Kisah Cinta Syakila

Kisah Cinta Syakila
part 43


__ADS_3

Dokter itu keluar dari ruang isolasi Farel bersama para perawat. Mila dan Niya pun langsung pergi menghampirinya.


"Bagaimana Dok?" tanya Mila.


"Ibu tidak perlu khawatir, kondisi Farel semakin membaik dan bisa di pindahkan ke kamar yang lain," sahut Dokter.


"Itu artinya, Farel sebentar lagi akan sadar Dok," tanya Mila memastikan.


"Insyaallah, iya Bu," sahut Dokter itu.


"Nii, Farel bentar lagi sadar," seru Mila senang, sembari memeluk Niya.


"Aku juga ikut seneng Mil," sahut Niya dan membalas pelukannya.


Dokter dan para perawat pergi, sedangkan Niya serta Mila masih berpelukan. Mila menangis haru di pelukan Niya. Ia tidak sabar bertemu dengan Farel.


"Mil, kasih tau Ardi soal Farel, tuh anak pasti seneng," pinta Niya dan diangguki Mila.


...CALLING ON...


Mila : Assalammualaikum Yah.


Ardi : Waalaikumsalam Mah, ada apa?


Mila : Tadi Dokter bilang kondisi Farel mulai membaik dan akan di pindahkan ke kamar inap.


Ardi : Alhamdulillah, aku bentar lagi kesana ya Mah.


Mila : Iya, jangan lama-lama ya.


Ardi : Iya, Assalammualaikum.


Mila : Waalaikumsalam.


...CALLING OFF....


"Arghhhh, senengnya," seru Mila bahagai. Ia melihat ke arah Niya. "Maaf, aku seneng di saat kamu sedih," ucapnya merasa bersalah.


"Nggak papa, aku seneng kok lihat kamu bisa senyum kayak gitu lagi," sahut Niya.


"Aku doakan semoga Syakila cepet sembuh dan sadar," kata Mila.


"Aminnn, makasih Mil," sahut Niya.


"Aku juga makasih, karena udah mau nemenin aku, padahal kamu juga lagi sedih," ucap Mila.


"Aku memang sedih lihat Syakila, tapi aku masih ada Reyhan sama Kelvin yang selalu ada di sampingku, beda dengan kamu, kalau kamu sendiri nggak ada yang nemenin," sahut Niya.


"Bener juga sih, lihat kamu sama anak-anakmu tadi bikin akau iri," kata Mila.


"Aku tau," sahut Niya sembari tersenyum lebar.


"Kau tau, senyummu itu menghinaku," kesal Mila.


"Iya aku tau," sahut Niya.


"Jahat, lihat aja kalau Farel udah bangun, aku bakalan bikin kamu iri," sahut Mila.


"Coba aja kalau bisa," sahut Niya tertawa kecil.


"Oke, lihat nanti," seru Mila.


...🌸...


Bel telah berbunyi dan para murid berhamburan keluar dari kelas. Amira dkk kini berada di halaman parkiran.


"Duhhh, gur kangen banget sama Syakila hueee," ucap Amira.


"Sama gue juga, semoga Syakila cepet sembuh," kata Adel.


"Aminnn," sahut Amira, Reza dan David.


"Kalian berdua habis ini langsung pulang atau main dulu?" tanya Reza.


"Kalau Gue sih pingin pulang, kalau Adel mau main ya nggak papa," sahut Amira.


"Enggak dulu deh, Dady sama Mami hari ini pulang," sahut Adel.


"Sampek kapan di Indonesianya?" tanya Reza.


"Wihh, nanti malem gue ke rumah lo ya, mau cipika-cipiki dulu," seru Amira.


"Katanya sih lama, nggak tau alasanya apa?" sahut Niya, "Oke," tambahnya.


"Mungkin orang tua lo sadar, kalau lo udah gede, mangkanya mereka memutuskan untuk tinggal di Indonesia lama," ucap David.


"Hmm, kayaknya sih iya," sahut Adel.


"Hmm, jadi pulang enggak?" tanya Amira.


"Jadilah," sahut Adel, "Tuh, jemputan gue dateng," tambahnya.


"Lahhh, gue kira lo bareng gue," kata Amira.


"Hehheee, nggak dulu deh, see you," pamitnya dan masuk ke dalam.


"Gue juga balik deh, see you David, Assalammualaikum," ucap Amira, sembari masuk ke dalam mobil.


"See you Amira sayang," sahut David.


Mobil Adel dan Amira pun pergi meninggalkan tempat. Reza dan David masih berada di sana.


"Lo mau seledikin kasus ini?" tanya Reza.


"Selamat anda mendapatkan satu juta di potong pajak," ucap David sembari membuka pintu mobilnya.


"Gue ada ide, soal ini," tawar Reza.


David menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Reza.


"Apa?" tanya David.


"Ikut gue," ajak Reza.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil masing-masing dan pergi meninggalkan tempat.


°°°°°



Reza dan David keluar dari mobil mereka dan berdiri di depan mobil masing-masing.

__ADS_1


"Nih Rumah siapa? ngapain lo bawa gue kamari?" tanya David bingung.


"Ini rumahnya Sisil, salah satu sahabatnya Syakila," sahut Reza memberitau, "Nah yang itu rumah Syakila," tambahnya swmbari menunjuk rumah paling mewah di komplek itu.


"Ngerti, ngandani," seru David, "Tujuan kita kemari apaan njir?" kesalnya.


"Kerja sama dengan mereka," sahut Reza.


"What?" tanya David tak paham.


Reza tidak memperdulikannya dan masuk ke dalam, sembari menekan bel. David pun dari belakang menyusul.


"Mau cari siapa?" tanya pesan suara.


Reza mendekat ke arah pesan suara. "Saya temannya Sisil, ingin bertemu denganya," ucapnya.


"Baiklah, tunggu sebentar," sahut pesan suara.


"Kok gue deg deg an ya," kata David sembari memegangi dadanya.


Ceklek.


Tak lama pintu terbuka dan menampakkan gadis cantik berambut gelombang, berdiri di ambang pintu.


"Kalian....." ucap Sisil.


"Gue Reza, cowok yang kalian sekap di Apartemen," sahut Reza memberitahu.


David melongo, "Kagak salah dengerkan gue, nih anak di sekap di Apartemen, anj*r pikiran gue melayang-layang," batinya sembari memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Ohhh, iya, ada apa?" tanya Sisil.


"Bisa kita bicara berlima," ucap Reza.


"Hah, berlima," bingung David.


"Berlima? Maksud lo, kalian berdua sama gue, Desy ples Nayla?" tanya Sisil memastikan.


"Iya," sahut Reza.


"Sorry, Nayla sama Desy lagi sakit, jadi nggak bisa," tolak Sisil.


"Sakit apa?" tanya Reza.


"Rahasialahhh," seru Sisil.


"Ini penting," kata Reza.


"Kalau mau bertiga aja gimana?" tawar Sisil.


"Oke deh," setuju Reza.


"Oke, tunggu bentar, gue mau siap-siap," ucap Sisil dan hendak masuk, namun terhenti.


"Lo kagak nyuruh kita masuk," tanya David.


"Nggak perlu," sahut Sisil ketus dan masuk ke dalam.


"Anji*, wajahnya sama sikapnya kagak nyambung njir," komen David.


"Ceweknya Juna," sahut Reza, sembari pergi meninggalkan tempat.


"Coba aja lo tanya," kata Reza.


"Ogah," sahut David.


Mereka berdua pun berbincang di depan mobil mereka dan tak lama Sisil keluar dengan mobilnya.


"Ikutin gue," pinta Sisil dan pergi meninggalkan tempat.


"Anji*, dia kagak tau apa ya, gue siapa?" kesal David.


"Udah lah, ayo ikutin, entar ketinggalan," ucap Reza.


Mereka berdua pun masuk ke mobil masing-masing dan menyusul Sisil dari belakang.


...🌸...


Mereka bertiga pun sampai di depan Apartemen dan masuk bersama-sama ke dalam.



"Gile, bagus juga Apartemen mereka," ucap David.


"Kok beda ya," batin Reza.


Mereka bertiga masuk dan duduk di sofa. Tan lama terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka.


"Sisil," panggil Nayla yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ngapa gue ngrasa wajahnya nggak asing ya, tapi siapa?" batin David bertanya-tanya.


"Lohhh, kamu di sini Nay," tanya Sisil.


"Iya, di rumah nggak ada orang soalnya, mangkanya aku ke sini," sahut Nayla menjelaskan.


"Ohh gitu," ucap Sisil paham.


"Kalian ngapain kemari? aku kira Desy yang ke sini," kata Nayla.


"Desy mau ke Apartemen," tanya Sisil.


Nayla mengangguk. "Kayaknya Apartemen yang satunya," ucapnya memberitau.


"Iya kalik," sahut Sisil.


"Terus kalian bertiga ngapain ke sini?" tanya Nayla.


"Mereka mau ajak kita kerja sama katanya," sahut Sisil memberitau.


"Kerja sama apaan?" tanya Nayla.


"Kerja sama buat nyeledikin sesuatu hal yang penting dan juga menyangkut nyawa orang," sahut Reza.


"Hmzz, lo udah seberapa tahu tengtang kita?" tanya Nayla.


"Kalian SDNS, kerjaan kalian nggak beda jauh sama detektif, cuman itu yang gue tau," sahut Reza menjelaskan.


"Bener, kalau lo udah tau, gue nggak bisa bantah lagi," seru Nayla.


"Terus gimana?" tanya Reza.

__ADS_1


"Urusan begituan Desy yang nentuin, bukan kita," sahut Nayla memberitau.


"Hmzz, bisa kita bertemu," tanya Reza.


"Gue sih nggak yakin," sahut Nayla.


"Dua ratus juta," ucap Reza.


Nayla dan Sisil saling melihat dan berbicara lewat mata.


"Desy yang tentuin," kekeh Nayla.


"Tiga ratus juta, itu udah yang paling mepet," tawar Reza.


David menjawil Reza. "Ck, tiga ratus juta buat bayar mereka, yang bener aja lo Za," bisiknya tidak terima.


"Lo diem aja," ketus Reza.


"Gue telpon dia dulu," ucap Nayla dan pergi menelpon Desy.


"Widihhh, serumit apaan nih tiga ratus juta," seru Sisil.


"Gue yakin, bagi kalian ini nggak sulit, karena kalian punya koneksi yang bagus," ucap Reza.


"Hmzz," Sisil.


Tak lama Nayla datang dan duduk di samping Sisil. "Dia nanti otw ke sini," ucapnya memberitau.


"Thank you," sahut Reza.


"Kalian temennya Syakila kan?" tanya David.


"Iya," sahut Nayla dan Sisil.


"Kalian harusnya tau dong, soal kondisi Syakila sekarang," ucap David.


"Iya," sahut Nayla dan Sisil.


"Kalian nggak jengukin?" tanya Reza.


"Nggak," sahut Nayla dan Sisil.


"Anji*, lo berdua temennya," seru David, "Gue baru tau temen sakit, tapi diem aja," tambahnya.


Brakkk.


Sisil menggebrak dan melompati meja. Ia melayangkan pukulan tepat di wajah David, namun terhenti.


David terkejut dan menutup matanya. Perlahan ia membuka matanya dan melihat ke arah depan. Terlihat kepalan tangan Sisil berada di depan mukanya.


"Sekali lagi lo ngomong, gue habisin lo sekarang juga," ancam Sisil.


David spontan menganggukkan kepalanya pelan, sembari menelan ludahnya. "Gileee, ceweknya Juna ngeri juga anji*," batinya.


"Kenapa kalian nggak jengukin?" tanya Reza.


"Lo kagak di kasih tau apa, Syakila masih di ruang isolasi?" ketus Nayla.


"Tau," sahut Reza.


"Kalau lo berdua tau, NGAPAIN NANYA HAH!" kesal Sisil.


"Sorry," sahut David dan Reza.


"Ck," Sisil berdecak sebal.


Suasana pun kembali sunyi dan tentram. Para penghuni diam dan bermain handphone.


David terkejud dan matanya terbelalak, di saat melihat foto yang di kirim Deni. "Bukannya ini dia sama Desy kan," batinya sembari melihat Nayla.


"Ngapa lo lihat-lihat Nayla hah," ucap Sisil.


"Emm, kalian semalem ada di maaa mar---," ucap David terpotong.


"Markas penyekapan White Wolf," potong Sisil dan Nayla bersamaan.


David terkejud dan spontan menarik baju Reza.


"Lo kenapa?" tanya Reza.


"Kita harus kabur," bisik David.


"Hah," Reza tak paham.


"Sans aja, nggak usah takut, kalian ke sini buat kerja samakan," kata Sisil.


"Kita orangnya konsisten, masalah pribadi nggak akan di bawa-bawa dalam soal kerjaan," ucap Nayla memberitahu.


"Gimana caranya, biar gue percaya sama kalian hah," kesal David.


"Kalau nggak percaya silahkan keluar, pintunya ada di sana," tunjuk Sisil ke arah pintu.


"Oke," sahut David dan menarik tangan Reza, namun yang di tarik malah diam saja.


"Lo sendirian aja, gue kagak," sahut Reza.


"Oke," sahut David dan pergi.


"Pengecut, Wakil Ketua dari geng White Wolf ternyata lemah, kalah sama Ketua geng Tiger," sindir Sisil.


David yang telah dekat dengan pintu, akhirnya kembali duduk di samping Reza. Terlihat Reza tertawa kecil melihat David.


"Ck, nggak asik," komen Sisil.


Tak lama pintu terbuka dan menampakan wanita cantik dengan baju tidurnya yang bergambar miki mouse. Sisil, Nayla, Reza dan David pun melihat ke arah wanita itu, yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba.


...🌸...


...Horeeeeeee aku Up lagi guysss, akhirnya bisa ketemu kalian lagi😘💕...


...Kalau berkenan kalian kunjungi CS pertamaku ya😚 guys, judulnya : Aku Putri Kontrak....



...Aku bakalan seneg bangetttttttt, kalau kalian mau berkunjung, sembari menunggu Kisah Cinta Syakila. ...


...Mampir ya😚 jangan lupa tinggalkan jejak kalian di karyaku. Aku akan sangat berterimakasih😚...


...Untuk "Aku Putri Kontrak" udah masuk ke bab 3 loh, dateng ya😚...


...See you...

__ADS_1


__ADS_2