Kisah Cinta Syakila

Kisah Cinta Syakila
Part 46


__ADS_3

Seseorang yang diduga bawahan SDNS mengirim sebuah foto. Terlihat di foto itu, tubuh Tasya mengambang di atas perairan yang luas.


"Gue mau kabarin Reza dulu, lo berdua hubungi Deni sama David," pinta Desy.


"Hmm, ngapa lo nggak hubungin David? kan dia peganti Farel," tanya Sisil.


"Nyambungan Reza, tuh anak cuman pinter di zona gelap doang, otaknya dah terkontaminasi," ketus Desy dan mulai menelpon Reza.


Desy pun mulai memberitau Reza, Sisil menelpon Deni dan Nayla menelpon David. Terlihat sesekali mereka kesal ada juga yang sangat serius. Tak lama akhirnya mereka selesai menelpon.


"Reza otw kemari," ucap Desy memeberitau.


"Deni mau omongin ini sama David dulu," ucap Sisil memberitau.


"Tadi David bilang mau kesini katanya," ucap Nayla dan di angguki Desy.


Tak lama David dan Reza pun datang bersamaan dengan orang yang mengirim foto itu. Desy pun meminta mereka duduk, sedangkan Nayla dan Sisil tengah menyiapkan minuman serta cemilan.


"Jasad Tasya sekarang gimana?" tanya Reza.


"Orangnya di samping lo," sahut Desy.


Reza menoleh ke samping dan melihat ke arah orang itu. Ia menaikkan salah satu alisnya, bertanya.


"Saya dan anggota yang lain telah mencari tau hal itu, tap---," ucap Orang itu terpotong.


"Ahhhh, informal ajalah," kesal Sisil.


Orang itu Mengangguk. "Tapi kami nggak menemukan informasi tentang jasad Tasya," sambungnya.


"Udah kalian pastiin dia mati?" tanya David.


"Ya iyalah, geblek," kesal Sisil dan David hanya membuang mukanya.


"Gimana kalau besok kita ke lokasi?" ujar Desy.


"Aku sih setuju," sahut Nayla dan diangguki Sisil.


"Yang lain?" tanya Desy.


"Iya," sahut Reza dan David.


"Perlu anak White Wolf kagak?" tanya David.


"Perlulah, keamanan kalian kan paling bagus, apalagi soal bela dirinya," sahut Desy.


"Bener, sekuat-kuatnya Bodygruad kita, bakalan kalah juga sama kalian," tambah Nayla.


"Hemm, walaupun dalam hal otak sih kami masih unggul dari pada kalian ya," seru Sisil.


"Ya iyalah siapa dulu yang ngajari gu--," ucap David terpotong.


"FAREL," sambung mereka semua kecuali Orang itu dan David.


Wajah David menjadi masam. Ia merasa malu dan juga kesal. Mereka semua tertawa melihat wajah David.


"Okelah, besok kita semua kumpul di sini ya," ucap Desy.


"Karena anggota WW tuh banyak, gimana kalau kita pakai bus kita aja?" tawar Nayla.


"Ide bagus," sahut Desy dan diangguki Sisil.


"Gue ngikut," sahut David.


"lo kok diem?" tanya Sisil ke Reza.


"Kagak ada hubungannya WW sama gue," sahut Reza santai.


David menyenggol Reza. "Kalau kami lagi kumpul lo gabung aja oke, kagak usah sungkan," ucapnya dan Reza hanya diam.


Mereka bertujuh pun kembali pulang ke rumah masing-masing dan bersiap-siap untuk kegiatan besok.


...🌸...


Farel kini tengah berdua dengan Kelvin di kamar inapnya. Tak ada obrolan di antara mereka, hanya ada suara dari game online Kelvin. Kelvin terlihat sesekali berteriak karena menang ataupun gemas.


Handphone Kelvin mulai habis. Ia pun mematikan telponnya dan menchas. "Rel, lo sama Syakila kan nggak ikut ujian, entar lo berdua ngulang kelas?" tanyanya.


"Homeschooling Kak," sahut Farel.


"Ohh begono," ucap Kelvin. "Emm, soal itu gue udah maafin elo," ucapnya.

__ADS_1


"Soal gue anak geng," tanya Farel memastikan.


"Iya," sahut Kelvin singkat dan Farel hanya diam.


Kelvin dan Farel terlihat canggung. Suasana kembali hening. Mereka berdua bingung mau ngomong apa lagi.


"Rel,"


"Kak,


Ucap mereka berdua bersamaan.


"Apa?" tanya Kelvin.


"Lo dulu aja Kak," pinta Farel.


"Hmm, elo pasti tau kan soal geng gue," tanya Kelvin.


"Iya, Ngapa Kak?" tanya balik Farel was was.


"Gue nggak mau Adek gue jadi inceran para musuh lo. Geng lo paling tinggi di antara yang lain, paling sadis dan kagak manusiawi, musuh lo juga berbahaya, kalaupun gue mau tolong, gue bakalan mati di titik awal," ucap Kelvin membuat Farel menelan salivanya.


"Ayah, gue dan Kak Rey pasti kesulitan, kalau sampek hal itu terjadi, apalagi kalau elo sama Syakila udah nikah dan elo mati ninggalin Adek gue di usia muda jadi janda, astaughfirullah jangan sampek, gue nggak bisa," tambah Kelvin.


Farel terlihat diam sejenak dan menjawabnya, "Kak, gue nggak bisa lepas WW sekarang, masih banyak hal yang belum selesai."


"Gue paham, yang penting lo ada niatan buat bubarin tuh geng," ucap Kelvin dan Farel hanya diam saja.


...🌸...


David kini berada di atas kasurnya dan tengah melihat langit-langit atap kamarnya. Ia terlihat bingung dan bimbang. Ia juga sesekali mengacak rambutnya dan memukul dinding.


"Arghhhhhh, ngapa masalah gue banyak benget sih?" ucap David kesal.


Yups, masalah WW bukan hanya soal geng itu, masih banyak sekali geng di luar sana yang ingin menghancurkan WW. Ia merasa kesal dan sedih, karena ia tidak bisa seperti Farel. Apa yang dia lakukan akhir-akhir ini membuat anggotanya habis tiga puluh orang. Hal yang paling membuatnya khawatir adalah Ia tidak memberitaukan hal ini ke Farel.


"Sorry Rel, gara-gara gue kita kehilangan banyak anggota," ucapnya lirih. Ia turun dari kasurnya dan menghancurkan beberapa barang.


David terlihat sedih dan kesal. Ingatan dan bayangan para keluarga dari anggotanya yang telah tiada terus terngiang-ngiang di pikirannya. Tangis dan sakit yang keluarga itu rasakan membuatnya hancur.


David sebenarnya pintar, namun karena banyaknya masalah inilah yang membuatnya bleng. Setiap kali ia dan Reza berkumpul bersama Desy dkk, pasti ia tidak konek. Membuat Desy dkk kesal dan meremehkannya.


...🌸...


Pagi hari tiba, Desy dkk dan anggota WW telah tiba di lokasi. Tempat itu terlihat ramai, numun sedikit sunyi, karena para anggota WW kebanyakan diam. Tak lama Reza datang dan di susul Juna dari belakang.


"Lah kok ada Juna?" Desy bingung.


"Juna maksa ikut, karena takut aku kenapa-kenapa," sahut Sisil.


"Ohhh," sahut Desy.


"Lah, gue jadi nyamuk dong, lo sama Deni dan lo sama Juna," komen Nayla.


"Kan ada Reza sama David," sahut Sisil membuat Nayla manyun.


"Kalau lagi begini gue keingetan Syakila," ucap Desy tiba-tiba. "Biasanya tuh anak bakalan lari-lari sambil ketawa, joged toktok atau nggak ngusillin anak-anak."


"Iya," sahut Nayla dan Sisil. Mereka bertiga terlihat sedih dan menteskan air mata mengingat tingkah Syakila.


Reza dan Juna yang hendak menghampiri mereka bertiga pun berhenti. Mereka urungkan niatnya dan pergi ke sekumpulan anggota WW.


"David mana?" tanya Reza.


"Belum dateng," sahut Deni.


"Tumben bener tuh anak," seru Juna.


"Mungkin David lagi siap-siap," kata Deni dan di angguki mereka berdua.


Mereka bertiga pun ngobrol bersama. Terlihat beberapa anggota WW berlatih dengan BD (Body Graud) SDNS. Tak lama handphone Deni berdering dan ia pun mengangkatnya.


...CALLING ON....


Deni : Hallo.


David : Bang kalian duluan aja, gue entar nyusul.


Deni : Ada masalah?


David : Nggak ada Bang, gue tutup ya, Assalammualaikum.

__ADS_1


Deni : Waalaikumsalam.


...CALLING OFF....


Deni mematikan handphonnya dan memasukkannya ke kantong.


"Ada apa?" tanya Juna.


"David entar nyusul katanya," sahut Deni dan di angguki mereka berdua.


"Gue omongin dulu sama mereka," ucap Reza.


"Gue bantu Deni, siapin anak-anak," sahut Juna.


Reza pun pergi menghampiri Desy dkk dan memberitau tau untuk segera berangkat. Juna dan Deni pun menyiapkan anak-anak. Para anggota dan BD masukke bis, sedangkan Desy dkk dan Reza dkk naik mobil.


...🌸...


David turun dari mobilnya dan pergi masuk ke dalam. Ia terlihat khawatir dan was-was. Ia pergi ke Rumah sakit untuk menemui Farel dan memeberitaukannya.


"Farel kan belum tau soal Tasya, gue harus bilangnya gimana ya?" Batinnya bingung.


Ceklek.


David membuka pintu kamar Farel. Terlihat di dalam sana Farel tengah tertidur di atas ranjangnya dan Mila di sampingnya. Ia masuk ke dalam dan menyalami tangan Mila.


"Assalammualaikum Tante," ucap David.


"Waalaikumsalam," sahut Mila, "Farel, David dateng njengukin kamu nih." Farel tersenyum.


"Apa kabar Bro?" tanya David.


"Baik," sahyt Farel. "Mah kita mau bicara berdua boleh," pintanya.


"Bolehhh, kalau gitu Mamah ke ruangan Syakila dulu ya," sahut Mila dan di angguki Farel.


"Maaf ya Tante, jadi nggak enak aku," ucap David.


"Nggak papa, karena ada kamu Tante jadi bisa nemenin Niya," sahut Mila. "Tante titip Farel ya," pintanya.


"Iya Tante," sahut David dan Mila pun pergi.


"Mamah udah pergi?" tanya Farel memastikan.


"Iya."


"Apa yang lo mau omongin."


"Hufff, lo pasti udah ngerasa."


"Ada masalah apa?"


"Geng makin banyak musuh dan anggota kita juga makin berkurang Rel."


Farel mendesah kesal dan memegangi kepala. "Lo bisa cariin gue transplantasi mata secepatnya?" pintanya.


"Gue udah lakuin itu, kita tunggu aja, paling lambat lima hari."


"Thanks, lo kasih imbalan apa?"


"Apa mau dia elo turutin, lo bisa?" tanya David.


"Ngapa bukan duit?"


"Gue nggak tau."


"Kayaknya tuh orang udah punya."


"Gue juga mikirnya begitu, tapi... tuh tawaran udah gue setujuin."


"Nggak papa, gue juga setuju, tapi mereka asal mana?"


"Asalnya Indonesia lah, kalau rencana transplantasi ini berhasil lo harus ke Singapura."


"Deket itu, ada untungnya juga kita kenal mereka," sahut Farel.


"Iya." sahut David, "Ngomong-ngomong soal Singapura gue mau kasih tau hal ini."


"Apa?" tanya Farel dan David mengatakanya secara pelan. Terlihat Farel berfikir sejenak dan mengiyakannya.


David pun pamit pergi dan menemui Niya serta Mila. Ia kembali ke mobil dan mulai mengendarainya. Ia lajukan mobilnya menyusul Reza dan Desy dkk.

__ADS_1


__ADS_2