
Pesanan mereka datang. Mereka pun memakannya dengan tenang, sesekali obrolan masuk di sela makan. Syakila merasakan hawa yang dingin dari Farel dan hangat dari Angga. Tak lama handphone Farel dan Angga berbunyi berbasamaan.
Ting
Ting
Farel dan Angga pun meraih handphone masing-masing. Mereka buka notifikasi itu dan membacanya. Wajah mereka kaget, namun dengan cepat di ubah cool.
"Sialan," batin Farel kesal.
"As*," batin Angga.
"Heh, mau sampek kapan kalian main handphone?" tanya Mila kesal. Angga dan Farel hanya tersenyum.
"Ini, udah Tan," sahut Angga sambil menaruh handphone ke kantong.
"Farellll!" panggil Mila untuk udahan main handphonnya.
"Bentar Mah, sedikit lagi," sahut Farel membuat Mila menghela napas kasar.
"Dokterkan udah bilang, jangan keseringan makan telat! Nanti kamu maag," seru Mila mengingatkan.
"Iya," sahut Farel sambil main handphone. membuat Mila kesal dan pusing.
"Suapin Farel gih!" pinta Yohan berbisik.
"Ehhhh, eng-enggak deh Yah," tolak Syakila.
"Kalian cuman mau main-main aja atau sampak halal, hem," tanya Yohan.
"Halal," sahut Syakila.
"Buktiin!"
Syakila dengan ragu meraih sendoknya dan mengambil nasi serta ayam. Ia menyuapi Farel dan memejamkan mata. "Ya Allah, semoga saja Farel mau menerimanya," batinya berharap.
Farel menoleh dan melihat Syakila menyuapinya dengan mata yang terpejam. Ia tau, Syakila pasti takut menatapnya. Ia pun membuka mulutnya dan melahap nasi itu. Syakila membuka matanya pelan-pelan. Senyumnya mengembang dengan sempurna. Ia sangat senang sekali.
Syakila kembali menyuapi Farel dan sang kekasih pun menerimanya. Semua orang yang melihatnya tersenyum. Melihat Syakila yang begitu senang menyuapi Farel, membuat Yohan bahagia.
"Lihat tuh! Pake di suruh dulu baru nyuapin. Gimana kalau nikah nanti coba," ucap Yohan.
"Hihihiiiiii, kalau udah nikah nanti, pasti dengan sendirinya Syakila tau," sahut Niya.
"Hmm, bener juga," ucap Yohan setuju.
"Syakila emang mantu yang pas kan Mah," ucap Ardi.
"Iya, cuman..." sahut Mila menggantung.
"Cuman apa?" tanya Ardi.
"Farel udah berubah Di," sahut Mila.
"Santai saja, Syakila pasti bisa menanganinya," ucap Ardi dengan rasa percaya diri.
__ADS_1
"Hufff, semoga saja," sahut Mila.
"Dady rasa mereka berdua tadi ada masalah," bisik Jordi ke Angga.
"Kayaknya sih iya Dad," sahut Jordi.
"Udah dapet lampu hijau, trobos aja," seru Jordi.
"Serius Dad?"
"Iyalah, tapi nrobosnya pake cara yang baik jangan yang nyakitin." Jordi menepuk punggung Angga dan sang anak pun mengangguk. Angga terlihat memikirkan sesuatu. Entah apa yang ia pikir, hanya dialah yang tau.
Syakila kembali menyuapi Farel, namun yang di suapi menolaknya. "Udah, aku bisa sendiri," ucap Farel. "Makasih."
Syakila mengangguk sambil tersenyum. Para keluaraga pun melanjutkan makannya dan mengobrol bersama. Setelah urusan selesai, mereka semua berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing.
...🌸...
Farel, Ardi dan Mila telah sampai di rumah. Setelah masuk ke dalam, Farel hendak ke kamar membersihkan diri. Namun, Ardi memanggilnya dan meminta untuk duduk. Farel pun pergi ke sofa dan duduk di sana.
"Syakila sudah lama memendam perasaannya, selama kamu pergi ke luar negeri. Jaga hati tanpa komunikasi itu sulit Rel. Kasih dia hadiah atas keberhasilannya," ucap Ardi memeberitau.
"Iya," sahut Farel.
"Jangan iya-iya doang sayang, tapi di lakuin juga!" seru Mila.
"Iya Mah," sahut Farel.
"Mulai besok pagi jemput Syakila ke rumahnya, anter dia ke Kampus!" pinta Mila dan di angguki Farel.
"Anak kita ketuker kalik ya sama Syakila," seru Mila.
"Kok bisa?" tanya Ardi.
"Sifat Syakila lebih dominan ke kita, sedangkan Farel lebih ke Yohan sama Niya," sahut Mila.
"Hmm, bener juga," ucap Ardi setuju. "Tapi nggak mungkin lah. Kitakan udah tau dari kamu hamil, kalau anak kita cowok,"
"Hiya, cuman sifatnya aja tuh loh Yah," sahut Mila.
"Iya," sahut Ardi. "Tidur yuk!"
"Hayuklah, udah ngantuk juga aku," sahut Mila dan mereka pun pergi ke kamar.
...🌸...
Pagi hari tiba, Syakila yang telah siap pergi ke kampus pun keluar dari kamarnya dan berpamitan dengan keluarga. Ia pergi ke halaman rumah, hendak mengambil mobilnya. Tak lama Pak Satpam datang dan memeberitau Syakila, kalau di depan ada Farel yang tengah menunggunya.
Syakila pun pergi berlari menghampiri Farel. Sesampainya di depan mobil, Syakila mengetuk kaca mobil Farel.
Tok tok tok
Farel pun membuka kaca mobilnya dan menoleh ke arah Syakila. "Kmau ngapain?" tanya Syakila.
"Anter kamu ke Kampus," sahut Farel.
__ADS_1
"Ehhh, tapikan..." ucap Syakila ragu.
"Masuk!" pinta Farel.
"Di suruh ya..." goda Syakila.
"Mau masuk nggak?" tanya Farel.
"Mau lah," sahut Syakila dan langsung masuk ke dalam mobil. Farel pun menjalankan mobilnya pergi menuju Kampus.
"Soal kemarin aku minta maaf," ucap Farel yang masih fokus ke arah jalan. "Kemarin aku capek banget banyak kerjaan juga, jadi gampang emosi."
"Iii-iya nggak papa," sahut Syakila. "Emmm, aku juga minta maaf, karena nggak jujur sama kamu. Padahal kamu tau aku nangis, tapi masih aja aku bohong."
"Iya, terus gimana?" tanya Farel.
"Gimana apanya?"
"Mau jujur nggak?" Farel menoleh sebentar ke arah Syakila dan kembali fokus nyetir.
"Emmm, sulit Rel," sahut Syakila sembari menundukan kepala.
"Ya udah, lain kali aja," ucap Farel.
"Maaf ya," ucap Syakila dan Farel pun mengangguk sambil mengusap lembut rambut Syakila. Farel mendorong pelan kepala Syakila ke pundaknya dan mencium kening sang kekasih dengan lembut. Syakila tersenyum senang dan mencium salah satu pipi Farel.
...🌸...
Syakila dan Farel akhirnya sampai di kampus. Mereka berdua keluar dari mobil bersamaan. Terlihat para Mahasiswi melihati Farel dengan tatapan yang kagum. Syakila pergi menghampiri Farel.
"Kamu kanapa keluar?" tanya Syakila sedikit kesal.
"Pingin anter kamu sampek ke dalem," sahut Farel.
"Nggak perlu, Farelll," sahut Syakila. "Kamu ke Kantor aja."
Farel mengangguk. "Assalammualaikum," ucapnya dan masuk ke dalam mobil.
"Waalaikumsalam," sahut Syakila sembari melambaikan tangan. Mobil Farel pun pergi meninggalkan tempat. Ia masuk ke dalam Kampus.
Tak lama seseorang datang dan merangkul Syakila. Syakila terkejut dan langsung menyingkirkan tangan itu dari tubuhnya. Ia pergi menjauh dan melihat. Siapa yang telah merangkulnya tadi? Jawabnya adalah Angga.
"Sya, lo nggak jijik sama gue kan?" tanya Angga.
"Enggg-enggak, siapa yang jijik? Aku cuman kaget aja kok," sahut Syakila.
"Lo ingetkan, apa yang waktu itu lo lakuin ke gue?"
"Ngapa lo bahas itu lagi sih?" Syakila kesal.
"Kita para cowok juga punya harga diri! Elo seenaknya njauhi dan pergi gitu aja. Lo pikir gue apa?" tanya Angga penuh emosi.
"Gue tau, tapi... Gue kan nggak sadar hiks."
"Mulai sekarang jangan jauhin atau pergi, kalau kamu lihat aku!" pinta Angga dan pergi meninggalkan Syakila begitu saja. Syakila menghapus air matanya dan pergi ke Kelas.
__ADS_1