Kisah Cinta Syakila

Kisah Cinta Syakila
S2 : Cp 8


__ADS_3

Syakila dan Angga pergi ke Cafe depan Kampus. Mereka berdua kini tengah mengobol sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Suasana Cafe itu sangat tenang dan nyaman. Tempatnya bersih, rapi dan luas.


"Akhirnya, lo mau juga gue ajak ke sini," ucap Angga.


"Gue yang salah, nggak seharusnya gue kabur," ucap Syakila.


"Lo sama Farel belum pacaran smaa sekali?"


"Belum."


"Niatan nikah?"


"Udah, rencananya satu tahun setelah lulus Kuliah."


Angga mengangguk paham. "Lo tau? Dulu kita rencananya di jodohin tapi gagal, karena Orang Tua kita nolak."


"Enggak," sahut Syakila tidak peduli.


"Lo kagak hamilkan?" tanya Angga memastikan, membuat Syakila tersedak.


"Uhuk uhuk uhuk." Syakila menatap Angga. "Kagaklah, gue lagi haid nji*" ucapnya kesal.


"Ohhh," ucap Angga sedikit kecewa dan Syakila berdecak sebal. Tak lama seorang wanita paruh baya datang mengahampiri mereka berdua.


"Syakila!" panggil Mila yang baru saja datang.


Syakila menoleh ke arah Mila. Ia terkejut dan sontan berdiri. "Tante," ucapnya sambil menyalami tangan kanan Mila. "Tente kok bisa di sini?"


"Beliin kopi buat Ayah Ardi," sahut Mila. "Kalian berdua?"


"Ngopi," sahut Angga.


"Belajar," sahut Syakila bersamaan.


"Hmmm, bohong ya," goda Mila. "Laporin Farel ahhh." Mila mengambil handphonnya dan bersiap menelpon seseorang.


Syakila menahan tangan Mila dan memohon, "Jangan Tante plisss, nanti Farel marah."


"Hehheeee, canda sayang," ucap Mila. "Kalian pdkt aja nggak papa, urusan jodoh dan tidaknya kan Allah yang ngatur khihihii."


Angga tersenyum kikuk. "Iya Tante." Syakila terlihat diam saja.


"Tante pergi dulu ya, Assalammualaikum" pamit Mila.


"Waalaikumsalam," sahut Angga dan Syakila bersamaan. Mila pun pergi meninggalkan tempat. Syakila kembali duduk dengan pandangan ke bawah.


"Farel galak?" tanya Angga.


"Kagak," sahut Syakila.


"Lo tadi aja ketakutan, kalau Farel marah," ujar Angga dan Syakila hanya diam, karena malas.


"Buat apa bertahan sama cowok yang emosian."


"Lo kagak tau apa-apa soal Farel, jadi lo diem aja."


Angga tersenyum smrik. "Hmmm, bener juga."


"Gue mau balik!" pinta Syakila dan Angga pun menganggukinya. Mereka berdua pergi ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.


...🌸...


Farel dan David pergi ke Restoran dan menemui seseorang. Mereka terlihat serius meeting. Tiga puluh menit kemudian, meeting selesai. Mereka saling berjabat tangan dan memberikan senyuman. Para Asisten Farel dan David juga ikut pergi untuk mengurus Perusahaan.


"Parah, badan gue akhir-akhir ini pegel-pegel semua njir," seru David sambil memijat lengannya.


"Gue juga. Sekarang aja gue jadi gampang marah," ujar Farel.

__ADS_1


"Hufff, gue juga gampang emosian sekarang."


"Cara lo ngatur emosi waktu deket sama Amira gimana?" tanya Farel.


"Gue kalau lagi emosi atau capek, nggak nemuin dia," sahut David. "Walaupun pada akhirnya ngambek."


"Hmmm, ya kalik gue kagak temuin Syakila selama sebulan," ujar Farel.


"Busettt, lama bener," ucap David.


"Bulan ini tugas gue banyak banget, emang lo kagak?"


"Ehh iya, gue juga deng," sahut David. "Ya temuinlah sesekali atau nggak chat-chattan kan bisa."


"Hem." Farel menyeruput kopinya. Terlihat para pengunjung wanita melihat ke arah Farel dan David. Ketampanan Farel saat menyeruput kopinya, membuat para gadis heboh.


"Anji*, perasaan sahabat gue bukan Artis dah," komen David.


"Ck, lo juga ada," sahut Farel kesal, karena tak bisa menikmati secangkir kopinya.


"Iya sih, tapi kebanyakan pada ngelirik lo njir," seru David dan Farel hanya diam menikmati kopinya. Tak lama mereka pun selesai makan dan memutuskan untuk kembali ke Kantor.


...🌸...


Angga telah mengantar Syakila ke rumahnya. Setelah Syakila pergi masuk ke dalam rumah, Angga pun pergi meninggalkan tempat. Terlihat di dalam rumah ada dua anak kecil yang tengah berlari-lari. Mereka adalah anak dari Reyhan dan Klara.


"ASSALAMMUALAIKUM MY FAMILY!" teriak Syakila mengucap salam sambil merentangkan tangan ke atas.


Darel dan Tiara yang tengah berlari-lari, seketika berhenti. Mereka berdua pergi berlari menghampiri Syakila dengan senang dan memeluk kakinya. "TANTEEE!"


"Utututuuuuu, kalian gemesin banget sih," ucap Syakila sambil mencubit salah satu pipi Darel dan Tiara.


Darel tertawa kecil. "Tante, ayo main!" pintanya sambil menarik tangan kiri Syakila.


"Iya Tante, ayo mainnn!" pinta Tiara sambil menarik tangan kanan Syakila.


"Derel! Tiara!" panggil Reyhan dari arah belakang Syakila. "Main berdua aja, Tante Syakila capek habis ngampus."


"Huwaaaa, nggak mauu hiks hiks," rengek Tiara.


"Derel maunya main sama Tante Syakila," kekeh Derel.


"Main sama Ayah aja, Tante Syakila capek. Lijat tuh wajahnya!" ucap Reyhan sambil menunjuk wajah Syakila.


"Huwaaa hiks hiks hiks." Tiara menangis.


"Huwaaa Derel maunya sama Tante Syakila!" ucap Derel sambil menangis.


"Main sendiri atau Ayah hukum!" seru Reyhan membuat Tiara dan Darel menangis. Mereka berdua pun pergi menghampiri Klara.


"Huwaaaa, Ayah jahat hiks," rengek Derel sambil berlari menemui Klara.


"Hiks hiks Mamaaaa, hiks Ayah nakal hikd hiks," ucap Tiara sambil berjalan kecil ke arah Mamahnya berada.


Tingkah kedua bocah itu membuat Syakila tertawa kecil. Mereka berdua terlihat negitu menggemaskan dan imut. "Kakak beneran hukum mereka?"


"Nggak lah," sahut Reyhan. "Kakak anter yuk ke kamar!"


"Ehhhh, nggak usah, nggak usah," tolak Syakila sambil melambai-lambaikan ke dua tanganya di depan dada.


Reyhan tidak peduli dan menggendong Syakila ala bridal style. Terlihat Syakila memberontak, namun tidak bisa. "Nggak usah malu, belum nikah juga."


"Tapikan Kakak udah," seru Syakila.


"Nggak papa," sahut Reyhan.


"Aku nggak nanya ihhhh!" kesal Syakila. Reyhan hanya tersenyum sekilas dan membawa sang Adik pergi ke atas.

__ADS_1


Tak lama Reyhan dan Syakila sampai di kamar. Reyhan menurunkan Syakila pelan-pelan ke atas kasur. Terlihat Syakila hendak duduk, namun ditahan oleh Reyhan. Ia berbaring di samping Syakila.


"Ayo tidur!" ajak Reyhan.


"Whattt? Ada Mbk Klara loh Kakkk," ucap Syakila sambil manyun.


"Stststttt, bobok!" ucap Reyhan sambil menaruh jari telunjuknya ke bibir Syakila. "Kamu tidur atau Kakak cium!'


"Ishhhh Kakak mah sama aja kayak Kak Kelvin, nyebelin!" kesal Syakila dan memeluk erat gulingnya. Reyhan tersenyum senang dan mengusap lembut rambut Syakila. "Jangan deket-deket Kak!"


"Enggak," sahut Reyhan. "Hari ini capek banget ya?" tanyanya sambil mengusap lembut rambut Syakila.


"Mau diajak ngomong apa tidur nih?"


"Tidur," sahut Reyhan. Ia terus mengusap lembut rambut Syakila, hingga tertidur pulas. Semakin lama matanya mulai mengantuk dan ikut tidur.


Klara yang berada di ruang tamu bersama Niya. Terlihat tengah menidurkan Derel dan Tiara. Tak lama Kelvin dan Bunga datang bersama baby Sinta. Mereka menyalami Klara dan juga Niya.


"Akhirnya, kalian dateng juga," ucap Niya.


"Ngurus Sinta bentar Mah, tadi pup soalnya," sahut Bunga.


"Ohhh gitu," ucap Niya sambil menganggukan kepala.


Kelvin melihat ke arah Darel dan Tiara. "Habis nangis Mbk?"


"Iya," sahut Klara.


"Kakakmu tuh sukanya bikin anak nangis, kalau udah begini malah pergi!" kesal Niya.


"Anak kesayangan Mamah juga," seru Kelvin.


"Kalian bertiga tuh anak kesayang Mamah tau," ucap Niya.


"Hmm, iyain aja lah," sahut Kelvin malas. Bunga pun mencubit pinggang sang suami dan Kelvin mengaduh kesakitan, "Awww, sakit."


"Mangkanya, kalau ngomong yang sopan dong," ujar Bunga dan Kelvin hanya diam sembari mengusap-usap pinggangnya.


"Kak Rey mana?" tanya Kelvin.


"Di kamarnya Syakila mungkin," sahut Niya.


"Kayaknya iya, udah lama juga," ucap Klara.


"Wahhhh, parah. Adek gue diembat!" seru Kelvin tak terima dan pergi ke kamar Syakila. Bunga dan Klara tertawa kecil, sedangkan Niya hanya diam mengusap lembut kening Derel.


"Ngedidiknya gimana sih Mah? Biar anak kita bisa begitu," tanya Klara.


"Iya Mah, kasih tau kita dong!" pinta Bunga dan duduk di dekat sofa Niya.


"Biasa sih, ngasih makan minum, bekal ilmu agama sama apa ya..." Niya berfikir.


"Selain itu Mah? kayak... jangan emosi, berantem atau gimana gitu," ujar Klara.


"Hmmm, Mamah sih sering banget teriak-teriak atau marah, Ayah juga," sahut Niya sambil mikir. "Kayaknya sih ikatan batin atau keberuntungan. Mamah nggak tau mereka bertiga bisa gitu karena apa?"


"Hmmm." Klara dan Bunga murung.


"Kalian didik aja dengan cara kalian sendiri yang penting bekali agama, itu di wajibkan banget!" seru Niya dan mereka berdua tersenyum sambil mengangguk.


Tak lama terdengar suara debat anak laki-laki. Niya, Bunga dan Klara menoleh ke arah suara. Terlihat dua lelaki saling dorong mendorong dan mencekik. Niya yang melihatnyaerasa kesal dan menghampiri ke duanya. Ia menjewer ke dua anaknya hingga memerah. Bunga dan Klara tertawa kecil melihat Suaminya kesakitan.


"Hahhaaaa, bener Mbk. Mamah ndidiknya biasa aja, umumnya para Ibu-ibu," seru Bunga sambil tertawa.


"Iya," sahut Klara sambil tertawa cekikin.


Reyhan dan Kelvin terlihat kesakitan. Mereka terus meminta ampun sambil memegangi telinganya. Niya tidak peduli dan terus menguatkan jewerannya, membuat ke dua anaknya mengaduh kesakitan.

__ADS_1


......See You guys......


__ADS_2