke Syakila. "Apa ini?" tanya Syakila dan Farel pun membuka kotak kecil itu.
Syakila menatap cincin itu dengan wajah yang datar. Farel yang melihatnya merasa bingung. "Syakila nggak suka? Apa kurang mahal ya? Apa modelnya jelek kalik?" batinnya. "Sya!"
Syakila mengangkat pandanganya dan melihat ke arah Farel. "Iya?"
"Kamu nggak suka?" tanya Farel.
Syakila diam sejenak dan menjawab, "Aku suka, tapi..."
Farel menaikkan salah satu alisnya, ia bingung. "Tapi, kenapa?"
Syakila melihat ke arah kotak itu dan mengambil cincinnya. "Kado atau ungkapan perasaan, tidak haruslah mewah dan mahal. Kamu selalu ngasih aku barang brain deat, itu bikin aku sedih."
Farel merasa bersalah dan paham, apa yang dimaksud Syakila. "Maaf, aku bukan bermaksud untuk merendahkan kamu dengan membalikkan barang-barang ini! Aku cuman mau, bikin kamu seneng dan bahagia aja."
Syakila tersenyum dan memberikan cincin itu ke Farel. "Pasangin!" pintanya dan Farel pun memakaikan cincin itu ke jari manis Syakila. "Lain kali, kasih aku cincin yang lebih bagus lagi, buat di nikahan kita nanti, oke!"
Farel tersenyum dan dan menganggukkan kepala. "Iya," ucapnya sambil mengacak-acak rambut Syakila.
"Jangannn! Nanti berantakan rambut aku!" Syakila menahan tangan Farel dan memegangnya dengan erat. Mereka berdua saling tersenyum dan tak lama, terdengar suara perut yang keroncongan. "Hahahaa, udah pada demo!" seru Syakila, sembari tertawa.
Farel hanya melempar senyum sambil memegangi perut. Ia tidak bisa berkata-kata, rasa lelah dan lapar, bercampur menjadi satu. Terakhir ia makan siang jam dua belas dan sampai sekarang belum makan. Padahal sudah jam setengah delapan. Bayangkan saja rasanya gimana?
Syakila menghentikan tawanya dan melihat ke arah Farel yang terlihat lemah. "Kapan terakhir makan?"
"Tadi siang," jawab Farel. Syakila pun menaruh tangannya ke atas meja dan meminta Farel, untuk membaringkan kepala di atas tangannya. Farel pun menuruti mau Syakila. Keduanya terlihat so sweet dan menggemaskan. Apalagi, di saat Syakila dengan jailnya memainkan telinga Farel, membuat sang kekasih geli dan sesekali protes.
"Syakila!" tegur Farel, namun tak di hiraukan. Syakila terus memainkan telinga Farel dengan tertawa kecil. Para pengungjung yang melihatnya, menjadi baper dan tertawa.
Tak lama pesanan mereka pun datang. Syakila dan Farel pun segera menikmati makanan itu dengan diam. Lima menit kemudian, mereka selesai makan. Farel membayar bilnya dan pergi. Mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Bentar!" ucap Syakila.
Farel manaikkan salah satu alisnya. "Ada yang ketinggalan?"
Syakila menggelengkan kepala dan mengeluarkan handphone. "Foto yuk! Plisss!" ucapnya dengan wajah memohon. Farel yang mrlihatnya terpaksa mengiyakan. Syakila berseru senang dan menaruh handphone ke depan.
Syakila meminta handphone Farel dan sang kekasih pun memberikannya. Syakila memegang handphone Farel dan mulai berfoto.
Syakila dan Farel akhirnya selesai berfoto. Mereka pun pergi pulang, karena hari semakin gelap. Farel mengantar Syakila dengan selamat dan berpamitan. Ia kembali ke rumah dan segera istirahat.
...°°°°...
__ADS_1
...See you...