
Langit mulai gelap dan matahari telah terbenam. Mata Syakila perlahan terbuka. Terlihat sebuah kamar yang luas dan mewah, namun elegan. Angga yang tengah duduk di sofa sambil membaca dokumen pun, menghentikan aktivitasnya. Angga menaruh dokumen itu dan pergi menghampiri Syakila.
"Akhirnya, kamu sadar juga Sya," ucap Angga, sesampainya di samping ranjang Syakila.
Syakila kaget, ia pun langsung terduduk dan memojok ke dinding. "Ke-kenapa gue bi-sa di sini?!" ia ketakutan.
Angga tersenyum, sambil mengambil kursi. Ia taruh di samping kasur dan mendudukinya. "Misi kamu gagal, Syakila. Aku dan para anggota Bk udah sekap kalian."
Syakila tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Kamu Ketua Blak Kobra?!" tanyanya dan Angga pun mengangguk. "Sisil, dimana dia?"
Angga tersenyum. "Santai aja Sya, Sisil baik-baik aja, dia juga lagi makan." Syakila terlihat tidak percaya dengan ucapannya. Ia pun mengambil laptop dan membukakan vidio CCTV. "Lihat ini!"
Syakila mengambil alih laptop dan melihatnya. Apa yang dikatakan Angga memang benar. Terlihat di layar itu, Sisil tengah menikmati makanan dengan nonton drakor di tv. "Apa yang dipikirin nih anak sih? Dia lagi diculik loh, sempet-sepetnya makan di kondisi begini!" batinnya.
"Gimana? Kamu mau makan juga? Aku nggak mau, kalau kamu kelaparan dan jatuh sakit," tawar Angga.
"Kalau Sisil bisa tenang, ngapa gue enggak? Desy sama Nayla pasti udah curiga dan minta bantuan, lebih baik gue gunain waktu ini untuk gali informasi," batin Syakila. "Aku mau makan, kalau kamu mau jawab semua pertanyaanku dengan jujur!"
Angga menganggukkan kepala. "Aku janji!"
"Bagaimana bisa kamu hidup? Padahal kamu terjun dari atas tebing bareng Tasya?" tanya Syakila dengan mimik wajah mengimindasi.
Angga menyuruh seseorang untuk menyiapkan makan malam Syakila dan mulai bercerita. "Aku akan jujur, waktu itu..."
...Flesback On....
Pada siang hari, Tasya menunggu seseorang di atas tebing. Terlihat, tempat itu sepi dan bawahnya terdapat lautan yang dalam. Tasya memakai topi bundar, dress dan sepatu serba putih, kaca mata hitam. Tak lama, beberapa mobil datang dan keluarlah Angga bersama anggotanya.
Angga datang menemui Tasya. "Sorry gue telat."
"Nggak papa," sahut Tasya dengan posisi yang sama. "Ada sesuatu yang harus lo ketahui!"
__ADS_1
Angga mengerutkan kening dan bertanya. "Apa?"
"Aku tetap berada di pihak Farel, apa yang udah kamu lakuin itu kerterlaluan!" ucap Tasya dengan tegas.
Angga terlihat kesal dan mendekat. Ia mencekeram bahu Tasya. "Apa maksud lo hah?! Lo tau kan, apa akibatnya jika lo bongkar rahasia gue?"
Tasya masih dengan posisi yang sama. Namun ia terlihat meringis kesakitan, karena tangan Angga yang meremas bahunya.. "Aku tau hal itu."
Angga benar-benar kesal. "Elo..." ucapnya terhenti, melihat mobil yang begitu cepat ke arah mereka berdua. Anggota BK yang mengetahuinya pun menembak ban mobil itu, supaya berhenti. Namun sayang sekali, mobil itu malah melaju tak terkendali. Angga memeluk Tasya dan terjun ke laut. Tasya terlihat begitu tenang dan aneh. Angga tersadar, jika Tasya ternyata sudah buta.
Byur.
Angga sempat pingsan sebentar dan tersadar. Ia segera berenang ke atas dan beristirahat di daratan. Ia berusaha mencari Tasya, namun tidak bisa. Tasya telah menghilang. Berhari-hari Angga tinggal di hutan dan makan seadanya dari alam. Akhirnya Wakil dan anggota BK datang menemui Angga. Mereka pergi dari hutan ke luar kota untuk bersembunyi.
...Flesback Off....
"Salah satu alsan kita mengungsi, supaya anggota BW mengira, jika kita telah mati." ucap Angga.
Angga menggelengkan kepala. "Aku tau, kamu pasti udah denger soal kematian Artis dari kekasih Ketua BW kan? Di hari itu, BW ngamuk dan nyerang kita habis-hibisan, untuk menjaga keutuhan Anggotaku. Kita memutuskan untuk mundur dan Wakilku meminum obat, yang bisa bikin kita mati sebentar. Telat sedikit aja, Wakilku pasti, akan benar-benar mati!"
Syakila terkejut, ia menutup mulutnya dengan tangan kanan. Kalau obat itu berbahaya, ngapain dipake coba. Syakila tak habis pikir dengan otak Angga. "Setega itu lo, nyuruh Wakil sendiri makan tuh obat?"
Angga tersenyum dan menyilangkan kaki, sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Bukan cuman aku Sya. Para Ketua dari geng gelap, juga lakuin itu. Masih mending gue cuman sekali, dari pada Farel?"
Syakila mengerutkan kening. "Apa maksud lo?"
"Lo pasti tau David sama Deni?" tanya Angga dan Syakila menganggukkan kepala. "Nggak jadi deh, itu rahasia kami."
Syakila melongo, ia benar-benar ingin tau. Namun Angga tak memberitaunya dan tertawa. Syakila merasa kesal, "Ck menyebalkan!"
Tak lama, makanan pun datang. Angga mengambilkan piring yang berisi nasi dan segelas jus ke Syakila. Pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua di kamar. Syakila merampas piring itu dan menjauh. "Jauh-jauh lo! Enggak ada obat atau akohol yang lo masukin kan?"
__ADS_1
Angga pergi ke arah sofa dan duduk di sana. "Enggak."
"Awas aja...!" Syakila memberikan tatapan tajam ke Angga dan mrncium makanannya, untuk memastikan. Setelah makanan itu terasa aman, ia pun memakannya. Angga tersenyum dan bermain handphone.
...🌸...
Desy dan Nayla kini berada di sebuah Restoran yang memiliki ruangan tertutup. Mereka berdua panik dan risau. Berulang-ulang kali mereka berusaha untuk menghubungi Syakila dan Sisil, namun gagal.
"Arghhhh, semoga mereka baik-baik saja," harapan Desy.
"Tenang aja Des, kan kita udah minta bantuan." Nayla mengusap punggung Desy dengan lembut. Desy mengangguk dan mereka pun pergi meninggalkan Restoran.
Terlihat di lain sisi, Keluarga Syakila dan Angga berkumpul. Mereka kini berada di gedung yang besar dan mewah. Angga meminta mereka untuk tinggal di gedung itu dan menyiapkan pernikahannya.
"Akhirnya, Syakila ketemu juga sama Angga." Niya merasa lega. Ia kini tengah duduk bersama Klara, Bunga dan Anggi, sambil melihat para IO menghias gedung.
"Alhamdulillah, Angga emang gercep banget. Tapi, kapan ya mereka ke sini?" ucap Anggi bertanya-tanya.
"Mungkin besok, Jeng," sahut Niya dan diangguki Anggi.
"Mah, Tante, Bunga! Aku mau balik ke kamar dulu ya, Darel sama Tiara pasti kesulitan tidur," pamit Klara.
"Iya sayang, selamat malam," ucap Niya dan Klara pun pergi sambil tersenyum.
Bunga berdiri dari duduknya. "Aku juga mau ke kamar dulu ya Mah, Tan. Kasihan Kelvin, ngurus Viona sendirian."
"Ahhh iya, cepatlah!" ucap Niya. "Cucuku entar mati, kelindes tubuh Kelvin." Bunga tertawa kecil dan pergi.
"Enak ya, udah punya cucu," ujar Anggi.
Niya tersenyum malu. "Tapi udah jadi grandma." Mereka berdua tertawa dan melihat-lihat area dekorasi gedung.
__ADS_1