
Desy, David dan anak-anak pergi menemui keluarga Tasya bersama ambulan. Terlihat keluarga sangat sedih dan langsung menyiapkan beberapa persiapan untuk pemakaman Tasya. Ibu Tasya pingsan karena kelelahan.
"Apa kalian tau, penyebab Tasya mati?" tanya Om Tasya.
"Maaf Om, kami tidak tau soal itu, yang kami tau, Tasya telah mengapung di lautan dan para warga membantunya," sahut Desy ramah dan Om Tasya mengangguk paham.
"Terimakasih, karena sudah menemukan Tasya," ucap Om itu.
"Sama-sama," ucap Desy dan di angguki David. Om Tasya pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Lo udah kasih tau anak-anak di Sekolahan?" tanya Desy.
"Udah gue kasih tau semuanya, para guru juga udah gue kasih tau," sahut David dan di angguki Desy.
Hari ini adalah hari yang sangat panjang bagi SDNS dan WW. Banyak sekali tugas mereka hari ini, ada banyak tempat yang harus mereka hadiri untuk mengikuti penguburan teman-temannya dan Tasya.
Keluarga terpaksa menguburkan Tasya di malam hari, mengingat kondisinya yang sudah mati beberapa hari yang lalu. Ibu Tasya terlihat sangat sedih, para murid dari Sekolah yang lama dan baru juga sedih. Tempat itu sangat penuh dengan teman-teman dan tetangga Tasya.
Tangisan para Keluarga, Murid, dan Guru terdengar di tempat itu. Air mata satu per satu jatuh ke tanah, membasahi wajah. Doa-doa mereka berikan untuk Tasya.
°°°°°
Semuanya pun kembali ke rumah masing-masing. Desy, David, Sisil, Juna dan Deni pergi ke Apartemen. Mereka terlihat sangat lelah dan mengantuk.
"Hufff, capek bangettttt," keluh Sisil.
"Reza sama Nayla tinggal di sana dulu?" tanya Desy.
"Besok siang mereka semua balik," sahut David.
"Oke," sahut Desy.
"Soal Farel, mau kita bantu nggak?" tawar Sisil.
"Nggak usah, kami udah urus kok," sahut David.
"Kalian butuh anggota nggak," tanya Desy.
"Soal anggota yang ngurus Farel," sahut Deni.
"Hooh," sahut David mengiyakan.
"Farel kan lagi begini, kenapa nggak kalian aja. yang urus?" tanya Sisil.
"Rahasia," sahut David dan Deni, membuat Sisil kesal.
"Jangan marah nanti cepet keriput, semua orangkan punya rahasia masing-masing," ucap Juna.
"Dihh, cuman nanyai alasannya kok," kesal Sisil.
"Stststtttt, Nayla telpon," kata Desy.
...CALLING ON....
Nayla : Aku dapet info penting.
Desy : Apa?
Nayla : Ternyata yang ada di lokasi waktu itu bukan cuman wakil Ketua tapi juga dua orang cewek.
Desy : Hah, terus?
Nayla : Dua cewek ini sembunyi dan dalam pengejaran geng biang kerok. Reza pikir dua cewek itu, kayaknya Chika sama Nisa.
Desy : Siapa itu Chika sama Nisa?
"Sahabatnya Tasya," sahut David dan di angguki Desy.
Desy ; Kalian tau ini dari mana?
Nayla : Dari orang dan cctv, kita juga denger pembicaraan anggota si biang kerok.
Desy : Lo tau nama geng mereka, dari jaket mungkin.
Nayla : Reza tadi sempet denger sekilas, kalau nggak salah Blak Kobra deh.
Desy : Sipp, info di terima.
Nayla : Oke, soal Tio juga udah kami urus, besok pagi Tio ke Rumah Sakit.
Desy : Oke, kami juga meluncur ke Rumah Sakit.
Nayla : Sorry mendadak.
Desy : Nggak papa.
...CALLING OFF....
__ADS_1
"Besok pagi, kita jalankan rencana pertama," ucap Desy setelah mematikan telpon.
"Rencana yang di Rumah Sakit?" tanya Sisil dan di angguki Desy.
"Cepet banget, baru juga kita kelar," ucap Juna.
"Lebih cepat lebih baik," sahut Desy dan Sisil.
"Untuk yang besok pagi, anak-anak WW perlu ikut nggak?" tanya Deni.
"Nggak usah yank, kalau mereka ikut kita bisa ketahuan," sahut Desy dan di angguki Deni.
"Rencana pertama?" tanya Juna bingung.
"Lihat aja besok," ucap Desy, membuat Juna penasaran. "Nama udah kepegang, tinggal sedikit lagi kami menang," batinya.
Mereka semua pun tidur di Apartemen. Desy dan Sisil berada di kamar masing-masing, sedangkan Juna, Deni serta David tidur di kamar Nayla. Kamar Syakila kosong.
...🌸...
Pagi hari tiba, kini Farel tengah berada di ruanganya bersama Mila dan Ardi. Terlihat Mila tengah menyuapi Farel dan Ardi dengan sedikit kesal. Ardi sebenarnya menolak untuk makan, karena kerjaanya yang belum selesai, alhasil Mila pun menyuapinya.
"Astagaaa, perasaan aku cuman lahirin anak satu kok bisa jadi dua ya," ucap Mila sembari menyuapi Farel.
"Kan Ayah dah bilang, nggak usah. Kamunya aja yang maksa," sahut Ardi yang masih fokus ke arah layarnya.
"Kalau aku diemin, nanti kamu sakit. Aku juga yang repot," kata Mila dan menyuapi Ardi.
"Ngapain repot, tinggal ke Rumah Sakit aja kan," sahut Ardi.
"Kalau ngomong emang gampang. Kalian berdua tuh sama aja, nggak bisa minum obat, kalau di suruh sulitnya, Masyaallahhhh," keluh Mila, membuat Farel menahan tawanya.
"Siapa suruh buat obat pahit? Zaman udah moderen begini, masa' nggak bisa buat obat manis," sahut Ardi.
"Aaaaa kamu tuh ya, udah gede juga, masa' masih begini sih," kesal Mila dan mencubit pinggang Ardi.
"Awawww, iii-iya maaf," keluh Ardi.
Mila melengos kesal dan kembali menyuapi Farel. Tak lama terdengar bunyi ketukan pintu dari arah luar. Ardi pun pergi membukakan pintu dan terlihatlah seorang pemuda tampan dengan buah-buahan yang ada di kedua tanganya.
"Assalammualaikum," ucap Pemuda itu.
"Waalaikumsalam," sahut Ardi, Mila dan Farel.
"Temen Farel?" tanya Ardi.
"Ya iyalah Yah, masa' musuhnya Farel," kesal Mila.
"Tanya aja Mah, kalik aja pacar," sahut Ardi ngaco.
"Astaughfirullah, jangan di dengerin ya, kalau bercanda emang nggak pernah di pikir," ucap Mila ke Pemuda itu.
"Iya Tante," sahut Pemuda itu.
"Ikut Mamah," ajak Mila dan menyeret sang Suami.
"Kasar banget," ucap Ardi.
"Biarin," sahut Mila. Mereka berdua pun keluar dan menutup pintunya, meninggalkan Pemuda itu berdua dengan Farel.
"Kondisi lo gimana?" tanya Pemuda itu.
"Sorry, lo siapa?" tanya Farel.
"Gue Tio, cowoknya Nayla dan juga sahabat Reza," sahut Tio.
"Gue kagak kenal," seru Farel. "Ngapin lo ke sini?" tanyanya.
"Sebenernya gue disuruh Reza sama Nayla, buat ngasih lo beberapa pertanyaan," ucap Tio.
"Apa?" tanya Farel.
"Katanya lo tau wilayah geng dari anggota pengkhianat dan juga beberapa bukti tentang mereka," ucap Tio sembari membaca chat.
"Nggak," sahut Farel.
"Lo serius?" tanya Tio.
Farel menarik Tio mendekat dan berbisik, "Gue ngomong lo ketik dan kirim." Tio pun mengiyakannya. Ia mulai berbisik dan Tio langsung mengetik.
°°°°
Desy yang berada di ruang lain bersama Deni terlihat tengah memantau kondisi. Terdengar suara notifikasi masuk ke handphone Desy. Ia pun mulai membuka handphone dan membacanya.
...ROOM CHAT ON....
Tio:
__ADS_1
Kalau kalian semua di Rumah Sakit, gue minta lo pada bubar dan balik.
Nama geng mereka Blak Kobra, wilayah kekuasaan mereka di Bali sama Jakarta Selatan.
Jangan bikin ulah yang bikin gue emosi, inget!!!
#Farel
^^^Desy:^^^
^^^Ok.^^^
...ROOM CHAT OFF....
Desy memasukkan handphonnya ke dalam kantong dan memberitaukan untuk bubar. David terlihat bingung dengan ucapan Desy tadi. Mereka berdua pun pergi dari persembunyian.
"Ngapa di bubarin?" tanya David.
"Di suruh Ketua lo," sahut Desy.
"Ohhh, kalau jawabannya?" tanya David.
"Blak Kobra, wilayah persebaran mereka di Bali sama Jakarta bagian Selatan," sahut Desy dan di angguki David. "Nama yang sama, itu artinya Tasya juga dalang di balik ini semua," tambahnya.
"Tujuannya?" tanya David.
"Buat rebut Fare mungkin," sahut Desy.
"Hmm, bener juga," ucap David. "Recana selanjutanya?" tanyanya.
"Istirahat," sahut Desy senang.
"Hah, kagak salah denger gue," ucap David tak percaya.
"Iya, kita tunggu kabar tentang si Ketua Blak Kobra dulu, baru bertindak," sahut Desy.
"Okelah, gue juga dah capek," ucap David.
Mereka semua pun kembali ke tempat masing-masing. Farel dan Tio kini masih berada di kamar. Terlihat mereka berdua tengah berbicara.
"Lo berkicampung di dunia ini?" tanya Farel.
Tio paham maksud Farel. "Kagak, gue cuman murid biasa," sahut Tio.
"Ohh," sahut Farel.
"Lo kagak mau berhenti? Dosa yang lo pada tanggung berat, belum lagi sumpah serapah dari keluarga anggota lo yang meninggal," tanya Tio.
"Gue juga niatnya mau gitu, cuman sulit banget," sahut Farel.
"Sulit karena lo nggak serius," kata Tio.
"Gue serius, cuman masalah terus muncul akhir-akhir ini, ditambah kondisi gue yang begini," sahut Farel.
"Lo begini karena dosa lo," seru Tio.
"Tau," sahut Farel.
"Kalau lo tau ngapa nggak berhenti?" ucap Tio sedikit emosi.
"Gue udah bilang kan, banyak masalah yang muncul akhir-akhir ini, kalau gue lepas dan bubarin, bisa gawat geblek," kesal Farel.
"Sans aja, kagak usah ngegas," sahut Tio.
"Kalau gue bisa lihat, gue tonjok tuh mulut," kesal Farel.
"Silahkan," sahur Tio mempersilahkan. Farel semakin kesal.
"Pergi lo, bikin emosi gue aja lo," usir Farel.
"Oke, Assalammualaikum," pamit Tio.
"Waalaikumsalam," sahut Farel.
Tio pun keluar. Farel terlihat menghela napas dan memijat pelipisnya. Ia merasa kesal karena tidak bisa ikut campur dalam pencarian ini. Ia ingin sekali, secepatnya bertemu dengan si Ketua Blak Kobra dan menghabisinya.
...🌸...
Siang hari tiba, kabar baik pun datang menemui keluarga Yohan. Senyum dan tangis haru muncul di wajah mereka, yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Syakila kembali sadar dan terlihat tengah tersenyum lembut dengan wajah sedikit pucat.
"SYAKILAAAA," teriak Niya senang dan memeluk sang anak.
"Akhirnya kamu sadar sayang," ucap Yohan terharu sembari menciumi tangan Syakila.
"Kakak kangen Dek," ucap Reyhan dan mencium kening Syakila, setelah Niya melepas pelukannya.
Mereka terlihat senang dan gembira. Siang ini Klara dan Kelvin tidak ada di tempat, karena Klara harus mengurus baby boynya dan Kelvin harus menyelesaikan kuliahnya. Yohan pun berlari menemui Ardi sekeluarga, untuk mengabari soal Syakila yang telah sadar.
__ADS_1