
Syakila kini telah berada di kamar dan langit, berubah menjadi gelap. Syakila mengetuk-ngetukkan handphone ke salah satu tangan, sambil jalan bolak-balik di depan kasur. Ia bingung dan bimbang. Perasaanya menjadi tidak enak, untuk tidur saja sulit. Ia pun menelpon Angga, untuk memberitau, soal Reza yang akan pergi melihat CCTV.
...Calling On....
Syakila : Nga!
Angga : Tumben, malam-malam gini nelpon? Mau ngucapin good night, hem.
Syakila : Gue mau serius, kagak bercanda.
Angga : Siap, mau serius kemana, pelamainan atau KUA? (tertawa kecil)
Syakila : Angga!
Angga : Hahahaaa, canda. Oke, gue serius nih.
Syakila : Hufff, Reza besok mau lihat CCTV, kalau kita keduluan, bisa-bisa, Reza tau semuanya.
Angga : Hah, lu serius?
Syakila : Serius lah, gue nggak mau tau. Kita besok harus hapus duluan tuh file, gimana pun caranya!
Angga : Oke, besok pagi gue jemput.
Syakila : Lahhh, ngapain?
Angga : Biar bareng aja, ketimbang nunggu di Kampus.
Syakila : Oke deh, jangan kesiangan! Kita harus berangkat pagi, gue nggak mau hal ini terbongkar.
Angga : Iya.
...Calling Off....
Syakila mematikan handphone dan menjatuhkan tubuh ke kasur dengan tangan terlentang. Ia menghela napas dan berdoa, semoga rencananya besok berjalan dengan lancar. Ia membenarkan posisi tidurnya dan menarik selimut.
...🌸...
Syakila menunggu Angga di depan rumahnya dengan perasaan yang risau dan kesal. Hampir sejam, Ia menunggu. Ia terus menelpon Angga, namun bilanngnya, "Bentar lagi." Tak lama, Angga datang dengan mobil mewahnya. Syakila pun langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Angga.
"Lo lama banget sih, Nga! Kalau Reza lihat duluan gimana?" Syakila marah pada Angga.
"Maaf Sya, Kantor lagi butuh gue tadi," sahut Angga dan mulai mengemudikan mobilnya ke arah Kampus.
Syakila melihat ke dua tangan di depan dada dan melihat ke arah luar jendela. Angga hanya bisa menghela napas dan fokus ke arah jalan. Dua ouluh menit kemudian, mereka sampai di Kampus. Syakila dan Angga langsung keluar dari mobil. Mereka berdua, berlari ke arah ruang CCTV.
Tak lama, dari arah belakang Angga dan Syakila. Seseorang Dosen memangil, "Syakila! Angga!"
Syakila dan Angga berhenti. Mereka berdua membalikkan badan dan pergi menghampiri Pak Dosen. "Arghhh, ngapa manggil di waktu genting begini sih!" batin Syakila kesal.
"Kalian mau kemana? Ayo masuk!" pinta Pak Dosen.
__ADS_1
"Tapi Pak..." ucap Syakila menggantung.
Pak Dosen menyeret tangan Angga dan Syakila, masuk ke dalam kelas. "Nggak ada tapi-tapian! Kalau mau pacaran, nanti! Jangan sekarang!" omelnya.
Syakila yang mendengarnya, kaget. "Ehhh, pacaran? Cowok saya ada di Kantor Pak!"
"Stststststtt. diem!" pinta Pak Dosen sambil menarik tangan mereka berdua. Sedari tadi, Angga hanya diam saja, entah apa yang dia pikirkan. Sedangkan Syakila, ia mengerutu. Mereka bertiga masuk ke dalam Kelas. Pak Dosen pun mulai mengajar.
"Lahhh, Reza udah di Kelas, jangan-jangan dia udah lihat?" batin Syakila khawatir dan penasaran.
Kelas pun selesai. Pak Dosen dan beberapa Murid pergi meninggalkan ruangan. Syakila menghampiri Reza yang sedang bermain handphone. "Za!"
Reza menoleh ke arah Syakila. "Apa?"
"Emm, lo dahlihat CCTVnya?" tanya Syakila ragu.
Reza menggelengkan kepala. "Tadi ada yang makai, jadi gue balik ke Kelas." Syakila mengangguk paham.
Tak lama, seorang Mahasiswi datang ke Kelas. Ia terlihat ngos-ngosan dan panik. "Sya-Syaki-la, hos hos hos, lihat ma-ding gih!"
"Mading?" Syakila, Adel dan Amira bingung.
"Lihat aja dulu! Lo pada pasti kaget! Gue aja, kagak nyangka." ucap Mahasiswi itu.
Reza dan Angga pergi keluar. "Ayo!" ajak Reza. Syakila, Adel dan Amira pun menyusul. Mereka berlima pergi ke arah mading.
Terlihat gerombolan Mahasiswi dan Mahasiswa yang tengah membaca mading. Farel yang baru saja datang, dibuat penasaran dan ingin melihat. Wajahnya berubah menjadi dingin dan penuh amarah. Para Mahasiswi yang melihatnya, ketakutan dan sedikit menjauh.
Syakila, Reza, Angga, Adel dan Amira tiba di mading. Mereka menerobos gerombolan dari arah samping. Posisi mereka berada di paling depan sedangkan Farel, tengah. Wajah mereka berubah, Syakila terkejut dan malu. Kelar sudah hidupnya, aib yang selama ini ia jaga, telah terbongkar. Seluruh anak Kampus pun mengetahuinya. Air mata itu, keluar dengan sendirinya. Ia membalikkan badan dan hendak pergi. Langkah Syakila terhenti, karena menabrak seseorang.
Angga menghampi Syakila dan Farel. "Bro, dengerin penjelsan ki---"
Farel meminta Angga berhenti, dengan memgarahkan tangan di depan wajahnya. Farel pergi ke meninggalkan tempat. Syakila mengejar dan memeluk Farel dari belakang. "Hikss, Farel maafin aku. Rel, hiks hiks."
Hati Farel benar-benar hancur dan sakit. Terlihat jelas di mading itu, Syakila duluanlah yang memulainya baru Angga. Farel melepas tangan Syakila dengan kasar."Jangan pernah, lo muncul dihdapan gue! Syakila kini, mati!" ucap Farel begitu dingin dan menusuk. Ia langsung pergi masuk ke dalam mobil.
Syakila menangis dan berusaha mengejar mobil Farel. Ia berlari sambil menangis dan memanggil Farel. Mobil Farel pergi dengan kecepatan yang cukup tinggi. Syakila yang mengejarnya pun terjatuh. Angga datang menghampiri Syakila dan membantunya berdiri, namun di tolak.
"Jangan pernah lo sentuh gue!" Syakila menunjuk wajah Angga dengan tatapan yang penuh benci dan amarah. Mata yang berkaca-kaca dan mulai memerah itu, menatap mata Angga dengan tajam. "Karena lo! Hubungan gue sama Farel berakhir! Karena lo! Farel benci gue!"
Angga yang mendengarnya sedikit tersentil hatinya. Ia tidak menyangka, Syakila bisa mengatakan itu, tepat di depan Murid lain. Tangannya mengepal di bawah dan menunduk. Syakila berdiri dan pergi meninggalkan Angga sendirian. Syakila segera masuk ke mobil dan mencari Farel. Reza yang melihatnya, ikut sedih. Reza pun pernah menglami hal yang sama. Ia pergi menghampiri Angga dan membantunya.
"Sabar Bro, Syakila kalau lagi galau atau emosi emang gitu." Reza menyalurkan tangan untuk membantu.
Angga menerima bantuan Reza dan berdiri. "Hmzz, gue mau balik duluan." Reza mengangguk dan Angga pun pergi.
Adel dan Amira datang menghampiri Reza. "Wahhh parah, sahabat gue ngeri juga kalau ngomong," komen Amira.
"Kok Syakila ngomong gitu ya, Angga pasti kecewa banget," ucap Adel.
Reza melihat ke arah mobil Angga yang baru sjaa keluar dari area Kampus. "Pasti."
__ADS_1
"Woiiiii!" teriak Sisil sambil berlari ke arah Reza, Adel dan Amira. "Hos hos hos, Sya-syakila mana?"
"Pergi." sahut Reza.
"Farel tadi ke sini dan lihat semuanya, jadi, Syakila sekarang ngejar Farel deh," ucap Adel memberitau dan diangguki Amira.
Sisil terkejut dan langsung pergi masuk ke mobil. "Sialan tuh anak, kagak sopan bener!" ucap Amira dan Adel hanya tersenyum.
"Kita selesain masalah di sini dulu, sebelum pulang!" ucap Reza dan disetujui oleh Amira serta Adel. Mereka bertiga pun mengambil foto dan berita di mading. Vidio pendek yang beredar pun di hapus satu per satu oleh Reza. Mereka bertiga memperingati dan mengancam anak-anak Kampus, untuk jaga mulut.
...🌸...
Langit semakin malam, Syakila masih saja tidak menemukan Farel. Ia pun pulang ke rumah. Sepuluh menit kemudian, ia sampai di rumah dan langsung masuk ke dalam. Terlihat, di ruang tamu ada Yohan, Niya, Mila dan Ardi. Syakila pergi menghampiri mereka dan menyalami satu per satu.
"Kok baru pulang?" tanya Niya.
Syakila melihat ke arah Niya dan tersenyum kikuk. "Main bentar, heheheee."
Yohan menggelengkan kepala. "Kalau Kakak tersayangmu tau, bisa marah mereka."
"Kan ada Ayah, khihkhihiii," ucap Syakila, sambil tertawa kecil.
"Siap-siap sana! Habis itu, kita pergi!" seru Niya. Syakila mengangguk dan menundukkan kepala ke Mila dan Ardi. Ia pun pergi ke atas, bersiap-siap. Tak perlu waktu lama, Syakila pun turun ke bawah.
"Duhhh, Farel nggak bisa dateng nih, katanya sibuk di kantor." Mila merasa kesal dan melrmpar handphone ke meja. Ia sudah memaksa Farel berulang-ulang kali, namun ditolak. Baru kali ini, Farel menolak Mila. Membuatnya kecewa dan sedih.
"Nggak papa Ni, Reyhan sama Kelvin juga dulu gitu," ucap Niya. Syakila yang mendengarnya, merasa bersalah. Ia tau, Farel menolak ajakan Mila karenanya. Syakila hanya bisa diam dan berharap, semua berjalan dengan baik.
Yohan, Ardi, Mila, Niya dan Syakila pun pergi meninggalkan tempat. Keluarga Ardi dan Yohan naik mobil sendiri. Lima belas menit kemudian, mereka sampai di Restoran. Sesampainya di pintu masuk, mereka bertemu dengan keluarga Angga. Syakila memalingkan wajah dan menyuekin Angga. Mereka pun masuk ke dalam bersama-sama.
Mila terkejut melihat Farel yang tengah duduk bersama Karyawan yang lain. "Farel!"
Farel melihat ke arah Mila dan berdiri dari duduknnya. "Mamah di sini?"
"Kamu bilang sibuk kerja, ini apa?!" Mila marah.
"Sekali-kali bahagian mereka Mah, biar kerja mereja bagus."
Mila memicingkan matanya, ia tak percaya. Ia pun menghampiri salah satu Karyawan dan bertanya, "Kapan Farel ngajak kalian makan?"
Karyawan itu menjawabnya dengan ragu, "Ba-baru saja ta-di Bu.".
Mila membalikkan badan dan menatap tajam sang Anak, yang terlihat santai. "Adakah penjelasan yang akan kamu berikan, wahai Farel Dir-gan-tara!"
Farel menghela napas dan meminta maaf, "Maaf Mah."
Mila memijat pelipisnya dan mencubit hidung Farel dengan gemas. Ardi yang meliha, hanya bisa tepuk jidat dan meminta keluarga Yohan serta Angga duduk. Setelah itu, Mila menarik tangan Farel untuk duduk di samping Syakila, namun kesulitan. Semua yang melihat, terlihat bingung dan merasa aneh.
...🌸...
__ADS_1
...Oke kulanjut besok, Awoakwokkk. ...
...See you....