
Desy dan Reza dkk akhirnya sampai di tempat tujuan bersama anak-anak yang lain. Terlihat mereka tengah menurunkan barang-barang mereka dari mobil dan juga bus. Kini mereka akan tinggal di salah satu hotel dekat pantai.
"GUYSSSS, KALIAN SEMUA BISA LANGSUNG MASUK YA, KAMARNYA SESUAI DAFTAR YANG AKU KASIH!" ucap Sisil dengan megaphone toa.
Para anggota mengangguk paham dan masuk satu persatu. Terlihat Desy dan Reza dkk duduk atau menyeder di depan mobil mereka masing-masing. Tiga buah mobil mewah berjejeran di parkiran.
Mobil itu milik Desy, Reza dan juga Juna. Reza bersama Deni, Nayla bersama Desy dan Juna bersama Sisil. Mereka terlihat beebincang-bincang sembari menunggu David.
Brummmm
Tak lama mobil mewah berwana merah gelap datang dan berhenti di depan mereka. Reza dan Desy dkk menghentikan obrolan mereka, lalu melihat ke arah mobil itu. Seorang pemuda keluar dari mobil itu dengan jaket jeans berwana coklat tua.
"Lama bener lo," seru Desy.
"Kalau mau jadi Pahlawan, di rel kereta aja sono," seru Sisil.
"Hah?" ucap Reza, Juna dan Deni.
"Ngapa?" tanya Sisil.
"Pahlawan kan datengnya selalu telat atau paling belakangan," jelas Nayla dan mereka pun paham.
"Lo tadi kemana?" tanya Deni.
"Ketemu Farel bentar, kangen gue sama tuh anak," sahut David sembari menyeder di pintu mobilnya.
Plakkk
Sisil melayangkan sepatunya tepat di wajah David, membuat sang korban mengaduh kesakita. "Ngapa lo nggak ajak-ajak kita hah?" kesalnya.
"Lo kan kagak nanya," sahut Sisil.
"Gimana gue mau nanya, lo ngasih tau aja kagak," omel Sisil.
"Mampus," ucap Reza dan Juna bersamaan tanpa suara. David pun menatap tajam mereka berdua, namun yang di tatap malah buang muka.
"Udah-udah, kita masuk aja yuk, jangan buang-buang waktu!" ajak Nayla dan mereka pun masuk ke dalam.
...🌸...
Farel kini tengah berada di atas kursi roda dan di dorong oleh Kelvin. Ia diminta Kelvin untuk menemui Syakila, siapa tau dengan adanya dia di sana, Syakila bisa cepat sadar.
"Gue tinggal ya," ucap Kelvin.
"Bentar Kak, lo nggak lupa kan gue buta," tahan Farel.
"Hah, maksud lo?" tanya Kelvin tak paham.
"Kalau gue salah pegang gimana?" tanya Farel.
"Maksud lo apa hah?" kesal Kelvin.
"Gue mau pegang tangannya, kalau salah pegang ke kaki gimana?" tanya Farel.
"Mending juga kaki, kalau atasnya awas aja lo," ancam Kelvin. Ia meraih tangan Farel dan ia rekatkan ke tangan Syakila yang tengah terbaring lemah.
"Thanks,"
"Hmm," ucap Kelvin dan pergi dari ruangan, meninggalkan Farel berdua dengan Syakila.
Farel mengusap lembut tangan Syakila dan mencium dengan penuh kasih sayang. Ia mencium tangan itu sembari menangis.
"Sya, cepatlah sadar, aku perlu kamu saat ini," ucapnya sembari meraba wajah Syakila.
"Aku akan pergi dari sini, kalau kamu masih nggak sadar, aku nggak akan bisa menemuimu di saat kondisimu membaik," ucapnya lirih.
Farel mendekatkan wajahnya di telinga Syakila. "I love you Syakila sayang, kamu hanya milikku seorang, ingatlah itu," bisiknya dan beralih mencium kening Syakila.
Air mata Farel turun membasahi wajah Syakila yang terlihat cantik dan mempesona. Syakila pun mengeluarkan air matanya, namun sayang Farel tidak melihatnya. Ia kembali duduk di kursi rodanya dan pergi dari ruangan.
Kelvin yang berada di luar ruangan terlihat asik dengan game onlinenya. Ia sesekali menahan teriakannya atau emosinya, karena menang ataupun kalah. Farel datang menghampirinya, hingga membuatnya terpaksa mematikan handphone dan beralih ke Farel.
"Cepet banget," ucap Kelvin.
"Kak Kelvin nggak nanya kondisiku waktu keluar dari sini?" ucap Farel.
"Halah udah ketebak, lo pasti nabrak tembok tadi," sahut Kelvin dan Farel hanya diam.
"Gue mau balik," pinta Farel.
"Woke," sahut Kelvin dan mulai mendorong kursi roda Farel.
__ADS_1
...🌸...
Adel dan Amira tengah berada di Mall. Mereka berdua terlihat happy sembari membawa peper bag yang berisi belanjaan. Mereka berdua kini tengah berada di salah satu resto dalam Mall.
"Sebenarnya David sama Reza kemana ya?" ucap Amira.
"Reza sih pernah bilang, katanya urusan Tasya," sahut Adel.
"Hmmm, serius? kok gue ngrasa ada hal lain yang di sebunyiin oleh mereka berdua ya," seru Amira.
"Kalaupun ada yang mereka sembunyiin, sebisa mungkin aku akan ngasih dia kesempatan buat jelasin itu semua," sahut Adel.
"Gue nggak nyangka lo bucin sama tuh anak," ucap Amira.
"Gue udah berhutang banyak sama Reza, mangkanya sebagai balasan gue bakalan percaya dan setia sama dia," ucap Adel.
"Kalau lo di duain?' tanya Desy.
"Gue yakin dia nggak bakalan begitu," sahut Adel.
"Ingettt, percaya dan yakin hanya ke Tuhan," pesan Amira.
"Iya, aku tau Amira," ucap Adel. "Aku cuman mau pertahanin hubungan ini aja dengan caraku sendiri," tambahnya.
"Hmmm, oke," sahut Amira.
"Inget Mir, kita berempat nggak pacaran loh, kalau mereka nyembunyiin sesuatu dari kita, bukannya nggak masalah? kan kita cuman temen," ucap Adel mengingatkan.
"Tapi.... kan," ucap Amira menggantung, "Iya."
"Kita nikmatin aja alurnya oke, kalaupun mereka ada masalah kita dukung dan hibur saja mereka berdua," kata Adel.
"Bener, lo bijak bener," puji Amira.
"Hahahhaa, maklumlah faktor nonton drama" sahut Adel.
"Semoga aja cerita kita nggak kayak drama film,"
"Kenapa?"
"Kebanyakan si tokoh utama yang setia di selingkuhin atau nggak di sakitin, gue sih ogah," seru Amira.
"Yang penting itu endingnya Mir, setiap perjuangan pasti akan ada hasilnya, kalau kita nggak dapet dia, mungkin dia tidak baik untuk kita, mangkanya di kasih yang lebih tepat," sahut Adel.
"Kok lebih tepat, bukan lebih baik, apakah kau salah ngomong?" tanya Amira memastikan.
"Hmm, bener juga," sahut Amira.
Tak lama pesanan mereka tiba dan mereka pun menyantapnya bersama.
...🌸...
Desy dan Reza dkk kini tengah bersiap-siap untuk keperluan besok. Terlihat Desy dan David tengah berkutik di depan laptop, Sisil dan Deni tengah mempersiapkan peralatan bersama anak-anak, sedangkan Reza, Juna serta Nayla tengah mempersiapkan strategi.
"Hmmm, rencananya sih bagus, cuman aku kok ngerasa ada yang ngeganjal ya," komen Nayla.
"Bener," sahut Reza setuju. "Biasanya yang urus strategi beginian siapa?" tanyanya.
"Syakila," sahut Nayla.
"Bukan Desy? perasaan tuh anak paling aktif," tanya Juna.
"Bukan, tugas Desy tuh kayak nyadap, dia emang paling aktif buat nyampein informasi lanjutan ke Syakila, nanti Syakila yang memutar otak untuk memikirkan lanjutanya," sahut Nayla.
"Dari luar kelihatannya Desy lah ratunya, padahal Syakila," seru Juna.
"Nggak lah, ratunya tuh tetep Desy, otaknya baru Syakila," jelas Nayla dan Juna nggak paham.
"Bukannya itu bahaya buat Desy?" tanya Reza.
"Iya, Desy malah jadi inceran musuh lo pada dong," tambah Juna.
"Kan aku dah bilang, ratunya Desy dan otaknya Syakila," sahut Nayla. "Sebagai otaknya, Syakila udah siapkan semuanya untuk perlindungan Desy dan keamanan privasinya, jadi kalian tenang aja," jelasnya dan mereka berdua pun paham.
"Tapikan Syakila lagi koma?" tanya Juna.
"Syakila ikut turun tangan, kalau ada pertempuran secara langsung?" tanya Reza.
Nayla menghela napas. "Begini guys, otak Syakila tuh tetap berputar walaupun dia koma, melalui anak buahnya sendiri. Nah, anak buahnya ini yang tau cuman mereka sendiri sama Syakila saja, jad---," terpotong.
"Bentar, kalau kita nggak tau otaknya Syakila siapa? cara kita buat ngandelin otaknya gimana?" tanya Juna bingung.
"Kita percayain ke mereka aja, kalian lihat aja kalau ada anak yang nggak ngikut strategi kita, itu artinya dia otak Syakila," sahut Nayla santai, Juna nyengoh dan Reza bingung.
"Kalau gitu mereka bisa berkhianat dong?" tanya Reza.
"Nahh, dulu kita juga pernah berfikir begitu, tapi sampek sekarang nggak ada yang berkhianat, entah mereka di kasih apa sama Syakila," sahut Nayla.
__ADS_1
"Itu artinya kita nggak perlu pusing-pusing mikirin strategi kan? capek mikir malah nggak di lakuin," ujar Juna.
"Ehhh, nggak gitu juga dong, otaknya Syakila tuh dikit nggak banyak, cuman empat atau lima orang aja," sahut Nayla.
"Kalau mereka lakuin itu diem-diem dan mencar dengan sendirinya, ternyata mereka mati gimana?" tanya Reza.
"Mereka punya koneksi sendiri, kalaupun otak Syakila mati semua, Syakila masih bisa nemuin mereka," sahut Nayla.
"Udah pernah?" tanya Reza.
"Belum sih, cuman kasusnya hilang aja," sahut Nayla dan di angguki mereka berdua.
"Ya udah, kita lanjut aja," ajak Reza.
Mereka pun melanjutkan tugasnya merancang strategi, sesekali mereka debat dan bertengkar. Desy dan David yang berada di ruangan lain terlihat fokus di depan laptopnya.
"Ini file yang lo cari?" tanya David.
"Waw iya, ternyata lo jago dalam hal beginian," puji Desy.
"Gue tugasnya emang beginia," sahut David.
"Ohhh gitu, terus tugas Farel apaan?" tanya Desy.
"Yang suka ngatur strategi," ucap David yang masik asik dengan laptopnya.
"Otaknya gitu?" tanya Desy dan diangguki David. "Tapi tuh anak ngikut turun tangan dalam lapangan?" tanyanya.
"Iya," sahut David.
"Koneksi kaliankan tinggi dan luas, ngapa masalah begini aja kalian kesukitan?" tanya Desy yang masih fokus ke arah layar laptopnya.
"Kalau urusan beginian koneksi kita kecil, yang tinggi dan luas itu bisnis," sahut David.
"Hah?"
"Entar kalau kita ada masalah dalam perusahaan, mereka para pengusaha bakalan turun tangan membantu kita, otomatis perusahaan kami nanti nggak akan mengalami kebangkrutan," sahut David.
"Kalau Tuhan berkehendak bangkrut, ya perusahaan lo bakalan bangkrut," sahut Desy.
"Kalau itu udah pasti," sahut David.
"Hmzzz,"
Merekapun kembali ke tugas masing-masing. Tak lama hari pun mulai gelap dan mereka semua tengah makan bersama. Terlihat satu ruangan yang luas dan besar penuh dengan mereka semua. Di sana ada anak-anak WW dan SDNS sekitar empat puluh orang, ditambah Reza serta Desy dkk.
"GUYSSSS, MAKAN YANG BANYAK YA! BIAR BESOK KAGAK LEMES," teriak Sisil.
"SIAPPP," ucap para Anak-anak WW dan SDNS.
"Soal mereka gimana?" tanya Reza.
"Tasya ada hubungannya sama mereka," sahut David.
"Sesuai data yang kita berdua cari, terlihat foto Tasya dengan ketua dan wakil si biang kerok. Hal yang paling mengejutkan lagi adalah, kabarnya Tasya jatuh dari jurang bersama si Ketua biang kerok itu," seru Desy.
"APA?" ucap Deni, Reza, Juna, Sisil dan Nayka.
"Jasad Tasya sekarang ada di Rumah Sakit dan untuk si Ketua itu kagak ada kabar," ucap David.
"Strategi yang aku minta udah jadikan?" tanya Desy.
"Udah, sepuluh orang termasuk kamu sama David ke Rumah Sakit, dan sisanya cari informasi serta penjagaan," sahut Nayla.
"Seperti yang aku bilang tadi, beberapa dari mereka masih ada di sini, kalian harus berhati-hati, aku khawatir si ketua itu ternyata masih hidup," pesan Desy dan diangguki oleh mereka semua, kecuali David.
"Coba aja kalau kita tau siapa di antar mereka yang menjadi otak Syakila, pasti enak," ucap Sisil.
"Bener, aku juga berfikir apa ya yang mereka pikirin waktu tau strategi kita," sahut Desy.
"Kenapa harus di rahasiain?" tanya Juna. "Kalian kan temen," tambahnya.
"Otak Itu harus di rahasian, kalau nggak bisa ketahuan," sahut Sisil.
"Kalau kita semua tau otak Syakila siapa, ini bisa bikin mereka iri dan saling benci," ucap Nayla pelan.
"Kalaupun cuman kami berempat yang tau, mereka pasti marah dan tingkat untuk terbongkar akan menjadi besar," tambah Desy pelan.
"Apa si Otak ini nggak pernah ngomongin soal mereka sebenernya? tingkah mereka harusnya di curigai oleh anak lain," ujar Deni.
"Ada jam atau barang lain yang di kasih Syakila, untuk menjaga mulut dan tingkah mereka, kalau mereka salah ngomong akan langsung nyetrum dan Syakila pun mengintrogasinya bersama otak lain," sahut Desy pelan.
"Intinya, Syakila udah persiapin ini semua dengan matang, entah cara apa aja yang dia lakuin," sahut Sisil pelan dan mereka pun paham.
"Kalau Syakila sama Farel bersatu ngeri juga, gue harus kasih tau Farel soal Syakila dan tentang Farel ke Syakila sebelum mereka nikah, bisa bahaya kalau mereka masih berdua masih begini," batin David khawatir.
Mereka pun melanjutkan makan malam mereka dan kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1